Pengembangan Strategi Tata Kelola Museum Omahku Memoriku

Dec 2017

Pada tahun 2010 terjadi letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik mencapai 600 derajat celcius yang telah menghancurkan desa dan rumah tinggal warga sekitar. Setelah letusan tersebut masyarakat menyediakan jasa Lava Tour dan Museum Omahku Memoriku salah satu destinasi wisata di dalam Lava Tour. Museum Omahku Memoriku sebagai tempat untuk mengenang ganasnya letusan Gunung Merapi, terletak di Dusun Petung Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Koleksi yang dipamerkan dalam museum ini diantaranya sepeda motor, gamelan, kerangka hewan dan perlengkapan rumah yang telah rusak. Tujuan penelitian ini menjelaskan tata kelola serta memperoleh formulasi strategi museum Omahku Memoriku dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memahami persepsi stakeholders museum sehingga dapat dirumuskan variabel-variabel internal dan eksternal dari museum. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analanisis SWOT. Pendekatan ini digunakan untuk membantu menganalisis variabel internal dan eksternal di dalam pengelolaan museum Omahku Memoriku sehingga diperoleh formulasi strategi tata kelola. Temuan di lapangan mengindikasikan berdasarkan matriks IE (internal-external) menunjukkan bahwa tata kelola museum Omahku Memoriku pada posisi Growth and Build (tumbuh dan bina) selanjutnya berdasarkan kuadran analisis SWOT ada pada posisi expansion atau perluasan. Berdasarkan posisi tersebut maka strategi tata kelola Museum Omahku Memoriku menggunakan kekuatan dan peluang untuk mengambil setiap keunggulan yang ada yaitu, bekerja sama dengan hotel dan pemandu wisata, membuat proposal untuk mendatangkan investor ataupun dapat menggunakan dana CSR, dan toko cenderamata dan kantin dapat diubah menjadi kafe karena area sekitar mendukung untuk itu. In 2010 there was an eruption of Mount Merapi volcanic ash reached 600 degrees Celsius which has destroyed villages and homes residents around. After the eruption the community provides services Lava Tour and Museum Omahku Memoriku one tourist destination on the Lava Tour. Museum Omahku Memoriku as a place to commemorate the ferocious eruption of Mount Merapi, located in Petung Hamlet Village Kepuharjo Village, District Cangkringan, Sleman. Collections exhibited in this museum include motorcycles, gamelan, animal skeletons and home supplies that have been damaged. The purpose of this study describes the governance as well as get the formulation of museum strategy Omahku Memoriku by using descriptive qualitative research methods to understand the perceptions of museum stakeholders so that can be formulated internal and external variables of the museum. The approach used is a quantitative approach with SWOT analanisis, this approach is used to help analyze internal and external variables in the management of museum Omahku Memoriku so obtained formulation of governance strategy. The findings in the field indicate that based on the IE matrix (internal-external) shows that the management of museum Omahku Memoriku in the position of Growth and Build then based on SWOT analysis quadrant is in Expansion or expansion position. Based on that position, the Museum Omahku Memoriku governance strategy uses the strength and the opportunity to take every advantage that is, in cooperation with hotels and tour guides, make proposals to bring in investors or to use CSR funds, and the cendramata and canteen stores can be converted into cafes because the surrounding area supports it.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/1814/542

Pengembangan Strategi Tata Kelola Museum Omahku Memoriku

TATA KELOLA SENI: VOL. 2 NO. 1 JUNI 2016Indraseni Gunawan, PENGEMBANGAN STRATEGI TATA KELOLA... Topan Pengembangan Strategi Tata Kelola Museum Omahku Memoriku Topan Indraseni Gunawan Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Pada tahun 2010 terjadi letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik mencapai 600 derajat celcius yang telah menghancurkan desa dan rumah tinggal warga sekitar. Setelah letusan tersebut masyarakat menyediakan jasa Lava Tour dan Museum Omahku Memoriku salah satu destinasi wisata di dalam Lava Tour. Museum Omahku Memoriku sebagai tempat untuk mengenang ganasnya letusan Gunung Merapi, terletak di Dusun Petung Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Koleksi yang dipamerkan dalam museum ini diantaranya sepeda motor, gamelan, kerangka hewan dan perlengkapan rumah yang telah rusak. Tujuan penelitian ini menjelaskan tata kelola serta memperoleh formulasi strategi museum Omahku Memoriku dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memahami persepsi stakeholders museum sehingga dapat dirumuskan variabel-variabel internal dan eksternal dari museum. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analanisis SWOT. Pendekatan ini digunakan untuk membantu menganalisis variabel internal dan eksternal di dalam pengelolaan museum Omahku Memoriku sehingga diperoleh formulasi strategi tata kelola. Temuan di lapangan mengindikasikan berdasarkan matriks IE (internal-external) menunjukkan bahwa tata kelola museum Omahku Memoriku pada posisi Growth and Build (tumbuh dan bina) selanjutnya berdasarkan kuadran analisis SWOT ada pada posisi expansion atau perluasan. Berdasarkan posisi tersebut maka strategi tata kelola Museum Omahku Memoriku menggunakan kekuatan dan peluang untuk mengambil setiap keunggulan yang ada yaitu, bekerja sama dengan hotel dan pemandu wisata, membuat proposal untuk mendatangkan investor ataupun dapat menggunakan dana CSR, dan toko cenderamata dan kantin dapat diubah menjadi kafe karena area sekitar mendukung untuk itu. Kata kunci: analisis swot, museum, omahku memoriku, letusan gunung merapi Abstract In 2010 there was an eruption of Mount Merapi volcanic ash reached 600 degrees Celsius which has destroyed villages and homes residents around. After the eruption the community provides services Lava Tour and Museum Omahku Memoriku one tourist destination on the Lava Tour. Museum Omahku Memoriku as a place to commemorate the ferocious eruption of Mount Merapi, located in Petung Hamlet Village Kepuharjo Village, District Cangkringan, Sleman. Collections exhibited in this museum include motorcycles, gamelan, animal skeletons and home supplies that have been damaged. The purpose of this study describes the governance as well as get the formulation of museum strategy Omahku Memoriku by using descriptive qualitative research methods to understand the perceptions of museum stakeholders so that can be formulated internal and external variables of the museum. The approach used is a quantitative approach with SWOT analanisis, this approach is used to help analyze internal and external variables in the management of museum Omahku Memoriku so obtained formulation of governance strategy. The findings in the field indicate that based on the IE matrix (internal-external) shows that the management of museum Omahku Memoriku in the position of Growth and Build then based on SWOT analysis quadrant is in Expansion or expansion position. Based on that position, the 48 49 TATA KELOLA SENI: VOL. 2 NO. 1 JUNI Topan 2016 Indraseni Gunawan, PENGEMBANGAN STRATEGI TATA KELOLA... Museum Omahku Memoriku governance strategy uses the strength and the opportunity to take every advantage that is, in cooperation with hotels and tour guides, make proposals to bring in investors or to use CSR funds, and the cendramata and canteen stores can be converted into cafes because the surrounding area supports it. Keywords: SWOT Analysis, Museum, Omahku Memoriku, Mount Merapi Eruption Pendahuluan Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.968 meter di atas permukaan laut, 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004. Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi setiap dua hingga lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1549 gunung tersebut sudah meletus sebanyak 68 kali. Di lereng gunung masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1.700 meter dan berjarak empat kilometer dari puncak, oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek gunung api. Letusan Gunung Merapi pada 2010 lebih besar dibanding dengan letusan gunung 100 tahun lalu atau pada 1872, indikator yang menentukan indeks letusan adalah dari jumlah material vulkanik yang telah dilontarkan. Pada letusan 1872, jumlah material vulkanik yang dilontarkan oleh Gunung Merapi selama proses erupsi mencapai 100 juta meter kubik, sedangkan pada tahun 2010 diperkirakan telah mencapai sekitar 140 juta meter kubik. Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) pada tahun 2010 material vulkanik mengerah ke kali dan sungai dipenuhi oleh material vulkanik, dan berdasarkan data dari BNPB, jumlah korban yang meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi 232 jiwa. Meletusnya Gunung Merapi tersebut mengeluarkan abu vulkanik yang juga disebut "wedhus gembel", mencapai 600 derajat celcius telah menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya, termasuk desa dan rumah tinggal warga sekitar. Status awas terus dilakukan oleh Pemerintah DIY pada saat itu, desa yang terdapat dalam radius kurang lebih 10 kilometer dari Gunung Merapi dilakukan evakuasi. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya selalu mempercayai bahwa letusan Gunung Merapi selalu memberikan berkah kepada masyarakatnya. Jika gunung tersebut meletus, mereka mempercayai sebagai efek alam yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia sebagai hal yang harus disikapi secara postitif karena gunung tersebut harus meletus. Gunung Merapi melakukan erupsi dengan jalur erupsi yang sudah ada sejak letusan sebelumnya dan erupsi tersebut membawa material-material vulkanik yang nantinya berguna bagi masyarakat sekitarnya, yaitu menyuburkan tanah perkebunan dan persawahan, memberikan pasir kepada masyarakat yang bekerja sebagai penambang pasir, batu-batuan dan yang paling unik adalah membuat museum peninggalan erupsi. 49 50 TATA KELOLA SENI: VOL. 2 NO. 1 JUNI 2016Indraseni Gunawan, PENGEMBANGAN STRATEGI TATA KELOLA... Topan Gunung Merapi tak pernah ingkar janji, adalah ungkapa (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/download/1814/542
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/view/1814/542

Gunawan Topan Indraseni. Pengembangan Strategi Tata Kelola Museum Omahku Memoriku, 2017, pp. 54-63,