Strategi Pengelolaan Pelatihan pada Kelompok Teater (Studi Kasus Pengajian Tubuh Tony Broer)
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 2 Desember 2017| ISSN 2442-9589
Strategi Pengelolaan Pelatihan pada
Kelompok Teater
(Studi Kasus Pengajian Tubuh Tony Broer)
Teuku Zulfajri
Program Pascasarjana Insitut Seni Indonesia Yogyakarta
Abstrak
Latihan olah tubuh merupakan kewajiban bagi setiap aktor untuk mewujudkan
tubuh yang luwes dan sigap di saat pertunjukan dalam kelompok teater. Hal ini
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan karena akan memberikan suatu nilai
positif terhadap muatan materi yang dipentaskan dalam teater. Pengajian Tubuh
Tony Broer merupakan kelompok latihan teater yang berbasis di Yogyakarta yang
juga mengedepankan olah tubuh sebagai rutinitas latihan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan kegiatan pelatihan pada
kelompok Pengajian Tubuh Tony Broer. Pentingnya penelitian ini adalah untuk
memetakan proses keberlangsungan sebuah kelompok seni pertunjukan dan
menggali sejauhmana kelompok ini memaknai olah tubuh dan manfaatnya, tidak
hanya dalam pentas teater tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara, studi
dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil analisis deskriptif yang dilakukan
menunjukkan bahwa pengelolaan latihan di bawah Pengajian Tubuh yang dilakukan
oleh Tony Broer mengedepankan pada latihan tubuh yang disiplin untuk
menghasilkan kekuatan dan ketahanan tubuh aktor.
Kata kunci: pengelolaan, latihan, pengajian tubuh
Abstract
Body exercise is an obligation for every actor to realize a flexible body and sprightly
when the performance in the theater group. This is an inseparable part because it
will give a positive value to the material content staged in the theater. Tony Broer's
Body Study is a group of theater exercises based in Yogyakarta that also emphasizes
exercise as an exercise routine. The purpose of this study is to find out how the
strategy of management training activities in Tony Broer's Body Study Group. The
importance of this research is to map the sustainability process of a performing arts
group and explore the extent to which this group understands the exercise and its
benefits not only in theater performances but also in everyday life. The research
method used is qualitative research method with descriptive case study. Data
collection techniques used through observation, interviews, documentation studies,
and literature study. The result of descriptive analysis showed that the management
of the exercises under Body Studies performed by Tony Broer prioritizes disciplined
body exercises to produce the strength and endurance of the actor's body.
Keywords: management, training, the body study
83
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 2 Desember 2017| ISSN 2442-9589
PENDAHULUAN
Sebagai sebuah manifestasi kesenian Indonesia, para pelaku seni pertunjukan
Indonesia terus mengeksplorasikan diri dengan berbagai bentuk pertunjukan. Berbagai
tawaran pertunjukan terus bergulir di setiap waktu dan tempat, dari pertunjukan tradisional
sampai pertunjukan modern. Pertunjukan tradisional tetap bertahan dengan pakem
tradisionalnya seperti ludruk, ketoprak, dan beberapa seni pertunjukan tradisional daerah
lainnya. Sedangkan pertunjukan modern terus bermunculan dengan berbagai gagasan
menarik dari pelakunya. Sebut saja teater tubuh sebagai salah satu teater yang berkembang
sekarang di Indonesia.
Teater tubuh adalah pertunjukan yang memanfaatkan tubuh sebagai media utama
dalam membangun komunikasi antar-aktor dan penonton. Dibutuhkan tubuh yang kuat dan
sehat untuk melakoni jenis teater ini. Untuk memperoleh tubuh yang kuat, sehat, lentur,
dan seimbang diperlukan latihan yang rutin dan disiplin. Seperti yang diungkapkan Nur
Iswantara dalam Drama Teori dan Praktik Seni Peran (2016:59), olah tubuh ini menjadi
dasar seseorang dalam mempelajari seni teater dengan membentuk kedisiplinan tubuh dan
kelenturan tubuh.
Bagi sebuah kelompok seni pertunjukan khususunya kelompok teater, proses
latihan menjadi sesuatu yang wajib dilakukan sebagai persiapan dasar sebelum
pertunjukan. Latihan-latihan yang dilakukan meliputi olah tubuh, olah vokal, olah rasa, dan
segala proses yang dituntut untuk pencapaian kualitas keaktoran. Banyak pertunjukan yang
tidak sukses karena proses persiapan; dalam hal ini latihan tidak teratur dan pengelolaan
latihan yang tidak tepat. Banyak muncul kelompok-kelompok teater dengan proses instan
untuk mengejar produktivitas semata. Namun banyak juga yang tenggelam karena
pengelolaan yang tidak baik sehingga berdampak pada keberlangsungan kelompok atau
individu seniman tersebut.
Salah seorang pelaku teater di Indonesia yang bertahan sampai sekarang dengan
pola pelatihan yang berkelanjutan adalah Tony Broer. Beliau merupakan tokoh teater
nasional yang telah memberi banyak pengaruh terhadap perkembangan teater di Indonesia
yang menjunjung tinggi proses latihan. Pengelolaan latihan yang diterapkan oleh Tony
Broer sederhana dan teratur sehingga menjadikan kelompok latihannya yang diberi nama
“Pengajian Tubuh” dapat bertahan hingga sekarang.
Sebuah kelompok atau organisasi seni khususnya, tidak mudah untuk
mempertahankan eksistensinya untuk jangka waktu yang lama. Jazuli (2014:43)
menyatakan bahwa, “cara pengelolaannya kebanyakan belum profesional sepenuhnya.
Akibatnya, grup-grup seni pertunjukan yang pernah berjaya tetapi kini kehidupannya
terpuruk-puruk bahkan ada yang gulung tikar”.
Dapat dihitung, hanya beberapa seniman dan kelompok teater yang eksis dan
konsisten di seni pertunjukan yang karya-karyanya dapat disaksikan hingga sekarang. Itu
tidak terlepas dari manajemen yang dibentuk mulai dari latihan hingga pertunjukan. Dapat
dikatakan bahwa proses yang baik dapat menghasilkan pertunjukan yang bagus dan
berkualitas.
Pengajian Tubuh yang dikelola Tony Broer terus berupaya dengan segala
konsekuensi untuk tetap menekankan anggotanya pada disiplin latihan dan konsistensi
84
Jurnal Tata Kelola Seni Vol. 3 No. 2 Desember 2017| ISSN 2442-9589
pada olah tubuh. Hal yang menjadi fokus utama adalah pada pengelolaan latihan bukan
pada produksi pertunjukan. Sehingga tidak ada keterikatan dengan suatu pentas agar
totalitas latihan benar-benar terjaga. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa proses
latihan olah tubuh yang sudah berjalan sejak 2007 tidak berjalan mulus-mulus saja. Tentu
ada berbagai kendala yang terdapat dalam kegiatan ini; antara lain tidak adanya tempat
khusus untuk latihan. Kegiatan latihan di alam terbuka dan fleksibel di mana saja. Hal ini
yang juga menjadi salah satu kendala dan juga sekaligus tantangan positif dalam hal
membina mental para anggota.
Penulis tertarik untuk menggali lebih dalam tentang pengelolaan pelatihan yang
diterapkan dalam kelompok itu sehingga tetap bertahan walaupun terdapat berbagai
kendala. Baik dari metode, teknis, maupun dari anggota sebagai penerima dampaknya.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan (...truncated)