Relationship Between Economic and Demographic Characteristics Against Happiness Status of Jakarta Population in 2012

Jurnal Persada Husada Indonesia, Oct 2014

The study of happiness has been widely applied as an indicatorofwelfare. In 2007, Bhutan became thefirst country to measure Gross National Happiness Index. Furthermore, there were some internationalorganizations that try to measure this index in several countries to learnabout the comparability, for example, The New Economics Foundation with The Happy Planet Index (HPI), The Organization for EconomicCooperation and Development (OECD) with Your Better Life Index (YBLI), and the Legatum Institute withProsperity Index (PI). Statistics Indonesia (BPS) conducted a national survey to measurelevel of Happiness in2013. Previously, preliminary survey was conducted in Jakarta in 2012. This study uses secondary data from the National Socioeconomic Survey (SUSENAS) Jakarta Year 2012 with atotal of 1,198 respondents. Chi squareanalysis was used to identify if there are difference in Economic and Demographic Characteristics (place oforigin, gender, age group, educational background, marital status, number of household members, and monthly average household expenditure) to the status of individual happiness (variable with 4 Likert scale, in the range 1 (Not Happy) to 4 (Very Happy). The results showed a tendency of higher happinessin the population of Kabupaten Kepualauan Seribu, female, in the age group of 17-24 years old, highly educated, married, a large number of household members, and have high average household expenditure per month.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.stikesphi.ac.id/index.php/kesehatan/article/download/50/24

Relationship Between Economic and Demographic Characteristics Against Happiness Status of Jakarta Population in 2012

Hubungan antara Karakteristik Ekonomi dan Demografi Terhadap Status Kebahagiaan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2012 Alfatihah Reno Maulani Nuryaningsih Soekri Putri Munaf12, Elwindra1 Relationship BetweenEconomicandDemographicCharacteristicsAgainstHappinessStatusof JakartaPopulationin 2012 Abstrak Studi tentang kebahagiaan semakin banyak dilakukan sebagai salah satu indikator bagi kesejahteraan masyarakatnya. Dimulai oleh Bhutan yang mengukur Gross National Happiness Index pada tahun 2007. Beberapa organisasi dunia mencoba melakukannya pada Negara-negara untuk melihat keterbandingannya. Diantaranya, New Economics Foundation dengan Happy Planet Index (HPI), Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dengan Your Better Life Index (YBLI), dan Legatum Institute dengan Prosperity Index (PI). Badan Pusat Statistik melakukan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan pada tahun 2013, sebelumnya, sebuah penelitian pendahuluan dilakukan di DKI Jakarta pada tahun 2012. Penelitian ini menggunakan data sekunder hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) DKI Jakarta Tahun 2012. Sebanyak 1.198 responden dijadikan sampel pada penelitian ini. Analisis Chi Square digunakan untuk melihat apakah ada perbedaan Karakteristik Ekonomi dan Demografi (asal kabupaten/kota, jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan terakhir, status perkawinan, banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata pengeluaran rumah tangga dalam sebulan ) terhadap status kebahagiaan individu (peubah dengan skala likert 4, berada pada rentang 1 (Tidak Bahagia) – 4 (Sangat Bahagia)). Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan untuk lebih bahagia pada: penduduk di Kab. Kepulauan Seribu, berjenis kelamin perempuan, pada kelompok umur 17-24 tahun, berpendidikan tinggi, berstatus kawin, dengan jumlah anggota rumah tangga besar, dan memiliki rata-rata pengeluaran rumah tangga yang tinggi. Kata Kunci: Kebahagiaan, Ukuran Kebahagiaan, Penelitian Kebahagiaan Abstract The study of happiness has been widely applied as an indicatorofwelfare. In 2007, Bhutan became the first country to measure Gross National Happiness Index. Furthermore, there were some international organizations that try to measure this index in several countries to learnabout the comparability, for example, The New Economics Foundation with The Happy Planet Index (HPI), The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) with Your Better Life Index (YBLI), and the Legatum Institute with Prosperity Index (PI). Statistics Indonesia (BPS) conducted a national survey to measurelevel of Happiness in 2013. Previously, preliminary survey was conducted in Jakarta in 2012. This study uses secondary data from the National Socioeconomic Survey (SUSENAS) Jakarta Year 2012 with atotal of 1,198 respondents. Chi square analysis was used to identify if there are difference in Economic and Demographic Characteristics (place of origin, gender, age group, educational background, marital status, number of household members, and monthly average household expenditure) to the status of individual happiness (variable with 4 Likert scale, in the range 1 (Not Happy) to 4 (Very Happy). The results showed a tendency of higher happinessin the population of Kabupaten Kepualauan Seribu, female, in the age group of 17-24 years old, highly educated, married, a large number of household members, and have high average household expenditure per month. Keywords: Happiness, The Measure of Happiness, Happiness Research 1 Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Persada Husada Indonesia Pegawai pada Badan Pusat Statistik 2 50 49 Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1 No.3 Oktober 2014 Pendahuluan SejakEasterlin (1974) mengemukakan konsep kebahagiaan dalam penelitiannya tentang hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup manusia, penelitian tentang kebahagiaan terus berkembang. Di bidang psikologi, kebahagiaan diinterpretasikan sebagai bagian dari emosi positif yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang(Piqueras et al., 2011). Feldman (2010)menguraikan filosofi dari kebahagiaan sebagai sikap yang menganggap semua hal itu menyenangkan. Semakin kita puas terhadap banyak hal, kita akan semakin bahagia. Perbandingan tingkat kebahagiaan antar Negara telah dilakukan oleh beberapa institusi. New Economics Foundation sejak tahun 2006 mengukur Happy Planet Index (HPI), HPI 2012 diukur pada 151 negara, posisi Indonesia berada di peringkat ke-14. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sejak 2011 mengembangkan Your Better Life Index (YBLI) untuk membandingkan 34 negara. Indonesia belum termasuk dalam 34 Negara yang sudah diukur BLI-nya. Legatum Institute menggunakan Prosperity Index (PI). PI diukur pada 142 negara, berdasarkan PI, Indonesia menempati peringkat ke-63. Pengukuran kebahagiaan secara nasional telah dilakukan oleh beberapa Negara. Diawali dengan Bhutan, dengan Gross National Happiness Index (GNHI)-nya pada 2007, tahun 2012 Inggris melakukan pengukuran National Well-Being. Di tahun yang sama, Kanada, mengukur Canadian Index of Wellbeing, Tahun 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Studi Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) untuk mengumpulkan data terkait kebahagiaan dan kepuasan hidup penduduk secara nasional. Berdasarkan rilis yang diterbitkan BPS (2014), Indeks Kebahagiaan Indonesia berada pada angka 65,11 pada skala 0-100. Di mana 0 menggambarkan individu yang sangat tidak 50 bahagia, dan 100 adalah individu yang sangat bahagia. Selain itu, tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi didapatkan pada: a. Penduduk di perkotaan; b. Individu dengan rata-rata pendapatan rumah tangga lebih tinggi; c. Penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi; d. Penduduk berusia 65 tahun ke bawah; e. Penduduk yang belum kawin dan kawin memiliki indeks pada kisaran 65, sedangkan individu yang cerai mati lebih bahagia (63,49) dibandingkan dengan yang cerai hidup (60,55); f. Peningkatan jumlah anggota rumah tangga akan meningkatkan kebahagiaan, namun setelah mencapai 5 atau lebih, indeks kebahagiaan mulai menurun. Hasil survei tentang Indonesian Happiness Index (IHI), yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group pada tahun 2007, menempatkan Jakarta, sebagai Ibukota Republik Indonesia, sebagai kota yang tingkat kebahagiaan penduduknya rendah (indeks 46,20 pada skala 0-100) bila dibandingkan empat kota besar lainnya, yaitu Semarang (48,74), Makassar (47,95), Bandung (47,88), dan Surabaya (47,19). Survei ini dilakukan terhadap 300 responden untuk masing-masing kota, dengan hasil tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi pada: a. Jenis kelamin laki-laki; b. Berpendidikan tinggi; c. Berasal dari Strata Ekonomi Sosial tinggi (lebih kaya); d. Bekerja sebagai professional(www.thejakartapost.com, 2007). Penelitian lain mengenai ukuran kebahagiaan di Jakarta dilakukan oleh Yayasan Indonesia Bahagia. Melalui penelitian terhadap 500 orang responden pada tahun 2009, didapatkan hasil bahwa tingkat kebahagiaan penduduk di Jakarta hanya mencapai 3,61 pada skala (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.stikesphi.ac.id/index.php/kesehatan/article/download/50/24
Article home page: http://jurnal.stikesphi.ac.id/index.php/kesehatan/article/view/50/24

Maulani Alfatihah Reno, Elwindra Elwindra. Relationship Between Economic and Demographic Characteristics Against Happiness Status of Jakarta Population in 2012, Jurnal Persada Husada Indonesia, 2014, pp. 50-58,