Kasap dan Bordiran Aceh Sebagai Identitas Lokal di Gampong Lancang Garam Lhokseumawe
Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Pendidikan
E-ISSN: 2774-3667
P-ISSN: 2774-6194
Volume 3, Nomor 1, 2022
Hal. 53-63
Kasap dan Bordiran Aceh Sebagai Identitas Lokal
di Gampong Lancang Garam Lhokseumawe
Khalsiah
Universitas Malikussaleh
Nurul Fadhillah
IAIN Lhokseumawe
Sulhatun
Universitas Malikussaleh
Likdanawati
Universitas Malikussaleh
ABSTRAK
Kerajinan Kasap dan Bordiran Motif produksi wilayah Lhokseumawe di kampong Lancang garam
dan diberbagai wilayah Aceh diberbagai daerah masing masing. Setiap kasap mempunyai motif
yang berbeda mempunyai ciri atau motif tersendiri dan hal ini sangat menarik untuk dipejari dan
di telaah.Beberapa kasap dan bordiran memperlihatkan keberadaan asal wilayah tersebut sehingga
mempunyai corak yang berbeda jika dicermati dengan seksama. Dengan ciri dan motif yang
dimodifikasi produk diberbagai wilayah tersebut mampu diperkenalkan kepada wisatawan atau
turis lokal betapa besar cita rasa buadaya Aceh untuk suatu produk dan motif kasap dan bordiran
baik motif tas, topi, baju, songket dan lainlainnya. Tujuan dari pengabdian ini untuk menelaah
Seberapa besar peran masyarakat dan mitra usaha motif kasap dan bordir Aceh di wilayah kota
Lhokseumawe dan Bagaimana motif Kasap dan bordiran yang paling banyak diminati oleh kota
Lhokseumawe. Hasil penelitian memeperlihatkan peluang ketrampilan dalam kasap bordiran Aceh
di kampong Lhokseumawe akan mampu menambah penghasailan pendapatan ibu ibu diwilayah
tersebut dalam memproduksi kerajinan rumah tangga.
PENDAHULUAN
Seni menenun atau istilah saat ioni disebut bordiraan atau disitilahkan dengan kasap telah
menjadi mata pencaharian masyarakat dan telah memasuki jalur bisnis yang patut diperhitungkan.
Ketrampilan masyarakat yangdulunya dilakukan turun temurun menjadi ladang usaha masyarakat
dan telah dilirik oleh bangsa pasar tidak hanya di wilayah setempat akan tetapi telah sampai
53
Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Pendidikan
E-ISSN: 2774-3667
P-ISSN: 2774-6194
Volume 3, Nomor 1, 2022
Hal. 53-63
diberbagai belahan ngara lainnya. Kehadiran kerajinan sulaman benuansa benang emas atau di
istilahkan “kasab Aceh” merupakan salah satu komponen pentin dalam perlengkapan upacaraupacara adat
masyarakat Aceh, terutama pada upacara perkawinan, upacara puesijuk atau
tepung tawar, pacara sunat rasul dan upacara lainnya
yang berfungsi sebagai penghias
interior dan barang pakai untuk keperluan upacara.
Menurut Budi (2009:154), kasap dan budaya mempunyai ciri khas dam sulaman diberbagai
wilayah Aceh mempunyai ciri khas tradisional ada yang mengunakan kain beludru, dan kain
perca dan diukiran kasab memiliki warna banyak bermotif flora yang disulam apik dan dengan
manik – manik berwarna emas. Sementara artistik sulaman benang emas yang dikenal sebagai
sulaman yang dari kasap. Lebih lanjut Azhar Munthasir, “Adat perkawinan Etnis Aceh”yang
menjelaskan mengenai adat Aceh di kota Lhokseumawe,
mempunyai nuansa tersendiri dan
sangat dihormati oleh masyarakat. Aceh merupakan daerah yang paling
dalam
menggurat
sejarah kebudayaan Islam di Indonesia, seiring dengan meluasnya kekuasaan serta kejayaan
kerajaan Aceh sehingga mempengaruhi hasil-hasil karya seni masyarakat. Karya-karya seni
tersebut diciptakan Seni kriya atau seni kerajinan sebagai salah satu hasil budaya bangsa pada
mulanya bersifat spiritual fungsional yang dibuat dengan teknik atau perwujudan dalam
perkembangannnya, seni kriya atau seni kerajinan yang ada justru menjadi seni-seni
tradisional yang secara turun-temurun. Penjelasan (Geerzt dalam Rohidi 2000: 6) Berbagai
alat yang menngunakan bentuk yang identic dengan simol pada umumnya mampu mengakomodir
berbagai makna dan symbol.
1.
Aspek Kerajinan Usaha dan Manajemen Usaha
Seni kerajinan dengan ldan bordir sulamamn tidak jauh berbeda terutama dalam nilai-nilai
yang menyangkut segi kualitas dari penghayatan terhadap cita rasa estetik dan lebih sempurna
dan memuaskan di antaranya mencapai tingkat klasik. Dari permaslahan diatas Peneleitian
terhadap pengadian maasayarakat ini bembahas tentang: Seberapa besar peran masyarakat dan
mitra usaha motif kasap dan bordir Aceh di wilayah kota Lhokseumawe dan Bagaimana motif
Kasap dan bordiran yang paling banyak diminati oleh kota Lhokseumawe?
54
Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Pendidikan
E-ISSN: 2774-3667
P-ISSN: 2774-6194
Volume 3, Nomor 1, 2022
Hal. 53-63
2. Persoalan yang dihadapi Mitra
Permasalahan yang dihadapi mitra adalah metode proses yang masih perlu perbaikan
sehingga produkstifitas rendah membutuhkan kualitas yang bagus dalam sulaman bordiranAceh
dan pada Kelompok Usaha PKK Desa Lancang Garam adalah masalah perlunya dilakukan
sosialisasi dan aplikasi produk inovasi ditengah masyarakat Lancang Garam saat ini. Aplikasi
produk nantinya akan memdorong msyarakat usaha kasab dan bordir di Kota Lhokseumawe untuk
mengolah dan menggunakan serta mengembangkan usaha tersebut yang berbasis teknologi.
3. Permasalahan Prioritas Mitra yang disepakati Bersama
Berdasarkan hasil diskusi pengusul dengan mitra terutama tpada kerajinan rumah tangga
pada kelompok masyarakat di desa Lancang Garam ditemukan beberapa masalah yang kemudian
disepakati
sebagai masalah utama yang perlu diatasi. Permasalahan utama kemitra yang
disepakati tersebut adalah permasalahan pemasaran produk yang dihasilkan. Peningkatan produksi
mitra.
4. Justifikasi Pengusul Bersama Mitra dalam Menentukan Persoalan Prioritas Untuk
Diselesaikan Selama Program Pengabdian
Salah satu cara untuk mengatasi masalah diatas adalah pada tahap awal adalah fokus pada
peningkatan produksi sulaman seperti bordiran payung. Dan lainnya serta membangun manajemen
usaha yang baik ke Mitra. Selanjutnya melakukan aplikasi produk kemsarakat untuk
memperkenalkan produk inovasi. Dan melakukan sosialisasi pada para masyarakat di desa
Lancang garam sebagai desa binaan Universitas Malikussaleh agar teraplikasinya iptek kampus di
tengah masyaraat dalam berinovasi.
5. Permasalahan Spesifik, Konkret Dan Merupakan Permasalahan Mitra
Berdasarkan hasil survey lapangan
dan diskusi dengan masyrakat dan tenaga informal
tentang Kasap dan Bordir Sulaman emas maka dapat disimpulkan bahwa masalah yang dihadapi
oleh mitra adalah:
55
Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Pendidikan
E-ISSN: 2774-3667
P-ISSN: 2774-6194
Volume 3, Nomor 1, 2022
Hal. 53-63
a. Masyarakat kurang berminat dengan kerajinan kasap dan border dikarenakan tidak pernah
ada pelatihan tentang kursus bagaimana membuat kasap dan border hand-made yang
artistic.
b. Kurangnya manajemen usaha yang dikuasai oleh masyarakat yang menjadi mitra.
c. Mitra kurang berani memasarkan hasil kerajinan karena takut tidak ada pembeli.
d. Hasil kerajinan yang bagus perlu keterampilan dan pembekalan, namun sebagian pekerja
informal belum banyak mendapatkan informasi bagaimana sulaman kasap dan bordiran yang
benar.
e. Rendahnya metode distribusi dan Pemasaran produk ke masyarakat.
Sementara berdasarkan hasil survey lapangan dan diskusi dengan kelompok masyarakat
di desa Lancan (...truncated)