Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Vol 6, No 1 (2024) Januari-Juni
Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi
Lutfi Arya1, M. Husni Tamrin2, Dimas Riztiardhana3,
Andi Maulida Rahmania4
134Fakultas
Psikologi, Universitas Hang Tuah
Email:
Email:
Email:
2 Program Studi Administrasi Publik, Universitas Hang Tuah
Email:
Submitted: 07-09-2023
Revised: 20-01-2024
Accepted: 31-01-2024
Abstract
Bullying has occurred in various types of schools, including Islamic boarding schools. The Al-Amanah
Junwangi Modern Islamic Boarding School is no exception. Partners experience two problems: (1) teachers
lack knowledge about bullying and its handling; and (2) students engage in bullying. Partners are aware
of the dangers of bullying, so there is a need for an anti-bullying program. One solution is to provide
knowledge and insight about bullying or anti-bullying lessons. To address the second problem, the solution
is to implement anti-bullying lessons directly with students. We implemented the method by using lectures
interspersed with questions and answers, discussions, viewing videos, games, case studies, and
simulations. There were 46 anti-bullying lesson participants, with details of 16 teachers, 15 Santri, and 15
female students. The results of the implementation showed an increase in understanding about bullying
and its impacts by 16% and an increase in practical sessions by 38% among teachers. Meanwhile, students
showed an increase in understanding about bullying and its impacts by 19%, and female students by 10%.
Other results show that female students are able to demonstrate behavior against bullying completely, while
58% of students are able to demonstrate stay-calm behavior, 33% feel good about you, and 75% don't be
quite.
Keywords: anti-bullying lesson, adolescent, islamic boarding school
Abstrak
Bullying telah terjadi di berbagai jenis sekolah termasuk pesantren. Tidak terkecuali pada
Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Terdapat dua permasalahan yang dialami oleh mitra
yaitu (1) guru belum sepenuhnya tahu tentang persoalan bullying dan penanganannya, (2) terjadi
bullying pada santri. Mitra menyadari akan bahaya bullying, sehingga perlu adanya program
anti bullying. Solusi yang ditawarkan untuk permasalahan pertama adalah memberikan
pengetahuan dan wawasan tentang bullying atau anti-bully lesson. Solusi yang ditawarkan untuk
permasalahan kedua adalah memberikan anti-bully lesson pada level santri. Metode pelaksanaan
yang digunakan adalah ceramah, diselingi tanya jawab, diskusi, melihat video, permainan, studi
kasus dan simulasi. Peserta anti-bully lesson berjumlah 46, dengan rincian 16 guru, 15 santri dan
15 santriwati. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang
bullying beserta dampaknya sebesar 16%, dan adanya peningkatan pada sesi praktik sebesar 38%
pada guru. Sedangkan pada siswa menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang
bullying beserta dampaknya sebesar 19%, dan pada siswi sebanyak 10%. Hasil lainnya
menunjukkan bahwa siswi mampu mendemonstrasikan perilaku melawan bullying dengan
tuntas, sedangkan pada siswa mampu mendemonstrasikan perilaku stay calm sebanyak 58%, feel
good about you 33% dan do not be quite 75%.
Kata Kunci: anti-bully lesson, remaja, pesantren
1. PENDAHULUAN
Bullying di sekolah telah
diidentifikasi
sebagai
masalah
perilaku di kalangan remaja, dapat
mempengaruhi prestasi sekolah,
keterampilan
prososial,
dan
1
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
kesejahteraan psikologis bagi yang
melakukan dan yang dikenai.
Sebagian
besar
penelitian
menunjukkan kelompok korbanlah
yang memiliki kesulitan paling
signifikan di bidang psikologis,
keterampilan
komunikasi,
dan
pelajaran (Tsitsika et al., 2014).
Beberapa
penelitian
yang
mengeksplorasi tentang dampak
bullying
menunjukkan
bahwa
terdapat masalah kesehatan mental
dan sosial terjadi bersamaan dengan
korban bullying, seperti ide bunuh
diri (Holt et al., 2015; Liu et al., 2018)
dan self-esteem yang rendah (Arya &
Syanti, 2022; Fanti & Henrich, 2015;
Iswinarti & Khairunnisa, 2021; Pratiwi
et al., 2021). Selain itu, studi metaanalisis menemukan bahwa pelaku
bullying
di
sekolah
terlibat
penggunaan senjata dan penggunaan
obat-obatan terlarang (Katsaras et al.,
2018; Lereya et al., 2015; Wolke et al.,
2013a).
PISA
(Programmer
for
International Student Assessment)
melaporkan kejadian bullying dari sisi
korban.
Hasilnya
menunjukkan
bahwa, di banyak negara OECD
(Organisation for Economic Cooperation
and
Development),
bullying verbal dan psikis sering
terjadi, sebanyak rata-rata 11%
beberapa kali dalam sebulan diolokolok, 7% dikucilkan, dan 8% menjadi
objek rumor buruk di sekolah (OECD,
2017). Laporan PISA selanjutnya
menempatkan Indonesia pada urutan
kelima dari 78 negara yang paling
banyak
mengalami
bullying.
Setidaknya sebanyak 41% siswa
menjadi korban bullying di Indonesia,
dibandingkan 23% angka rata-rata
Vol 6, No 1 (2024) Januari-Juni
siswa dibully di seluruh negara OECD
(OECD, 2018).
Para
peneliti
sebelumnya
menyepakati bahwa bullying muncul
dari niat jahat untuk menyakiti yang
diwujudkan dalam aksi menyerang
secara fisik, psikis atau verbal, yang
mengakibatkan seseorang terluka dan
menderita.
Dikatakan
sebagai
bullying jika terdapat ketimpangan
kekuatan antara pelaku dan korban,
terjadi berulang-ulang, dilakukan
dengan perasaan senang dan tidak
bertanggung jawab. Bullying dapat
dilakukan oleh individu maupun
secara berkelompok, dilakukan secara
langsung
(berhadap-hadapan)
maupun tidak langsung seperti
menyebar gosip (Chalmers et al., 2016;
Eriksen, 2018; Yang & Salmivalli,
2015). Terdapat tiga jenis bullying,
diantaranya bullying verbal misalnya
memanggil dengan nama julukan,
menghina, mengancam, ejekan rasis;
bullying fisik misalnya serangan fisik,
memukul, menendang, merusak
barang orang lain; dan bullying
relasional misalnya menyebarkan
gosip dan mengsiolasi seseorang dari
pertemanan (Smith, 2014).
Bullying berdampak serius bagi
korban dan pelaku. Korban bullying
dilaporkan mengalami tekanan psikis
yang mengakibatkan sakit fisik,
merasa tidak diterima, harga diri
hancur, merasa kesepian, depresi
hingga melakukan percobaan bunuh
diri (Katsaras et al., 2018). Hasil
penelitian tentang kesehatan mental
sebagai konsekuensi dari perilaku
bullying menunjukan bahwa anak
yang menjadi korban bullying
memiliki resiko depresi lebih tinggi
pada
masa
dewasa.
Mereka
menunjukkan gejala peningkatan
2
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
resiko ketidaksehatan mental, seperti
cemas, depresi dan menyakiti diri
sendiri. Di sisi lain, anak yang tidak
pernah mengalami bullying tidak
menunjukkan gejala peningkatan
resiko ketidaksehatan mental (Lereya
et al., 2015). Bullying juga membawa
dampak serius bagi pelaku. Pelaku
bullying dapat mengalami masalah
kejiwaan dan kebiasaan merokok
ketika
dewasa.
Mereka
ju (...truncated)