Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui Vaksinasi HPV di kota Semarang

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Feb 2014

Kanker serviks merupakan the silent killer diseases dengan penderita risiko tinggi pada perempuan mulai umur 20 tahun sehingga remaja perempuan perlu melakukan tindakan preventif secara dini melalui vaksinasi HPV. Tuiuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV, dengan sampel penelitian adalah mahasiswi berlatar belakang kesehatan dari empat universitas di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap remaja perempuan mendukung pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV (92,9%). Dari uji statistik terlihat ada hubungan antara keyakinan remaja perempuan dengan sikap (p=0,00), ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap (p=0,005), ada hubungan antara sikap keluarga dengan sikap remaja perempuan (p=0,009). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap viksinasi HPV pengetahuan tentang kanker serviks dan vaksin HPV serta sikap keluarga terhadap vaksinasi HPV merupakan factor yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV. Kata kunci : sikap, kanker serviks, vaksin HPV, remaja The factors associated with attiude factors adolescent girl to prevention cervical cancer through HPV vaccination; Cervical cancer is the silent killer disease with high risk patients in women starting at 20 years old that adolescent girls need to take some prevention action at an early stage through HPV vaccination. This study investigate the factors associated with attitude factors adolescent girls to prevention cervical cancer through HPV vaccination, with sample were student with medical backgrounds from four universities in the Semarang City. These result indicate that the attitude of adolescent girls support the prevention of cervical cancer through HPV vaccination (92,9%). The results of the chi square test statistic showed associated between adolescent girls with an attitutde (p=0.00), associated between knowledge with attitude (p=0,005), associated between familly attitude with the attitude of adolescent girls (p=0,009). Conclution this study is belief of against HPV vaccination, knowledge about cervical cancer and HPV vaccines and family attitudes toward HPV vaccination is a factor related to adolescent female attitudes towaids the prevention of cervical cancer through HPV vaccination. Keyword : attitude, cervical cancer, HPV vaccination, girls adolescent

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkmi/article/download/6161/5214

Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui Vaksinasi HPV di kota Semarang

Sikap Remaja Perempuan ... Berlian R, Zahroh S, Kusyogo C Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui Vaksinasi HPV di kota Semarang Berlian Rachmani*, Zahroh Shaluhiyah**, Kusyogo Cahyo** * Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang ** Bagian Pendidikan Kesehatan dan llmu Perilaku FKM Universitas Diponegoro Semarang Korespondensi : ABSTRAK Kanker serviks merupakan the silent killer diseases dengan penderita risiko tinggi pada perempuan mulai umur 20 tahun sehingga remaja perempuan perlu melakukan tindakan preventif secara dini melalui vaksinasi HPV. Tuiuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV, dengan sampel penelitian adalah mahasiswi berlatar belakang kesehatan dari empat universitas di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap remaja perempuan mendukung pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV (92,9%). Dari uji statistik terlihat ada hubungan antara keyakinan remaja perempuan dengan sikap (p=0,00), ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap (p=0,005), ada hubungan antara sikap keluarga dengan sikap remaja perempuan (p=0,009). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap viksinasi HPV pengetahuan tentang kanker serviks dan vaksin HPV serta sikap keluarga terhadap vaksinasi HPV merupakan factor yang berhubungan dengan sikap remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV. Kata kunci : sikap, kanker serviks, vaksin HPV, remaja ABSTRACT The factors associated with attiude factors adolescent girl to prevention cervical cancer through HPV vaccination; Cervical cancer is the silent killer disease with high risk patients in women starting at 20 years old that adolescent girls need to take some prevention action at an early stage through HPV vaccination. This study investigate the factors associated with attitude factors adolescent girls to prevention cervical cancer through HPV vaccination, with sample were student with medical backgrounds from four universities in the Semarang City. These result indicate that the attitude of adolescent girls support the prevention of cervical cancer through HPV vaccination (92,9%). The results of the chi square test statistic showed associated between adolescent girls with an attitutde (p=0.00), associated between knowledge with attitude (p=0,005), associated between familly attitude with the attitude of adolescent girls (p=0,009). Conclution this study is belief of against HPV vaccination, knowledge about cervical cancer and HPV vaccines and family attitudes toward HPV vaccination is a factor related to adolescent female attitudes towaids the prevention of cervical cancer through HPV vaccination. Keyword : attitude, cervical cancer, HPV vaccination, girls adolescent 34 Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Vol. 11 / No. 1, April 2012 PENDAHULUAN Salah satu kesejahteraan perempuan yang harus disoroti adalah ketika perempuan menapaki usia produktif dimana ditandai dengan terjadinya menstruasi, hal tersebut perlu diperhatikan baik dalam segi sosial maupun dalam segi kesehatan khususnya kesehatan reproduksi. Masa produktif dimulai dari masa remaja yang merupakan masa peralihan dari masa kanak - kanak ke masa dewasa, dimulai saat anak secara seksual matang.(1) Kematangan seksual sendiri merupakan masa dimana seorang perempuan telah mengalami mentruasi yang terjadi setiap bulannya secara rutin ditandai dengan pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan.(2) Menstruasi merupakan titik awal dimana permasalahan kesehatan reproduksi muncul, antara lain keputihan, bau tidak sedap pada vagirn, hingga waktu menstruasi yang tidak teratur. Keputihan merupakan keluarnya cairan dari vagira selain darah haid, cairan tersebut bisa menjadi cairan yang normal dan tidak normal. Cairan lendir yang tidak norrnal tersebut merupakan salah satu tanda atau gejala adanya kelainan pada organ reproduksi wanita. Kelainan tersebut dapat berupa infeksi, polip leher rahim, keganasan (tumor dan kanker) serta adanya benda asing. Dalam hal keganasan tersebut, keputihan merupakan salah satu gejala awal dari kanker serviks.(3) Kanker serviks (kanker leher rahim) merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim) yang menempel pada puncak vagina.(4) Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, di negara berkembang saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia yang menyerang usia produktif.(5) Kondisi di Indonesia, rnenurut data Globocan (IARC, WHO) tahun 2002, estimasi insiden kanker serviks menempati urutan pertama yaitu sebesar 17,2% dengan angka kejadian 16 per 100.000 perempuan, sedangkan menurut data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2005 sebesar 13%.(6) Berdasarkan laporan rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Kota di Jawa tengah, pada tahun 2006 prevalensi kanker serviks di JawaTengah adalah 0,02% dan meningkat menjadi 0,03% pada tahun 2007 dan tetap pada angka prevalensi yang sama ketika tahun 2008. Prevalensi tertinggi untuk Kabupaten/Kota dr Jawa tengah adalah di Kota Semarang yaitu sebesara 0,22% .(7) Penyebab utama kanker leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV).(3) Infeksi virus HPV dapat menyerang siapa saja, mulai dari perempuan berusia 20 tahun sampai perempuan yang tidak lagi dalam usia produktif. Beberapa faktor resiko dari infeksi virus HPV ini antara lain perempuan yang menikah pada usia kurang dari18 tahun beresiko 5 kali lipat terinfeksi virus HPV (human papillomavirus), perempuan dengan aktifitas seksual tinggi dan berganti-ganti pasangan, perokok, memiliki riwayat penyakit kelamin, paritas (jumlah kelahiran), pemakaian alat kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama.(8) Telah banyak penelitian menemukan bahwa insidens kanker serviks pada usia muda makin meningkat dan tumor terlihat lebih agresif. Proporsi perempuan dibawah 35 tahun yang menderita kanker serviks meningkat dari 9% menjadi 25%.(9) Risiko tinggi pada perempuan mulai umur 20 tahun tersebut menandakan bahwa perempuan usia remaja dan telah mengalami menstruasi harus mulai memperhatikan kesehatan reproduksinya.(6) Program pencegahan kanker serviks menggunakan vaksinasi HPY (human papillomavirus) seharusnya sudah diperoleh dan diketahui remaja perempuan dalam proses pendidikan baik dilingkungan sekolah maupun kampus serta melalui media cetak maupun elektronik. Secara umum, remaja perempuan mulai peduli dengan kesehatan reproduksi ketika rnemasuki kelompok usia remaja akhir, karena dalam usia tersebut remaja perempuan mulai mernpertimbangkan persiapan menuju proses bereproduksi dimana kesehatan alat reproduksi sangat penting untuk diperhatikan. Dalam hal ini, remaja yang tergolong dalam 35 Sikap Remaja Perempuan ... Berlian R, Zahroh S, Kusyogo C kelompok usia remaja akhir adalah remaj (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkmi/article/download/6161/5214
Article home page: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkmi/article/view/6161/5214

Berlian Rachmani, Zahroh Shaluhiyah, Cahyo Kusyogo. Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui Vaksinasi HPV di kota Semarang, Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2014, pp. 34-41,