KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN PROBOLINGGO [Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency]

Jurnal Media Gizi Indonesia (MGI), Jan 2020

One of the main nutritional problems faced by developing countries is stunting. Probolinggo Regency is one of the government priority to overcome stunting problem in Indonesia with prevalence of stunting up to 49.43%. Rural area have higher prevalence of stunting compare to urban area. Dietary diversity associate with stunting. This study aimed to analyze the diff erences of dietary diversity among stunting toddlers in rural and urban area of Probolinggo Regency. A cross sectional study design was used with total sample as much as 44 stunting toddlers aged 12-59 months in rural and 44 stunting toddlers with the same age in urban area. Sample was determined by multistage cluster sampling. Data were collected using IDDS instrument and rated twice with minimum consumption of 10 grams. Data were analyzed using T-test. Result showed that there were no signifi cant diff erences on dietary diversity (p=0.106) among stunting toddlers in rural and urban area. Dietary diversity among stunting toddlers in urban area are slightly better than rural area. Based on 9 food groups, stunting toddlers both in rural and urban area were not consuming organ meat. It was concluded that dietary diversity among stunting toddlers in rural area was not diff erent from dietary diversity among stunting toddlers in urban areas. Mother should give more diverse food to their children, especially fruits, vegetables, nuts and seeds, milk and milk products, and introduce organ meat such as chicken liver.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/download/10142/9069

KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN PROBOLINGGO [Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency]

14 Astuti dan Sumarmi. Media Gizi Indonesia. 2020.15(1): 14–21 https://doi.org/10.204736/mgi.v15i1.14–21 KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN PROBOLINGGO Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency Dhita Kusuma Astuti1*, Sri Sumarmi2 1Program Studi S1 Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya *E-mail: 2Departemen ABSTRAK Salah satu masalah gizi utama yang dihadapi di negara berkembang adalah stunting. Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu Kabupaten prioritas pemerintah untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia dengan prevalensi sebesar 49,43%. Wilayah pedesaan memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi daripada perkotaan. Keragaman konsumsi pangan yang kurang berkaitan dengan stunting. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan keragaman konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan Kabupaten Probolinggo. Desain penelitian berupa cross sectional dengan sampel penelitian sejumlah 44 balita stunting usia 12-59 bulan di setiap wilayah pedesaan dan perkotaan yang dikumpulkan dengan metode multistage cluster sampling. Data keragaman konsumsi pangan dikumpulkan dengan instrumen IDDS 9 kelompok pangan yang dinilai dua kali dengan konsumsi minimal 10 gram tiap kelompok pangan. Data dianalisis menggunakan T-test. Hasil dari penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada keragaman konsumsi pangan (p=0,106) pada balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan. Keragaman konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah perkotaan sedikit lebih baik daripada di wilayah pedesaan. Berdasarkan 9 kelompok pangan, diketahui bahwa balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan tidak mengkonsumsi daging organ. Disimpulkan bahwa keragaman konsumsi pangan pada balita stunting di wilayah pedesaan tidak berbeda dengan wilayah perkotaan. Ibu sebaiknya memberikan makanan yang lebih beragam untuk anaknya, terutama buah, sayur, telur, kacang dan biji-bijian, susu dan olahannya serta memperkenalkan daging organ seperti hati ayam. Kata kunci: balita stunting, keragaman pangan, pedesaan, perkotaan ABSTRACT One of the main nutritional problems faced by developing countries is stunting. Probolinggo Regency is one of the government priority to overcome stunting problem in Indonesia with prevalence of stunting up to 49.43%. Rural area have higher prevalence of stunting compare to urban area. Dietary diversity associate with stunting. This study aimed to analyze the differences of dietary diversity among stunting toddlers in rural and urban area of Probolinggo Regency. A cross sectional study design was used with total sample as much as 44 stunting toddlers aged 12-59 months in rural and 44 stunting toddlers with the same age in urban area. Sample was determined by multistage cluster sampling. Data were collected using IDDS instrument and rated twice with minimum consumption of 10 grams. Data were analyzed using T-test. Result showed that there were no significant differences on dietary diversity (p=0.106) among stunting toddlers in rural and urban area. Dietary diversity among stunting toddlers in urban area are slightly better than rural area. Based on 9 food groups, stunting toddlers both in rural and urban area were not consuming organ meat. It was concluded that dietary diversity among stunting toddlers in rural area was not different from dietary diversity among stunting toddlers in urban areas. Mother should give more diverse food to their children, especially fruits, vegetables, nuts and seeds, milk and milk products, and introduce organ meat such as chicken liver. Keywords: stunting toddlers, dietary diversity, rural, urban ©2019. The formal legal provisions for access to digital articles of this electronic journal are subject to the terms of the Creative CommonsAttribution-NonCommercial-ShareAlike license (CC BY-NC-SA 4.0).Received 22-10-2018, Accepted 20-12-2019, Published online 02-21-2020 15 Astuti dan Sumarmi. Media Gizi Indonesia. 2020.15(1): 14–21 https://doi.org/10.204736/mgi.v15i1.14–21 PENDAHULUAN Salah satu masalah gizi utama yang dihadapi di negara berkembang adalah stunting (UNICEF, 2013). Stunting atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada balita dengan indeks tinggi badan atau panjang badan menurut umur kurang dari -2 SD (Kemenkes, 2011). Stunting terjadi akibat dari kekurangan gizi yang kronis selama 1000 hari pertama kehidupan (Weise, 2012). Balita yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat berisiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya, stunting akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,2% dan termasuk dalam 5 besar negara dengan prevalensi stunting tertinggi. Kabupaten Probolinggo merupakan kabupaten prioritas untuk intervensi stunting dengan prevalensi stunting pada tahun 2013 sebesar 49,43% (Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, 2017). Salah satu penyebab langsung stunting adalah asupan gizi yang kurang (UNICEF, 2013). Tingkat asupan gizi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas makanan (Sediaoetama, 2010). Individual Dietary Diversity Score (IDDS) adalah ukuran kualitatif dari konsumsi makanan yang dapat mencerminkan kecukupan gizi dari makanan individu (FAO, 2010). Berdasarkan penelitian Mahmudiono, et al (2017) di Jawa Timur menunjukkan bahwa terdapat hubungan tingginya skor keragaman konsumsi pangan dengan rendahnya kemungkinan anak terhadap stunting. Menurut karakteristik wilayah tempat tinggal, wilayah pedesaan memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Prevalensi stunting pada tahun 2013 di Indonesia pada wilayah pedesaan sebesar 42,1%, sedangkan wilayah perkotaan sebesar 32,5% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Berdasarkan penelitian Hermina dan Prihartini (2011), anak balita yang pendek lebih banyak ditemukan di pedesaan (24,2%) daripada di perkotaan (18,0%). Pekerjaan yang beragam dengan gaji yang lebih tinggi di wilayah perkotaan memungkinkan orang tua untuk dapat memenuhi asupan gizi anak, sehingga dapat terhindar dari stunting (Rosha et al., 2012). Keragaman konsumsi pangan dapat mencerminkan kecukupan zat gizi seseorang dan adanya hubungan keragaman konsumsi pangan dengan kejadian stunting serta adanya perbedaan prevalensi stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan melatarbelakangi penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan keragaman konsumsi pangan dan pada balita stunting di wilayah pedesaan dan perkotaan Kabupaten Probolinggo. METODE Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan di dua wilayah kerja Puskesmas dengan pertimbangan puskesmas tersebut (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/download/10142/9069
Article home page: https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/10142/9069

Astuti Dhita Kusuma, Sri Sumarmi. KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA STUNTING DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN PROBOLINGGO [Dietary Diversity among Stunting Toddlers in Rural and Urban Areas of Probolinggo Regency], Jurnal Media Gizi Indonesia (MGI), 2020, pp. 14-21,