Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation

Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, Feb 2022

Penelitian ini bertujuan menghasilkan perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa untuk mengkonstruk kemampuan berpikir reflektif dengan menerapkan pembelajaran berbasis Inquiry Based Learning (IBL) seting Group Investigation (GI) sehingga tersusun tahapan belajar antara lain: 1) menganalisis permasalahan yang mendorong siswa mengingat dan mencari hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan permasalahan yang dihadapi; 2) membuat hipotesis dan berpikir tentang solusi pemecahan masalah; 3) menyelidiki; 4) melakukan percobaan penyelesaian masalah; 5) evaluasi dan refleksi. Penyusunan perangkat pengembangan menggunakan model Plomp dengan tahapan: 1) studi pendahuluan mencakup analisis kebutuhan dan situasi; 2) tahap perancangan dan pengembangan prototype; 3) tahap penilaian mencakup validasi ahli dan uji coba produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja siswa yang dikembangkan dinyatakan layak dan mampu untuk memfasilitasi kemampuan berpikir reflektif. Hasil penilaian siswa menunjukkan rata-rata skor 58,69 di kelas VII.G dan 59,44 di kelas VII.BL 2. Kemudian hasil tes kemampuan berpikir reflektif menunjukkan 86% siswa mampu berpikir reflektif dengan baik. Selain itu, LKS yang disusun menerapkan metode pembelajaran IBL setting GI ini dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir reflektif.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://j-cup.org/index.php/cendekia/article/download/645/580

Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation

E-ISSN : 2579-9258 P-ISSN: 2614-3038 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 06, No. 01, Maret 2022, pp. 786-797 Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation Evvy Lusyana1, Tri Rahma Silviani2 1 STIT Muhammadiyah Tempurejo Ngawi, Jl. Blandongan KM 0, Mantingan, Ngawi 2 MAN 1 Kota Bima, Jl. Soekarno Hatta, Rabangodu Utara, Kota Bima, NTB Abstract This research aimed to produce learning tools in form student worksheets to construct reflective thinking skills based on Inquiry Based Learning (IBL) setting Group Investigation (GI), and indicators of this method consist of: 1) analyzing problems that encourage students to remember and find a relationship between the knowledge they have and the problems faced; 2) make hypotheses and think about problem solving solutions; 3) investigate; 4) conduct problem solving experiments; 5) evaluation and reflection. Preparation of development tools using Plomp model with stages: 1) preliminary study includes analysis of needs and situations; 2) the stage of design and development of prototypes; 3) The assessment stage includes expert validation and product trials. The results showed that the student worksheets developed were otherwise feasible and capable of facilitating reflective thinking skills. Student assessment results showed an average score of 58.69 in grade VII.G and 59.44 in grade VII.BL 2. Then the results of the reflective thinking ability test showed 86% of students were able to think reflectively well. In addition, student’s worksheet based on IBL setting GI learning method can help students improve their reflective thinking skills. Keywords: inquiri based learning, group investigation, reflective thinking Abstrak Penelitian ini bertujuan menghasilkan perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa untuk mengkonstruk kemampuan berpikir reflektif dengan menerapkan pembelajaran berbasis Inquiry Based Learning (IBL) seting Group Investigation (GI) sehingga tersusun tahapan belajar antara lain: 1) menganalisis permasalahan yang mendorong siswa mengingat dan mencari hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan permasalahan yang dihadapi; 2) membuat hipotesis dan berpikir tentang solusi pemecahan masalah; 3) menyelidiki; 4) melakukan percobaan penyelesaian masalah; 5) evaluasi dan refleksi. Penyusunan perangkat pengembangan menggunakan model Plomp dengan tahapan: 1) studi pendahuluan mencakup analisis kebutuhan dan situasi; 2) tahap perancangan dan pengembangan prototype; 3) tahap penilaian mencakup validasi ahli dan uji coba produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja siswa yang dikembangkan dinyatakan layak dan mampu untuk memfasilitasi kemampuan berpikir reflektif. Hasil penilaian siswa menunjukkan rata-rata skor 58,69 di kelas VII.G dan 59,44 di kelas VII.BL 2. Kemudian hasil tes kemampuan berpikir reflektif menunjukkan 86% siswa mampu berpikir reflektif dengan baik. Selain itu, LKS yang disusun menerapkan metode pembelajaran IBL setting GI ini dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir reflektif. Kata kunci: inquiri based learning, group investigation, berpikir reflektif Copyright (c) 2022 Evvy Lusyana, Tri Rahma Silviani  Corresponding author: Evvy Lusyana Email Address: (Jl. Blandongan KM 0, Mantingan, Ngawi) Received 23 May 2021, Accepted 08 February 2022, Published 08 February 2022 PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran adalah seting pembelajaran yang disusun oleh guru dalam perangkat pembelajaran. Menurut Besser, Blum dan Leiss (Besser et al., 2015) bahwa prestasi siswa tergantung dari peran guru di kelas terkadang fokus pada kepribadian guru, kemudian fokus pada proses belajar dan hasil belajar. Perangkat pembelajaran yang disusun oleh beberapa guru SMP/MTs belum sesuai dengan harapan Kurikulum 2013. Salah satu kesulitan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 berkaitan dengan penilaian dan 786 Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation, Evvy Lusyana, Tri Rahma Silviani 787 pembuatan perangkat pembelajaran (Fahri Tadjuddin, 2021; Lusyana & Setyaningrum, 2018; Retnawati et al., 2016). Berdasarkan hasil survey pendahuluan terhadap perangkat pembelajaran yang disusun oleh beberapa guru SMP/MTs di kota Bima, terlihat bahwa ada beberapa perangkat pembelajaran yang digunakan oleh guru belum sesuai dengan kurikulum 2013. Terkadang ada beberapa guru yang masih menggunakan perangkat pembelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan padahal sekolah tersebut sudah menerapkan kurikulum 2013. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penulis terdapat masalah klasik yang selalu dihadapi dan terus diupayakan pemecahannya dalam pembelajaran matematika yaitu masih banyaknya siswa mengalami kesulitan belajar yang mengakibatkan kemampuan berpikir siswa tidak terkonstruk (Hutauruk & Sinaga, 2020; Silviani et al., 2017). Selain itu, siswa menganggap bahwa matematika itu tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan hasil observasi peneliti tahun 2017 pada siswa SMK. Data hasil survei menyatakan bahwa masih ada beberapa guru matematika yang menggunakan metode ceramah, tidak menghubungkan materi lama dengan materi baru, dan belum memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, sehingga salah satu kemampuan berpikir siswa yaitu berpikir reflektif diabaikan. Berpikir reflektif mempunyai peranan penting dalam menghadapi dan memecahkan masalah (Hidayat et al., 2021; Kholid et al., 2021), membantu siswa membuat skema penghubung antar materi pembelajaran (Kitchener et al., 1993) yang digunakan untuk pemahaman baru (van der Schaaf et al., 2013), mengajarkan siswa untuk mendesain penyelesaian terbaik berdasarkan pengalaman (Mohammad & Jado, 2015). Dengan demikian, berpikir reflektif perlu difasilitasi dalam proses pembelajaran. Namun faktanya, guru sekolah di Kota Bima belum memfasilitasi berpikir reflektif ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang memfasilitasi berpikir reflektif tersebut. Metode inquiry cocok diterapkan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan berpikir reflektif (Song et al., 2006). Hal ini dikarenakan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis inquiry guru dapat mendesain kegiatan yang mengarah pada indikator berpikir reflektif. Selain itu, standar pembelajaran matematika yang dirumuskan pada National Curriculum Teacher of Mathematics (NCTM, 2000) menganjurkan agar siswa difasilitasi untuk: 1) mengkomunikasikan ide, (2) bernalar, (3) memecahkan masalah, (4) mengaitkan ide, (5) pembentukan sikap positif terhadap matematika. Apabila dikaitkan dengan Kurikulum 2013, rangkaian kegiatan dalam pembelajaran diharapkan dapat menjadikan siswa aktif sehingga diperlukan metode pembelajaran yang dapat memenuhi standar pembelajaran kurikulum 2013. Salah satu metode pembelajaran yang memfasilitasi proses (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://j-cup.org/index.php/cendekia/article/download/645/580
Article home page: https://j-cup.org/index.php/cendekia/article/view/645/580

Evvy Lusyana, Silviani Tri Rahma. Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation, Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 2022, pp. 786-797,