KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017
0
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII
SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI
TAHUN PEMBELAJARAN
2016/2017
Oleh
Lidia Marintan Simaremare ()
Dr. Abdurahman Adisaputera, M.Hum.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan
sintaksis yang meliputi: (1) realisasi kesantunan berbahasa, (2)
penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa, dan (3) peringkat
penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa siswa kelas VII SMP
Negeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran 2016/2017. Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas VII-2 SMP Negeri 1 Labuhan Deli
Tahun Pembelajaran 2016/ 2017. Objek penelitian ini adalah tuturan
lisan yang berhubungan dengan prinsip kesantunan berbahasa. Hasil
dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kesantunan berbahasa
sangat dipengaruhi oleh peringkat langsung dan tidak langsungnya
maksud sebuah tuturan itu. (2) Dalam pembelajaran bahasa Indonesia
siswa kelas VII SMP negeri 1 Labuhan Deli ditandai dengan
penyimpangan prinsip kesantunan Leech yaitu maksim kebijaksanaan.
(3) Peringkat penyimpangan ditandai dengan maksim kebijaksanaan
dengan penanda penutur menggunakan diksi kasar, memerintah dan
menegur mitra tutur secara langsung.
Kata Kunci: Prinsip Kesantunan Berbahasa, Pragmatik.
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk
berkomunikasi. Chaer (2011: 1) mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem
lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, yang dipergunakan oleh suatu masyarakat
untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Sesuai dengan
fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu
1
dengan lainnya. Namun, pada kenyataan di lapangan, etika berbahasa yang
dimiliki oleh siswa saat ini terkesan buruk. Hal ini dapat dilihat dari siswa yang
cenderung kehilangan etika dan sopan santun, baik terhadap guru maupun siswa
yang lainnya.
Pada dasarnya kesantunan berbahasa merupakan aspek yang sangat
penting untuk membentuk karakter dan sikap seseorang. Dari bahasa yang
digunakan seseorang dalam bertutur kepada orang lain, dapat diketahui karakter
dan kepribadian yang dimiliki orang tersebut. Selain itu, dengan adanya muatan
pendidikan karakter yang harus diterapkan oleh guru-guru di sekolah pada setiap
mata pelajaran, khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia, prinsip kesantunan
berbahasa ini dapat digunakan sebagai materi pendidikan karakter yang
diimplikasikan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan observasi semula, ketika peneliti melakukan Program
Pengalaman Terpadu (PPLT) di SMP Negeri 1 Labuhan Deli, peneliti melihat
bahwa siswa masih sering menggunakan kata-kata yang kurang santun ketika
berkomunikasi. Hal ini terjadi bukan hanya di luar kelas bahkan ketika berada di
dalam kelas siswa juga menggunakan kata-kata yang kurang santun. Tentu saja
hal ini bukan merupakan contoh yang baik karena ketika berada di lingkungan
sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas seharusnya siswa menggunakan
bahasa yang santun dalam percakapannya.
Penelitian tentang kesantunan berbahasa juga sudah pernah dilakukan
antara lain: Kesantunan Berbahasa Indonesia Pada Tuturan Lisan Siswa Kelas VII
SMP Negeri 3 Air Putih Tahun Pembelajaran 2012/2013 oleh Sirait,
Penyimpangan Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Belajar Mengajar
Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Sewon oleh Safitri, Kesantunan
Berbahasa dalam Kegiatan Diskusi Siswa Kelas XI SMK Dinamika Lampung
Utara oleh Ishariyanti, dkk.
2
Fenomena di atas mendorong penulis untuk meneliti lebih jauh tentang
kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun judul
penelitian
ini adalah “Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Labuhan Deli Tahun Pembelajaran
2016/2017”.
METODE PENELITIAN
Penelitian adalah suatu proses yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan
secara terencana dan sistematis. Dalam suatu penelitian, metode memegang
peranan yang sangat penting. Hal ini karena semua kegiatan yang akan dilakukan
dalam penelitian sangat bergantung pada metode yang digunakan. Sesuai
pendapat Arikunto (2002:22) yang menyatakan “metode penelitian merupakan
struktur yang sangat penting, sangat ditentukan oleh ketepatan dalam memilih
metode penelitian”.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif menggambarkan apa saja yang saat ini
berlaku, khususnya pada bidang kebahasaan, mendiskripsikan sesuatu yang
bersifat fakta berdasarkan pada segala sesuatu yang benar-benar terjadi saat ini.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Realisasi Kesantunan Berbahasa Siswa
a. Pemenuhan Maksim Kebijaksanaan
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
kebijaksanaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Knapa di situ tidak ada membahas
surat dinas dan bagian-bagiannya?”. Tuturan ini dinilai memenuhi maksim
kebijaksanaan karena si penutur bersikap menghindari kata-kata yang kurang
menyenangkan mitra tuturnya ketika sedang bertanya dengan menggunakan katakata yang sopan.
3
b. Pemenuhan Maksim Kedermawanan
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
kedermawanan. Salah satu tuturannya, yaitu “Baru yang mana lagi? Saudara
Reihan, kami persilahkan! Saudara Reihan kami Persilahkan!”. Tuturan ini
dinilai memenuhi maksim kedermawaan karena si penutur memiliki sikap
kedermawanan kepada salah satu peserta diskusi dengan memberikan kesempatan
kepada mitra tuturnya untuk bertanya.
c. Pemenuhan Maksim Penghargaan
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Terimakasih sudah menjawab
pertanyaan saya.”. Tuturan ini dinilai memenuhi maksim penghargaan karena si
penutur (penanya) memiliki sikap menghargai mitra tuturnya (penyaji) yang telah
menjawab pertanyaannya dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
d. Pemenuhan Maksim Kesederhanaan
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Iya, iya, iya. Maaf.”. Tuturan di atas
dinilai memenuhi maksim kesederhanaan karena pihak penutur (penyaji B)
menunjukkan sikap yang merendahkan hati kepada mitra tuturnya (peserta
diskusi) dengan menuturkan kata maaf setelah membuat kesalahan.
e. Pemenuhan Maksim Permufakatan
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
Penghargaan. Salah satu tuturannya, yaitu “Iya. Pasti”. Tuturan ini memenuhi
maksim permufakatan karena memiliki makna Si penutur (penyaji) berusaha
membina kecocokan dengan mitra tuturnya (penanya) pada saat menerima
sanggahan dari mitra tuturnya . Dengan demikian tuturan ini dinilai santun.
4
f. Pemenuhan Maksim Kesimpatian
Dari hasil penelitian ditemukan beberapa tuturan yang memenuhi maksim
Penghargaan.
Salah
satu
tuturannya,
yaitu
“Aku.
Aku
aja.
Hafiz
Syahril…gurindum adalah puisi lama yang berasal dari India.”. Tuturan tersebut
dinilai memenuhi maksim kesimpatian karena si penutur (penyaji A)
menunjukkan rasa p (...truncated)