Metode Tafsir Al-Qur’an: Deskripsi atas Metode Tafsir Ijmali
Jurnal Iman dan Spiritualitas
eISSN: 2775-4596, Vol 2, No 4, 2022, pp. 643-650
http://dx.doi.org/10.15575/jis.v2i4.21315
Metode Tafsir Al-Qur’an: Deskripsi atas Metode Tafsir Ijmali
Akhdiat Akhdiat
Pesantren Darussa’adah Krueng Aceh
Abdul Kholiq
Pesantren Ulumu Quran AL-Mustafa Sumedang
Suggested Citation:
Akhdiat, Akhdiat; Kholiq, Abdul. (2022). Metode Tafsir Al-Qur’an: Deskripsi atas Metode Tafsir Ijmali. Jurnal Iman
dan Spiritualitas, Volume 2, Nomor 4: pp 643-650. http://dx.doi.org/10.15575/jis.v2i4.21315
Article’s History:
Received November 2022; Revised November 2022; Accepted November 2022.
2022. journal.uinsgd.ac.id . All rights reserved.
Abstract:
The interpretation of the Qur'an has been started since the time of the Prophet Muhammad until now. A product
of interpretation that emerged from the time of the Prophet SAW until now is certainly different, both from the
method and the resulting conclusion. This happens because the need for an interpretation of each period is
always different. In addition, there is an assumption that the product of the old interpretation is no longer able to
answer the challenges of the times regarding every human problem. Therefore, from the four methods that have
been concluded by Al-Farmawi, namely ijmāli, taḥlīli, muqāran, and the mauḍū'i method, the author tries to
discuss the ijmāli method. The purpose of writing this article is to discuss the emergence of ijmāli interpretation,
the basis and urgency of ijmāli interpretation, steps of ijmāli interpretation and the advantages and disadvantages
of ijmāli interpretation. The method used is a qualitative method based on library research with an analyticaldescriptive approach. Based on this method, this article finds the result that the ijmāli method first appeared
during the time of the Prophet SAW. Ijmāli interpretation is a method of interpreting the Qur'an with a brief, global
and not lengthy explanation. And this method is very suitable for use for beginners and ordinary people in
understanding the Koran. The steps are to systematically describe the verses of the Qur'an, to explain in general
and the meaning of the mufradat, based on the rules of the Arabic language, and the language used to seek the
selection of diction that is similar to the lafadz used by the Qur'an. In addition, the ijmāli method has the
advantage of being clear and easy to understand, free from israiliyat interpretation and close to the language of
the Koran. While the shortcomings are the instructions of the Qur'an which are not complete/partial and the
interpretation is shallow or incomplete.
Keywords: interpretation history; interpretation of riwayah; israiliyat story; different interpretations; interpretation
method
Abstrak:
Penafsiran Al-Qur’an telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW sampai dengan sekarang ini. Suatu
produk penafsiran yang muncul dari masa Nabi SAW sampai sekarang tentulah berbeda, baik dari metode
maupun kesimpulan yang dihasilkan. Hal itu terjadi karena kebutuhan suatu penafsiran setiap masa selalu
journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/index © Akhdiat & Kholiq
643
Volume 2, Nomor 4: Oktober - Desember 2022
berbeda-beda. Di samping itu munculnya anggapan bahwa produk tafsiran lama tidak lagi mampu menjawab
tantangan zaman akan setiap permasalahan manusia. Maka karena itu, dari empat metode yang sudah
disimpulkan oleh Al-Farmawi, yaitu ijmāli, taḥlīli, muqāran, dan metode mauḍū’i, penulis mencoba untuk
membahas metode ijmāli. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas kemunculan tafsir ijmāli, dasar
dan urgensi tafsir ijmāli, langkah-langkah tafsir ijmāli dan kelebihan serta kekurangan tafsir ijmāli. Adapun
metode yang digunakan adalah metode kualitatif berbasis library research dengan pendekatan analisisdeskriptif. Berdasarkan metode tersebut, artikel ini menemukan hasil bahwa metode ijmāli muncul pertama kali
pada masa Nabi SAW. Tafsir ijmāli adalah metode penafsiran Al-Qur’an dengan penjelasan singkat, global dan
tidak panjang lebar. Dan metode ini sangat cocok untuk digunakan bagi pemula dan orang awam dalam
memahami Al-Qur’an. Adapun langkah-langkahnya adalah menguraikan ayat secara sistematika Al-Qur’an,
menjelaskan secara umum serta makna mufradatnya, berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab, dan bahasa
yang digunakan mengupayakan pemilihan diksi yang mirip dengan lafadz yang digunakan oleh Al-Qur’an. Di
samping itu metode ijmāli memiliki kelebihan jelas dan mudah dipahami, terbebas dari penafsiran israiliyat dan
dekat dengan bahasa Al-Qur’an. Sedangkan kekurangannya adalah petunjuk Al-Qur’an yang tidak utuh/parsial
dan penafsiran dangkal atau tidak menyeluruh.
Kata Kunci: sejarah tafsir; tafsir riwayah; cerita israiliyat; perbedaan tafsir; metode tafsir
PENDAHULUAN
Berbicara tentang penafsiran Al-Qur’an jika dilihat dari aspek sejarah sebagaimana yang dijelaskan AzZahabi terdapat tiga fase yang telah dilewati oleh dunia tafsir Al-Qur’an. Pertama, tafsir pada masa Nabi
Muhammad SAW dan sahabatnya yang kemudian hari disebut sebagai pijakan tafsir bermazhab riwayah.
Kedua, tafsir pada masa tabiin yang titik perkembangannya ditandai dengan berdirinya madrasah-madrasah
tafsir Al-Qur’an di beberapa wilayah. Ketiga, tafsir pada masa pembukuan yang titik perkembangannya ditandai
dengan masuknya cerita-cerita israiliyat yang merupakan pijakan lahirnya tafsir bermazhab dirayah (Solahudin,
2016).
Penafsiran Al-Qur’an yang terus berkesinambungan dari masa Nabi SAW sampai sekarang sudah tentu
melahirkan tafsiran yang berbeda-beda. Hal ini karena sebuah produk tafsir tidak bisa terlepas dari
kecenderungan sang mufassir dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang terjadi pada zaman saat
produk tafsir tersebut muncul. Di sisi lain kenyataan hidup manusia terus berkembang dengan pesat dan
menyeluruh. Dari ini kemudian dianggap bahwa tafsir yang ada tidak lagi relevan dan tidak mampu menjawab
masalah kehidupan yang dialami manusia. Sehingga kemudian muncullah pemikiran-pemikiran untuk mengubah
metodologi tafsir dengan tujuan menghasilkan produk tafsir yang mampu menjawab tantangan zaman (Amaliya,
2018).
Pembahasan mengenai metode penafsiran Al-Qur’an, oleh Al-Farmawi telah menyimpulkan setidaknya
ada empat metode penafsiran yang digunakan oleh seluruh ulama dalam kitab tafsirnya. Di antara metode tafsir
tersebut, ada yang menggunakan metode tafsir ijmāli, metode taḥlīli, metode muqāran, dan metode tafsir
mauḍū’i. Oleh para ulama menggunakan metode tersebut berdasarkan kecenderungan dan minat mereka
masing-masing dalam menggunakannya, disertai dengan kelebihan dan kekurangan di dalamnya (Mustaqim,
2014b). Dalam usaha untuk mendalami pesan-pesan Al-Qur’an, diperlukan suatu kemampuan untuk menggali
dan menemukan maknanya dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Penafsiranlah yang
menghasilkan penjelasan panjang lebar tentang apa yang diinginkan oleh Al-Qur’an. Sehingga dalam
menafsirkan Al-Qur’an perlu adanya metode tafsir, yaitu cara dalam menafsirkan Al-Qur’an (...truncated)