PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TEACHING FACTORY 6M MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI KEEMPAT DI SMK NEGERI 6 PONTIANAK
JURKAMI:Jurnal Pendidikan Ekonomi
http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE
JURKAMI Volume 3, no 2, 2018
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TEACHING FACTORY 6M
MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI KEEMPAT
DI SMK NEGERI 6 PONTIANAK
Nuraini Asriati1, Sulistyarini2, Maria Ulfah3, Endang Purwaningsih4
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, Indonesia1234
Email: .id1
Diterima: 2 Oktober 2018; Disetujui: 20 Oktober 2018; Diterbitkan: 1 November 2018
Abstract: the background of this research is ineffective character development and
entrepreneurship soul graduates on 6th Pontianak Vocational Schools. Learning activities
program learning productive in smk still did not cover the aspect of soft competence,
especially entrepreneurship skills. The purpose of this research is put to the test and the
implementation of teaching factory 6M and 4D on kria textile class in 6th Pontianak
Vocational Schools as the country effort in handling the industrial revolution 4.0. To develop
the effectiveness of the of the context of teaching factory, input, and the products of the
process. A method to be used that is of research and development with the subject of study
kria textile in college students. The result showed that there are differences the
entrepreneurial study results before and after implementing learning model teaching factory
6M and 4D. Based on the research done it can be concluded that learning model teaching
factory 6M and 4D effective in improving entrepreneurship study results they came in terms
of context, input, processes and product on students of kria textile at 6th Pontianak
Vocational Schools.
Keywords: the effectiveness of, learning, teaching factory, entrepreneurship
Abstrak: latar belakang penelitian ini adalah belum optimalnya pengembangan karakter dan
jiwa kewirausahaan lulusan SMK Negeri 6 Pontianak. Kegiatan pembelajaran pembelajaran
program produktif di SMK masih belum mencakup aspek soft competence, terutama
kecakapan kewirausahaan. Tujuan penelitian ini yakni keterapan uji dan terlaksananya model
pembelajaran Teaching Factory 6M dan 4D kelas kria tekstil pada SMK Negeri 6 Pontianak
sebagai upaya menghadapi revolusi industri 4.0. untuk mengembangkan efektivitas
pelaksanaan teaching factory ditinjau dari segi konteks, input, proses dan produk. Metode
yang digunakan yakni penelitian dan pengembangan (R&D) dengan subjek penelitian siswa
jurusan kria tekstil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan capaian hasil
belajar kewirausahaan sebelum dan setelah menerapkan model pembelajaran Teaching
Factory 6M dan 4D. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran Teaching Factory 6M dan 4D efektif dalam meningkatkan hasil belajar
kewirausahaan yang ditinjau dari segi konteks, input, proses dan produk pada siswa jurusan
kria tekstil SMK 6 Pontianak.
Kata Kunci: efektivitas, pembelajaran, teaching factory, kewirausahaan
Copyright © 2018 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938
JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi
penggunaan daya komputasi dan data yang
PENDAHULUAN
Transisi
JURKAMI Volume 3, no 2, 2018 | 71
proses
produksi
dalam
tidak terbatas karena dipengaruhi oleh
berbagai skala dan jenis memang bukan
perkembangan
internet
hal yang baru dalam peradaban manusia
digital
masif
modern. Revolusi Industri Pertama, yang
punggung pergerakan dan konektivitas
dimulai pada abad ke-18, terjadi ketika
manusia
mesin bertenaga uap digunakan secara
aktivitas termasuk bidang pendidikan.
massal untuk proses produksi. Kemudian,
penggunaan
mesin
uap
berkembang
yang
dan
dan
teknologi
sebagai
mesin
dalam
tulang
berbagai
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
merupakan
satuan
pendidikan
formal
menjadi pemanfaatan tenaga listrik yang
kejuruan yang menghasilkan lulusan yang
memungkinkan produksi massal yang
memiliki kompetensi yang siap memasuki
lebih efektif dan efisien. Hal tersebut
dunia kerja. Mata-mata pelajaran di SMK
memulai Revolusi Industri Kedua, yang
pada prinsipnya terdiri dari tiga kelompok
berlangsung pada 1870 sampai dengan
yaitu mata pelajaran normatif, adaptif, dan
dimulainya Perang Dunia I. Setelah itu,
produktif.
Revolusi Industri Ketiga muncul dengan
melaksanakan
mengedepankan perangkat elektronik dan
maksimal,
teknologi informasi untuk otomatisasi
menunjukkan, tidak semua SMK mampu
produksi yang mulai menggeser peran
menyelenggarakan proses pembelajaran
sumber daya manusia. Hal ini merujuk
dengan
pada hasil penelitian Attar (2014:34)
maksimalnya keadaan sarana penunjang
tentang Entrepreneurship, Knowledge, and
kegiatan
the Industrial Revolution,
model
The model of this paper, as a unified
model, captures such a relationship
between population and technology. The
model predicts that an industrial
revolution may start while population
growth
is
accelerating.
Besides,
productivity gains would be modest during
the early stages of the industrial revolution
diterima siswa. Untuk itu diperlukan upaya
Perubahan dunia kini memasuki era
SMK
harus
mampu
pembelajaran
secara
tetapi
fakta
maksimal
di
lapangan
karena
praktikum
serta
pembelajaran
kurang
penerapan
yang
kurang
untuk mengatasi keadaan ini; salah satunya
melalui
pengembangan
model
pembelajaran yang sesuai.
Paradigma
baru
pembelajaran
menengah kejuruan yaitu pembelajaran
yang
memperhatikan
demand
driven,
revolusi industri dunia keempat (4.0)
mengacu kepada standar kompetensi yang
dimana teknologi informasi telah menjadi
berlaku di dunia kerja atau dunia industri
basis dalam kehidupan manusia. Segala hal
(SKKNI), dilaksanakan dengan sistim
menjadi tanpa batas (borderless) dengan
Copyright © 2018 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938
72 | Nuraini Asriati, Sulistyarini, Maria Ulfah, Endang Purwaningsih, Pengembangan
ganda di sekolah dan di industri atau dunia
usaha, dalam bentuk kegiatan nyata.
Direktorat
Jendral
Hal ini sesuai dengan roadmap
pengembangan
Pendidikan
SMK
2010-2014
(Direktorat PSMK: 2009),
teaching
Sekolah Menengah Kejuruan (Direktorat
factory digunakan sebagai salah
PSMK) 2010-2014 menerangkan bahwa
model
visi PSMK adalah terwujudnya Sekolah
dalam menciptakan lulusan yang berjiwa
Menengah Kejuruan (SMK) yang dapat
wirausaha
menghasilkan tamatan berjiwa wirausaha
keahlian melalui pengembangan kerjasama
yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan
dengan industri dan entitas bisnis yang
memiliki jati diri bangsa, serta mampu
relevan.
mengembangkan keunggulan lokal dan
pembelajaran teaching factory diharapkan
dapat bersaing di pasar global.
dapat
Berdasarkan data Dirjen Pembinaan
SMK tahun 2013 80% tamatan SMK
belum
mampu
menciptakan
untuk memberdayakan
satu
SMK
dan memiliki kompetensi
Dengan
demikian,
model
dijadikan sarana untuk mencetak
tenaga kerja yang berkompeten pada
bidangnya.
lapangan
Selain itu Roadmap SMK 2010-2014
pekerjaan sendiri karena tidak mempunyai
mentargetkan diakhir tahun 2014 (...truncated)