Studi Pustaka: Deskripsi Penerimaan Keluarga terhadap Pengungkapan Anak Autisme: Penerumaan Keluarga, Peran Keluarga, dan Keluarga Dengan Anak Autisme
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora)
https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora
DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i2.3723
e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359
Vol. 3 No. 2 (Juni 2024) 220-227
Submitted: June 14, 2024 | Accepted: June 27, 2024 | Published: June 28, 2024
Studi Pustaka: Deskripsi Penerimaan Keluarga terhadap
Pengungkapan Anak Autisme
1,2*
Satya Aras Ardiansyah1, Hastin Trustisari2*
Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial, Universitas Binawan, Jakarta, Indonesia
Email: , 2*
Abstrak
Menurut Loftus (2024) di Amerika Serikat 1 dari 36 anak pada tahun 2023 mengidap autisme angka ini
meningkat dibanding tahun 2020 satu dari 44 anak amerika serikat mengidap autisme. Pengungkapan oleh
tenaga kesehatan membuat beragam emosi pada keluarga seperti ketidak percayaan, menyalahi Tuhan,
menyalahi diri sendiri berujung pada penyangkalan dan penelantaran pada anak autisme. Padahal peran
keluarga sangatlah penting dalam tumbuh kembang anak apalagi anak berkebutuhan khusus seperti autisme
penulis disini menulis mengenai beragam reaksi emosional anggota keluarga dan peran yang dijalankannya
setelah pengungkapan anak dengan autisme yang bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh emosi
keluarga dan seberapa berperan keluarga dalam pertumbuhan anak dengan autisme. Penelitian ini dilakukan
dengan metode deskriptive literture review dengan mendeskripsikan dan menkritisi jurnal-jurnal yang telah
terbit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa reaksi emosional anggota keluarga semuanya bersifat negatif,
tetapi regulasi emosi yang positif dapat membuat penerimaan anak dengan baik. Stigmatisasi adalah salah
satu yang membuat emosi menjadi negatif, setelah mendapatkan dukungan sosial maka keluarga akan
mencari informasi mengenai anak dengan autisme dan dilanjutkan dengan peran-peran berikutnya yang
memebantu anak dengan autisme mandiri dan adaptif..
Kata Kunci: Autisme, Keluarga, Stigma
Abstract
According to Loftus (2024), in the United States, 1 out of 36 children were diagnosed with autism in 2023,
which is an increase compared to 2020 when it was 1 out of 44 children. Disclosure by healthcare
professionals elicits various emotions within families such as disbelief, blaming God or oneself, ultimately
leading to denial and neglect of children with autism. However, the family's role is crucial in the
development of children, especially those with special needs like autism. The author here writes about the
various emotional reactions of family members and the roles they undertake after the disclosure of a child's
autism diagnosis, aiming to uncover the extent of family emotions and their role in the growth of children
with autism. This research is conducted using a descriptive literature review method by describing and
critiquing previously published journals. The results of this study indicate that the emotional reactions of
family members are mostly negative, but positive emotional regulation can lead to better acceptance of the
child. Stigmatization is one factor that contributes to negative emotions, but after receiving social support,
families seek information about autism, followed by subsequent roles that help children with autism become
independent and adaptive..
Keywords: Autism, Family, Stigma
PENDAHULUAN
Autisme adalah salah satu gangguan perkembangan yang terjadi pada anak-anak. Menurut Santrock,
(2002) autisme atau disebut Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan pada
seseorang yang terjadi pada area kognitif, perilaku, emosi, sosial, dan perilaku emosional kepada orang lain
termasuk orang-orang dekat dengan anak seperti keluarga. Sedangkan, Diagnostic and Statistical Manual
of Book Mental Disorder 5th edisi (DSM-V) ASD adalah gangguan perkembangan persiv artinya penderita
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
220
Satya Aras Ardiansyah1, Hastin Trustisari2
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 2 (2024) 220 – 227
ASD biasanya mengalami gangguan dalam hal berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain, dan
gangguan perilaku.
Menurut WHO Organization ((Organization, 2023) terdapat berbandingan prevalensi kelahiran anak autis
di dunia, satu dari seratus anak lahir dengan kondisi autis, sedangkan di Amerika Serikat, Menurut data dari
Loftus (2024) di amerika serikat 1 dari 36 anak pada tahun 2023 mengidap autisme angka ini meningkat
dibanding tahun 2020 satu dari 44 anak amerika serikat mengidap autisme. Peningkatan ini dikarenakan
para orang tua di amerika serikat telah paham pentingnya skrinning dini. Menurut tempo Faisal, (2023)
Anak autis di indonesia pada tahun 2021 adalah sebanyak 2,4 juta anak.
Pentingnya pengungkapan dini anak dengan autisme, menurut Elder (2019) dalam penelitiannya dikatakan
bahwa jika keluarga terlambat dalam mengetahui anak dengan autime maka keluarga khususnya orang tua
dalam pengasuhan akan meningkat menjadi stress dibanding yang telah melakukan pengungkapan sejak
dini, dan manfaat dari pengungkapan sejak dini adalah diberikannya intervensi sejak dini dan memiliki
manfaat yang positif seperti peningkatan kognitif, bahasa dan perilaku adaptif. Pengungkapan sejak dini ini
dilakukan sejak usia anak yaitu sejak usia 12 sampai 24 bulan.
Jika sejak dini dapat diungkap bahwa anak menyandang autisme maka intervensi sejak dini dapat dilakukan
dengan intervensi yang dilakukan menurut Elder (2019) adalah terapi wicara dan bahasa untuk dapat
memperbaiki pengenalannya mengani bahasa, Terapi interaksi sosial antara anak dengan orang tua, orang
dewasa, anak lainnya. Terapi sensorik untuk mengmbangkan motorik halus dan kasar pada anak dengan
autis, pelatihan toilet, makan, berpakaian, mandi untuk melatih kebiasaan atau perilaku adaptifnya, semua
terapi yang digunakan dibuat untuk dapat melakukan kemandirian pada abak dengan autisme.
Peran adalah seperangkat perilaku interpersonal, sifat dan kegiatan yang berhubungan dengan individu
dalam posisi satuan tertentu. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, peran-peran
tersebut seperti bagaimana orang tua mengenal masalah pada anak autime , mencari informasi mengenai
anak autisme, melakukan upaya pengobatan, melakukan terapi-terapi bagi anak autisme dan pemenuhan
nutrisi anak autisme (Sutinah, 2016).
Peran keluarga ketika pertama kali mendengar pengungkapan dokter atau psikolog mengenai anaknya yang
memiliki autisme adalah mencari informasi melalui teman terdekat dan informasi di internet. Peran lain
dari keluarga yang dapat dilakukan adalah usaha pengobatan yang menjadi satu-satunya jalan keluar yang
dilakukan oleh keluarga saat pertama kali pengungkapan. Selain itu peran keluarga setelah adanya
pengungkapan adalah konsultasi ke dokter, psikolog dan pekerja sosial (Sutinah, 2016).
Menurut Okoye et al (2023) pengungkapan yang terjadi pada keluarga sangat berat diterima oleh keluarga
khususnya mengenai stigmatisasi dalam masyarakat bahwa anak autisme memiliki potensi negatif dan
mengkhawatirkan mengenai ku (...truncated)