Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Sirsak Terhadap Penurunan Kualitas Telur Ayam Ras Selama Penyimpanan
DOI: 10.29244/jmpi.2020.7.2.85
Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 85-89, 2020
ISSN 2355-5017
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Sirsak Terhadap Penurunan
Kualitas Telur Ayam Ras Selama Penyimpanan
The Effect of Soursop Leaf Extract Concentration on Decreasing
The Quality of Egg During Storage
Isye Jean Liur
Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Ambon
Abstract. Hen egg is easy to get and affordable. Besides having a complete nutritional content, chicken
eggs are also easily damaged due to microbial activity during storage so that it can reduce egg quality.
Therefore, a preservation process is needed to maintain egg quality. This study aims to determine the
effect of soursop leaf extract concentrations on decreasing the quality of eggs. This research used a
completely randomized design with two factors, the first factor was the concentration of soursop leaf
extract (20, 30, 40%) and the second was the shelf life (0, 7, 14, 21 and 28 days). Observation included
egg white index, egg yolk index, haugh unit, and weights of eggs. The results indicate that eggs with
soursop leaf extract immersion treatment can maintain egg quality. The concentration of soursop leaf
extract as much as 40% gives better results in maintaining the quality of eggs.
Keywords: hen egg, egg quality, long storages, soursop leaf extract
Abstrak. Telur ayam ras mudah diperoleh dan harganya terjangkau. Selain memiliki kandungan gizi
yang lengkap, telur ayam juga mudah mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas mikroba selama
penyimpanan yang dapat menurunkan kualitas telur. Oleh karena itu diperlukan suatu proses pengawetan
untuk menjaga kualitas telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak
daun sirsak terhadap penurunan kualitas telur ayam ras selama penyimpanan sampai 28 hari. Penelitian
ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu faktor pertama adalah konsentrasi
dari ekstrak daun sirsak sebanyak 20, 30, 40% dan faktor kedua adalah umur simpan telur dalam suhu
ruang selama 0, 7, 14, 21 dan 28 hari. Pengamatan meliputi indeks putih telur, indeks kuning telur,
haugh unit dan bobot telur ayam ras. Hasil penelitian menunjukkan telur dengan perlakuan perendaman
ekstrak daun sirsak dapat menjaga kualitas telur. Konsentrasi ekstrak daun sirsak sebanyak 40%
memberikan hasil yang lebih baik dalam menjaga kualitas telur ayam ras.
Kata Kunci: ekstrak daun sirsak, kualitas telur, lama penyimpanan, telur ayam ras
Aplikasi Praktis. Daun sirsak telah dikenal secara luas karena memiliki banyak manfaat diantarnya
mengandung berbagai senyawa yang baik yang dapat dimanfaatkan dalam industri pangan, diantaranya
senyawa tanin yang telah dikenal karena memiliki sifat antimikroba sehingga dapat menjaga kualitas
bahan pangan. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi atau referesi tambahan tentang
konsentrasi ekstrak daun sirsak yang baik untuk menjaga kualitas telur ayam ras selama penyimpanan.
PENDAHULUAN1
Telur ayam ras selain memiliki kandungan gizi yang
sempurna seperti sumber kalori, protein, lemak, vitamin
dan mineral, telur juga mudah diperoleh dengan harga
yang dapat dijangkau. Umur simpan telur lebih lama
beberapa hari dibandingkan dengan daging dan susu
karena dilindungi oleh kerabang. Menurut Cornelia et al.
(2014), telur segar jika dibiarkan dalam suhu ruang
hanya tahan 10-14 hari. Namun demikian, telur memiliki
kerabang yang tipis sehingga mudah pecah dan selama
penyimpanan dapat terjadi berbagai perubahan baik
fisik, kimia maupun mikrobiologi. Menurut Yuwanta
Korespondensi:
(2010), kerusakan telur dapat dipengruhi oleh suhu,
kelembapan relatif dan kualitas kerabang telur.
Perubahan yang terjadi dapat menurunkan kualitas telur.
Menurunnya kualitas telur dapat mengakibatkan
terjadinya perubahan pada putih telur, kuning telur dan
bobot telur. Hasil penelitian Nova et al. (2014),
menunjukkan bahwa telur mengalami penurunan mutu
dilihat dari haugh unit telur yang semakin menurun
dengan nilai 47.69 pada lama penyimpanan 15 hari.
Untuk mengurangi berbagai kerusakan yang berpengaruh terhadap kualitas telur, maka diperlukan suatu
metode pengawetan untuk mengurangi menurunnya
kualitas telur. Salah satunya adalah metode pengawetan
dengan cara merendam telur dalam larutan yang
mengandung ekstrak daun sirsak (Annona Muricata L).
©JMP2020 85
Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 85-89, 2020
Daun sirsak mudah dijumpai di alam dan memiliki
banyak manfaat. Daun sirsak mengandung senyawa
tanin yang bersifat antioksidan (Hagerman, 2002).
Beberapa penelitian tentang peranan senyawa
antioksidan dalam industri farmasi maupun industri
pangan telah dilaporkan. Senyawa antioksidan dapat
membantu dalam proses pengawetan bahan pangan
karena bersifat antimikroba yang dapat memperlambat
aktivitas mikroba yang menjadi penyebab kerusakan
bahan pangan.
Daun sirsak telah digunakan secara luas dalam
industri pangan karena mengandung senyawa tanin.
Hasil penelitian Rahman et al. (2017), bahwa daun
sirsak mengandung senyawa metabolit sekunder, di
antaranya adalah tanin. Dilanjutkan bahwa senyawa
tersebut mempunyai kemampuan untuk menghambat
aktivitas mikroba. Menurut Wijaya (2012), ekstrak daun
sirsak mengandung senyawa tanin yang berfungsi
sebagai antibakteri. Hasil penelitian Rahmaningtyas et
al. (2012), menemukan bahwa estrak daun sirsak
mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Dengan
demikian daun sirsak berpotensi sebagai pengawet
dalam bahan. Perendaman telur dalam larutan yang
mengandung ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi
yang berbeda dapat berpengaruh terhadap kualitas telur
karena perbedaan jumlah konsentrasi tanin yang
dimiliki. Sehingga diperlukan suatu penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun
sirsak yang baik dalam mempertahankan kualitas telur
ayam ras.
BAHAN DAN METODE
Bahan
Daun sirsak sebanyak 4 kg, diambil dari urutan ke 3
sampai ke 5 dari pucuk batang daun. Telur ayam ras
yang digunakan adalah telur yang berumur 1 hari
sebanyak 60 butir, diambil dari peternak ayam ras di
desa hulung, kecamatan pulau Ambon.
Alat yang digunakan antara lain egg tray, kaca datar
dengan ketebalan 3 mm, jangka sorong (Mitutoyo, 530104), timbangan digital (Excellent DJ-B), saringan,
gelas ukur 1000 mL (Pyrex), tisu, aquades dan ember
plastik sebanyak 4 buah.
DOI: 10.29244/jmpi.2020.7.2.85
kering dan diletakkan pada egg tray kemudian disimpan
dalam suhu ruang selama 28 hari. Pengukuran dilakukan
mulai dari hari ke 0, 7, 14, 21 dan 28 hari terhadap
indeks putih telur, indeks kuning telur, haugh unit dan
bobot telur. Pengukuran dilakukan dengan cara telur
dipecahkan kemudian diletakan pada alas kaca yang
datar, kemudian telur ditimbang, dan dilanjutkan dengan
mengukur tinggi dan lebar albumen maupun yolk menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan sebanyak
3 kali sebagai ulangan. Datanya dicatat dan dilanjutkan
dengan perhitungan meng-gunakan rumus berdasarkan
acuan dari Fibrianti et al. (2012).
Analisis data
Data yang diproleh k (...truncated)