Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation
E-ISSN : 2579-9258
P-ISSN: 2614-3038
Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 06, No. 01, Maret 2022, pp. 786-797
Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning
Setting Group Investigation
Evvy Lusyana1, Tri Rahma Silviani2
1
STIT Muhammadiyah Tempurejo Ngawi, Jl. Blandongan KM 0, Mantingan, Ngawi
2 MAN 1 Kota Bima, Jl. Soekarno Hatta, Rabangodu Utara, Kota Bima, NTB
Abstract
This research aimed to produce learning tools in form student worksheets to construct reflective thinking skills
based on Inquiry Based Learning (IBL) setting Group Investigation (GI), and indicators of this method consist
of: 1) analyzing problems that encourage students to remember and find a relationship between the knowledge
they have and the problems faced; 2) make hypotheses and think about problem solving solutions; 3)
investigate; 4) conduct problem solving experiments; 5) evaluation and reflection. Preparation of development
tools using Plomp model with stages: 1) preliminary study includes analysis of needs and situations; 2) the
stage of design and development of prototypes; 3) The assessment stage includes expert validation and product
trials. The results showed that the student worksheets developed were otherwise feasible and capable of
facilitating reflective thinking skills. Student assessment results showed an average score of 58.69 in grade
VII.G and 59.44 in grade VII.BL 2. Then the results of the reflective thinking ability test showed 86% of
students were able to think reflectively well. In addition, student’s worksheet based on IBL setting GI learning
method can help students improve their reflective thinking skills.
Keywords: inquiri based learning, group investigation, reflective thinking
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menghasilkan perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa untuk mengkonstruk
kemampuan berpikir reflektif dengan menerapkan pembelajaran berbasis Inquiry Based Learning (IBL) seting
Group Investigation (GI) sehingga tersusun tahapan belajar antara lain: 1) menganalisis permasalahan yang
mendorong siswa mengingat dan mencari hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan
permasalahan yang dihadapi; 2) membuat hipotesis dan berpikir tentang solusi pemecahan masalah; 3)
menyelidiki; 4) melakukan percobaan penyelesaian masalah; 5) evaluasi dan refleksi. Penyusunan perangkat
pengembangan menggunakan model Plomp dengan tahapan: 1) studi pendahuluan mencakup analisis
kebutuhan dan situasi; 2) tahap perancangan dan pengembangan prototype; 3) tahap penilaian mencakup
validasi ahli dan uji coba produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja siswa yang dikembangkan
dinyatakan layak dan mampu untuk memfasilitasi kemampuan berpikir reflektif. Hasil penilaian siswa
menunjukkan rata-rata skor 58,69 di kelas VII.G dan 59,44 di kelas VII.BL 2. Kemudian hasil tes kemampuan
berpikir reflektif menunjukkan 86% siswa mampu berpikir reflektif dengan baik. Selain itu, LKS yang disusun
menerapkan metode pembelajaran IBL setting GI ini dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan
berpikir reflektif.
Kata kunci: inquiri based learning, group investigation, berpikir reflektif
Copyright (c) 2022 Evvy Lusyana, Tri Rahma Silviani
Corresponding author: Evvy Lusyana
Email Address: (Jl. Blandongan KM 0, Mantingan, Ngawi)
Received 23 May 2021, Accepted 08 February 2022, Published 08 February 2022
PENDAHULUAN
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran adalah seting
pembelajaran yang disusun oleh guru dalam perangkat pembelajaran. Menurut Besser, Blum dan
Leiss (Besser et al., 2015) bahwa prestasi siswa tergantung dari peran guru di kelas terkadang fokus
pada kepribadian guru, kemudian fokus pada proses belajar dan hasil belajar. Perangkat pembelajaran
yang disusun oleh beberapa guru SMP/MTs belum sesuai dengan harapan Kurikulum 2013. Salah
satu kesulitan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 berkaitan dengan penilaian dan
786
Mengkonstruk Berpikir Reflektif dengan Metode Inquiry Based Learning Setting Group Investigation, Evvy Lusyana, Tri
Rahma Silviani
787
pembuatan perangkat pembelajaran (Fahri Tadjuddin, 2021; Lusyana & Setyaningrum, 2018;
Retnawati et al., 2016). Berdasarkan hasil survey pendahuluan terhadap perangkat pembelajaran yang
disusun oleh beberapa guru SMP/MTs di kota Bima, terlihat bahwa ada beberapa perangkat
pembelajaran yang digunakan oleh guru belum sesuai dengan kurikulum 2013. Terkadang ada
beberapa guru yang masih menggunakan perangkat pembelajaran yang disusun berdasarkan
kurikulum tingkat satuan pendidikan padahal sekolah tersebut sudah menerapkan kurikulum 2013.
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penulis terdapat masalah klasik yang
selalu dihadapi dan terus diupayakan pemecahannya dalam pembelajaran matematika yaitu masih
banyaknya siswa mengalami kesulitan belajar yang mengakibatkan kemampuan berpikir siswa tidak
terkonstruk (Hutauruk & Sinaga, 2020; Silviani et al., 2017). Selain itu, siswa menganggap bahwa
matematika itu tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan hasil
observasi peneliti tahun 2017 pada siswa SMK. Data hasil survei menyatakan bahwa masih ada
beberapa guru matematika yang menggunakan metode ceramah, tidak menghubungkan materi lama
dengan materi baru, dan belum memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir,
sehingga salah satu kemampuan berpikir siswa yaitu berpikir reflektif diabaikan.
Berpikir reflektif mempunyai peranan penting dalam menghadapi dan memecahkan masalah
(Hidayat et al., 2021; Kholid et al., 2021), membantu siswa membuat skema penghubung antar materi
pembelajaran (Kitchener et al., 1993) yang digunakan untuk pemahaman baru (van der Schaaf et al.,
2013), mengajarkan siswa untuk mendesain penyelesaian terbaik berdasarkan pengalaman
(Mohammad & Jado, 2015). Dengan demikian, berpikir reflektif perlu difasilitasi dalam proses
pembelajaran. Namun faktanya, guru sekolah di Kota Bima belum memfasilitasi berpikir reflektif ini.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang memfasilitasi
berpikir reflektif tersebut.
Metode inquiry cocok diterapkan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan berpikir
reflektif (Song et al., 2006). Hal ini dikarenakan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis
inquiry guru dapat mendesain kegiatan yang mengarah pada indikator berpikir reflektif. Selain itu,
standar pembelajaran matematika yang dirumuskan pada National Curriculum Teacher of
Mathematics (NCTM, 2000) menganjurkan agar siswa difasilitasi untuk: 1) mengkomunikasikan ide,
(2) bernalar, (3) memecahkan masalah, (4) mengaitkan ide, (5) pembentukan sikap positif terhadap
matematika. Apabila dikaitkan dengan Kurikulum 2013, rangkaian kegiatan dalam pembelajaran
diharapkan dapat menjadikan siswa aktif sehingga diperlukan metode pembelajaran yang dapat
memenuhi standar pembelajaran kurikulum 2013. Salah satu metode pembelajaran yang memfasilitasi
proses (...truncated)