Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Stunting Pada Balita

Oct 2020

The genesis of stunting is one of the nutritional problems experienced by more than half the stunting children in the world originating from Asia (55 percent) while more than one-third (39 percent) live in Africa. The prevalence of stunting in Indonesia is still high at 29.6 percent. The preliminary studies at Kampung Tulungkakan in 2019 recorded 17.17 percent stunting toddlers. The research objective was to determine the factors that affect the genesis of stunting on a toddler at Kampung Tulungkakan in Bumiratu Nuban Sub-District of Central Lampung Regency 2019. The research type of qualitative is the analytical design and a case-control approach. The population in this research were all toddlers, with a case sample of 28 stunting toddlers and a control sample of 56 toddlers. The analysis used univariate with frequency distribution and bivariate using the chi-square test. The research results showed that the distribution of LBW frequency was 3 toddlers (3.57 percent), non-exclusive breastfeeding status was 49 toddlers (58.33 percent), malnutrition status during pregnancy was 18 mothers (21.43 percent) and 31 primary education mothers (36.90 percent). There is no correlation of LBW with stunting (p-value: 0.743; OR: 1,000. There is an exclusive breastfeeding correlation with stunting (p-value: 0,000; OR: 11,111. There is a correlation between the nutritional status of the mother with stunting (p-value: 0.048; OR: 3.333) the correlation between maternal education and stunting (p-value: 0.046; OR: 2.885) The conclusion of the research is the correlation between the status of exclusive breastfeeding, maternal nutritional status and maternal education with the genesis of stunting while LBW is not related, so it is suggested to health care workers to increase health promotion regarding prevention the genesis of stunting. Abstrak: Kejadian balita pendek (stunting) merupakan salah satu masalah gizi yang dialami lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55 persen) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi yakni 29,6 persen. Studi pendahuluan di Kampung Tulungkakan tahun 2019 tercatat 17,17 persen balita stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Kejadian Stunting pada balita di Kampung Tulungkakan Kecamatan Bumiratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah tahun 2019. Jenis penelitian kualitatif dengan desain analitik dan pendekatan case control. Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan balita, dengan sampel kasus sebanyak 28 balita stunting dan sampel kontrol sebanyak 56 balita. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi BBLR sebanyak 3 balita (3,57 persen), status ASI tidak eksklusif sebanyak 49 balita (58,33 persen), status gizi kurang pada saat hamil sebanyak 18 ibu (21,43 persen) dan pendidikan dasar sebanyak 31 ibu (36,90 persen). Tidak ada hubungan BBLR dengan stunting (p value: 0,743; OR: 1,000. Ada hubungan ASI Eksklusif dengan stunting (p value: 0,000; OR: 11,111. Ada hubungan status gizi ibu dengan stunting (p value: 0,048; OR: 3,333) ADA hubungan pendidikan ibu dengan stunting (p value: 0,046; OR: 2,885). Kesimpulan penelitian ada hubungan status pemberian ASI Eksklusif, status gizi ibu dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting sedangkan BBLR tidak berhubungan, sehingga disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan kejadian stunting

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ukinstitute.org/journals/1/makein/article/download/1210/11

Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Stunting Pada Balita

Majalah Kesehatan Indonesia Volume 1, Issue 2, October 2020, p. 51 – 56 P-ISSN 2745-6498, E-ISSN 2745-8008 Faktor-Faktor Penyebab yebab Kejadian Stunting Pada Balita Komalasari1*), Esti Supriati 2, Riona Sanjaya3, Hikmah Ifayanti4 1*), 2 , 3, 4 Program Studi Kebidanan, Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu ARTICLE INFO Keyword: LBW Exclusive breastfeeding Maternal Nutritional Status Education Stunting *) corresponding author Program Studi Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Jl. A. Yani No. 1A Tambahrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Lampung 35372 Email: ABSTRACT The genesis of stunting is one of the nutritional problems experienced by more than half the stunting children in the world originating from Asia (55 percent) while more than one third (39 percent) live in Africa. The prevalence of stunting in Indonesia is still high at 29.6 percent. The preliminary studies at Kampung Tulungkakan in 2019 recorded 17.17 percent stunting toddlers. The research objective was to determine the factors that affect the genesis of stunting on toddler at Kampung Tulungkakan in Bumiratu Nuban Sub Sub-District District of Central Lampung Regency 2019. The research type of qualitative is a analytical nalytical design and case control approach. The population in this research were all toddlers, with a case sample of 28 stunting toddlers and a control sample of 56 toddlers. The analysis used univariate with a frequency distribution and bivariate using th the e chi square test. The research results showed that the distribution of LBW frequency was 3 toddlers (3.57 percent), non non-exclusive exclusive breastfeeding status was 49 toddlers (58.33 percent), malnutrition status during pregnancy was 18 mothers (21.43 percent) and 31 primary education mothers (36.90 percent). There is no correlation of LBW with stunting (p value: 0.743; OR: 1,000. There is an exclusive breastfeeding correlation with stunting (p value: 0,000; OR: 11,111. There is a correlation between the nutritional nutritiona status of the mother with stunting (p value: 0.048; OR: 3.333) the correlation between maternal education and stunting (p value: 0.046; OR: 2.885) The conclusion of the research is the correlation between the status of exclusive breastfeeding, maternal n nutritional utritional status and maternal education with the genesis of stunting while LBW is not related, so it is suggested to health care workers to increase health promotion regarding prevention the genesis of stunting. This open access article is under the CC–BY-SA license. ABSTRAK Kata kunci: BBLR Asi Eksklusif Status gizi ibu Pendidikan Stunting Kejadian balita pendek (stunting) merupakan salah satu masalah gizi yang dialami lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55 persen) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Prevalensi stunting di Indonesia masih ti tinggi nggi yakni 29,6 persen. Studi pendahuluan di Kampung Tulungkakan tahun 2019 tercatat 17,17 persen balita stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor faktor-faktor faktor yang mempengaruhi Kejadian Stunting pada balita di Kampung Tulungkakan Kecamatan Bumiratu Nu Nuban ban Kabupaten Lampung Tengah tahun 2019. Jenis penelitian kualitatif dengan desain analitik dan pendekatan case control. Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan balita, dengan sampel kasus sebanyak 28 balita stunting dan sampel kontrol sebanyak 56 balita. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi BBLR sebanyak 3 balita (3,57 persen), status ASI tidak eksklusif sebanyak 49 balita (58,33 persen), status gizi kurang pada saat hamil sebanyak 18 ibu (21,43 persen) dan pendidikan dasar sebanyak 31 ibu (36,90 persen). Tidak ada hubungan BBLR dengan stunting (p value: 0,743; OR: 1,000. Ada hubungan ASI Eksklusif dengan stunting (p value: 0,000; OR: 11,111. Ada hubungan status gizi ibu dengan stunting (p value: 0,048; OR: 3,333) ADA hubungan pendidikan ibu dengan stunting (p value: 0,046; OR: 2,885). Available online at https://ukinstitute.org/journals/1/makein Email: makein@ ukinstitute.org Majalah Kesehatan Indonesia, 1(1), 2020, Komalasari, Esti Supriati, Riona Sanjaya, Hikmah Ifayanti | 52 Kesimpulan penelitian ada hubungan status pemberian ASI Eksklusif, status gizi ibu dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting sedangkan BBLR tidak berhubungan, sehingga disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan kejadian stunting This is an open access article under the CC–BY-SA license. PENDAHULUAN Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017 sebesar 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting (Hawi, dkk, 2020).. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan engan angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak berasal rasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah (0,9%) (Kemenkes, 2018). Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East East Asia Regional (SEAR). Rata Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005 2005-2017 adalah 36,4%. Saat ini, 9 juta atau lebih dari sepertiga jumlah balita (37,2%) di Indonesia menderita stunting. Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% (Kemenkes, 2018). Menurut Riskesdas tahun 2018 prevalensi Balita Sangat Pendek dan Pendek berdasarkan data Provinsi Lampung menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Tengah dengan jumlah yang terbesar yaitu sebanyak 52,68% lebih tinggi dibandingkan Lampung Timur 43,17%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Kota Metro 47,34%. Data tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Tengah merupakan kabupaten dengan jumlah tertinggi kasus stunting nting yang berarti hampir separuh pendudukan Lampung Tengah. Sementara itu menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmes) Dinas Kesehatan Lampung Tengah bahwa di Lampung Tengah pada tahun 2018 ada 10 kampung yang mendapatkan perhatian karena menurut urut data pusat kasus stunting masih tinggi dimana jumlah kasus stunting di Lampung Tengah mencapai 27% dari 3.680 balita yang tersebar di 10 desa, yaitu Bandar Putih Tua (21,43%), Gedung Ratu (21,83%), Riau Periangan (24,44%), Tulung kakan (22,32%), Buyut Udik (22,54%), Cabang (29,02%), Gunung Batin Udik (14,86%), Mataran Ilir (17,96%), Mataram Udik (16,21) dan Tulung Kakan (23.66%) (Balitbang Lamteng, 2019). Banyak faktor yang terk (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ukinstitute.org/journals/1/makein/article/download/1210/11
Article home page: https://ukinstitute.org/journals/1/makein/article/view/1210/11

K. Komalasari, Esti Supriati, Riona Sanjaya, Hikmah Ifayanti. Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Stunting Pada Balita, 2020, pp. 51 - 56,