Eskalasi Lembar Kerja Peserta Didik (Lkpd) Berbasis Higher Order Thinking Skills (Hots) Pada Materi Relasi Dan Fungsi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-11
ISSN: 2808-0866
Eskalasi Lembar Kerja Peserta Didik (Lkpd) Berbasis
Higher Order Thinking Skills (Hots) Pada
Materi Relasi Dan Fungsi
Bina Ramadani
1Program
Studi Pendidikan Matematika, 2Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Abstrak
Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah dalam proses pembelajaran
guru sudah memanfaatkan buku paket dan menggunakan LKPD dari internet. Namun
guru belum membuat LKPD secara mandiri yang berbasis HOTS. Oleh karena itu, salah
satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan LKPD yang dapat
menunjang pengetahuan peserta didik dan dirancang agar dapat berpikir tingkat tinggi
dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga peneliti berinisiatif
untuk mengembangkan LKPD berbasis HOTS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kelayakan LKPD berbasis HOTS dan untuk mengetahui respon peserta didik terhadap
LKPD berbasis HOTS yang dikembangkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan
pengembangan yang mengacu pada model ADDIE. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lembar validasi dan angket peserta didik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) kelayakan LKPD berbasis HOTS yang dinilai oleh ahli media
berada pada kategori sangat layak (86,6%), ahli materi juga berada pada kategori layak
(83%), (2) tanggapan peserta didik terhadap LKPD berbasis HOTS memperoleh
persentase rata-rata sebesar 82,5% termasuk dalam kategori sangat tertarik. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa LKPD berbasis HOTS yang dikembangkan dapat
digunakan sebagai bahan belajar dalam proses pembelajaran.
Kata Kunci: LKPD Berbasis HOTS, Relasi dan Fungsi
1
Jurnal Homepage: http://jurnalmahasiswa.umsu.ac.id/index.php/jimedu
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-11
ISSN: 2808-0866
1. PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia selama ini sedang gencar dalam melakukan
perbaikan diberbagai sektor, salah satunya adalah sektor pendidikan. Perbaikan
yang dilakukan dalam sektor pendidikan adalah dengan diterapkannya kurikulum
2013. Pada kurikulum 2013, pembelajaran ditekankan berpusat pada peserta
didik. Pada Permendikbud no. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses dikatakan
bahwa berpusat pada peserta didik artinya pembelajaran dapat mendorong
semangat untuk belajar, motivasi belajar, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi,
inovasi, serta kemandirian diri. Perbaikan ini dilakukan bukan tanpa alasan,
pemerintah sedang memberikan bekal pada peserta didik dengan keterampilan
abad ke-21 sehingga peserta didik mampu bersaing di tengah masyarakat global
dan tuntutan perubahan. Dalam proses perbaikan ini, banyak hal yang perlu
pemerintah perhatikan, salah satunya adalah ketersediaan buku pedoman
pembelajaran. Buku pedoman sangat penting dalam pembelajaran karena
digunakan sebagai referensi materi pembelajaran oleh peserta didik. Pemerintah
sendiri telah menyediakan buku pedoman yang sesuai dengan kurikulum 2013
dan telah didistribusikan ke sekolah-sekolah. Namun, karena dirasa buku yang
diberikan masih kurang untuk mendukung pembelajaran, maka guru juga
menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk pembelajaran.
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan media yang digunakan
dalam pembelajaran agar meningkatkan aktivitas peserta didik selama proses
belajar mengajar. Sedangkan menurut Widjajanti(2008) Lembar Kerja Peserta
Didik (LKPD) merupakan salah satu sarana untuk belajar dalam kegiatan
pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru, dengan guru sebagai
fasilitatornya. Hendro Darmodjo dan Jenny R.E Kaligis (dalam Salirawati, 2010).
Dalam praktiknya, LKPD yang biasa digunakan adalah LKPD yang diproduksi
oleh penerbit. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa
LKPD yang diproduksi penerbit digunakan sebagai sumber utama dalam proses
pembelajaran karenaa dirasa lebih praktis dan lengkap dibandingkan buku paket.
Tersedianya berbagai soal dinilai dapat melatih kemandirian belajar peserta
didik. Akan tetapi, peserta didik masih mengalami adanya hambatan dalam
memahami materi pelajaran meskipun sudah ada LKPD. (Adi ,2016)
Hal tersebut dikarenakan kalimat yang digunakan kurang komunikatif
sehingga kurang memberikan rasa penasaran terhadap materi yang dijelaskan.
Selain itu, karena materi yang tertulis dalam LKPD sangat singkat membuat
peserta didik kurang mengerti dengan maksud materi. Akibatnya peserta didik
hanya menghafal materi atau rumus bukan mengerti materi atau rumus yang
ada. Di dalam LKPD juga tidak terdapat kegiatan yang mendukung peserta didik
untuk mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking
Skills (HOTS).
HOTS adalah cara berpikir yang lebih tinggi dibandingkan dengan
menghafal fakta, mengungkapkan fakta ataupun menerapkan suatu rumus.
Thomas dan Thomas (2009, dalam Nugroho, 2019). Sedangkan menurut
Teaching Knowledge Test Cambridge English The University of Cambridge
HOTS merupakan keterampikan kognitif peserta didik yang dapat diperoleh dari
ajaran guru. Keterampilan yang dimaksudkan mencakup memikirkan serta
membuat keputusan terkait suatu hal, menyelesaikan masalah, berpikir kreatif
serta menentukan keuntungan maupun kerugian dari suatu hal. (2015, dalam
Nugroho, 2019)
2
Jurnal Homepage: http://jurnalmahasiswa.umsu.ac.id/index.php/jimedu
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan [JIMEDU]
Vol 1 Nomor 4 Desember 2021, hal: 1-11
ISSN: 2808-0866
Berdasarkan Taksonomi Bloom hasil revisi, kemampuan kognitif dibedakan
menjadi 6 level, yaitu mengingat (to remember), mengerti (to understand),
menerapkan (to apply), menganalisis (to analyze), mengevaluasi (to evaluate)
dan mengkreasi (to create). Kemampuan berpikir tersebut dibedakan menjadi
dua kelompok, yaitu keterampilan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking
Skills) dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).
Kemampuan berpikir tingkat rendah meliputi mengingat (C-1), memahami (C-2)
dan menerapkan (C-3) sedangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi
menganalisis (C-4), mengevaluasi (C-5) dan mengkreasi (C-6). Perserta didik
perlu dibiasakan untuk memecahkan suatu masalah serta diajak untuk
menganalisis dan mengkreasi adalah cara agar kemampuan berpikir tingkat
tinggi peserta didik dapat dicapai. 2001 (Nugroho, 2019)
Penulis sebelumnya melakukan penelitian tentang Pengembangan LKPD
Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada materi segiempat kelas VII
dengan harapan LKPD yang disusun dapat membantu peserta didik mengasah
kemampuan berpikir tingkat tinggi mereka sehingga peserta didik tidak lagi
merasa kesulitan jika dihadapkan dengan persoalan yang membutuhkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi serta siap bersaing di tengah masyarakat
global. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, guru Matematika
mengungkapkan bahwa setiap tahun peserta didik mengalami kesulitan pada
materi segiempat karena banyak keluar soal cerita berkaitan dengan segiempat.
Oleh se (...truncated)