KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

Kode : Jurnal Bahasa, Oct 2018

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesalahansintaksis yang meliputi: (1) realisasi kesantunan berbahasa, (2)penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa, dan (3) peringkatpenyimpangan prinsip kesantunan berbahasa siswa kelas VII SMPNegeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran 2016/2017. Subjekpenelitian ini adalah siswa kelas VII-2 SMP Negeri 1 Labuhan DeliTahun Pembelajaran 2016/ 2017. Objek penelitian ini adalah tuturanlisan yang berhubungan dengan prinsip kesantunan berbahasa. Hasildari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kesantunan berbahasasangat dipengaruhi oleh peringkat langsung dan tidak langsungnyamaksud sebuah tuturan itu. (2) Dalam pembelajaran bahasa Indonesiasiswa kelas VII SMP negeri 1 Labuhan Deli ditandai denganpenyimpangan prinsip kesantunan Leech yaitu maksim kebijaksanaan.(3) Peringkat penyimpangan ditandai dengan maksim kebijaksanaandengan penanda penutur menggunakan diksi kasar, memerintah danmenegur mitra tutur secara langsung.Kata Kunci: Prinsip Kesantunan Berbahasa, Pragmatik.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/download/10829/10001

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

0 KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 Oleh Lidia Marintan Simaremare () Dr. Abdurahman Adisaputera, M.Hum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan sintaksis yang meliputi: (1) realisasi kesantunan berbahasa, (2) penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa, dan (3) peringkat penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa siswa kelas VII SMP Negeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran 2016/2017. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-2 SMP Negeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran 2016/ 2017. Objek penelitian ini adalah tuturan lisan yang berhubungan dengan prinsip kesantunan berbahasa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kesantunan berbahasa sangat dipengaruhi oleh peringkat langsung dan tidak langsungnya maksud sebuah tuturan itu. (2) Dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP negeri 1 Labuhan Deli ditandai dengan penyimpangan prinsip kesantunan Leech yaitu maksim kebijaksanaan. (3) Peringkat penyimpangan ditandai dengan maksim kebijaksanaan dengan penanda penutur menggunakan diksi kasar, memerintah dan menegur mitra tutur secara langsung. Kata Kunci: Prinsip Kesantunan Berbahasa, Pragmatik. PENDAHULUAN Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Chaer (2011: 1) mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu 1 dengan lainnya. Namun, pada kenyataan di lapangan, etika berbahasa yang dimiliki oleh siswa saat ini terkesan buruk. Hal ini dapat dilihat dari siswa yang cenderung kehilangan etika dan sopan santun, baik terhadap guru maupun siswa yang lainnya. Pada dasarnya kesantunan berbahasa merupakan aspek yang sangat penting untuk membentuk karakter dan sikap seseorang. Dari bahasa yang digunakan seseorang dalam bertutur kepada orang lain, dapat diketahui karakter dan kepribadian yang dimiliki orang tersebut. Selain itu, dengan adanya muatan pendidikan karakter yang harus diterapkan oleh guru-guru di sekolah pada setiap mata pelajaran, khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia, prinsip kesantunan berbahasa ini dapat digunakan sebagai materi pendidikan karakter yang diimplikasikan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan observasi semula, ketika peneliti melakukan Program Pengalaman Terpadu (PPLT) di SMP Negeri 1 Labuhan Deli, peneliti melihat bahwa siswa masih sering menggunakan kata-kata yang kurang santun ketika berkomunikasi. Hal ini terjadi bukan hanya di luar kelas bahkan ketika berada di dalam kelas siswa juga menggunakan kata-kata yang kurang santun. Tentu saja hal ini bukan merupakan contoh yang baik karena ketika berada di lingkungan sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas seharusnya siswa menggunakan bahasa yang santun dalam percakapannya. Penelitian tentang kesantunan berbahasa juga sudah pernah dilakukan antara lain: Kesantunan Berbahasa Indonesia Pada Tuturan Lisan Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Air Putih Tahun Pembelajaran 2012/2013 oleh Sirait, Penyimpangan Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Sewon oleh Safitri, Kesantunan Berbahasa dalam Kegiatan Diskusi Siswa Kelas XI SMK Dinamika Lampung Utara oleh Ishariyanti, dkk. 2 Fenomena di atas mendorong penulis untuk meneliti lebih jauh tentang kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun judul penelitian ini adalah “Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran 2016/2017”. METODE PENELITIAN Penelitian adalah suatu proses yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Dalam suatu penelitian, metode memegang peranan yang sangat penting. Hal ini karena semua kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian sangat bergantung pada metode yang digunakan. Sesuai pendapat Arikunto (2002:22) yang menyatakan “metode penelitian merupakan struktur yang sangat penting, sangat ditentukan oleh ketepatan dalam memilih metode penelitian”. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif menggambarkan apa saja yang saat ini berlaku, khususnya pada bidang kebahasaan, mendiskripsikan sesuatu yang bersifat fakta berdasarkan pada segala sesuatu yang benar-benar terjadi saat ini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Realisasi Kesantunan Berbahasa Siswa a. Pemenuhan Maksim Kebijaksanaan Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim kebijaksanaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Knapa di situ tidak ada membahas surat dinas dan bagian-bagiannya?”. Tuturan ini dinilai memenuhi maksim kebijaksanaan karena si penutur bersikap menghindari kata-kata yang kurang menyenangkan mitra tuturnya ketika sedang bertanya dengan menggunakan katakata yang sopan. 3 b. Pemenuhan Maksim Kedermawanan Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim kedermawanan. Salah satu tuturannya, yaitu “Baru yang mana lagi? Saudara Reihan, kami persilahkan! Saudara Reihan kami Persilahkan!”. Tuturan ini dinilai memenuhi maksim kedermawaan karena si penutur memiliki sikap kedermawanan kepada salah satu peserta diskusi dengan memberikan kesempatan kepada mitra tuturnya untuk bertanya. c. Pemenuhan Maksim Penghargaan Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Terimakasih sudah menjawab pertanyaan saya.”. Tuturan ini dinilai memenuhi maksim penghargaan karena si penutur (penanya) memiliki sikap menghargai mitra tuturnya (penyaji) yang telah menjawab pertanyaannya dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih. d. Pemenuhan Maksim Kesederhanaan Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Iya, iya, iya. Maaf.”. Tuturan di atas dinilai memenuhi maksim kesederhanaan karena pihak penutur (penyaji B) menunjukkan sikap yang merendahkan hati kepada mitra tuturnya (peserta diskusi) dengan menuturkan kata maaf setelah membuat kesalahan. e. Pemenuhan Maksim Permufakatan Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Iya. Pasti”. Tuturan ini memenuhi maksim permufakatan karena memiliki makna Si penutur (penyaji) berusaha membina kecocokan dengan mitra tuturnya (penanya) pada saat menerima sanggahan dari mitra tuturnya . Dengan demikian tuturan ini dinilai santun. 4 f. Pemenuhan Maksim Kesimpatian Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Aku. Aku aja. Hafiz Syahril…gurindum adalah puisi lama yang berasal dari India.”. Tuturan tersebut dinilai memenuhi maksim kesimpatian karena si penutur (penyaji A) menunjukkan rasa p (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/download/10829/10001
Article home page: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/view/10829/10001

Simaremare Lidia Marintan, Adisaputera Abdurrahman. KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017, Kode : Jurnal Bahasa, 2018,