Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui Vaksinasi HPV di kota Semarang
Sikap Remaja Perempuan ... Berlian R, Zahroh S, Kusyogo C
Sikap Remaja Perempuan Terhadap Pencegahan Kanker Serviks Melalui
Vaksinasi HPV di kota Semarang
Berlian Rachmani*, Zahroh Shaluhiyah**, Kusyogo Cahyo**
* Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang
** Bagian Pendidikan Kesehatan dan llmu Perilaku FKM Universitas Diponegoro Semarang
Korespondensi :
ABSTRAK
Kanker serviks merupakan the silent killer diseases dengan penderita risiko tinggi pada perempuan mulai
umur 20 tahun sehingga remaja perempuan perlu melakukan tindakan preventif secara dini melalui
vaksinasi HPV. Tuiuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap
remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV, dengan sampel
penelitian adalah mahasiswi berlatar belakang kesehatan dari empat universitas di Kota Semarang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap remaja perempuan mendukung pencegahan kanker serviks
melalui vaksinasi HPV (92,9%). Dari uji statistik terlihat ada hubungan antara keyakinan remaja
perempuan dengan sikap (p=0,00), ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap (p=0,005), ada
hubungan antara sikap keluarga dengan sikap remaja perempuan (p=0,009). Dari penelitian dapat
disimpulkan bahwa keyakinan terhadap viksinasi HPV pengetahuan tentang kanker serviks dan vaksin
HPV serta sikap keluarga terhadap vaksinasi HPV merupakan factor yang berhubungan dengan sikap
remaja perempuan terhadap pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV.
Kata kunci : sikap, kanker serviks, vaksin HPV, remaja
ABSTRACT
The factors associated with attiude factors adolescent girl to prevention cervical cancer through HPV
vaccination; Cervical cancer is the silent killer disease with high risk patients in women starting at 20
years old that adolescent girls need to take some prevention action at an early stage through HPV
vaccination. This study investigate the factors associated with attitude factors adolescent girls to
prevention cervical cancer through HPV vaccination, with sample were student with medical
backgrounds from four universities in the Semarang City. These result indicate that the attitude of
adolescent girls support the prevention of cervical cancer through HPV vaccination (92,9%). The results
of the chi square test statistic showed associated between adolescent girls with an attitutde (p=0.00),
associated between knowledge with attitude (p=0,005), associated between familly attitude with the
attitude of adolescent girls (p=0,009). Conclution this study is belief of against HPV vaccination,
knowledge about cervical cancer and HPV vaccines and family attitudes toward HPV vaccination is a
factor related to adolescent female attitudes towaids the prevention of cervical cancer through HPV
vaccination.
Keyword : attitude, cervical cancer, HPV vaccination, girls adolescent
34
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Vol. 11 / No. 1, April 2012
PENDAHULUAN
Salah satu kesejahteraan perempuan yang
harus disoroti adalah ketika perempuan menapaki
usia produktif dimana ditandai dengan terjadinya
menstruasi, hal tersebut perlu diperhatikan baik
dalam segi sosial maupun dalam segi kesehatan
khususnya kesehatan reproduksi. Masa produktif
dimulai dari masa remaja yang merupakan masa
peralihan dari masa kanak - kanak ke masa
dewasa, dimulai saat anak secara seksual matang.(1)
Kematangan seksual sendiri merupakan masa
dimana seorang perempuan telah mengalami
mentruasi yang terjadi setiap bulannya secara rutin
ditandai dengan pelepasan dinding rahim
(endometrium) yang disertai dengan pendarahan.(2)
Menstruasi merupakan titik awal dimana
permasalahan kesehatan reproduksi muncul, antara
lain keputihan, bau tidak sedap pada vagirn, hingga
waktu menstruasi yang tidak teratur. Keputihan
merupakan keluarnya cairan dari vagira selain
darah haid, cairan tersebut bisa menjadi cairan
yang normal dan tidak normal. Cairan lendir yang
tidak norrnal tersebut merupakan salah satu tanda
atau gejala adanya kelainan pada organ reproduksi
wanita. Kelainan tersebut dapat berupa infeksi,
polip leher rahim, keganasan (tumor dan kanker)
serta adanya benda asing. Dalam hal keganasan
tersebut, keputihan merupakan salah satu gejala
awal dari kanker serviks.(3)
Kanker serviks (kanker leher rahim)
merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam
leher rahim atau serviks (bagian terendah dari
rahim) yang menempel pada puncak vagina.(4)
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menyatakan, di negara berkembang saat ini
penyakit kanker serviks menempati peringkat
teratas di antara berbagai jenis kanker yang
menyebabkan kematian pada perempuan di dunia
yang menyerang usia produktif.(5) Kondisi di
Indonesia, rnenurut data Globocan (IARC, WHO)
tahun 2002, estimasi insiden kanker serviks
menempati urutan pertama yaitu sebesar 17,2%
dengan angka kejadian 16 per 100.000 perempuan,
sedangkan menurut data Sistem Informasi Rumah
Sakit (SIRS) tahun 2005 sebesar 13%.(6)
Berdasarkan laporan rutin Dinas Kesehatan
Kabupaten Kota di Jawa tengah, pada tahun 2006
prevalensi kanker serviks di JawaTengah adalah
0,02% dan meningkat menjadi 0,03% pada tahun
2007 dan tetap pada angka prevalensi yang sama
ketika tahun 2008. Prevalensi tertinggi untuk
Kabupaten/Kota dr Jawa tengah adalah di Kota
Semarang yaitu sebesara 0,22% .(7)
Penyebab utama kanker leher rahim adalah
infeksi Human Papilloma Virus (HPV).(3) Infeksi
virus HPV dapat menyerang siapa saja, mulai dari
perempuan berusia 20 tahun sampai perempuan
yang tidak lagi dalam usia produktif. Beberapa
faktor resiko dari infeksi virus HPV ini antara lain
perempuan yang menikah pada usia kurang dari18
tahun beresiko 5 kali lipat terinfeksi virus HPV
(human papillomavirus), perempuan dengan
aktifitas seksual tinggi dan berganti-ganti
pasangan, perokok, memiliki riwayat penyakit
kelamin, paritas (jumlah kelahiran), pemakaian alat
kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama.(8) Telah
banyak penelitian menemukan bahwa insidens
kanker serviks pada usia muda makin meningkat
dan tumor terlihat lebih agresif. Proporsi
perempuan dibawah 35 tahun yang menderita
kanker serviks meningkat dari 9% menjadi 25%.(9)
Risiko tinggi pada perempuan mulai umur 20
tahun tersebut menandakan bahwa perempuan usia
remaja dan telah mengalami menstruasi harus
mulai memperhatikan kesehatan reproduksinya.(6)
Program pencegahan kanker serviks menggunakan
vaksinasi HPY (human papillomavirus) seharusnya
sudah diperoleh dan diketahui remaja perempuan
dalam proses pendidikan baik dilingkungan
sekolah maupun kampus serta melalui media cetak
maupun elektronik. Secara umum, remaja
perempuan mulai peduli dengan kesehatan
reproduksi ketika rnemasuki kelompok usia remaja
akhir, karena dalam usia tersebut remaja
perempuan mulai mernpertimbangkan persiapan
menuju proses bereproduksi dimana kesehatan alat
reproduksi sangat penting untuk diperhatikan.
Dalam hal ini, remaja yang tergolong dalam
35
Sikap Remaja Perempuan ... Berlian R, Zahroh S, Kusyogo C
kelompok usia remaja akhir adalah remaj (...truncated)