Hubungan Perilaku Picky Eating Dan Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di Kb Paud Imanul Wafa Balikpapan
Volume 2 Nomor 8 Agustus 2023
E-ISSN: 2963-2900 | P-ISSN: 2964-9048
https://jmi.rivierapublishing.id/index.php/rp
HUBUNGAN PERILAKU PICKY EATING DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN
STATUS GIZI ANAK PRASEKOLAH DI KB PAUD IMANUL WAFA
BALIKPAPAN
Amelia Lintang Puspita1, Edi Sukamto2, Riana Pangestu Utami3
Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur
Email:
Abstract
Preschool children were at risk of experiencing malnutrition because they had problems that
tend to be picky eaters. Picky eating behavior could impact on children's growth, increase the
risk of mortality, and could lead to anorexia and bulimia. As an adult, this eating behavior can
pose a risk of degenerative diseases. In addition, children were also prone to experiencing
overweight. By doing physical activity in children, it will trained the muscles, heart and almost
all parts of the body to move actively and avoid excessive fat in the body. The purpose of this
study was to analyze the relationship between picky eating behavior and physical activity with
the nutritional status of preschool children at Imanul Wafa Playgroup Balikpapan. This study
used a cross-sectional design, using total sampling technique and obtained samples of 45
people. Respondents were all parents of the Imanul Wafa Playgroup Balikpapan in the
2022/2023 school year. The research instruments were Child Eating Behavior Questionnaire
(CEBQ) and Early Year Physical Activity Questionnaire (EY-PAQ). The data then analyzed
by Spearman Rank. Picky eating habits and nutritional status did not significantly correlate (p
= 0.866). The correlation between physical activity and nutritional status, however, was
substantial (p = 0.000).
Keywords: nutritional status, physical activity, picky eating, preschool children.
Abstrak
Anak usia prasekolah berisiko mengalami masalah gizi kurang, karena memiliki masalah yang
cenderung memilih-milih makanan (picky eating). Gangguan perilaku makan ini dapat
menimbulkan dampak pada pertumbuhan anak, meningkatkan risiko kematian, dan apabila
semakin parah dapat mengakibatkan anoreksia dan bulimia. Ketika dewasa, masalah perilaku
makan tersebut dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif dan rentan mengalami masalah
gizi lebih. Hampir setiap komponen tubuh anak dapat dilatih melalui aktivitas fisik untuk
bergerak secara dinamis, mencegah pembentukan lemak yang berlebihan, dan berdampak pada
status gizi. Rutinitas aktivitas fisik anak biasanya berupa bermain. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan picky eating, aktivitas fisik, dan status
gizi pada anak usia prasekolah di Kelompok Bermain Imanul Wafa Balikpapan. Penelitian ini
memiliki desain cross-sectional, dengan mengumpulkan sampel sebanyak 45 partisipan dengan
menggunakan teknik total sampling. Responden merupakan seluruh orang tua peserta didik
Kelompok Bermain Paud Imanul Wafa Balikpapan tahun ajaran 2022/2023. Instrumen
penelitian yang digunakan adalah Child Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ) dan Early
Year Physical Activity Questionnaire (EY-PAQ) dengan analisis statistik Spearman Rank.
Kebiasaan picky eating dan status gizi tidak berkorelasi secara signifikan (p = 0,866). Namun,
korelasi antara aktivitas fisik dan status gizi cukup besar (p = 0,000).
Kata Kunci: aktivitas fisik, anak prasekolah, picky eating, status gizi
Corresponding Author; Amelia Lintang Puspita
E-mail:
2178 | P a g e
Hubungan Perilaku Picky Eating Dan Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di
Kb Paud Imanul Wafa Balikpapan
Amelia Lintang Puspita, Edi Sukamto, Riana Pangestu Utami
Pendahuluan
Indonesia termasuk negara yang mengalami triple burden malnutrition, yaitu kondisi gizi
kurang, gizi lebih, dan defisiensi zat gizi mikro (Paramita et al., 2020). Sepertiga populasi dunia
masih mengalami kekurangan yodium, 17% anak prasekolah mengalami kekurangan berat badan,
28,5% mengalami stunting, 40% wanita usia subur menderita anemia, dan 25% populasi dunia
mengalami kelebihan berat badan (Shrimpton, 2012). Berdasarkan data Riset kesehatan dasar
(Riskesdas) tahun 2018, pada balita di Indonesia ada 3,9% kasus gizi buruk dan 13,8% kasus gizi
kurang. Di tahun yang sama, prevalensi status gizi gemuk pada balita Indonesia sebesar 8,0%.
Sebanyak 30,8% balita stunting dengan proporsi sangat pendek 11,5% dan pendek 19,3%
(Saragih et al., 2018). Prevalensi kasus gizi buruk dan gizi kurang di Kalimantan Timur masingmasing sebanyak 14%, kasus stunting pada balita sebanyak 24%, stunting pada baduta sekitar
29% (Saragih et al., 2018).
Anak di tahun prasekolah merupakan mereka dengan usia 3-6 tahun. Anak usia prasekolah
menjadi rewel terhadap makanan, dan lebih memilih beberapa jenis makanan tertentu atau yang
dipersiapkan dengan cara tertentu, dan hanya dapat mengkonsumsi makanan tertentu selama
beberapa periode atau hari (Wijayanti & Rosalina, 2018). Anak usia prasekolah berisiko
mengalami masalah gizi kurang, karena gangguan makan yang disebabkan oleh anak-anak yang
sudah mulai bertindak sebagai konsumen aktif dan cenderung memilih-milih makanan yang akan
dikonsumsi (Sari & Lubis, 2016).
Gangguan perilaku makan yang dikenal sebagai picky eating, berkaitan dengan
perkembangan psikologis, terlihat dari keengganan anak-anak untuk mencoba jenis makanan baru
(neuphobia), pembatasan beberapa makanan tertentu, khususnya sayuran dan buah-buahan, serta
ketidaktertarikan pada makanan dengan beragam metode yang dilaksanakan (Utami, 2016).
Hilangnya atau kurang nafsu makan yang bisa terjadi mulai dari tingkatan ringan hingga parah
merupakan penyebab anak mengalami picky eating. Kurangnya nafsu makan, makan atau minum
yang sering bersisa, dan menyemburkan atau mengeluarkan makanan adalah tanda-tanda yang
dianggap sebagai gejala ringan. Ketika mengkonsumsi sesuatu yang tidak disukai oleh anak,
gejala berat akan tampak seperti mengemut makanan, menutup mulut secara rapat, dan menolak
makanan tersebut (Wijayanti & Rosalina, 2018).
Perilaku picky eating dapat menimbulkan dampak pada pertumbuhan anak. Balita yang
suka memilih-milih makanan pada umumnya akan mengalami inadekuasi asupan makan
(Oktavia, 2018). Pertumbuhan anak terhambat diakibatkan oleh kekurangan energi, yang terjadi
ketika tubuh mengeluarkan lebih banyak energi daripada yang dikonsumsi. Picky eating yang
tidak segera ditangani akan memiliki efek jangka panjang dan berulang hingga dewasa, sehingga
meningkatkan risiko kematian. Jika keadaan semakin parah, hal ini juga akan menyebabkan
anoreksia dan bulimia (Utami, 2016).
Masalah gizi yang dapat terjadi pada anak prasekolah tidak hanya mencakup gizi kurang,
tetapi juga gizi lebih (Rahmah et al., 2019). Apabila seorang anak telah mengalami masalah gizi
lebih, cenderung berlanjut hingga usia dewasa serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular,
misalnya diabetes atau gangguan kardiovaskular pada usia muda (Permatasari et al., 2013). Anakanak yang aktif dalam aktivitas fisik akan melatih jantung, otot, dan hampir seluruh komponen
tubuh lainnya untuk bergerak cepat da (...truncated)