KAJIAN STUNTING DI KOTA SEMARANG
OPEN ACCESS
JURNAL RIPTEK
KAJIAN STUNTING DI KOTA SEMARANG
Widya Hary Cahyati*, Galuh Nita Prameswari*, Cahya Wulandari**, Karnowo***
Fakultas Ilmu Keolahragaan*, Fakultas Hukum**, Fakultas Teknik***
Universitas Negeri Semarang
Jurnal Riptek
Volume 13 No. 2 (101 – 106)
Tersedia online di:
http://riptek.semarangkota.go.id
Info Artikel:
Diterima: 4 September 2019
Direvisi: 20 Oktober 2019
Disetujui: 10 November 2019
Tersedia online: 20 Desember 2019
Kata Kunci:
Baduta, Stunting, 1000 Hari Pertama
Kehidupan
Korespondensi penulis:
Abstract
Stunting is a condition in which a child have a growth disorder, resulting from a lack of
nutritional intake for a long time. The purpose of the study was to analyze the factors
associated with the occurrence of stunting. This type of research is quantitative analytic
research with a case-control design. Data collection methods through interviews and
documentation. Based on the results of the study note that factors related to stunting
at undergraduate in Semarang City in 2018 are mother's education level (OR = 2.97),
mother's occupation (OR = 6.58), number of children (OR = 4.15), order of children
(OR = 4.15), body length at birth (OR = 5.77), caregiver of children (OR = 9.99),
exclusive breastfeeding status (OR = 3.47), income category (OR = 7.37), conditions
home (OR = 3.78), and nutritional intake (OR = 8.79). Stunting handling policies that
have been carried out in the City of Semarang related to the budget have been allocated to provinces and districts / cities, the Central Java Governor Regulation No. 85 of
2016 concerning the Action Plan for the Food and Nutrition Region of Central Java
Province in 2015-2019. Suggestions that can be given to the department of religion in
order to further enhance cooperation with the health center related to the maturity of
marriage, knowledge about nutrition, including the importance of nutrition in the First
1000 Days of Life (1000 HPK); The Semarang city government should be able to
include action plans for handling stunting, including improving the residential environment and increasing community capacity in the RPJMD.
Cara mengutip:
Cahyati, W H; Prameswari, G N; Wulandari, C; Karnowo, K. 2019. Kajian Stunting di Kota Semarang. Jurnal Riptek.
Vol. 13 (2) 101-106
PENDAHULUAN
Stunting adalah suatu kondisi dimana anak
mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga tinggi
badan anak tidak sesuai dengan usianya, sebagai
akibat dari masalah gizi kronis yaitu kekurangan
asupan gizi dalam waktu yang lama. Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang standar
antropometri penilaian status gizi anak, stunting atau
pendek merupakan status gizi yang didasarkan pada
indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan zscore kurang dari -2 SD (standar deviasi). Stunting
bukan hanya masalah gangguan pertumbuhan fisik
saja, namun juga mengakibatkan anak menjadi
mudah sakit, selain itu juga terjadi gangguan
perkembangan otak dan kecerdasan, sehingga
stunting merupakan ancaman besar terhadap
kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007
angka prevalensi stunting di Indonesia yaitu 36,8%,
tahun 2010 yaitu 35,6%, dan pada tahun 2013
prevalensinya meningkat menjadi 37,2%, terdiri dari
18% sangat pendek dan 19,2% pendek. Data
Riskesdas tahun 2018 menunjukkan angka balita
stunting di Indonesia yaitu 30,8%. Angka tersebut
masih di atas batasan yang ditetapkan oleh WHO
(World Health Organization) untuk Negara
Berkembang yaitu 20%.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) di
Jawa Tengah, menunjukkan hasil bahwa prevalensi
balita stunting di Jawa Tengah pada tahun 2015
sampai tahun 2017 juga masih di atas 20%, yaitu
24,8% pada tahun 2015, 23,9% pada tahun 2016 dan
pada tahun 2017 meningkat menjadi 28,5%.
Berdasarkan data hasil Pemantauan Status Gizi
(PSG) balita menunjukkan bahwa angka balita
stunting di Kota Semarang pada tahun 2015 adalah
14,4% terdiri dari 3,3% sangat pendek dan 11%
pendek. Pada tahun 2016 persentasenya meningkat
yaitu menjadi 16,5%, terdiri dari 4% sangat pendek
dan 12,5% pendek. Pada tahun 2017, prevalensi
stunting balita Kota Semarang meningkat menjadi
21%, terdiri dari 7,7% balita sangat pendek dan
13,3% balita pendek (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah, 2017).
Data hasil pelaksanaan Bulan Penimbangan Balita
(operasi timbang) pada anak balita di Kota
Widya HC, Galuh NP, Cahya W, Karnowo/Jurnal Riptek Vol 13 No 2 (101 – 106)
101
OPEN ACCESS
JURNAL RIPTEK
Seamarang menunjukkan bahwa balita stunting pada
tahun 2017 adalah 2,63%, terdiri dari 0,26% sangat
pendek dan 2,37% pendek, Sedangkan tahun 2018
data operasi timbang menunjukkan bahwa balita
stunting di Kota Semarang adalah sebanyak 2,73%,
yang terdiri dari 0,26 balita sangat pendek dan 2,47
balita pendek (Dinas Kesehatan Kota Semarang,
2017). Jika dilihat dari data hasil pelaksanaan operasi
timbang, menunjukkan bahwa angka kejadian
stunting di Kota Semarang sudah baik, karena jauh
di bawah 20% (batasan yang ditentukan WHO).
Namun tentu masih diperlukan upaya pencegahan
dan penanggulangan stunting secara optimal, agar
dapat terus menurunkan angka kejadian stunting di
Kota Semarang.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk pencegahan
dan penanggulangan masalah stunting di Kota
Semarang, meliputi upaya intervensi pada 1000 Hari
Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu 270 hari
selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi
dilahirkan, yang merupakan periode penting dalam
menentukan kualitas kehidupan manusia. Sasaran
pada upaya intervensi 1000 HPK yaitu ibu hamil, ibu
menyusui dan anak usia 0-2 tahun. Pada ibu hamil
dilakukan upaya perbaikan asupan gizi dan
kesehatan, untuk mencegah ibu hamil mengalami
Kurang Energi Kronis (KEK). Pada ibu hamil yang
mengalami KEK perlu diberikan makanan tambahan
bagi ibu hamil, sebagai upaya perbaikan gizi ibu hamil
untuk menurunkan resiko Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR). Pada saat persalinan ditolong oleh tenaga
kesehatan dan sesaat setelah bayi dilahirkan
dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi hanya
diberi Air Susu Ibu saja (ASI eksklusif) sejak lahir
hingga berusia 6 bulan. Selanjutnya usia 6 bulan
sampai 2 tahun, diberikan makanan pendamping ASI
(MP-ASI), dan ASI tetap diberikan sampai bayi
berusia 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak diberikan
imunisasi dasar lengkap dan suplementasi kapsul
vitamin A setahun 2 kali, yaitu pada bulan Februari
dan Agustus.
Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di
Kota Semarang telah banyak dilakukan, namun kasus
stunting masih saja ditemukan, oleh karena itu perlu
adanya kajian strategi perumusan penurunan angka
stunting di Kota Semarang.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
analitik kuantitatif, dengan desain kasus kontrol.
Pada penelitian analitik ini, peneliti akan mencari
faktor-faktor yang ada di masyarakat, di mana faktor
tersebut berpotensi menjadi faktor risiko terjadinya
stunting pada Baduta. Beberapa faktor yang ada di
102
masyarakat ters (...truncated)