Sosialisasi Pentingnya Mendirikan Museum Teh Di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun Sebagai Sarana Eukasi Bagi Masyarakat
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei
ISSN: 2809 - 6045
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2023
SOSIALISASI PENTINGNYA MENDIRIKAN MUSEUM TEH DI
KECAMATAN SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN SEBAGAI
SARANA EDUKASI BAGI MASYARAKAT
Ahmad Fakhri Hutauruk1), Ummu Harmain2), Andres M. Ginting3), Syifa Salsabila4),
Dosni M R Saragih5), Lamser Dabukke6)
1,3,4,5,6)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Simalungun,
2)
Fakultas Pertanian, Universitas Simalungun,
e-mail :
Abstract
Every region has an identity that needs to be preserved and protected, so that the younger
generation does not lose their identity. The same goes for Sidamanik, Simalungun Regency,
which has the characteristic of tea as a livestock farming commodity currently managed by
PTPN IV. The hope is that PTPN IV will also accommodate the history and development of
the tea plantation through a museum that can be enjoyed by all layers of society as an
educational facility, so that they can learn about the history and the hegemony of the tea
plantation from the colonial era to the present. With the establishment of the museum, it can
bring a new dimension to tourism in the Sidamanik area, which was previously only used as a
place for taking photos or resting while eating with family without receiving education about
the tea plantation that has a significant history from the colonial era to the present.With the
reasons mentioned above, it is hoped that the Sidamanik tea plantation owned by PTPN IV
will understand this need, so that they have the desire to establish a tea museum as an
educational facility for visitors to Sidamanik.
Keywords : Socialization, Educational Facility, Sidamanik Tea Museum.
Abstrak
Setiap daerah memiliki identitas yang perlu dijaga dan dilindungi, sehingga generasi muda
tidak kehilangan identitas. Sama halnyadaerah Sidamanik Kabupaten Simalungun yang
memiliki ciri khas Teh sebagai komoditas pertanian ungulan yang saat ini dikelola oleh PTPN
IV. Harapannya agar pihak PTPN IV juga mengakomodasi sejarah dan perkembangan kebun
teh melalui museum yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai sarana
edukasi, sehingga dapat mengetahui sejarah dan hagemoni kejayaan kebun teh sejak era
kolonial hingga saat ini. Dengan didirikannya museum dapat memberikan warna baru dalam
kunjungan wisata di daerah Sidamanik, yang sebelumnya hanya dijadikan sebagai tempat
berfoto atau tempat beristirahat sambil makan bersama keluarga tanpa mendapatkan edukasi
tentang kebun teh yang memiliki sejarah besar mulai dari era kolonial hingga saat ini. Dengan
alasan yang telah dikemukakan di atas, diharapkan nantinya pihak perkebunan teh Sidamanik
milik PTPN IV dapat memahami kebutuhan hal tersebut, sehingga memiliki keinginan untuk
mendirikan museum teh yang menjadi sarana edukasi bagi masyarakat yang berkunjung ke
Sidamanik.
Kata Kunci : Sosialisasi, Sarana Edukasi, Musem Teh Sidamanik
JPMSM : Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei
|125
|126
Ahmad Fakhri Hutauruk, Ummu Harmain, Andres M. Ginting, Syifa Salsabila, Dosni M R
Saragih, Lamser Dabukke
PENDAHULUAN
Program Kemitraan Masyarakat
(PKM) yang akan dilaksanakan oleh tim
bermitra dengan Kebun Teh milik PT
Perkebunan Nusantara IV yang berada di
Kecamatan
Sidamanik
Kabupaten
Simalungun. Hal ini perlu dilakukan agar
identitas perkebunan teh yang ada di
Simalungun tidak hilang dikarenakan satu satunya kebun teh yang ada di wilayah
Provinsi Sumatera Utara.
Perkebunan Teh yang berada di
Sidamanik memiliki cerita sejarah panjang
sejak era kolonialisme di Sumatera Timur,
dimana selain teh pemerintah kolonial
terlebih dahulu mendirikan perkebunan
tembakau pada tahun 1863 di tanah Deli
yang diprakarsai oleh Jacob Nienhuij (Ati,
2015). Sedangkan teh yang ada di tanah
Simalungun diyakini mulai dibuka dan
dikembangkan pada tahun 1900 oleh
perusahaan Belanda bernama Handels
Vereneeging Amsterdam (HVA). Kebun
pertamanya berada di Naga Hoeta. Setelah
itu perkebunan berkembang ke daerah
Balimbingan, Sidamanik, Bah Birong, Bah
Butong dan Tobasari (Ghani, 2016).
Perjalanan sejarah perkebunan teh ini
yang perlu diketahui dan dibagikan kepada
seluruh masyarakat, agar pengunjung
domestik maupun manca negara dapat
memahami sejarah kebun teh dengan baik.
Menurut hasil observasi awal yang
dilakukan oleh tim PKM, pengunjung yang
pergi ke kebun teh selama ini hanyalah
berfoto selfie atau beristirahat sejenak
sambil menikmati makan bersama keluarga
di area kebun teh, atau ada lembaga
pendidikan baik dari satuan pendidikan
dasar dan menengah bahkan perguruan
tinggi mengunjungi langsung pabrik
pembuatan teh yang berada di Tobasari yang
dinilai sangat mengganggu pekerjaan saat
kunjungan ke pabrik (Aulia, 2021). Oleh
karena itu, dibutuhkan satu wadah atau
tempat yang harus disediakan oleh pihak
PTPN IV agar dapat menceritakan seluruh
aktivitas di perkebunan mulai dari
menanam, memanen, pemilihan daun teh,
sampai produksi menjadi teh yang sudah
dapat dinikmati. Dengan demikian, tim
PKM mencoba mensosialiasikan kepada
pihak PTPN IV agar mendirikan museum
teh di Sidamanik sebagai sarana edukasi
bagi masyarakat (Irawan, 2018).
Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun
2015 tentang Museum, menjelaskan bahwa
Museum adalah lembaga yang berfungsi
melindungi,
mengembangkan,
memanfaatkan
koleksi,
dan
mengomunikasikannya kepada masyarakat.
Sedangkan, menurut Association of Museum
“Museum merupakan sebuah badan yang
mengumpulkan,
mendokumentasikan,
melindungi, memamerkan dan menunjukkan
materi bukti dan memberikan informasi
demi kepentingan umum. Dengan hadirnya
museum
teh
di
Sidamanik
dapat
memberikan
warna
baru
terhadap
pengetahuan dan ketertarikan masyarakat
untuk mengetahui tentang sejarah berdiri
hingga eksistensinya sampai hari ini.
Masyarakat akan mendapatkan edukasi
melalui koleksi yang ada di museum, karena
koleksi tersebut akan bercerita bagaimana
hagemoni perkebunan teh pada abad 20,
kehidupan pekerja / kuli sehingga kebun teh
menjadi identitas Kabupaten Simalungun
khususnya daerah Sidamanik (Rozaq,
Saputra, & Susanto, 2019).
Perkebunan teh milik PTPN IV
memiliki tanggungjawab terhadap pelestarian
teh di Simalungun, selain menjaga
keberlangsungan kebun teh, PTPN IV juga
memiliki tanggungjawab untuk memberikan
edukasi kepada masyarakat mengenai sejarah
kebun teh, agar masyarakat mengetahui
bagaimana
sejarah
yang
sekaligus
memberikan edukasi kepada masyarakat
sehingga bermakna saat mengunjungi kebun
teh tersebut (Khairina et al., 2021).
Namun, PTPN IV mengalami kendala
dalam
proses
mendirikan
dan
mengembangkan Museum Teh di Sidamanik,
sehingga perlu mitra dalam hal persiapan dan
pelaksanaan pendirian museum. Oleh karena
itu, Tim pengabdian masyarakat
akan
memberikan arahan
dan
pengalaman
langsung terkait dengan proses pendirian
Museum Teh Sidamanik.
Target yang ingin dicapai setelah
pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei
ISSN: 2809 - 6045
Volume 3 Nomor 2 Tahun 2023
masyarakat di Perkebunan Teh Bah (...truncated)