Enabling Factor According to Maternal Behaviour of 6 Months Exclusive Breastfeeding at Puskesmas Kemiri Muka Work Area
Jurnal Persada Husada Indonsia Vol.2. No.7Juli 2016
Faktor Pemungkin Terkait Perilaku Ibu Memberikan Asi Eksklusif 6 Bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok Tahun 2011
Ida1, Kenti Friskarini1
Enabling Factor According to Maternal Behaviour of 6 Months Exclusive Breastfeeding
at Puskesmas Kemiri Muka Work Area
Abstrak
Air susu ibu merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi serta mempunyai nilai yang paling
tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat manusia ataupun susu hewan. Di kota Depok pemberian
ASI eksklusif sampai usia bayi 6 bulan pada tahun 2010 masih rendah yaitu sebesar 61,93%. Tulisan ini adalah
tentang bagaimana hubungan faktor pemungkin (enabling factors). Penelitian ini merupakan penelitian dengan
disain crossectional (potonglintang). Metode yang digunakan adalah dengan metode survey. Tempat penelitian
adalah di wilayah kerja Puskesmas Kemiri Muka. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner.
Sebagai populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berumur 6 sampai dengan 12
bulan sejumlah 251 ibu. Sedangkan sampel sejumlah 172 ibu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok masih rendah yaitu
sebesar. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa hanya sejumlah 44 responden atau 25,6% memberikan ASI
eksklusif 6 bulan. Faktor pemungkin (enabling factors) yang berhubungan bermakna dengan pemberian ASI
eksklusif 6 bulan adalah Inisisasi Menyusu Dini (IMD) dan rawatgabung. Saran dari hasil penelitian ini bahwa
diharapkan Dinas Kesehatan Kota Depok dan Puskesmas Kemiri Muka perlu meningkatkan penerapan dan
pengawasan terhadap pelaksanaan IMD dan rawat gabung bayi dengan ibunya.
Kata Kunci : Faktor Pemungkin, PerilakuIbu, ASI Eksklusif 6 Bulan
Abstract
Breast milk constitutes as the most suitable food for an infant and contains the highest value when
compared to baby food created by man or even animal milk. In Kota Depok in 2010, exclusive breastfeeding till
the age of 6 months is still low at 61,93%. This article is about the relationship of enabling factors. This study
constitutes a study with cross-sectional design and survey methods were applied. Location of study was at
Puskesmas Kemiri Muka work area. Interviews were carried out using questionaires on on a study population of
251 mothers with infants between 6 to 12 months of age, of which 172 mothers were samples. Study results
showed that the conferment of 6 months exclusive breastfeeding in the work area of PusKesMas Kemiri Kota
Kota Depok was still low. Study results revealed only 44 respondents or 25,6% conferred 6 months of exclusive
breastfeedings. The meaningful enabling factors in relation is the Early Breastfeeding Initiation (EBI) and
nursing cluster. Recommendation from this study result is the expectation for Kota Depok Health Agency and
PusKesMas Kemiri Muka to intensify the application and monitoring towards EBI and nursing cluster
implementations between infant and mother.
Key Words: Enabling Factor, Maternal Behaviour, 6 Months Exclusive Breastfeeding
1
Peneliti Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan
10
Jurnal Persada Husada Indonsia Vol.2. No.7 Juli 2016
Pendahuluan
Air susu ibu merupakan makanan yang
paling cocok bagi bayi serta mempunyai nilai
yang paling tinggi dibandingkan dengan
makanan bayi yang dibuat manusia ataupun
susu hewan seperti sapi, susu kerbau dan lainlainnya. Air susu ibu sangat menguntungkan
ditinjau dari berbagai segi, baik segi gizi,
kesehatan, ekonomi maupun sosio-psikologis.
Hal ini banyak terlihat dari di berbagai negara
atau wilayah dimana higiene lingkungan belum
memadai disamping makanan bayi pengganti
air susu ibu tidak tersedia ataupun harganya
sangat mahal dan tidak terjangkau oleh daya
beli penduduk pada umumnya (Suhardjo,
1992). Air susu ibu merupakan makanan terbaik
ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi bayi
yang baru dilahirkan. Makanan-makanan tiruan
bagi bayi yang diramu menggunakan teknologi
masa kini, ternyata tidak mampu menandingi
keunggulan ASI. Sebab ASI, mempunyai nilai
gizi paling tinggi dibandingkan dengan
makanan bayi yang dibuat oleh manusia
ataupun susu yang berasal dari hewan, seperti
susu sapi, kerbau, atau kambing (Suhardjo,
1992).
Praktikpemberian ASI di Indonesia
masih buruk, masyarakat masih sering
beranggapan bahwa menyusui hanya urusan ibu
dan bayinya. Seorang ibu menyusui selalu
dianjurkan untuk tidak hidup stres, karena stress
dapat mempengaruhi produksi ASI, sehingga
hormone oksitosin tidak dapat mengeluarkan
ASI secara optimal (Utami Roesli, 2000).
Burukya pemberian ASI Ekskluasif di
Indonesua menyebabkan bayi mnderita gizi
kurang. Padahal kekurangan gizi yang terjadi
pada bayi akan berdampak pada bayi akan
berdampak pada gangguan psikomotor,
kognitif, dan sosial serta secara klinis terjadi
gangguan pertumbuhan.
Menurut data Susenas (survei sosial
ekonomi nasional) cakupan pemberian ASI
eksklusif padabayi sampai 6 bulan di Indonesia
turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi
24,3% padatahun 2008 (Minarto, 2010). Hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010
menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif
sampai usia bayi 6 bulan di Indonesia masih
rendah,
yaitu
hanya
sebesar
15,3%
(BadanLitbangkes, 2010). Pemberian ASI
eksklusif di Jawa Barat bervariasi besarnya di
setiap Kabupaten/Kota, yaitu berkisar kurang
dari 30% sampai ada yang di atas 80%. Secara
keseluruhan, pemberian ASI eksklusif di Jawa
Barat pada tahun 2008 adalah sebesar 42,35%
(Dinkes Jawa Barat, 2008). Di kota Depok
pemberian ASI eksklusif sampai usia bayi 6
bulan pada tahun 2010 adalah sebesar 61,93%.
Sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Kemiri
Muka yang meliputi wilayah Kelurahan Kemiri
Muka dan Pondok Cina pemberian ASI
eksklusif 6 bulan pada tahun 2010 masih di
bawah cakupan Kota Depok yaitu baru
mencapai 32,48% (Dinas Kesehatan Depok,
2011). Banyak faktor yang menyebabkan ibu
tidak memberikan ASI eksklusif kepada
bayinya. Menurut Green, 1980 dalam
Notoatmodjo,
2003
perilaku
seseorang
ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor
predisposisi (predisposing factors), yang
terwujud
dalam
pengetahuan,
sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan
sebagainya, faktor pemungkin (enabling
factors), yang terwujud kemampuan untuk
mengakses
pelayanan
kesehatan
baik
tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan
maupun
melalui kemampuannya untuk
mencapai sarana atau fasilitas kesehatan
tersebut, dan faktor pendorong/penguat
(reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas
yang lain, yang merupakan kelompok referensi
dari perilaku masyarakat.
Tujuan penulisan ini adalah mengetahui
hubungan faktor pemungkin (enabling factors)
yaitu pendapatan keluarga, tempat melahirkan,
inisiasi menyusu dini, rawat gabung, cara
melahirkan, dan akses terhadap tenaga
kesehatan terkait perilaku ibu dalam
memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja
Puskesmas Kemiri Muka, Kota Depok.
11
(...truncated)