IMPLEMENTASI METODE LEAN SIX SIGMA SEBAGAI UPAYA MEMINIMASI
WASTE PADA PT. PRIME LINE INTERNATIONAL
IMPLEMENTATION OF LEAN SIX SIGMA METHOD TO MINIMIZE WASTE IN PRIME
LINE INTERNATIONAL LTD
Wieke Rossaria Dewi1),Nasir Widha Setyanto2),Ceria Farela Mada T.3)
Program Studi Teknik Industri, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
E-mail :
[email protected]),.id2),.id3)
Abstrak
PT.Prime Line International merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang garment.
Pada PT.Prime Line International masih terdapat permasalahan, khususnya pada bagian produksi. Tahapan
pada penelitian ini menggunakan tahap define, measure, analyze dan improve (DMAI). Pada tahap define
diketahui tujuh type waste yang terdapat pada proses produksi, yaitu waiting, defect, overproduction,
unnecessary inventory, inappropriate processing, excess transportation, dan unnecessary motion. Dari
ketujuh waste tersebut, terdapat tiga waste yang paling berpengaruh yaitu waiting dengan prosentase
kejadian sebesar 95.81% dan nilai level sigma sebesar 0,00, defect dengan prosentase kejadian sebesar
2,64% dan nilai level sigma sebesar 2,84, serta overproduction dengan prosentase kejadian sebesar 0,76%
dan nilai level sigma sebesar 3,55. Rekomendasi untuk waiting adalah dengan pengaturan ulang pengiriman
setiap product order (PO). Rekomendasi untuk defect adalah dengan peningkatan inspeksi dan juga
membuat SOP. Sedangkan Rekomendasi untuk overproduction adalah memperbaiki metode pemotongan kain
dan juga meningkatkan komunikasi dengan pihak pemesan.
Kata kunci: DMAI, FMEA, lean six sigma, seven waste
1. Pendahuluan
Perkembangan bisnis pada beberapa
tahun ini sangatlah pesat, terutama bisnis
pada industri manufaktur. Selama lebih dari
dua puluh tahun, peran industri manufaktur
dalam perekonomian Indonesia telah
meningkat secara substansial (Kurniati dan
Yanfitri, 2010). Perkembangan bisnis yang
pesat berdampak pada persaingan bisnis yang
sangat tajam dan ketat pada pasar domestik
maupun pasar internasional. Salah satu cara
terbaik dalam memenangkan pasar adalah
dengan mengendalikan kualitas produk yang
dihasilkannya. Produk
Pengendalian kualitas juga dapat
berdampak positif kepada bisnis melalui dua
cara yaitu dampak terhadap biaya produksi
dan dampak terhadap pendapatan (Gaspersz,
2002). Sehingga pengendalian kualitas
menjadi hal yang perlu ditingkatkan pada
setiap perusahaan, termasuk pada PT. Prime
Line International. Dimana pengendalian
kualitas yang terjadi pada PT. Prime Line
International saat ini masih berdasarkan
pengalaman, sehingga belum terdapat metode
yang pasti. Oleh sebab itu metode dengan
teori yang pasti sangat diperlukan pada
perusahaan ini.
PT.
Prime
Line
International
merupakan perusahaan manufaktur yang
bergerak di bidang garment. Garment yang
dihasilkan oleh PT. Prime Line International
merupakan garment dengan jenis kemeja
formal dan brand yang digunakan adalah
Manly.
PT. Prime Line International
merupakan perusahaan dengan job order
intern dan ekstern, dengan prioritas pada job
order intern. Job order intern pada
perusahaan ini berasal dari dalam
perusahaan, sedangkan job order ekstern
berasal dari luar perusahaan.
Dalam proses produksinya PT. Prime
Line International ini masih terdapat
beberapa permasalahanyang harus dihadapi.
Beberapa permasalahan yang harus dihadapai
oleh perusahaan ini yaitu mulai dari
overproduction yang terjadi pada tahun 2012,
tepatnya pada bulan Februari ketika ada job
order ekstern untuk jenis kemeja yang
berbeda dari yang biasanya diproduksi.PT.
Prime Line International mendapatkan total
order sebesar 1.800 unit kemeja dengan
motif Rick, Pepe, Petro White, dan Petro
Black tetapi produk yang dihasilkan sebesar
2.948 unit kemeja sehingga mengakibatkan
overproduction. Perbedaan motif antara job
order ekstern dan intern, mengakibatkan
47
overproduction yang terjadi tidak dapat
menutupi kebutuhan intern perusahaan,
selain itu kelebihan jumlah produk dengan
jumlah order mencapai 38% yang melebihi
dari safety stock sebesar 20%. Unnecessary
inventory dikarenakan kelebihan inventory
yang terjadi sebesar 558 unit kemeja pada
bulan Februari ketika terdapat job order
ekstern,
sehingga
mengakibatkan
unnecessary
inventory sebesar 18%.
Sedangkan
permasalahan
yang
lain
adalahwaiting yang penyebab utamanya,
dikarenakan terjadi penumpukan barang
setengah jadi di rak cutting, sewing, dan
finishinghingga sebesar 144.344 unit barang
setengah jadi selama tahun 2012.
Waste selanjutnya adalah defect
product yang terjadi pada produk akhir
adalah 3979 kemeja atau kemungkinan gagal
per sejuta kesempatan adalah 90.000 dengan
level sigma sebesar 2,84. Dengan demikian,
angka defect di atas dianggap masih cukup
jauh dari level six sigma 6,00 atau 3,4 cacat
untuk setiap juta kesempatan (Gasperz,
2006),
dan
kedepannya
perusahaan
berencana ingin menerapkan six sigma.
Selain empat type waste yang diketahui
permasalahannya, dalam pembahasan ini
juga akan dibahas tiga typewaste lagi
yaitu excess transportasi, unnecesarry
motions dan unnecessary processes.
Bahwasanya adapun rujukan penelitian
terdahulu yang pernah dilakukan oleh
beberapa peneliti mengenai masalah waste.
Nurwidiana dan Aman (2009) merupakan
peneliti, yang dalam penelitiannya berjudul
“Evaluasi Hasil Implementasi Lean Six
Sigma
Berdasarkan
Nilai
COPQ
Menggunakan
Pendekatan
FMEA”
membahas mengenai konsep lean six sigma
yang ditinjau dari cost of poor quality.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Satrio
(2007) juga menggunakan Lean Six Sigma,
dalam
penelitiannya
yang
berjudul
“Implementasi Pendekatan Lean Six Sigma
Pada Produksi Garam Dengan Menggunakan
Metode FMEA (Studi kasus: PT Susanti
Megah)” penelitian ini yang bertujuan untuk
menganalisa dan melakukan peningkatan
kualitas produksi garam dengan pendekatan
Lean Six Sigma serta menggunakan metode
FMEA untuk mengetahui kegagalan yang
terjadi.
Berdasarkan penelitian terdahulu dan
berkaitan dengan beberapa permasalahan
yang terjadi pada PT. Prime Line
International, maka perlu adanya perbaikan
dengan metode yang tepat. Dengan
pendekatan lean yang diharapkan dapat
digunakan untuk melakukan analisis dan
perbaikan untuk mengurangi waste yang
disinyalir
dapat
meningkatkan biaya
produksi, sedangkan pendekatan six sigma
dikombinasikan
dengan
menggunakan
metode FMEA, dapat digunakan untuk
melakukan analisis dan perbaikan untuk
mengurangi defect yang terjadi pada produk.
Sehingga pada penelitian ini, akan
menggunakan metode lean six sigma yang
nantinya akan dikombinasikan dengan
metode FMEA pada tahap improve, yang
digunakan sebagai pendukung metode lean
six sigma. Berdasarkan hasil identifikasi
masalah yang telah disampaikan, maka dapat
di buat beberapa rumusan masalah, yaitu
dengan metode lean six sigma waste
manakah yang ditemukan paling berpengaruh
dan harus segera diminimasi, faktor-faktor
apa saja yang menyebabkan waste pada
proses produksi di PT.Prime Line
International, Rekomendasi perbaikan apa
yang harus dilakukan untuk meminimasi
waste.
2. (...truncated)