ANALISIS PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS EKONOMI BIRU DENGAN PENDEKATAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Analisis Pengembangan Perikanan Budidaya Berbasis Ekonomi Biru ................. (I Nyoman Radiarta, Erlania, dan Joni Haryadi)
ANALISIS PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA
BERBASIS EKONOMI BIRU DENGAN PENDEKATAN
ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Analysis of Aquaculture Development Based on Blue Economy Concept
Using Analytical Hierarchy Process (AHP) Approach
*
I Nyoman Radiarta, Erlania, dan Joni Haryadi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Jl. Ragunan No. 20 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12540
*
email:
Diterima 28 Januari 2015 - Disetujui 6 Juni 2015
ABSTRAK
Penerapan konsep pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis blue economy (BE)
merupakan langkah strategis dalam pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan. Konsepsi BE
bertujuan untuk menciptakan suatu industri yang ramah lingkungan, sehingga bisa tercipta pengelolaan
sumberdaya alam yang lestari dan berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kondisi
terkini dan langkah-langkah strategis pengembangan perikanan budidaya berbasis BE di Indonesia.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Oktober 2014. Data dikumpulkan dari lima lokasi yaitu:
Provinsi Lampung, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, serta Kabupaten
Sumbawa. Pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan
kuisioner terstruktur yang disusun dengan pendekatan Analytic Hierarchy Process. Analisis Strength
Weakness Opportunities Threat (SWOT) dilakukan untuk melihat aspek-aspek yang mempengaruhi
pengembangan perikanan budidaya yang berbasis BE. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penerapan
BE di bidang perikanan budidaya masih harus diperkaya dengan kerangka kebijakan kelautan
dan perikanan, termasuk didalamnya ketersediaan teknologi perikanan budidaya yang prospektif,
peningkatan sumberdaya manusia, sosialisasi konsepsi BE, dan penerapan perikanan budidaya yang
mampu mengakomodasi prinsip-prinsip BE.
Kata Kunci: perikanan budidaya, ekonomi biru, budidaya terintegrasi, Analytical Hierarchy
Process, SWOT
ABSTRACT
The implementation of blue economy (BE) concept for development of marine and fisheries
sectors is a strategic step for marine and fisheries programs. The aim of BE conception is to promote an
environmental friendly industrial based, so it can create natural resources management and sustainable
used. Purpose of this study was to evaluate the current conditions and strategic plans for aquaculture
development based on BE concept in Indonesia. The study was carried out during March-October 2014.
Data were collected from five locations: Lampung, East Java, Bali, West Nusa Tenggara, South Sulawesi,
and Sumbawa Regency. Interviews using a structured questionnaire based on the analytical hierarchy
process approach were used for gathering data and information. SWOT analysis was also conducted to
analyse aspects that affect the development of BE based aquaculture. The results of this study indicated
that the application of BE in the field of aquaculture remains to be enriched with marine and fisheries
policy framework, including the availability of prospective aquaculture technology, improving human
resources capability, socialization of BE conception, and implementation of aquaculture which could
accommodate the principles of BE.
Keywords: aquaculture, blue economy, integrated aquaculture, Analytical Hierarchy Process,
SWOT
47
J. Sosek KP Vol. 10 No. 1 Tahun 2015
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara produsen
perikanan budidaya terbesar ke-4 didunia dengan
produksi tahun 2012 mencapai 3.067.660 ton atau
4.6 % produksi perikanan dunia (FAO, 2014).
Untuk tetap dapat mempertahankan produksi
yang dicapai tersebut, pelaksanaan perikanan
budidaya harus dapat terus ditingkatkan namun
tetap memperhatikan kondisi lingkungan budidaya.
Penerapan pengembangan perikanan budidaya
agar dapat berkelanjutan tentunya harus terintegrasi
dengan seluruh ekosistem yang ada (Soto et al.,
2008; Holmer et al., 2008; FAO, 2010).
Perikanan budidaya masih menjadi tumpuan
produksi kelautan dan perikanan Indonesia. Potensi
lahan yang dimiliki masih sangat besar untuk
dapat dikembangkan yang meliputi tambak, kolam,
perairan umum, sawah, dan laut. Perpaduan antara
potensi yang ada dengan ketersediaan teknologi
yang prospektif tentunya dapat menunjang
peningkatan produksi. Peningkatan aktivitas
perikanan budidaya belakangan ini menjadi
perhatian berbagai pihak khususnya masalah
dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan
perairan. Dampak kegiatan budidaya harus
diminimalkan atau bahkan dapat dihilangkan. Oleh
sebab itu segala kegiatan budidaya perikanan
harus berwawasan lingkungan sehingga aktivitas
budidaya perikanan tersebut dapat berkelanjutan.
Dalam rangka mengontrol pengembangan perikanan
budidaya yang tidak ramah lingkungan, pemerintah
telah merumuskan dan mesosialisasikan aturan
yang sesuai, diantaranya cara berbudidaya ikan
yang baik (CBIB) dan pengembangan perikanan
budidaya yang berwawasan lingkungan (ecosystem
approach to aquaculture).
Pengembangan perikanan budidaya di
Indonesia belakangan ini telah dilakukan melalui
program-program inovatif yang dicanangkan
oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) diantaranya minapolitan (Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35/
KEPMEN-KP/2013 tentang penetapan kawasan
minapolitan di Indonesia), industrialisasi, dan
ekonomi biru (blue economy). Penerapan konsep
pembangunan kelautan dan perikanan yang
berbasis blue economy (BE) merupakan langkah
strategis dalam pelaksanaan pembangunan
kelautan dan perikanan. Konsepsi BE bertujuan
untuk menciptakan suatu industri yang ramah
lingkungan, sehingga bisa tercipta pengelolaan
sumberdaya alam yang lestari dan berkelanjutan
48
(KKP, 2014). Pengembangan konsep BE sangat
sesuai dengan konsepsi blue growth FAO yaitu
pendekatan pengelolaan sumberdaya kelautan
dan perikanan yang berkelanjutan, terintegrasi, dan
dapat meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.
Konsep budidaya terintegrasi (konsepsi BE)
untuk perikanan budidaya bukan merupakan hal
yang baru. Pendekatan ecosystem approach to
aquaculture yang dirumuskan oleh FAO tahun 2008
(Soto et al., 2008; FAO, 2010), merupakan langkah
nyata dalam penerapan perikanan budidaya yang
berwawasan lingkungan. Beberapa aktivitas
perikanan budidaya seperti polikultur, silvofishery,
integrated multi-trophic aquaculture (IMTA), yumina,
dan bumina merupakan beberapa contoh penerapan
konsep BE di beberapa lokasi di Indonesia. Namun
dalam penerapannya masih belum maksimal,
karena umumnya masih dalam tahapan penelitian.
Penerapan di lapangan, umumnya masyarakat
pembudidaya masih terpaku pada pengembangan
satu spesies saja (monoculture), dan sering kali
aspek terhadap lingkungan tidak menjadi perhatian
serius. Pengembangan perikanan budidaya yang
terintegrasi dan berwawasa lingkungan (konsepsi
BE) telah banyak diaplikasikan di beberapa negara
maju diantaranya China, US, Canada, dan Norway
(FAO, 2009). Di Indonesia terdapat tiga lokasi
pencontohan penerapan BE (...truncated)