STRATEGI PEMASARAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH
TATA KELOLA SENI : VOL. I NO. 2 DESEMBER 2015
STRATEGI PEMASARAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH
Setyabudhi Rahardjo Situmorang
Abstract
Wayang Kampung Sebelah (WKS) is one of the phenomenal new genre shadow puppet
art show group in today's society and was favored by many people. Their performance
in its innovation and creativity of the puppet art show implicates on the marketing
methods developed, which results to attracting public attention to the work. The
purpose of this study is to determine why WKS was favored among audiences, the
marketing methods used and challenges faced in making innovations in a puppet show
by WKS. The theory underlying this study refers to the concept of segmentation
covering segmentation, targeting and positioning (STP). The study used qualitative
research methods. Data analysis was performed based on the theory of marketing
strategy with case study approach using a single instrument type with three
interviewees. The results showed that the ability of the WKS puppeteer in storytelling
and communicating with the audience was a skill difficult to imitate as it was a talent
possessed by someone individually thus to attract the audience dissolved in the story
told. WKS marketing strategy on the segmentation stage was done using the
geographical segmentation by promoting the performance on village societies, which in
its development all ages and education eventually become audiences of the group's
performances. At the targeting stage, WKS do not choose specifically which consumers
is targeted in marketing because the guidelines that are held by WKS, which is that the
puppet show should be able to be enjoyed by all people. While on positioning stage,
WKS has successfully positioned itself as a puppet group with a unique and hard to
imitate style although the idea of the show refers to the style of many traditional puppet
show that had long been abandoned. WKS implemented four price levels in the effort to
market their work which were as follows: the village attack, subsidized performance
attack, public commercial and the professionals commercial. Challenges in creating
works comes a lot more from internal factors, which is maintaining the creation spirit of
the group, while from external factors there are no significant obstacles but requires a
long enough time for WKS to be accepted by the intellectuals (academic society).
Keywords: WKS, dalang, marketing strategy (segmentation, targeting, positioning)
Pendahuluan
Hingga kini seni pewayangan masih ada dan tetap dipelihara dengan baik pakempakemnya. Namun seiring dengan banyaknya pilihan hiburan, lambat laun wayang menjadi
lebih banyak ditonton oleh kalangan usia dewasa dan orang tua. Kalangan remaja lebih banyak
mengikuti hiburan dari luar, misalnya Korean Dance Style (Sulistyobudi, 2014: 127). Hiburan
82
82
Setyabudhi Rahardjo Situmorang, STRATEGI PEMASARAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH
wayang yang sarat dengan filosofi menjadikan wayang pernah menjadi media bagi penyebaran
agama di Indonesia yang berarti bahwa wayang pernah menjadi tontonan yang sangat populer
pada masanya sehingga merupakan media yang baik bagi para penyebar agama (Nurgiyantoro,
2011: 24).
Persaingan dengan berbagai hiburan dari Barat telah melahirkan upaya-upaya perubahan
terhadap seni pewayangan dengan tujuan untuk melestarikannya. Berbagai inovasi yang telah
dilakukan oleh para pelaku seni tersebut adalah untuk menyesuaikan dengan keadaan
masyarakat sekarang. Salah satu contoh dari upaya tersebut adalah lahirnya Wayang Kampung
Sebelah (WKS) pada tahun 2001. Wayang Kampung Sebelah didirikan oleh Ki Jlitheng
Suparman (dalang WKS) yang mengusung cerita-cerita dengan tema kritik sosial.
Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah (WKS) merupakan pertunjukan wayang genre
baru yang dianggap memiliki pakem di luar pakem pewayangan (Solopos 28 Februari 2004
dan Republika 12 Maret 2003), yang oleh Sosiawan Leak (personel WKS) disebut sebagai
pakem baru (Solopos, 9 September 2001). Pertunjukan WKS juga dianggap
menjungkirbalikkan konsep filosofi wayang tradisional karena tidak bercerita seputar dunia
raja, melainkan mengangkat permasalahan rakyat biasa (Bengawan Pos, 18 Agustus 2001).
Selain itu ada juga kritikan bahwa alur cerita pertunjukan WKS tidak disampaikan secara
runtut (Kompas, 3 Januari 2001).
Meskipun pertunjukan WKS dianggap keluar dari pakem pewayangan, namun hingga
saat ini WKS banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Beberapa tokoh seni
bahkan memuji pertunjukan WKS sebagai wayang yang cerdas (Ki Enthus dalam Saudagar
edisi September 2006), komunikatif dalam penyajiannya dan dapat mengikuti dinamika di
masyarakat (Cak Idin dalam Saudagar edisi September 2006), dan cerita dalam pertunjukan
sangat realistis (Frida Amartani dalam Saudagar edisi September 2006).
Tokoh dalam pementasan WKS seperti tokoh dalam masyarakat kampung yang plural,
terdiri dari penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, pak lurah, hingga pejabat
negara. Wayang yang terbuat dari kulit bergambar manusia ini berbeda dengan tokoh-tokoh
dalam Wayang Purwa yang berasal dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Nama karakter di
WKS di antaranya Kampret, Karyo, Lurah Somad, Eyang Sidik Wacono, Hansip Sodron,
Silvy, dan tokoh penghibur lain seperti Roma Ra Mari-Mari, Inul Darah Tinggi, Cak Dul dan
lainnya.
Selain strategi penokohan dalam pertunjukan wayangnya yang berpijak pada kekinian,
WKS juga mendasari suasana pertunjukannya dengan musik kontemporer. Melalui
seperangkat alat band yang memainkan musik-musik pop, campursari bahkan jazz. Musikmusik yang dimainkan oleh WKS memberikan suasana santai dan situasi masa kini. Hal ini
dibuktikan dalam penelitian Situmorang (2014), tentang inovasi musik pengiring pada
pertunjukan wayang kulit dalam strategi pemasaran seni pertunjukan. Situmorang, dalam
penelitiannya terhadap inovasi musik pengiring oleh WKS, menemukan bahwa adopsi
masyarakat terhadap pertunjukan WKS menunjukkan adanya kehati-hatian WKS dalam
menciptakan nilai konsumen dan mengelola relasi dengan audiens. Banyak tantangan yang
83
83
TATA KELOLA SENI : VOL. I NO. 2 DESEMBER 2015
dihadapi oleh sebuah organisasi seni di dalam mendorong calon audiens mereka untuk mau
mengadopsi inovasi seni yang ditawarkan kepada mereka.
Selain inovasi yang telah disebutkan di atas, Wayang Kampung Sebelah (WKS) juga
banyak mengubah kebiasaan dalam pagelaran wayang seperti posisi penonton yang boleh ikut
naik di atas panggung dan boleh ikut menimpali percakapan dalang, serta jarak panggung yang
dekat dengan penonton (yang pada pertunjukan wayang biasanya berjarak jauh untuk memberi
ruang pada penari). Namun ada dua hal yang tidak ingin diubah dan tetap dipertahankan oleh
WKS, yaitu ukuran layar dan pakaian yang sederhana (tidak menonjol, meskipun di wayang
tradisional sekarang seringkali pakaian justru terlalu mencolok).
Unsur bahasa dan musik dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah (WKS)
merupakan dua faktor yang mampu menggiring penonton datang karena kedua faktor (...truncated)