Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People Power Pascapilpres

Jurnal Madah, Oct 2020

AbstractThe politeness in language in ‘the Mata Najwa’ talk show on TransTV is interested to study due to contradictory opinions expressed by guests who ended up in disrespectful speeches and debates. In line with the background, this study was aimed at describing the violation of the Leech’s politeness principle in language in the Mata Najwa talk show on TransTV. To reveal the violation, a descriptive method and a qualitative approach are used. The research subjects in this study were the speeches of the politicians in the Mata Najwa talk show on TransTV. The data used in this study are words, phrases and sentences that violate the maxims of politeness in accordance with Leech. The data were collected by means of documentation, listening and note-taking techniques. The data were initially analyzed by selecting the data which are assumed to violate Leech’s principles of politeness. Then the data were classified based on the violations of politeness maxims. The results showed that the violations of politeness in language found in the program of Mata Najwa talk show on TransTV included the six maxims of politeness in language; namely the maxims of tact, generosity, approbation, modesty, agreement, and sympathy. AbstrakKesantunan berbahasa dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV menarik untuk diteliti karena pada acara tersebut pihak yang diwawancarai atau diskusi sering kali mengutarakan pendapat yang berbeda dan berujung pada tuturan dan perdebatan yang tidak santun. Sejalan dengan latar belakang tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah menghasilkan deskripsi tentang pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa Leech dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV. Untuk mendeskripsikan tentang pelanggaran kesantunan tersebut digunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini ialah tuturan politisi di acara talk show Mata Najwa di TransTV. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang melanggar maksim-maksim kesantunan Leech. Teknik yang digunakan dalam proses pengumpulan data ada tiga teknik, yaitu (1) teknik dokumentasi, (2) teknik simak, (3) dan teknik catat. Kegiatan analisis data dimulai dengan penyeleksian data yang diduga sebagai bentuk tuturan melanggar prinsip kesantunan Leech. Kemudian data diklasifikasikan berdasarkan pelanggaran maksim-maksim kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa yang terdapat dalam acara di acara talk show Mata Najwa di TransTV mencakup keenam maksim kesantunan berbahasa; yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://madah.kemdikbud.go.id/index.php/madah/article/download/201/216

Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People Power Pascapilpres

Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11, No. 2, Oktober 2020, hlm. 141—152 ISSN 2580-9717 141 Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People Power Pascapilpres Violation of Politeness in the Language of Politicians in Controversy of the Threat of People power after Presidential Election Imam Mas Aruma,1*, Riyadi Santosab,2, Sumarlam c,3 Marwantoc,4 aFakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga Jl. Lingkar Salatiga KM2, Salatiga, Indonesia bFakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Surakarta, Indonesia c Fakultas Ilmu Budaya niversitas Sebelas Maret Surakarta Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Surakarta, Indonesia dFakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga Jl. Lingkar Salatiga KM2, Salatiga, Indonesia , , , 081227472529 INFORMASI ARTIKEL Riwayat Artikel Diterima , hlm. 24 Februari 2020 Direvisi , hlm. 26 Oktober 2020 Disetujui , hlm. 28 Oktober 2020 Keywords Violation Politeness Politicians Mata Najwa Kata Kunci Pelanggaran Kesantunan Politisi Mata Najwa ABSTRACT Abstract The politeness in language in ‘the Mata Najwa’ talk show on TransTV is interested to study due to contradictory opinions expressed by guests who ended up in disrespectful speeches and debates. In line with the background, this study was aimed at describing the violation of the Leech’s politeness principle in language in the Mata Najwa talk show on TransTV. To reveal the violation, a descriptive method and a qualitative approach are used. The research subjects in this study were the speeches of the politicians in the Mata Najwa talk show on TransTV. The data used in this study are words, phrases and sentences that violate the maxims of politeness in accordance with Leech. The data were collected by means of documentation, listening and notetaking techniques. The data were initially analyzed by selecting the data which are assumed to violate Leech’s principles of politeness. Then the data were classified based on the violations of politeness maxims. The results showed that the violations of politeness in language found in the program of Mata Najwa talk show on TransTV included the six maxims of politeness in language; namely the maxims of tact, generosity, approbation, modesty, agreement, and sympathy. Abstrak Kesantunan berbahasa dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV menarik untuk diteliti karena pada acara tersebut pihak yang diwawancarai atau diskusi sering kali mengutarakan pendapat yang berbeda dan berujung pada tuturan dan perdebatan yang tidak santun. Sejalan dengan latar belakang tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah menghasilkan deskripsi tentang pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa Leech dalam acara talk show Mata Najwa di TransTV. Untuk mendeskripsikan tentang pelanggaran kesantunan tersebut digunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini ialah tuturan politisi di acara talk show Mata Najwa di TransTV. Data http://dx.doi.org/10.31503/madah.v11i2.201 142 Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11, No. 2, Oktober 2020, hlm. 141—152 ISSN 2580-9717 yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang melanggar maksim-maksim kesantunan Leech. Teknik yang digunakan dalam proses pengumpulan data ada tiga teknik, yaitu (1) teknik dokumentasi, (2) teknik simak, (3) dan teknik catat. Kegiatan analisis data dimulai dengan penyeleksian data yang diduga sebagai bentuk tuturan melanggar prinsip kesantunan Leech. Kemudian data diklasifikasikan berdasarkan pelanggaran maksimmaksim kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa yang terdapat dalam acara di acara talk show Mata Najwa di TransTV mencakup keenam maksim kesantunan berbahasa; yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian. 1. Pendahuluan Bahasa dapat dimaknai sebagai alat untuk mengungkapkan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Secara lebih luas, bahasa adalah sarana untuk berkomunikasi atau sarana untuk berinteraksi, dalam arti sarana untuk menyampaikan ide, gagasan, konsep, pikiran, dan perasaan. Tujuan berbahasa tidak semata-mata saling bertukar informasi, namun untuk menunjukkan keterkaitan sosial yang lebih baik antara seseorang dengan orang lain dan lingkungannya (Basuki, 2015, hlm. 16). Bahasa Indonesia telah berkembang cepat sejak dikukuhkan sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928 sampai sekarang. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia juga telah dijadikan sebagai sarana komunikasi yang baik bagi masyarakat Indonesia (Asteria, 2017). Menurut Supratno (2015), bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural, namun dapat hidup berdampingan, saling toleransi, saling menghargai, saling menghormati, dan bisa berkomunikasi secara santun. Menurut Yulianto (2007, hlm. 122), bahasa tidak diperoleh secara serentak, melainkan sempurna dan berkembang secara bertahap sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Sejalan dengan pendapat tersebut mengungkapkan bahwa dalam kegiatan berbahasa, ada empat keterampilan berbahasa yang wajib dimiliki oleh setiap orang, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Halijah, 1996, hlm. 262). Apabila keterampilan berbahasa tersebut telah dimiliki, maka sejatinya baik pula keterampilan bahasa yang dimiliki. Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (penutur) dan penerima pesan (petutur). Setiap manusia diharapkan memunyai kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan berkomunikasi merupakan syarat penting karena dapat memberikan fasilitas dan membantu mengutarakan gagasan dan bertukar informasi (Marfuah, 2017, hlm. 148). Bahasa menunjukkan karakter, watak, atau pribadi seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat dilihat dari perkataan yang diucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan santun, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan bahwa pribadi penuturnya memiliki budi pekerti baik. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang negatif dengan mengejek, memaki, melecehkan, atau memfitnah akan mencitrakan pribadi yang tidak berbudi pekerti baik. Komunikasi dikatakan baik apabila maksud dan tujuan dapat dipahami dan dimengerti dengan baik oleh mitra tutur. Selain itu, untuk menjalin hubungan yang baik antara penutur dan petutur harus tercipta perasaan saling menghargai dan menghormati sehingga dalam proses komunikasi dapat tercipta suasana santun dan nyaman. Kesantunan berbahasa dapat dilihat pada seseorang yang berinteraksi dengan orang lain, baik secara individu maupun kelompok (Basuki, 2015). Berbahasa Imam Mas Arum, dkk. Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People power Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11, No. 2, Oktober 2020, hlm. 141—152 ISSN 2580-9717 143 dengan santun mampu mewujudkan komunikasi efektif dalam arti bahwa bahasa yang sopan, santun, sistematis, dan (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://madah.kemdikbud.go.id/index.php/madah/article/download/201/216
Article home page: https://madah.kemdikbud.go.id/index.php/madah/article/view/201/216

Arum Imam Mas, Riyadi Santosa, nfn Sumarlam. Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Politisi dalam Kontroversi Ancaman People Power Pascapilpres, Jurnal Madah, 2020, pp. 141-152,