Karya Tabuh Kreasi “Pitu”

Journal of Music Science, Technology, and Industry (JOMSTI), Nov 2023

Purpose: the number seven is a mysterious, unique, magical and meaningful number. Hindu Religion, the number seven is believed to have a special feature because there are seven layers on Earth, namely patala. Methods: the process of creating Pitu's work is an attempt to create a new work of art, especially in the field of Balinese Karawitan art. Pitu's work is a musical creation that uses three parts including, part I (kawitan), part II (gegenderan and bapang), part III (cutter and pekaad). The stylist creates a creation percussion which is structurally starting from kawitan to pekaad which is based on the number seven. The media used in Tabuh Kreasi Pitu uses the gamelan Semar Pegulungan Saih Pitu with a seven-tone pelog barrel to be used as a medium for saying. Pitu's creation of tabuh uses several counts of seven which are combined with dynamics, tempo and melodic games that are developed so as not to look monotonous. Result and discussion: as an academic artist who has more abilities in the academic field, he should be able to create a quality and weighty work. Implication: It is hoped that Tabuh Kreasi Pitu can provide more space for students to be creative by organizing compositional events outside class hours.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/jomsti/article/download/2596/941

Karya Tabuh Kreasi “Pitu”

Journal of Music Science, Technology, and Industry Volume 6, Number 2, 2023 e-ISSN. 2622-8211 https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/jomsti/ Karya Tabuh Kreasi “Pitu” I Putu Hare Krsna Darma Yoga Program Studi Seni Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar Email: Article Info ____________ Article History: Received: April 2023 Accepted: August 2023 Published: October 2023 ______________ Keywords: Number Seven, Semar Pegulingan, Creative Percussion ABSTRACT __________________________________________________ Purpose: the number seven is a mysterious, unique, magical and meaningful number. Hindu Religion, the number seven is believed to have a special feature because there are seven layers on Earth, namely patala. Methods: the process of creating Pitu's work is an attempt to create a new work of art, especially in the field of Balinese Karawitan art. Pitu's work is a musical creation that uses three parts including, part I (kawitan), part II (gegenderan and bapang), part III (cutter and pekaad). The stylist creates a creation percussion which is structurally starting from kawitan to pekaad which is based on the number seven. The media used in Tabuh Kreasi Pitu uses the gamelan Semar Pegulungan Saih Pitu with a seven-tone pelog barrel to be used as a medium for saying. Pitu's creation of tabuh uses several counts of seven which are combined with dynamics, tempo and melodic games that are developed so as not to look monotonous. Result and discussion: as an academic artist who has more abilities in the academic field, he should be able to create a quality and weighty work. Implication: It is hoped that Tabuh Kreasi Pitu can provide more space for students to be creative by organizing compositional events outside class hours. © 2023 Institut Seni Indonesia Denpasar PENDAHULUAN Angka tujuh adalah angka yang misterius, unik, ajaib, dan penuh makna. Hampir semua peradaban manusia menempatkan angka tujuh sebagai angka penting yang berhubungan dengan keberuntungan, kesempurnaan, dan kepercayaan kepada Tuhan. Tradisi agama juga meletakkan angka tujuh sebagai simbol penyatuan 301 Journal of Music Science, Technology, and Industry [JoMSTI] Volume 6, Number 2, 2023. E-ISSN: 2622-8211 kehidupan di bumi dan keberadaan Surga. Bahkan dunia modern menjadikan angka tujuh sebagai patokan perkembangan teknologi, ekonomi, serta olah raga (Wizard, 2011:5). Kebudayaan agama Hindu angka tujuh diyakini memiliki keistimewaan karena ada tujuh lapisan di Bumi, yakni patala (inti bumi atau magma), atala, witala, sutala, talatala, mahatala, dan rasatala. Tradisi Hindu menempatkan angka tujuh sebagai angka yang dikeramatkan. Angka ini istimewa karena berkaitan dengan jumlah Chakra di dalam tubuh manusia, yakni muladara, swadisthana, manipura, anahatta, wisudhi, ajnya, dan sahasrara. Pada era sekarang sudah banyak karya seni baru yang tercipta khususnya dalam seni karawitan, seperti musik vokal atau yang sering disebut tembang, dan musik instrumental yang sering disebut tabuh atau komposisi. Tabuh merupakan hasil kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu repertoire hingga sesuai dengan jiwa, rasa, dan tujuan komposisi (Rembang, 1984/1985: 8). Dalam karya ini penata ingin membuat tabuh kreasi dengan judul Pitu yang diambil dari angka tujuh (7). Angka tujuh dalam musik juga digunakan seperti ada tujuh nada dasar musik, yaitu do, re, mi, fa, sol, la, dan si. Dalam Seni Karawitan Bali juga terdapat tujuh nada, terutama gamelan pelog saih pitu, yaitu ding, dong, deng, deung, dung, dang, dan daing, yang dalam tabuh kreasi ini penata akan menggunakan media ungkap gamelan Semar Pegulingan. Gamelan Semar Pegulingan adalah gamelan yang dalam lontar Catur Munimuni disebut dengan gamelan Semara Aturu ini adalah barungan madya, yang bersuara merdu sehingga banyak dipakai untuk menghibur raja-raja pada zaman dahulu (Dibia, 1999: 114). Terdapat dua macam Semar Pegulingan di Bali yang berlaras pelog tujuh nada dan berlaras lima nada. Kedua jenis Semar Pegulingan secara fisik lebih kecil dari barungan Gong Kebyar terlihat dari ukuran instrumen gangsa dan instrumen trompongnya. Dalam hal ini penata menciptakan tabuh kreasi dengan media ungkap gamelan Semar Pegulingan yang berlaras pelog tujuh nada atau yang sering disebut gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu. Ide merupakan gagasan atau konsep dasar yang menjadi sebab terwujudnya sebuah garapan. Pada karya ini penata mendapatkan ide dari sebuah angka tujuh, karena angka tujuh adalah angka favorit penata. Karena penata ingin mewujudkan suatu karya yang berlandasan dengan angka tujuh. Karya tabuh kreasi Pitu ini lebih 302 Journal of Music Science, Technology, and Industry [JoMSTI] Volume 6, Number 2, 2023. E-ISSN: 2622-8211 berpatokan dengan angka tujuh, karena penata merancang tabuh kreasi yang dari kawitan sampai pekaad konsisten menggunakan hitungan tujuh. Penata membuat hitungan tujuh yang berbeda-beda agar tidak terlihat monoton dengan cara mengolah pukulan melodi dan membuat pola kotekan dengan pola hitungan tujuh. Adapun elemen-elemen pokok yang dimanfaatkan dan diolah seperti melodi, tempo, dinamika, ritme, dan harmoni dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan penata dalam proses penggarapan Tabuh Kreasi Pitu. Suatu karya didasari dengan sebuah konsep karena konsep sangatlah membantu dalam suatu pembentukan karya tabuh kreasi baru, Kreasi baru adalah istilah yang biasa digunakan oleh penabuh atau masyarakat Bali untuk gendinggending kebyar, pategak, terutama untuk membedakan dengan jenis gendinggending pategak lainnya (Sukerta,1998:91). Karya Pitu merupakan suatu tabuh kreasi yang menggunakan tiga bagian, yaitu bagian I (kawitan), bagian II (gegenderan dan bapang), dan bagian III (pengecet dan pekaad), yang lebih berpatokan dengan angka tujuh. Menciptakan sebuah karya seni dibutuhkan sumber-sumber sebagai penunjang karya yang memiliki relevansi dengan karya, baik sebagai pengetahuan, menguatkan argumentasi maupun perbandingan dari karya yang ada. Sumbersumber tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu sumber pustaka (tertulis), sumber diskografi (audio maupun audio-visual) dan sumber manuskrip (narasumber). Secara keseluruhan, terdapat tiga buku yang sangat berpengaruh dalam penciptaan tabuh kreasi Pitu sebagai tinjuan pustaka. Buku Selayang Pandang, Seni Pertunjukan Bali, oleh I Wayan Dibia yang diterbitkan oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia pada tahun 1999. Buku tersebut berisi informasi tentang seni pertunjukan khususnya seni karawitan yang mencakup gamelan sebagai bentuk seni karawitan instrumental, salah satunya istilah gamelan Semar Pegulingan. Buku ini penata gunakan untuk memperkuat penjelasan mengenai gamelan Semar Pegulingan yang penata gunakan sebagai media ungkap dalam Tabuh Kreasi Pitu. Buku Ensiklopedi Karawitan Bali, oleh Pande Made Sukerta yang diterbitkan oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia pada tahun 1998. Buku ini terdapat tulisan informatif mengenai istilah kreasi baru, seperti yang dijel (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/jomsti/article/download/2596/941
Article home page: https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/jomsti/article/view/2596/941

Darma Yoga I Putu Hare Krsna. Karya Tabuh Kreasi “Pitu”, Journal of Music Science, Technology, and Industry (JOMSTI), 2023, pp. 231-240,