REPRESENTASI NILAI-NILAI BUDAYA JAWA DALAM LIRIK LAGU “CAPING GUNUNG” KARYA GESANG
Jurnal Lingue
Bahasa,
Budaya,
dan Sastra
Israwati
Amir,Irvan
Mustafa, Nurindah Purnama Sari, Nurhikmah & Abd Rahi. 2022. Jurnal
Volume 5, No.2, Desember 2023 h.30-39
60
Lingue: Bahasa, Budaya, dan Sastra. Vol.5,No.1 Juni 2023
Page 60-68
REPRESENTASI NILAI-NILAI BUDAYA JAWA DALAM LIRIK LAGU CAPING
GUNUNG KARYA GESANG
(The Representation of Javanese Cultural Values in the Song Lyrics "Caping Gunung" By
Gesang)
Nanang Syaifudin
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora, Karang Malang, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta
Pos-el:
Abstract
This research aims to analyze the representation of Javanese cultural values in the song lyrics
"Caping Gunung" created by Gesang by focusing on revealing (1) the meaning of denotation, connotation,
and myth in the song lyrics; (2) the meaning of symbolic forms in song lyrics. This research uses a
qualitative descriptive research method with a semiotic approach by Roland Barthes. In this analysis, the
author explores the language used in the lyrics, the traditional values reflected, as well as the
relationship between humans and nature, which is an important aspect of Javanese culture. The author
seeks to understand how these lyrics play an important role in preserving and strengthening Javanese
cultural identity. Based on the data analysis, it can be concluded that (1) In terms of denotation,
connotation, and myth, the lyrics of this song have deep meaning and refer to typical elements of
Javanese culture in preserving and strengthening Javanese cultural identity which includes history,
cultural values, and human relationships with nature; (2) The symbolic meaning of "Caping Gunung" is a
sign that symbolizes traditional Javanese clothing as Javanese cultural identity.
Keywords: javanese songs, denotation, connotation, myth and symbolic meaning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai-nilai budaya Jawa dalam lirik lagu
"Caping Gunung" yang diciptakan oleh Gesang dengan befokus pada pengungkapan (1) pemaknaan
denotasi, konotasi, dan mitos pada lirik lagu; (2) pemaknaan bentuk simbolik pada lirik lagu. Penelitian
ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotik oleh Roland Barthes.
Dalam analisis ini, penulis mengeksplorasi bahasa yang digunakan dalam lirik, nilai-nilai tradisional
yang tercermin, serta hubungan antara manusia dan alam, yang merupakan aspek penting dalam budaya
Jawa. Penulis berusaha untuk memahami bagaimana lirik tersebut memainkan peran penting dalam
melestarikan dan memperkuat identitas budaya Jawa. Berdasarkan analisis data, diperoleh simpulan
bahwa (1) Pada pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos, lirik lagu ini memiliki makna yang dalam dan
merujuk pada elemen-elemen khas budaya Jawa dalam melestarikan dan memperkuat identitas budaya
Jawa yang mencakup sejarah, nilai-nilai budaya, dan hubungan manusia dengan alam; (2) Makna
simbolik "Caping Gunung" adalah tanda yang melambangkan pakaian tradisional Jawa sebagai identitas
budaya Jawa.
Kata-kata kunci: lagu jawa, denotasi, konotasi, mitos, dan makna simbolik
Nanang Syaifudin. 2023. Jurnal Lingue: Bahasa, Budaya, dan Sastra. Vol. 5, No.
2 Desember 2023
Page 30-39
PENDAHULUAN
Budaya Jawa yang kaya dengan
tradisi dan warisan telah menjadi
fokus utama dalam seni dan sastra.
Salah satu wujud ekspresi yang
berhasil menggambarkan keindahan
dan kekayaan budaya Jawa adalah
melalui lirik lagu. Lirik-lirik lagu
sering kali mencerminkan nilai-nilai,
keyakinan, dan pandangan hidup
masyarakat Jawa dalam bentuk sastra
lisan. Sastra lisan adalah karya sastra
yang hanya disampaikan melalui lisan
dan
mencakup
unsur-unsur
kebudayaan dan kepercayaan suatu
kelompok masyarakat (Endraswara,
2018). Dalam konteks ini, lirik lagu
"Caping Gunung" karya Gesang
Martohartono menjadi sebuah karya
seni yang menarik untuk dianalisis.
Lirik lagu ini bukan sekadar rangkaian
kata-kata pembentuk lagu, melainkan
juga pernyataan seni yang mendalam
dan signifikan. Lagu ini mampu
merepresentasikan nilai-nilai budaya
Jawa dengan cara yang emosional
melalui lirik-liriknya yang sarat
makna, mengangkat tradisi Jawa,
menggambarkan
kehidupan
masyarakat, dan mengekspresikan
hubungan erat antara manusia dan
alam.
Gesang Martohartono, lahir pada
1 Oktober 1917, merupakan seorang
penyanyi dan pencipta lagu asal Solo
yang dikenal sebagai "maestro
keroncong Indonesia." Meskipun
awalnya hanya seorang penyanyi
keroncong untuk acara-acara kecil di
Solo, Gesang menciptakan beberapa
lagu, termasuk "Keroncong Roda
Dunia," "Keroncong si Piatu," dan
"Sapu Tangan." Namun, lagu-lagu ini
tidak mendapat sambutan positif dari
masyarakat. "Caping Gunung" juga
merupakan salah satu lagu yang
diciptakannya pada tahun 1973 dan
menjadi salah satu karyanya yang
menggunakan Bahasa Jawa dalam
liriknya. Lagu ini termasuk dalam
genre langgam Jawa dan dikenal
populer setelah dinyanyikan ulang
oleh Waldjinah, seorang penyanyi
yang mengkhususkan diri dalam lagu
keroncong langgam Jawa.
Penelitian ini menjelajahi latar
belakang budaya Jawa melalui lagu
"Caping
Gunung,"
memberikan
gambaran tentang isi dan makna lagu
tersebut dalam kerangka analisis dan
metodologi penelitian. Mengapa lirik
lagu ini menjadi sasaran analisis dan
mengapa representasi budaya dalam
seni sangat penting akan dibahas lebih
lanjut. Dengan memahami lirik lagu
ini secara lebih mendalam, diharapkan
kita dapat meraih pemahaman yang
lebih baik tentang peran seni musik
sebagai penjaga dan penyampai nilainilai budaya. Penelitian ini juga
diharapkan memberikan kontribusi
berarti dalam upaya merayakan dan
melestarikan kekayaan budaya Jawa
dengan menjelajahi makna-makna
yang terkandung dalam lirik.
Penelitian
terdahulu
yang
membahas lagu Caping Gunung sudah
pernah dilakukan dengan judul
Analisis Lagu Caping Gunung dalam
Limbukan Wayang Kulit yang
membahas bentuk musik, lirik, cent
dan hertz (Rafika, 2018). Penelitian
tersebut
menggunakan
metode
kualitatif
dengan
pendekatan
musikologis dan historis yakni dalam
pentatonis. Selain itu, penelitian yang
berupa analisis semiotika juga pernah
dilakukan dengan judul Analisis
Pemaknaan
pada
Tembang
Campursari “Gugur Gunung” dalam
Konteks Gotong Royong (Riyatmoko
& Suyatno, 2019). Penelitian tersebut
31
Nanang Syaifudin. 2023. Jurnal Lingue: Bahasa, Budaya, dan Sastra. Vol. 5, No.
2 Desember 2023
Page 30-39
bertujuan
untuk
medeskripsikan
pemaknaan denotasi, konotasi, dan
mitos serta bentuk simbolik pada
tembang campursari dengan simpulan
bahwa pada pemaknaan denotasi,
konotasi, dan mitos pada tembang
“Gugur Gunung” memiliki makna
tentang masyarakat yang masih perlu
dihimbau akan pentingnya gotong
royong, dan untuk makna simbolik
yang terdapat pada tembang “Gugur
Gunung” yaitu gotong royong dan
kerukunan. Peneletian tentang makna
simbolik juga pernah dilakukan
dengan judul Nilai-Nilai Budaya
dalam Lagu Ndas Gerih Karya Denny
Caknan; Studi Semiotika Ferdinand
De Saussure yang menghasilkan
bahwa
nilai-nilai
budaya
terepresentasi dalam lirik, musik dan
video klip l (...truncated)