Manfaat dan Tantangan Penggabungan Pengukuran Objektif dan Subjektif dalam Penelitian Arsitektur
ARSITEKTURA
Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
ISSN 2580-2976 E-ISSN 1693-3680
https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/issue/archive
Volume 21 Issue 1 April 2023, pages: 141-150
DOI https://doi.org/10.20961/arst.v21i1.71613
Manfaat dan Tantangan Penggabungan
Pengukuran Objektif dan Subjektif dalam Penelitian Arsitektur
Benefits and Challenges of
Combining Objective and Subjective Measurements in Architectural Research
Ferdy Sabono1*, Iwan Sudradjat2, Indah Widiastuti3
Mahasiswa Program Studi Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Indonesia1
Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia2
Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung, Indonesia3
*Corresponding author
Article history
Received: 18 Feb 2023
Accepted: 04 April 2023
Published: 30 April 2023
Abstract
Inaccuracy in choosing and using the type of measurement will result in biased
research findings. Measurements commonly used in architectural research are
objective, subjective, or objective-subjective (mixed) measurements. This article will
discuss mixed measures in architectural research. Researchers can analyze field data
using a quantitative approach, while subjective measurement data are analyzed using
a qualitative approach. The results of the interpretation of the two types of measures
can show convergence or divergence. This article aims to reveal the benefits and
challenges of combining objective and subjective measurements in architectural
research, based on systematic literature reviews in scientific journals, which have
successfully used objective-subjective measurements and outlines the various benefits
and challenges. This study shows that using objective-subjective measures in
architectural research can be beneficial if done in an appropriate context.
Keywords: objective measurement; subjective measurement; architectural research.
Abstrak
Ketidaktepatan dalam memilih dan menggunakan jenis pengukuran akan menghasilkan
temuan penelitian yang bias. Jenis pengukuran yang umum digunakan dalam penelitian
arsitektur adalah pengukuran objektif, subjektif atau objektif-subjektif (campuran).
Artikel ini akan membahas penggunaan pengukuran campuran (objektif-subjektif)
dalam penelitian arsitektur. Melalui pengukuran objektif, data lapangan dianalisis
dengan pendekatan kuantitatif, sementara melalui pengukuran subjektif data tanggapan
partisipan dianalisis secara kualitatif. Hasil interpretasi kedua jenis pengukuran tersebut
dapat menunjukkan konvergensi maupun divergensi. Artikel ini bertujuan untuk
mengungkap berbagai manfaat sekaligus tantangan penggabungan pengukuran objektif
dan subjektif dalam penelitian arsitektur, berbasis pada hasil kajian literatur pada jurnal
ilmiah yang dilakukan secara sistematis, yang telah berhasil menggunakan pengukuran
objektif-subjektif dan merangkum berbagai manfaat dan tantangannya. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa penggunaan pengukuran objektif- subjektif dalam penelitian
arsitektur akan bermanfaat apabila diterapkan pada konteks yang tepat.
Kata kunci: pengukuran objektif; pengukuran subjektif; penelitian arsitektur.
_________
Cite this as: Sabono, F., Sudrajat, I., Widiastuti, I. (2023). Manfaat dan Tantangan Penggabungan Pengukuran Objektif dan Subjektif dalam
Penelitian Arsitektur. Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, 21(1), 141-150. doi:
https://doi.org/10.20961/arst.v21i1.71613
141
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 21 (1) April 2023: 141-150
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pengukuran Objektif
dan Subjektif dalam Penelitian
Arsitektur
Karakteristik objektif desain lingkungan binaan
termasuk arsitektur akan selalu memengaruhi
atau dipengaruhi oleh persepsi manusia sebagai
bentuk respons subjektifnya (Zhao, dkk., 2019).
Permasalahan dalam arsitektur harus dipandang
dari sisi subjektif sekaligus dapat diukur secara
objektif untuk menangkap dan memahami
fenomena secara mendetail. Singkatnya,
objektif berarti tidak terpengaruh oleh pendapat
ataupun perasaan (misalnya dalam mengukur
kekuatan struktur dan material sebuah
bangunan), sedangkan subjektif merupakan
aspek yang sangat dipengaruhi oleh pendapat
atau perasaan (seperti mengukur persepsi rasa
aman di dalam bangunan). Dalam proses
penilaian arsitektural seringkali digunakan dua
jenis kategori pengukuran, yakni pengukuran
objektif dan subjektif (Chakraborty, dkk.,
2004). Oleh karena itu, berbagai topik
penelitian di bidang arsitektur disarankan untuk
menggunakan kedua jenis pengukuran ini
secara bersamaan (Ashadi, dkk., 2018), agar
diperoleh data dan hasil penelitian yang lebih
komprehensif (Sayegh, dkk., 2016).
Pengukuran objektif berhubungan dengan
penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif
merupakan suatu pendekatan untuk menguji
teori-teori objektif dengan cara memeriksa
hubungan antarvariabel. Variabel-variabel
tersebut dapat berupa data numerik dan
dianalisis menggunakan prosedur statistik
(Creswell, 2016). Keabsahan hasil penelitian
kuantitatif juga tergantung pada keandalan
instrumen yang digunakan serta pilihan metode
statistik untuk menganalisis hasil pengukuran
tersebut (Rilatupa, 2015). Di sisi lainnya,
pengukuran subjektif berkaitan dengan jenis
penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif dan banyak digunakan pada penelitian
yang bersinggungan dengan isu sosial.
Pendekatan kualitatif dalam penelitian
arsitektur diperlukan untuk menelusuri
interpretasi
makna
secara
mendalam,
memahami signifikansi logika induktif, dan
142
fokus pada bagaimana responden memahami
keadaan mereka sendiri (Groat & Wang, 2013).
Berbagai topik penelitian arsitektur dalam
beberapa dekade terakhir telah menggunakan
penggabungan kedua jenis pengukuran tersebut
untuk menemukan koherensi dan divergensi
antara hasil objektif dan subjektif (Qiu, dkk.,
2022). Tema-tema penelitian arsitektur seperti
evaluasi
bangunan,
interior,
lanskap,
streetscape, dan urban design merupakan
serangkaian tema umum yang telah
menggunakan jenis pengukuran objektif dan
makna
subjektif
secara
bersamaan.
Chakraborty,
dkk.
(2004)
menyebut
pengukuran objektif dalam penelitian arsitektur
berkaitan dengan situasi yang digambarkan
oleh nilai-nilai objektif dan dimungkinkan
untuk dianalisis menggunakan nilai numerik,
sedangkan pengukuran subjektif dijelaskan
oleh nilai-nilai subjektif yang membutuhkan
intuisi atau pendekatan kreatif.
Sebagai contoh, penelitian yang mengukur
kualitas kenyamanan termal pada ruangan.
Tahapan pengukuran objektif dilakukan dengan
mengukur
dan
mengevaluasi
standar
kenyamanan suhu ruang berdasarkan parameter
numerik suhu ruangan. Data berupa catatan
angka suhu ruangan menjadi dasar dalam
menganalisis dan menarik kesimpulan terhadap
tingkat kualitas suhu ruangan. Pada tahapan
lainnya, pengukuran subjektif dilakukan
dengan menggali respons subjektif dari para
pengguna ruangan untuk mengetahui pendapat
pribadi mereka dalam menilai kualitas
kenyamanan termal di dalam ruangan. Tidak
dap (...truncated)