KESESUAIAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN BPJS RAWAT INAP DENGAN FORMULARIUM RUMAH SAKIT DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, Vol. 12, No. 2, 2023, Hal, 209-219
e-ISSN : 2715-9957
p-ISSN: 2354-8487
KESESUAIAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA
PASIEN BPJS RAWAT INAP DENGAN FORMULARIUM RUMAH
SAKIT DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
Irma Yuliana1 Kharisma Jayak Pratama2Anita Dwi Septiarini3
1) 2) 3) Universitas Duta Bangsa Surakarta
e-mail:
ABSTRAK
Hipertensi suatu penyakit yang menyebabkan sakit pada sesorang ataupun
kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan obat
antihipertensi serta kesesuaian dengan formularium rumah sakit. Penelitian ini
dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang menggunakan metode
deskriptif non eksperimental yaitu suatu proses pengambilan data secara
retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan obat yang digunakan sebagai
pengobatan antihipertensi adalah amlodipin, nicardipin, klonidin, bisoprolol,
concor®, candesartan, valsartan, Golongan diuretik loop: Furosemide. Golongan
aldosteron reseptor antagonis: spironolacton, hidroclorotiazide, lisinopril, dan
ramipril. Obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin
(26,33%), Kemudian obat kombinasi yang paling banyak digunakan adalah
ramipril dengan bisoprolol (25,17%) dan amlodipin dengan candesartan
(13,91%). Kesesuaian obat antihipertensi sudah sesuai dengan formularium
rumah sakit (100%).
Kata kunci: antihipertensi, formularium, hipertensi, kesesuaian, pasien rawat inap.
ABSTRACT
Hypertension is a disease that causes pain in a person and even death. The purpose of this
study was to determine the use of antihypertensive drugs and their suitability with the
hospital formulary. This research was conducted at RSUD Dr. Moewardi Surakarta uses
a non-experimental descriptive method, namely retrospective data collection. The results
showed that the drugs used as antihypertensive treatment were amlodipine, nicardipine,
clonidine, bisoprolol, concor®, candesartan, valsartan, loop diuretics: Furosemide.
Aldosterone receptor antagonists: spironolactone, hydroclorotiazide, lisinopril, and
ramipril. The most widely used antihypertensive drug was amlodipine (26.33%), then the
most widely used combination drug was ramipril with bisoprolol (25.17%) and amlodipine
with candesartan (13.91%). The suitability of antihypertensive drugs is in accordance with
the hospital formulary (100%).
Keywords: antihypertensive, formulary, hypertension, suitability, hospitalization
209
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, Vol. 12, No. 2, 2023, Hal, 209-219
e-ISSN : 2715-9957
p-ISSN: 2354-8487
PENDAHULUAN
Hipertensi berasal dari bahasa latin yaitu hiper adalah tekanan darah yang
berlebihan sedangkan tension adalah tensi. Hipertensi ialah salah satu penyakit
yang menyebabkan sakit pada sesorang ataupun menyebabkan kematian
(Ainurrafiq et al., 2019).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menunjukkan sekitar
1,13 Miliar orang di dunia yang menyandang penyakit hipertensi. Jumlah
penderita hipertensi akan terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada
tahun 2025 akan ada sekitar 1,5 Miliar orang yang terkena penyakit hipertensi dan
komplikasinya (KEMENKES,2019). Penyakit hipertensi terjadi pada kelompok
usia 31- 44 tahun sebesar 31,6%, usia 45-54 tahun sebesar 45,3%, usia 55-64%
sebesar 55,2% (Anggi, 2022).
Penyakit hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi ini terkadang
penderita tidak menyadarinya disaat mereka terkena penyakit tersebut,
kenyataannya sebesar 50% penderita penyakit hipertensi tidak menunjukkan gejala
secara jelas, apalagi masih ditahap awal terserang penyakit hipertensi. Gejala-gejala
yang sering muncul itu seperti pusing, sakit kepala, terkadang mimisan secara tibatiba, dan tengku terasa pegal. Pengobatan penyakit hipertensi pada gejala awal jalan
satu-satunya adalah dengan cara rutin memeriksakan tekanan darah secara teratur
ke instalasi kesehatan terdekat (Sumartini dan Bachtiar, 2016).
Strategi penatalaksanaan penyakit hipertensi dibagi menjadi 2 macam yaitu
terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Terapi farmakologi dengan cara
pemberian obat pada pasien hipertensi sedangkan terapi non farmakologi dengan
cara menerapkan pola gaya hidup yang sehat seperti: diet, berolahraga, tidak
merokok, tidak minum alkohol dan sebagainya (Yogi, 2017).
Penelitian9ini bertujuan untuk mengetahui7kesesuaian penggunaan obat
antihipertensi8di instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan
formularium rumah sakit.
METODE PENELITIAN
Penelitian9ini dilakukan pada bulan april sampai dengan bulan juni
tahun 2023 di instalasi rekam medik dan instalasi farmasi RSUD Dr. Moewardi
Surakarta. Jenis0metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah
210
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, Vol. 12, No. 2, 2023, Hal, 209-219
e-ISSN : 2715-9957
p-ISSN: 2354-8487
dengan metode0observasional7deskriptif yaitu dengan cara mengumpulkan
data secara retrospektif melalui data7atau dokumen6rekam medik pada pasien
BPJS yang terdiagnosa0 penyakit hipertensi dari bulan juli sampai dengan bulan
desember pada tahun 2022. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini
sebanyak 234 pasien0hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi:pasien dengan
diagnosis penyakit hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta,pasien rawat
inap periode bula juli sampai bulan desember pada tahun 2022, pasien mendapat
terapi antihipertensi, usia >18 tahun. Data diolah dengan analisis deskriptif dan
disajikan dalam bentuk tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Hipertensi
Pengambilan0data ini dilakukan dengan cara melihat penggunaan obat
antihipertensi yang digunakan oleh pasien rawat inap pada elektronik rekam
medik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan0dengan metode sampling yang menggunakan tabel Stephen Isaac dan
Willian B. Michael dengan tingkat kesalahan9sebesar 10%, maka dapat diperoleh
sampel sebanyak 234 data pasien yang menggunakan obat antihipertensi pada
periode bulan juli sampai dengan bulan desember tahun 2022.
1. Jenis Kelamin
Pasien penderita hipertensi di instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Moewardi Surakarta pada periode bulan juli sampai dengan bulan
desember pada tahun 2022 diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin yang
bertujuan untuk mengetahui presentase0serta frekuensi pada perbandingan
jenis kelamin.
Tabel 1 Karakteristik Pasien Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Total
Jumlah Pasien
103
131
234
Presentase
44,02%
55,98%
100,00%
Seorang9laki-laki akan cenderung menderita penyakit hipertensi jika
dibandingkan dengan perempuan dikarenakan laki-laki lebih banyak melakukan
211
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, Vol. 12, No. 2, 2023, Hal, 209-219
e-ISSN : 2715-9957
p-ISSN: 2354-8487
kebiasaan pola hidup yang dapat menyebabkan penyakit hipertensi seperti
merokok, pemarah, mengonsumsi minuman beralkohol. Tekanan darah tinggi
atau penyakit hipertensi0sudah menjadi penyakit yang umum bagi banyak orang
pada saat ini, apalagi bagi0mereka yang bertempat tinggal diperkotaan.
Penyakit (...truncated)