RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN TERPADU KESELAMATAN KERJA TAMBANG BAWAH TANAH MENGGUNAKAN SISTEM KABEL DAN TELEMETRI
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 13, Nomor 3, September 2017 : 185 - 196
RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN
TERPADU KESELAMATAN KERJA TAMBANG
BAWAH TANAH MENGGUNAKAN SISTEM KABEL
DAN TELEMETRI
Development of Integrated Monitoring System for Underground
Mine Safety Using Cable and Telemetry System
HASNIATI ASTIKA dan ZULKIFLI PULUNGAN
Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara
Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211
Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373
e-mail:
ABSTRAK
Sistem pemantauan terpadu keselamatan kerja tambang bawah tanah dirancang agar dapat menyediakan
informasi kondisi di dalam tambang bawah tanah secara langsung (real time) dari permukaan tambang. Sistem
pemantauan terdiri dari rangkaian perangkat keras, antara lain: datalogger sebagai penangkap data dari sensor;
repeater sebagai penguat data; radio modem sebagai pengirim dan penerima data; dan perangkat lunak
pemantauan tambang bawah tanah sebagai pembaca, pengolah dan penyimpan data dalam database.
Beberapa sensor seperti sensor gas, sensor pergerakan batuan atap dan sensor temperatur batubara
ditempatkan di dekat permuka kerja tambang sebagai alat pendeteksi kondisi di dalam tambang. Ujicoba
peralatan dan sistem dilakukan pada salah satu tambang batubara bawah tanah. Perekaman dan penyimpanan
data diatur setiap satu menit. Dari hasil ujicoba diperoleh konsentrasi hasil pemantauan kondisi di dalam
tambang secara terpadu. Sistem dan peralatan pemantauan telah bekerja dengan baik.
Kata kunci: sistem pemantauan, tambang bawah tanah, keselamatan kerja tambang.
ABSTRACT
The integrated underground mine safety system was designed to provide a real-time information of
underground conditions from the surface of the mine. The monitoring system consists of hardware, which
among others: datalogger to capture data from the sensor; repeater as a data amplifier; radio modem as the
sender and receiver; and underground mine monitoring software as a reader, processor, and storage of data in
the database. Several sensors such as gas sensors, roof movement sensor, and a temperature sensor were
placed near the coal mine workings face detecting the underground mine conditions. The system and
equipment testing carried out in one of the underground coal mine recording and storage of data are set every
one minute. From the experiment, the concentration of the underground mine condition was obtained in an
integrated manner. All of the system and monitoring equipment have been working properly.
Keywords: underground monitoring system, underground mine, mine safety.
Naskah masuk : 06 Juli 2017, revisi pertama : 02 Agustus 2017, revisi kedua : 02 Agustus 2017, revisi terakhir : 22 September 2017.
Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-NC (http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/)
185
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 13, Nomor 3, September 2017 : 185 - 196
PENDAHULUAN
Bekerja pada tambang bawah tanah memiliki
risiko yang lebih tinggi dengan ruang dan
lingkungan kerja yang terbatas dibanding
bekerja di permukaan. Teknologi pengawasan
secara dini sangat diperlukan, dengan tujuan
utama untuk melakukan pengawasan dan
mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman
pada suatu lokasi tambang agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangannya. Fokus utama keselamatan kerja
tambang batubara bawah tanah adalah sistem
pengawasan yang ketat terhadap bahaya
kecelakaan yang mungkin timbul seperti
adanya gas tambang, kebakaran, tekanan, debu
dan banjir. Pengawasan, pengendalian,
prediksi dan peringatan dini adalah hal yang
harus dipersiapkan dalam melaksanakan
keselamatan kerja dengan melakukan tindakan
pencegahan kecelakaan yang mungkin dapat
terjadi (Zhang dkk., 2014).
Salah satu organisasi yang menangani
keamanan dan kesehatan kerja tambang
adalah Mine Safety and Health Administration
(MSHA), yang mempunyai misi memberikan
peraturan bagi industri tambang di Amerika
Serikat dengan melakukan kontrol dan juga
penelitian untuk mengurangi tingginya angka
kecelakaan tambang. Berdasarkan data MSHA
dari tahun 2012 sampai dengan 2015, 67,69
% dari total kecelakaan fatal yang terjadi pada
tambang batubara terjadi pada tambang
batubara bawah tanah. Penyebab terbesar
terjadinya kecelakaan pada tambang batubara
bawah tanah disebabkan oleh ledakan gas
atau debu tambang sebanyak 34,52%, setelah
itu kecelakaan pada saat pengangkutan,
keruntuhan batuan atap, kerusakan mesin dan
ambrukan batuan (United States Department
of Labor, 2016).
Menurut Peng (2010), kategori utama penyebab kecelakaan tambang batubara bawah tanah
yang terjadi di Cina antara lain kecelakaan
tambang yang diakibatkan oleh gas tambang,
keruntuhan atap, kebakaran tambang dan
pengangkutan. Kecelakaan yang diakibatkan
gas tambang pada dasarnya disebabkan oleh
ledakan gas dan debu batubara, yang diikuti
oleh ledakan gas metana. Penyebab terjadinya
ledakan gas tersebut antara lain: akibat tidak
adanya sistem pemantauan gas; jika ada, sistem
tidak terpasang dengan benar; juga akibat
186
kurang memadainya sensor yang dipasang.
Akumulasi gas berbahaya pada tambang
batubara bawah tanah dapat bertambah seiring
dengan semakin dalamnya terowongan
tambang yang juga dapat meningkatkan risiko
terjadinya ledakan batubara dan gas tambang
(Chaulya dan Prasad, 2016). Selain itu terdapat
faktor alam yang dapat menjadi penyebab
terjadinya kecelakaan tambang bawah tanah
antara lain: runtuhan batuan, ledakan debu
batubara dan rembesan air. Ledakan batubara
dan gas dapat terjadi pada area ketidakselarasan dan pada lapisan batubara yang
mengalami perubahan geologi seperti retakan,
rekahan, dan lain-lain (Zhang dkk., 2014).
Oleh sebab itu pemantauan keselamatan kerja
tambang menjadi suatu keharusan dalam
kegiatan penambangan bawah tanah. Fokus
utama dalam kegiatan tambang batubara
bawah tanah adalah memperkuat sistem
pemantauan dan peringatan dini gas
berbahaya, kebakaran, banjir, pergerakan
batuan, perubahan temperatur, dan debu
tambang. Pemantauan, pengendalian, prediksi
dan peringatan dini merupakan syarat dan
jaminan keselamatan kerja sebagai kunci
utama dalam pencegahan terhadap bahaya
tambang (Zhang dkk., 2014). Sistem pemantauan di dalam tambang bawah tanah dibagi
berdasarkan fungsinya yaitu sensor yang
mengumpulkan berbagai macam informasi,
peralatan kontrol yang mengoperasikan mesin
menurut sinyal kontrol, rangkaian transmisi
yang mengirim informasi ke tempat jauh di luar
tambang bawah tanah, terminal penerima
sinyal yang mengumpulkan dan mengubah
informasi yang dikirim, serta alat pengolah
informasi dan penunjuk yang melakukan
analisis, pengolahan dan perekaman (penyimpanan) informasi yang telah dikumpulkan
(Newman dan Zipf, 2005).
METODE
Metode yang diterapkan adalah dengan
melakukan perekayasaan dan ujicoba alat dan
sistem secara langsung di lokasi tambang
batubara bawah tanah.
Perancangan Sistem Pemantauan Terpadu
Komunikasi antara pendeteksi dan ruang
kontrol dilakukan dengan menggunakan sistem
Rancang Bangun Sistem Pemantauan Terpad (...truncated)