Karya Tabuh Kreasi “Pitu”
Journal of Music Science, Technology,
and Industry
Volume 6, Number 2, 2023
e-ISSN. 2622-8211
https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/jomsti/
Karya Tabuh Kreasi “Pitu”
I Putu Hare Krsna Darma Yoga
Program Studi Seni Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar
Email:
Article Info
____________
Article History:
Received:
April 2023
Accepted:
August 2023
Published:
October 2023
______________
Keywords:
Number Seven,
Semar
Pegulingan,
Creative
Percussion
ABSTRACT
__________________________________________________
Purpose: the number seven is a mysterious, unique, magical
and meaningful number. Hindu Religion, the number seven is
believed to have a special feature because there are seven
layers on Earth, namely patala. Methods: the process of
creating Pitu's work is an attempt to create a new work of art,
especially in the field of Balinese Karawitan art. Pitu's work is a
musical creation that uses three parts including, part I (kawitan),
part II (gegenderan and bapang), part III (cutter and pekaad).
The stylist creates a creation percussion which is structurally
starting from kawitan to pekaad which is based on the number
seven. The media used in Tabuh Kreasi Pitu uses the gamelan
Semar Pegulungan Saih Pitu with a seven-tone pelog barrel to
be used as a medium for saying. Pitu's creation of tabuh uses
several counts of seven which are combined with dynamics,
tempo and melodic games that are developed so as not to look
monotonous. Result and discussion: as an academic artist
who has more abilities in the academic field, he should be able
to create a quality and weighty work. Implication: It is hoped
that Tabuh Kreasi Pitu can provide more space for students to
be creative by organizing compositional events outside class
hours.
© 2023 Institut Seni Indonesia Denpasar
PENDAHULUAN
Angka tujuh adalah angka yang misterius, unik, ajaib, dan penuh makna. Hampir
semua peradaban manusia menempatkan angka tujuh sebagai angka penting yang
berhubungan dengan keberuntungan, kesempurnaan, dan kepercayaan kepada
Tuhan. Tradisi agama juga meletakkan angka tujuh sebagai simbol penyatuan
301
Journal of Music Science, Technology, and Industry [JoMSTI]
Volume 6, Number 2, 2023. E-ISSN: 2622-8211
kehidupan di bumi dan keberadaan Surga. Bahkan dunia modern menjadikan angka
tujuh sebagai patokan perkembangan teknologi, ekonomi, serta olah raga (Wizard,
2011:5).
Kebudayaan agama Hindu angka tujuh diyakini memiliki keistimewaan karena
ada tujuh lapisan di Bumi, yakni patala (inti bumi atau magma), atala, witala, sutala,
talatala, mahatala, dan rasatala. Tradisi Hindu menempatkan angka tujuh sebagai
angka yang dikeramatkan. Angka ini istimewa karena berkaitan dengan jumlah
Chakra di dalam tubuh manusia, yakni muladara, swadisthana, manipura, anahatta,
wisudhi, ajnya, dan sahasrara.
Pada era sekarang sudah banyak karya seni baru yang tercipta khususnya
dalam seni karawitan, seperti musik vokal atau yang sering disebut tembang, dan
musik instrumental yang sering disebut tabuh atau komposisi. Tabuh merupakan hasil
kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu
repertoire hingga sesuai dengan jiwa, rasa, dan tujuan komposisi (Rembang,
1984/1985: 8). Dalam karya ini penata ingin membuat tabuh kreasi dengan judul Pitu
yang diambil dari angka tujuh (7). Angka tujuh dalam musik juga digunakan seperti
ada tujuh nada dasar musik, yaitu do, re, mi, fa, sol, la, dan si. Dalam Seni Karawitan
Bali juga terdapat tujuh nada, terutama gamelan pelog saih pitu, yaitu ding, dong,
deng, deung, dung, dang, dan daing, yang dalam tabuh kreasi ini penata akan
menggunakan media ungkap gamelan Semar Pegulingan.
Gamelan Semar Pegulingan adalah gamelan yang dalam lontar Catur Munimuni disebut dengan gamelan Semara Aturu ini adalah barungan madya, yang
bersuara merdu sehingga banyak dipakai untuk menghibur raja-raja pada zaman
dahulu (Dibia, 1999: 114). Terdapat dua macam Semar Pegulingan di Bali yang
berlaras pelog tujuh nada dan berlaras lima nada. Kedua jenis Semar Pegulingan
secara fisik lebih kecil dari barungan Gong Kebyar terlihat dari ukuran instrumen
gangsa dan instrumen trompongnya. Dalam hal ini penata menciptakan tabuh kreasi
dengan media ungkap gamelan Semar Pegulingan yang berlaras pelog tujuh nada
atau yang sering disebut gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu.
Ide merupakan gagasan atau konsep dasar yang menjadi sebab terwujudnya
sebuah garapan. Pada karya ini penata mendapatkan ide dari sebuah angka tujuh,
karena angka tujuh adalah angka favorit penata. Karena penata ingin mewujudkan
suatu karya yang berlandasan dengan angka tujuh. Karya tabuh kreasi Pitu ini lebih
302
Journal of Music Science, Technology, and Industry [JoMSTI]
Volume 6, Number 2, 2023. E-ISSN: 2622-8211
berpatokan dengan angka tujuh, karena penata merancang tabuh kreasi yang dari
kawitan sampai pekaad konsisten menggunakan hitungan tujuh. Penata membuat
hitungan tujuh yang berbeda-beda agar tidak terlihat monoton dengan cara mengolah
pukulan melodi dan membuat pola kotekan dengan pola hitungan tujuh. Adapun
elemen-elemen pokok yang dimanfaatkan dan diolah seperti melodi, tempo,
dinamika, ritme, dan harmoni dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan
penata dalam proses penggarapan Tabuh Kreasi Pitu.
Suatu karya didasari dengan sebuah konsep karena konsep sangatlah
membantu dalam suatu pembentukan karya tabuh kreasi baru, Kreasi baru adalah
istilah yang biasa digunakan oleh penabuh atau masyarakat Bali untuk gendinggending kebyar, pategak, terutama untuk membedakan dengan jenis gendinggending pategak lainnya (Sukerta,1998:91). Karya Pitu merupakan suatu tabuh kreasi
yang menggunakan tiga bagian, yaitu bagian I (kawitan), bagian II (gegenderan dan
bapang), dan bagian III (pengecet dan pekaad), yang lebih berpatokan dengan angka
tujuh.
Menciptakan sebuah karya seni dibutuhkan sumber-sumber sebagai
penunjang karya yang memiliki relevansi dengan karya, baik sebagai pengetahuan,
menguatkan argumentasi maupun perbandingan dari karya yang ada. Sumbersumber tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu sumber pustaka (tertulis), sumber
diskografi (audio maupun audio-visual) dan sumber manuskrip (narasumber). Secara
keseluruhan, terdapat tiga buku yang sangat berpengaruh dalam penciptaan tabuh
kreasi Pitu sebagai tinjuan pustaka.
Buku Selayang Pandang, Seni Pertunjukan Bali, oleh I Wayan Dibia yang
diterbitkan oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia pada tahun 1999. Buku
tersebut berisi informasi tentang seni pertunjukan khususnya seni karawitan yang
mencakup gamelan sebagai bentuk seni karawitan instrumental, salah satunya istilah
gamelan Semar Pegulingan. Buku ini penata gunakan untuk memperkuat penjelasan
mengenai gamelan Semar Pegulingan yang penata gunakan sebagai media ungkap
dalam Tabuh Kreasi Pitu.
Buku Ensiklopedi Karawitan Bali, oleh Pande Made Sukerta yang diterbitkan
oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia pada tahun 1998. Buku ini terdapat
tulisan informatif mengenai istilah kreasi baru, seperti yang dijel (...truncated)