An Overview of the Use of Antihypertensive Drugs at the Outpatient Pharmacy of Tarakan "X" Hospital in 2022
Journal Borneo
Artikel
Science Technology and Health Journal
www.journalborneo.com
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI APOTEK RAWAT
JALAN RUMAH SAKIT “X” TARAKAN TAHUN 2022
Benyamin*), Syuhada, Benazir Evita Rukaya
Program Studi Ilmu Farmasi, Politeknik Kaltara, Kota Tarakan, 77113, Indonesia
* Corresponding author: Benyamin
email:
Received February 14, 2023; Accepted March 18, 2023; Published March 20, 2023
ABSTRAK
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang sering dijumpai dan penggunaan obat
antihipertensi yang tepat sangat penting untuk pengendalian tekanan darah yang optimal, oleh karena
itu perlu dilakukan penelitian mengenai gambaran penggunaan obat antihipertensi di berbagai
fasilitas kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peresepan obat
antihipertensi pada pasien di rumah sakit “X” di bagian rawat jalan. Data penelitian yang diperoleh
yaitu data digital dari pelayanan resep selama periode Januari-Desember tahun 2022. Penelitian ini
menggunakan data retrospektif dengan mengakses data layanan komputer di apotek rawat jalan
rumah sakit "X" untuk melacak riwayat pengobatan pasien hipertensi pada masa lalu, dan teknik
sampling yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan obat
antihipertensi terbanyak adalah amlodipin sebanyak 13.203 item resep, bisoprolol 10.704 item resep,
dan candesartan 9.885 item resep. Frekuensi peresepan golongan obat antihipertensi paling banyak
adalah calcium chanel blocker sebanyak 13.784 (23,41%) sedangkan untuk golongan obat yang
paling sedikit diresepkan yaitu agonis alfa-2 berjumlah 68 obat (0,12%). Berdasarkan hasil penelitian,
dapat disimpulkan bahwa obat antihipertensi yang paling banyak diresepkan di apotek rawat jalan
rumah sakit "X" adalah amlodipin, bisoprolol, dan candesartan.
Kata kunci: Antihipertensi, peresepan obat, rumah sakit
ABSTRACT
Hypertension is a global health problem often encountered, and the appropriate use of
antihypertensive drugs is very important for optimal blood pressure control. Therefore, it is necessary
to research the description of the use of antihypertensive drugs in various health facilities. The
purpose of this study was to describe the prescription of antihypertensive drugs in patients at "X"
hospital in the outpatient department. The research data obtained were digital data from prescription
services from January-December 2022. This study used retrospective data by accessing computer
service data at the "X" hospital outpatient pharmacy to track the history of past hypertensive patients’
treatment. The sampling technique used is total sampling. The results showed that the most prescribed
antihypertensive drugs were amlodipine, with 13,203 prescription items. Bisoprolol with 10,704
prescription items, and candesartan with 9,885 prescription items. The frequency of prescribing the
antihypertensive drug class the most was calcium channel blockers, as much as 13,784 (23.41%),
while for the drug class which was the least prescribed, namely alpha-2 agonists, there were 68 drugs
(0.12%). Based on the study results, it can be concluded that the most widely prescribed
antihypertensive drugs at the outpatient pharmacy at "X" hospital are amlodipine, bisoprolol, and
candesartan.
How to cite this article: Surname N, Surname N. Title of the manuscript. Journal borneo. 2023; 3(1): 55-63
This work is licensed under a Creative
Commons Attribution-NonCommercialShareAlike 4.0 International License.
10.57174/jborn.v3i1.81
55
Journal Borneo
Benyamin, dkk.
Gambaran penggunaan obat...
Artikel
Keywords: Antihypertensives, prescribing drugs, hospital
PENDAHULUAN
Kepedulian tentang peningkatan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) mendorong
kesepakatan tentang strategi global untuk pencegahan dan pengendalian PTM, terutama di negara
berkembang1. Hipertensi termasuk dalam PTM yang terus menjadi masalah kesehatan di Indonesia.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 1,13 miliar orang
di seluruh dunia menderita hipertensi, yang berarti satu dari tiga orang di dunia menderita hipertensi.
Jumlah penderita hipertensi terus bertambah setiap tahunnya, dengan perkiraan 1,5 miliar orang
menderita hipertensi pada tahun 2025, dan 10,44 juta orang meninggal tiap tahunnya yang
disebabkan oleh hipertensi dan komplikasinya2. Hasil penelitian di Indonesia pada tahun 2018,
menunujukkan pasien hipertensi berusia diatas 18 tahun mencapai 34,11% 3.
Hipertensi sering juga dikenal sebagai pembunuh senyap karena seringkali gejala maupun
keluhan tidak nampak. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka waktu yang lama
dapat merusak ginjal, jantung, dan otak jika tidak dideteksi sejak dini dan ditangani dengan baik4.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang tidak normal akibat
beberapa faktor resiko dan peningkatan tekanan darah yang terus menerus pada beberapa kali
pengukuran tekanan darah, yang menyebabkan gangguan pada sistem kardiovaskuler sehingga
tubuh tidak dapat mempertahankan tekanan darah normal. Hipertensi didiagnosis jika tekanan darah
sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg5.
Berdasarkan data lebih dari 100 negara, kurang dari 50% orang dewasa penderita hipertensi
mendapatkan pengobatan antihipertensi. Beberapa negara menerapkan sistem tatalaksana terapi
pada pasien hipertensi dengan baik, tetapi sebagian negara lainnya belum optimal6. Menurut
tatalaksana terapi hipertensi yang direkomendasikan dalam JNC 8, pengobatan farmakologis
hipertensi dapat berupa obat tunggal maupun obat kombinasi. Pengobatan utama hipertensi tidak
memerlukan kombinasi dua obat, melainkan hanya satu pengobatan. JNC 8 juga merekomendasikan
obat antihipertensi terdiri dari lima kelompok, yaitu ACE-inhibitor, angiotensin II receptor blocker
(ARB), diuretik, beta blocker, dan calcium channel blocker (CCB)7.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya oleh Syuhada (2021) sebelumnya di rumah sakit “X”
Kota Tarakan menunjukkan bahwa obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah
candesartan dengan 10.978 item resep serta frekuensi presepan golongan obat antihipertensi
terbanyak yaitu golongan ARB sebanyak 11.180 item resep dari 260.821 jumlah data item resep
obat antihipertensi8.
https://doi.org/xxxxxxxxxxxxxxxxxx
2023; 3(1): 55-63
56
Journal Borneo
Benyamin, dkk.
Gambaran penggunaan obat...
Artikel
METODE
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif retrospektif. Data penelitian
diperoleh melalui penelusuran data elektronik layanan pengobatan pasien hipertensi di apotek rawat
jalan rumah sakit “X” Tarakan periode Januari-Desember tahun 2022, dan teknik sampling yang
digunakan adalah total sampling.
Data tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan bantuan Software Microsoft
Excel® dan SPSS® untuk pengolahan data. Hasil data penelitian disajikan secara deskriptif dan tabel
serta grafik untuk menggambarkan obat antihiperte (...truncated)