MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI

Jurnal Media Akademik (JMA), Feb 2024

Muslim periode awal memahami sunnah dengan cara dan metode yang berbeda dengan kita. Dengan begitu pemahaman terhadap sunnah menjadi sangat dinamis, tergantung periodeisasi yang dilaluinya. Dinamika sunnah dalam rentang sejarah tersebut menimbulkan satu permasalahan yang sangat penting, yakni otentisitas atau asal-usul kelahirannya, bersumber dari Nabi atau bukan. Sebagian orientalis meyakini bahwa hadis tidak bersumber dari Nabi, melainkan diciptakan oleh generasi ketiga setelah Nabi. Ulama tradisional kemudian membantahnya dengan bukti sejarah, bahwa pencatatan hadis sudah ada sejak Nabi masih hidup. Namun jawaban tersebut masih menyisakan beberapa problem lagi, yakni kalau pencatat sudah ada sejak awal, apakah hal tersebut menandakan hadis setara dengan Al-Qur’an? Mengapa dalam hadis-hadis mutawatir memiliki perbedaan lafadz yang sangat banyak? Mengapa periwayatan bil m’na jauh lebih banyak ketimbang periwayatan bil lafdzi?. Fakta-fakta seperti itu tidak dapat dibantah. Oleh sebab itu dalam memahami sunnah Nabi tidak dapat menggunakan satu disiplin ilmu dari ulumul hadis saja. Sebab hadis yang sampai kepada kita, telah menjadi sebuah narasi, yang beririsan dengan ilmu sejarah, bahasa, dan komunikasi. Artikel ini mencoba membaca ulang sunnah dalam perspektif narasi, yang tujuannya untuk menyegarkan kembali pemahaman pembaca kontemporer mengenai sunnah.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/download/150/152

MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI

JURNAL MEDIA AKADEMIK (JMA) Vol.2, No.2 Februari 2024 e-ISSN: 3031-5220; DOI: 10.62281, Hal 2051-2078 PT. Media Akademik Publisher AHU-084213.AH.01.30.Tahun 2023 MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI Oleh : Hatib Rachmawan Program Studi Ilmu Hadist, Fakultas Agama Islam - Universitas Ahmad Dahlan Alamat: JL. Kapas No.9, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (55166). Korespondensi Penulis: Abstract. Early Muslims understood the Sunnah in different ways and methods to us. In this way, understanding of the Sunnah becomes very dynamic, depending on the periodization it goes through. The dynamics of the Sunnah in this historical period give rise to a very important problem, namely its authenticity or origin, whether it comes from the Prophet or not. Some orientalists believe that hadith did not originate from the Prophet, but were created by the third generation after the Prophet. Traditional scholars then denied this with historical evidence, that the recording of hadith had existed since the Prophet was still alive. However, this answer still leaves several more problems, namely, if the recorder existed from the start, does this indicate that the hadith is equivalent to the Koran? Why do mutawatir hadiths have so many different pronunciations? Why are there so many more narrations on bil m'na than narrations on bil lafdzi?. Such facts cannot be disputed. Therefore, in understanding the Sunnah of the Prophet, one cannot use only one scientific discipline from Ulumul Hadith. Because the hadith that has come down to us has become a narrative, which intersects with the sciences of history, language and communication. This article attempts to reread the sunnah from a narrative perspective, the aim of which is to refresh contemporary readers' understanding of the sunnah. Keywords: Sunnah, Hadith, Narrative. Received January 24, 2024; Revised January 27, 2024; January 31, 2024 *Corresponding author: MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI Abstrak. Muslim periode awal memahami sunnah dengan cara dan metode yang berbeda dengan kita. Dengan begitu pemahaman terhadap sunnah menjadi sangat dinamis, tergantung periodeisasi yang dilaluinya. Dinamika sunnah dalam rentang sejarah tersebut menimbulkan satu permasalahan yang sangat penting, yakni otentisitas atau asal-usul kelahirannya, bersumber dari Nabi atau bukan. Sebagian orientalis meyakini bahwa hadis tidak bersumber dari Nabi, melainkan diciptakan oleh generasi ketiga setelah Nabi. Ulama tradisional kemudian membantahnya dengan bukti sejarah, bahwa pencatatan hadis sudah ada sejak Nabi masih hidup. Namun jawaban tersebut masih menyisakan beberapa problem lagi, yakni kalau pencatat sudah ada sejak awal, apakah hal tersebut menandakan hadis setara dengan Al-Qur’an? Mengapa dalam hadis-hadis mutawatir memiliki perbedaan lafadz yang sangat banyak? Mengapa periwayatan bil m’na jauh lebih banyak ketimbang periwayatan bil lafdzi?. Fakta-fakta seperti itu tidak dapat dibantah. Oleh sebab itu dalam memahami sunnah Nabi tidak dapat menggunakan satu disiplin ilmu dari ulumul hadis saja. Sebab hadis yang sampai kepada kita, telah menjadi sebuah narasi, yang beririsan dengan ilmu sejarah, bahasa, dan komunikasi. Artikel ini mencoba membaca ulang sunnah dalam perspektif narasi, yang tujuannya untuk menyegarkan kembali pemahaman pembaca kontemporer mengenai sunnah. Kata kunci: Sunnah, Hadist, Narasi. LATAR BELAKANG Antara kita (pembaca kontemporer) dengan Nabi terdapat sekat sejarah yang sangat jauh selama 14 abad. Cara kita saat ini dalam memahami dan memperlakukan hadis tentu saja sangat berbeda dengan muslim awal yang bertemu langsung dengan Nabi. Mereka muslim awal tidak membutuhkan unsur kesejarahan dalam memahami hadis. Sementara kita pasti melibatkan unsur kesejarahan dalam memahami hadis. Padahal sejarah, menurut Kuntowijoyo, selalu dinarasikan kembali oleh sejarawan dengan melibatkan interpretasinya.1 Meskipun berangkat dari interpretasi, sebuah sejarah harus ditulis berdasarkan bukti-bukti (evidences). Tulisan mengenai asal-usul hadis, setidaknya terdapat tiga pendekatan yang beredar di dalam literatur-literatur: Pertama, pendekatan ilmiah-objektif. Pendekatan ini 1 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2nd edn (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2018)., hlm. 78-80. 2052 JMA - VOLUME 2, NO. 2, FEBRUARI 2024 dibawa oleh para orientalis, baik yang tidak beragama Islam ataupun seorang muslim sendiri, seperti Jonathan Brown. Pendekatan ilmiah ini meletakan hadis sebagai objek dan para penelitinya mengambil jarak sebagai observer. Adapun basis epistemologi yang digunakan adalah keilmuan barat. Kedua, pendekatan apologetic. Pendekatan ini dibawa oleh ulama-ulama hadis tradisionalis, sebagai bentuk reaksi dan bantahan terhadap temuan para orientalis tersebut. Terkesan agak doktrinal, dengan dalil “untuk menjaga kemurnian hadis dari orang-orang yang mencoba merusak Islam”. Jadi tulisan dan argumentasi yang dibuat terlihat sangat sentimentil. Meskipun tidak dapat dimungkiri, bahwa orientalis periode awal memuat misi zending dan pesanan kolonialisme, sehingga narasinya cenderung menyerang dasar-dasar keyakinan umat Islam. Gerakan orientalis baru memasuki fase objektif memasuki abad 20. Pendekatan keilmuan yang digunakan murni dari internal umat Islam sendiri. Ketiga, pendekatan sintetik-objektif, yakni mencoba memadukan temuan-temuan dari dua belah pihak dengan pertimbanganpertimbangan rasional objektif. Kelompok ini diwakili oleh muslim progresif. Artikel yang ada dihadapan pembaca ini berada di titik tersebut. Isu sentral dari penulisan asal-usul hadis dari kalangan orientalis seputar otentisitas (keaslian) hadis. Kesimpulan orientalis yang paling terkenal dan menjadi penyebab reaksi keras ulama-ulama hadis adalah dari Ignaz Goldziher, Joseph Schatch, dan Juynboll. Mereka berada pada satu titik yang sama, yakni menyimpulkan bahwa hadis diproduksi pada generasi ketiga, atau di abad kedua hijriyah.2 Beberapa bukti yang menjadi acuan mereka adalah: (1) di era itu terjadi peningkatan jumlah hadis, yang hal tersebut menandakan terjadi produksi hadis besar-besaran; (2) mereka memahami bahwa titik percabangan hadis (common link) merupakan bukti adanya perkembangan hadis; (3) untuk melegitimasi keaslian hadis ditambahkan sistem isnād yang menunjukkan bentuk projecting back (penelusuran ke belakang), yakni sebuah periwayatan disandarkan kepada perawi-perawi di atasnya sehingga sampai kepada Nabi.3 Ulama-ulama hadis tradisionalis kemudian membantah orientalis dengan memberikan beberapa argumen: (1) tradisi pencatatan hadis sudah ada sejak Nabi masih Harald Motzki, ‘Introduction: Hadith: The Origins and Development’, in Hadith: The Origins and Development (London and New York: Routledge, 2004), pp. xvii–xx.; perhatikan juga Joseph Schacht, The Origin oF Muhammadan Jurisprudence, 5th edn (London: Oxford University Press, 1975)., hlm. 176-179. 3 Joseph Schacht., hlm. 163-170. Bandingkan ju (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/download/150/152
Article home page: https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/view/150/152

Hatib Rachmawan. MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI, Jurnal Media Akademik (JMA), 2024,