MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF NARASI
JURNAL MEDIA AKADEMIK (JMA)
Vol.2, No.2 Februari 2024
e-ISSN: 3031-5220; DOI: 10.62281, Hal 2051-2078
PT. Media Akademik Publisher
AHU-084213.AH.01.30.Tahun 2023
MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF
NARASI
Oleh :
Hatib Rachmawan
Program Studi Ilmu Hadist, Fakultas Agama Islam - Universitas Ahmad Dahlan
Alamat: JL. Kapas No.9, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa
Yogyakarta (55166).
Korespondensi Penulis:
Abstract. Early Muslims understood the Sunnah in different ways and methods to us. In
this way, understanding of the Sunnah becomes very dynamic, depending on the
periodization it goes through. The dynamics of the Sunnah in this historical period give
rise to a very important problem, namely its authenticity or origin, whether it comes from
the Prophet or not. Some orientalists believe that hadith did not originate from the
Prophet, but were created by the third generation after the Prophet. Traditional scholars
then denied this with historical evidence, that the recording of hadith had existed since
the Prophet was still alive. However, this answer still leaves several more problems,
namely, if the recorder existed from the start, does this indicate that the hadith is
equivalent to the Koran? Why do mutawatir hadiths have so many different
pronunciations? Why are there so many more narrations on bil m'na than narrations on
bil lafdzi?. Such facts cannot be disputed. Therefore, in understanding the Sunnah of the
Prophet, one cannot use only one scientific discipline from Ulumul Hadith. Because the
hadith that has come down to us has become a narrative, which intersects with the
sciences of history, language and communication. This article attempts to reread the
sunnah from a narrative perspective, the aim of which is to refresh contemporary readers'
understanding of the sunnah.
Keywords: Sunnah, Hadith, Narrative.
Received January 24, 2024; Revised January 27, 2024; January 31, 2024
*Corresponding author:
MEMBACA ULANG ASAL USUL HADIS DALAM PERSPEKTIF
NARASI
Abstrak. Muslim periode awal memahami sunnah dengan cara dan metode yang berbeda
dengan kita. Dengan begitu pemahaman terhadap sunnah menjadi sangat dinamis,
tergantung periodeisasi yang dilaluinya. Dinamika sunnah dalam rentang sejarah tersebut
menimbulkan satu permasalahan yang sangat penting, yakni otentisitas atau asal-usul
kelahirannya, bersumber dari Nabi atau bukan. Sebagian orientalis meyakini bahwa hadis
tidak bersumber dari Nabi, melainkan diciptakan oleh generasi ketiga setelah Nabi.
Ulama tradisional kemudian membantahnya dengan bukti sejarah, bahwa pencatatan
hadis sudah ada sejak Nabi masih hidup. Namun jawaban tersebut masih menyisakan
beberapa problem lagi, yakni kalau pencatat sudah ada sejak awal, apakah hal tersebut
menandakan hadis setara dengan Al-Qur’an? Mengapa dalam hadis-hadis mutawatir
memiliki perbedaan lafadz yang sangat banyak? Mengapa periwayatan bil m’na jauh
lebih banyak ketimbang periwayatan bil lafdzi?. Fakta-fakta seperti itu tidak dapat
dibantah. Oleh sebab itu dalam memahami sunnah Nabi tidak dapat menggunakan satu
disiplin ilmu dari ulumul hadis saja. Sebab hadis yang sampai kepada kita, telah menjadi
sebuah narasi, yang beririsan dengan ilmu sejarah, bahasa, dan komunikasi. Artikel ini
mencoba membaca ulang sunnah dalam perspektif narasi, yang tujuannya untuk
menyegarkan kembali pemahaman pembaca kontemporer mengenai sunnah.
Kata kunci: Sunnah, Hadist, Narasi.
LATAR BELAKANG
Antara kita (pembaca kontemporer) dengan Nabi terdapat sekat sejarah yang
sangat jauh selama 14 abad. Cara kita saat ini dalam memahami dan memperlakukan
hadis tentu saja sangat berbeda dengan muslim awal yang bertemu langsung dengan Nabi.
Mereka muslim awal tidak membutuhkan unsur kesejarahan dalam memahami hadis.
Sementara kita pasti melibatkan unsur kesejarahan dalam memahami hadis. Padahal
sejarah, menurut Kuntowijoyo, selalu dinarasikan kembali oleh sejarawan dengan
melibatkan interpretasinya.1 Meskipun berangkat dari interpretasi, sebuah sejarah harus
ditulis berdasarkan bukti-bukti (evidences).
Tulisan mengenai asal-usul hadis, setidaknya terdapat tiga pendekatan yang
beredar di dalam literatur-literatur: Pertama, pendekatan ilmiah-objektif. Pendekatan ini
1
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2nd edn (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2018)., hlm. 78-80.
2052
JMA - VOLUME 2, NO. 2, FEBRUARI 2024
dibawa oleh para orientalis, baik yang tidak beragama Islam ataupun seorang muslim
sendiri, seperti Jonathan Brown. Pendekatan ilmiah ini meletakan hadis sebagai objek dan
para penelitinya mengambil jarak sebagai observer. Adapun basis epistemologi yang
digunakan adalah keilmuan barat. Kedua, pendekatan apologetic. Pendekatan ini dibawa
oleh ulama-ulama hadis tradisionalis, sebagai bentuk reaksi dan bantahan terhadap
temuan para orientalis tersebut. Terkesan agak doktrinal, dengan dalil “untuk menjaga
kemurnian hadis dari orang-orang yang mencoba merusak Islam”. Jadi tulisan dan
argumentasi yang dibuat terlihat sangat sentimentil. Meskipun tidak dapat dimungkiri,
bahwa orientalis periode awal memuat misi zending dan pesanan kolonialisme, sehingga
narasinya cenderung menyerang dasar-dasar keyakinan umat Islam. Gerakan orientalis
baru memasuki fase objektif memasuki abad 20. Pendekatan keilmuan yang digunakan
murni dari internal umat Islam sendiri. Ketiga, pendekatan sintetik-objektif, yakni
mencoba memadukan temuan-temuan dari dua belah pihak dengan pertimbanganpertimbangan rasional objektif. Kelompok ini diwakili oleh muslim progresif. Artikel
yang ada dihadapan pembaca ini berada di titik tersebut.
Isu sentral dari penulisan asal-usul hadis dari kalangan orientalis seputar
otentisitas (keaslian) hadis. Kesimpulan orientalis yang paling terkenal dan menjadi
penyebab reaksi keras ulama-ulama hadis adalah dari Ignaz Goldziher, Joseph Schatch,
dan Juynboll. Mereka berada pada satu titik yang sama, yakni menyimpulkan bahwa hadis
diproduksi pada generasi ketiga, atau di abad kedua hijriyah.2 Beberapa bukti yang
menjadi acuan mereka adalah: (1) di era itu terjadi peningkatan jumlah hadis, yang hal
tersebut menandakan terjadi produksi hadis besar-besaran; (2) mereka memahami bahwa
titik percabangan hadis (common link) merupakan bukti adanya perkembangan hadis; (3)
untuk melegitimasi keaslian hadis ditambahkan sistem isnād yang menunjukkan bentuk
projecting back (penelusuran ke belakang), yakni sebuah periwayatan disandarkan
kepada perawi-perawi di atasnya sehingga sampai kepada Nabi.3
Ulama-ulama hadis tradisionalis kemudian membantah orientalis dengan
memberikan beberapa argumen: (1) tradisi pencatatan hadis sudah ada sejak Nabi masih
Harald Motzki, ‘Introduction: Hadith: The Origins and Development’, in Hadith: The Origins and
Development (London and New York: Routledge, 2004), pp. xvii–xx.; perhatikan juga Joseph Schacht, The
Origin oF Muhammadan Jurisprudence, 5th edn (London: Oxford University Press, 1975)., hlm. 176-179.
3
Joseph Schacht., hlm. 163-170. Bandingkan ju (...truncated)