Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi

Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar, Jan 2024

Bullying has occurred in various types of schools, including Islamic boarding schools. The Al-Amanah Junwangi Modern Islamic Boarding School is no exception. Partners experience two problems: (1) teachers lack knowledge about bullying and its handling; and (2) students engage in bullying. Partners are aware of the dangers of bullying, so there is a need for an anti-bullying program. One solution is to provide knowledge and insight about bullying or anti-bullying lessons. To address the second problem, the solution is to implement anti-bullying lessons directly with students. We implemented the method by using lectures interspersed with questions and answers, discussions, viewing videos, games, case studies, and simulations. There were 46 anti-bullying lesson participants, with details of 16 teachers, 15 Santri, and 15 female students. The results of the implementation showed an increase in understanding about bullying and its impacts by 16% and an increase in practical sessions by 38% among teachers. Meanwhile, students showed an increase in understanding about bullying and its impacts by 19%, and female students by 10%. Other results show that female students are able to demonstrate behavior against bullying completely, while 58% of students are able to demonstrate stay-calm behavior, 33% feel good about you, and 75% don't be quite.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.utu.ac.id/baktiku/article/download/8294/pdf

Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi

Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 6, No 1 (2024) Januari-Juni Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi Lutfi Arya1, M. Husni Tamrin2, Dimas Riztiardhana3, Andi Maulida Rahmania4 134Fakultas Psikologi, Universitas Hang Tuah Email: Email: Email: 2 Program Studi Administrasi Publik, Universitas Hang Tuah Email: Submitted: 07-09-2023 Revised: 20-01-2024 Accepted: 31-01-2024 Abstract Bullying has occurred in various types of schools, including Islamic boarding schools. The Al-Amanah Junwangi Modern Islamic Boarding School is no exception. Partners experience two problems: (1) teachers lack knowledge about bullying and its handling; and (2) students engage in bullying. Partners are aware of the dangers of bullying, so there is a need for an anti-bullying program. One solution is to provide knowledge and insight about bullying or anti-bullying lessons. To address the second problem, the solution is to implement anti-bullying lessons directly with students. We implemented the method by using lectures interspersed with questions and answers, discussions, viewing videos, games, case studies, and simulations. There were 46 anti-bullying lesson participants, with details of 16 teachers, 15 Santri, and 15 female students. The results of the implementation showed an increase in understanding about bullying and its impacts by 16% and an increase in practical sessions by 38% among teachers. Meanwhile, students showed an increase in understanding about bullying and its impacts by 19%, and female students by 10%. Other results show that female students are able to demonstrate behavior against bullying completely, while 58% of students are able to demonstrate stay-calm behavior, 33% feel good about you, and 75% don't be quite. Keywords: anti-bullying lesson, adolescent, islamic boarding school Abstrak Bullying telah terjadi di berbagai jenis sekolah termasuk pesantren. Tidak terkecuali pada Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Terdapat dua permasalahan yang dialami oleh mitra yaitu (1) guru belum sepenuhnya tahu tentang persoalan bullying dan penanganannya, (2) terjadi bullying pada santri. Mitra menyadari akan bahaya bullying, sehingga perlu adanya program anti bullying. Solusi yang ditawarkan untuk permasalahan pertama adalah memberikan pengetahuan dan wawasan tentang bullying atau anti-bully lesson. Solusi yang ditawarkan untuk permasalahan kedua adalah memberikan anti-bully lesson pada level santri. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah ceramah, diselingi tanya jawab, diskusi, melihat video, permainan, studi kasus dan simulasi. Peserta anti-bully lesson berjumlah 46, dengan rincian 16 guru, 15 santri dan 15 santriwati. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang bullying beserta dampaknya sebesar 16%, dan adanya peningkatan pada sesi praktik sebesar 38% pada guru. Sedangkan pada siswa menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang bullying beserta dampaknya sebesar 19%, dan pada siswi sebanyak 10%. Hasil lainnya menunjukkan bahwa siswi mampu mendemonstrasikan perilaku melawan bullying dengan tuntas, sedangkan pada siswa mampu mendemonstrasikan perilaku stay calm sebanyak 58%, feel good about you 33% dan do not be quite 75%. Kata Kunci: anti-bully lesson, remaja, pesantren 1. PENDAHULUAN Bullying di sekolah telah diidentifikasi sebagai masalah perilaku di kalangan remaja, dapat mempengaruhi prestasi sekolah, keterampilan prososial, dan 1 Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kesejahteraan psikologis bagi yang melakukan dan yang dikenai. Sebagian besar penelitian menunjukkan kelompok korbanlah yang memiliki kesulitan paling signifikan di bidang psikologis, keterampilan komunikasi, dan pelajaran (Tsitsika et al., 2014). Beberapa penelitian yang mengeksplorasi tentang dampak bullying menunjukkan bahwa terdapat masalah kesehatan mental dan sosial terjadi bersamaan dengan korban bullying, seperti ide bunuh diri (Holt et al., 2015; Liu et al., 2018) dan self-esteem yang rendah (Arya & Syanti, 2022; Fanti & Henrich, 2015; Iswinarti & Khairunnisa, 2021; Pratiwi et al., 2021). Selain itu, studi metaanalisis menemukan bahwa pelaku bullying di sekolah terlibat penggunaan senjata dan penggunaan obat-obatan terlarang (Katsaras et al., 2018; Lereya et al., 2015; Wolke et al., 2013a). PISA (Programmer for International Student Assessment) melaporkan kejadian bullying dari sisi korban. Hasilnya menunjukkan bahwa, di banyak negara OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), bullying verbal dan psikis sering terjadi, sebanyak rata-rata 11% beberapa kali dalam sebulan diolokolok, 7% dikucilkan, dan 8% menjadi objek rumor buruk di sekolah (OECD, 2017). Laporan PISA selanjutnya menempatkan Indonesia pada urutan kelima dari 78 negara yang paling banyak mengalami bullying. Setidaknya sebanyak 41% siswa menjadi korban bullying di Indonesia, dibandingkan 23% angka rata-rata Vol 6, No 1 (2024) Januari-Juni siswa dibully di seluruh negara OECD (OECD, 2018). Para peneliti sebelumnya menyepakati bahwa bullying muncul dari niat jahat untuk menyakiti yang diwujudkan dalam aksi menyerang secara fisik, psikis atau verbal, yang mengakibatkan seseorang terluka dan menderita. Dikatakan sebagai bullying jika terdapat ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban, terjadi berulang-ulang, dilakukan dengan perasaan senang dan tidak bertanggung jawab. Bullying dapat dilakukan oleh individu maupun secara berkelompok, dilakukan secara langsung (berhadap-hadapan) maupun tidak langsung seperti menyebar gosip (Chalmers et al., 2016; Eriksen, 2018; Yang & Salmivalli, 2015). Terdapat tiga jenis bullying, diantaranya bullying verbal misalnya memanggil dengan nama julukan, menghina, mengancam, ejekan rasis; bullying fisik misalnya serangan fisik, memukul, menendang, merusak barang orang lain; dan bullying relasional misalnya menyebarkan gosip dan mengsiolasi seseorang dari pertemanan (Smith, 2014). Bullying berdampak serius bagi korban dan pelaku. Korban bullying dilaporkan mengalami tekanan psikis yang mengakibatkan sakit fisik, merasa tidak diterima, harga diri hancur, merasa kesepian, depresi hingga melakukan percobaan bunuh diri (Katsaras et al., 2018). Hasil penelitian tentang kesehatan mental sebagai konsekuensi dari perilaku bullying menunjukan bahwa anak yang menjadi korban bullying memiliki resiko depresi lebih tinggi pada masa dewasa. Mereka menunjukkan gejala peningkatan 2 Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik resiko ketidaksehatan mental, seperti cemas, depresi dan menyakiti diri sendiri. Di sisi lain, anak yang tidak pernah mengalami bullying tidak menunjukkan gejala peningkatan resiko ketidaksehatan mental (Lereya et al., 2015). Bullying juga membawa dampak serius bagi pelaku. Pelaku bullying dapat mengalami masalah kejiwaan dan kebiasaan merokok ketika dewasa. Mereka ju (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.utu.ac.id/baktiku/article/download/8294/pdf
Article home page: http://jurnal.utu.ac.id/baktiku/article/view/8294/pdf

Arya Lutfi, Tamrin M. Husni, Dimas Riztiardhana, Rahmania Andi Maulida. Anti-Bully Lesson di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar, 2024, pp. 1-17,