KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN PROBOLINGGO [Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency]
14
Astuti dan Sumarmi. Media Gizi Indonesia. 2020.15(1): 14–21
https://doi.org/10.204736/mgi.v15i1.14–21
KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING
DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN
PROBOLINGGO
Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency
Dhita Kusuma Astuti1*, Sri Sumarmi2
1Program
Studi S1 Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya
Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya
*E-mail:
2Departemen
ABSTRAK
Salah satu masalah gizi utama yang dihadapi di negara berkembang adalah stunting. Kabupaten Probolinggo merupakan
salah satu Kabupaten prioritas pemerintah untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia dengan prevalensi sebesar
49,43%. Wilayah pedesaan memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi daripada perkotaan. Keragaman konsumsi
pangan yang kurang berkaitan dengan stunting. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan keragaman
konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan Kabupaten Probolinggo. Desain penelitian
berupa cross sectional dengan sampel penelitian sejumlah 44 balita stunting usia 12-59 bulan di setiap wilayah
pedesaan dan perkotaan yang dikumpulkan dengan metode multistage cluster sampling. Data keragaman konsumsi
pangan dikumpulkan dengan instrumen IDDS 9 kelompok pangan yang dinilai dua kali dengan konsumsi minimal
10 gram tiap kelompok pangan. Data dianalisis menggunakan T-test. Hasil dari penelitian menunjukkan tidak ada
perbedaan yang signifikan pada keragaman konsumsi pangan (p=0,106) pada balita stunting di wilayah pedesaan
dan perkotaan. Keragaman konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah perkotaan sedikit lebih baik daripada di
wilayah pedesaan. Berdasarkan 9 kelompok pangan, diketahui bahwa balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan
tidak mengkonsumsi daging organ. Disimpulkan bahwa keragaman konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah
pedesaan tidak berbeda dengan wilayah perkotaan. Ibu sebaiknya memberikan makanan yang lebih beragam untuk
anaknya, terutama buah, sayur, telur, kacang dan biji-bijian, susu dan olahannya serta memperkenalkan daging organ
seperti hati ayam.
Kata kunci: balita stunting, keragaman pangan, pedesaan, perkotaan
ABSTRACT
One of the main nutritional problems faced by developing countries is stunting. Probolinggo Regency is
one of the government priority to overcome stunting problem in Indonesia with prevalence of stunting up to
49.43%. Rural area have higher prevalence of stunting compare to urban area. Dietary diversity associate
with stunting. This study aimed to analyze the differences of dietary diversity among stunting toddlers in
rural and urban area of Probolinggo Regency. A cross sectional study design was used with total sample
as much as 44 stunting toddlers aged 12-59 months in rural and 44 stunting toddlers with the same age
in urban area. Sample was determined by multistage cluster sampling. Data were collected using IDDS
instrument and rated twice with minimum consumption of 10 grams. Data were analyzed using T-test. Result
showed that there were no significant differences on dietary diversity (p=0.106) among stunting toddlers in
rural and urban area. Dietary diversity among stunting toddlers in urban area are slightly better than rural
area. Based on 9 food groups, stunting toddlers both in rural and urban area were not consuming organ
meat. It was concluded that dietary diversity among stunting toddlers in rural area was not different from
dietary diversity among stunting toddlers in urban areas. Mother should give more diverse food to their
children, especially fruits, vegetables, nuts and seeds, milk and milk products, and introduce organ meat
such as chicken liver.
Keywords: stunting toddlers, dietary diversity, rural, urban
©2019. The formal legal provisions for access to digital articles of this electronic journal are subject to the terms of the Creative CommonsAttribution-NonCommercial-ShareAlike license (CC BY-NC-SA 4.0).Received 22-10-2018, Accepted 20-12-2019, Published online 02-21-2020
15
Astuti dan Sumarmi. Media Gizi Indonesia. 2020.15(1): 14–21
https://doi.org/10.204736/mgi.v15i1.14–21
PENDAHULUAN
Salah satu masalah gizi utama yang dihadapi
di negara berkembang adalah stunting (UNICEF,
2013). Stunting atau pendek adalah kondisi
gagal tumbuh pada balita dengan indeks tinggi
badan atau panjang badan menurut umur kurang
dari -2 SD (Kemenkes, 2011). Stunting terjadi
akibat dari kekurangan gizi yang kronis selama
1000 hari pertama kehidupan (Weise, 2012).
Balita yang mengalami stunting akan memiliki
tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan
anak lebih rentan terhadap penyakit dan di
masa depan dapat berisiko pada menurunnya
tingkat produktivitas. Pada akhirnya, stunting
akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan
meningkatkan kemiskinan. Prevalensi stunting
di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,2% dan
termasuk dalam 5 besar negara dengan prevalensi
stunting tertinggi. Kabupaten Probolinggo
merupakan kabupaten prioritas untuk intervensi
stunting dengan prevalensi stunting pada tahun
2013 sebesar 49,43% (Sekretariat Wakil Presiden
Republik Indonesia, 2017).
Salah satu penyebab langsung stunting adalah
asupan gizi yang kurang (UNICEF, 2013). Tingkat
asupan gizi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas
makanan (Sediaoetama, 2010). Individual Dietary
Diversity Score (IDDS) adalah ukuran kualitatif
dari konsumsi makanan yang dapat mencerminkan
kecukupan gizi dari makanan individu (FAO,
2010). Berdasarkan penelitian Mahmudiono, et
al (2017) di Jawa Timur menunjukkan bahwa
terdapat hubungan tingginya skor keragaman
konsumsi pangan dengan rendahnya kemungkinan
anak terhadap stunting.
Menurut karakteristik wilayah tempat tinggal,
wilayah pedesaan memiliki prevalensi stunting
yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan.
Prevalensi stunting pada tahun 2013 di Indonesia
pada wilayah pedesaan sebesar 42,1%, sedangkan
wilayah perkotaan sebesar 32,5% (Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Berdasarkan
penelitian Hermina dan Prihartini (2011), anak
balita yang pendek lebih banyak ditemukan di
pedesaan (24,2%) daripada di perkotaan (18,0%).
Pekerjaan yang beragam dengan gaji yang lebih
tinggi di wilayah perkotaan memungkinkan orang
tua untuk dapat memenuhi asupan gizi anak,
sehingga dapat terhindar dari stunting (Rosha et
al., 2012).
Keragaman konsumsi pangan dapat
mencerminkan kecukupan zat gizi seseorang
dan adanya hubungan keragaman konsumsi
pangan dengan kejadian stunting serta adanya
perbedaan prevalensi stunting di wilayah pedesaan
dan perkotaan melatarbelakangi penelitian ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
perbedaan keragaman konsumsi pangan dan pada
balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan
Kabupaten Probolinggo.
METODE
Penelitian ini merupakan observasional
analitik dengan desain cross sectional yang
dilakukan di dua wilayah kerja Puskesmas dengan
pertimbangan puskesmas tersebut (...truncated)