PENGATURAN TERKAIT PENGELOLAAN SAMPAH UPAKARA YADNYA : PENDEKATAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TRI HITA KARANA

Kertha Semaya, Apr 2021

Tujuan penulisan ini untuk mengetahui adanya pengaturan terkait sampah upacara (adat) di Bali dengan memahami bentuk tanggungjawab pemerintah terhadap pengelolaan sampah upacara (adat) untuk dapat melindungi lingkungan hidup berbasis Tri Hita Karana yang dilakukan oleh masyarakat, yang mana tertuang dalam “Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah” pada pasal 20 ayat (1) dan “Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Sampah”, yang pada dasarnya diatur dalam Pasal 7 ayat (4), serta masih banyak peraturan pengelolaan sampah lainnya. Studi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu pertama, dengan suatu pendekatan jenis penelitian hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan, dengan menganalisis suatu permasalahan hukum melalui peraturan perundang-undangan, bahan-bahan referensi lain yang berhubungan dengan pengelolaan sampah, penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan bahan hukum yang menggunakan teknik bola salju (snow ball). Kemudian bahan-bahan hukum yang dihimpun dianalisis menggunakan teknik deskripsi selanjutnya diberikan evaluasi, kemudian dilakukan interpretasi dan disimpulkan dengan argumentasi. Kedua, Hasil studi menunjukkan bahwa belum dibentuknya suatu aturan hukum yang khusus dari Pemerintah Daerah maupun pararem dari masing-masing Desa Adat yang memiliki dasar dan kekuatan hukum mengikat agar menjadi landasan dasar hukum dalam penerapan sanksi bagi pelanggar pada masing-masing tempat. Sehingga tanggungjawab pemerintah hanya bisa menerapkan atau himbauan pada masyarakat dengan adanya sistem manajemen lingkungan. The purpose of this paper is to determine the existence of arrangements related to ceremonial (traditional) waste in Bali by understanding the form of government responsibility for ceremonial (customary) waste management to be able to protect the environment based on Tri Hita Karana carried out by the community, which is contained in "Law No. 18 of 2008 concerning Waste Management "in article 20 paragraph (1) and" Regulation of the State Minister for the Environment Number 13 of 2012 concerning Guidelines for the Implementation of Reduce, Reuse and Recycle through a Waste Bank ", which are basically regulated in Article 7 paragraph (4), as well as many other waste management regulations. This study uses normative legal research methods. The results of this research are, first, with a type of legal research approach obtained from literature studies, by analyzing a legal problem through legislation, other reference materials related to waste management, this study uses legal material collection techniques using the snow ball technique. Then the legal materials collected are analyzed using descriptive techniques, then evaluated, then interpreted and concluded with arguments. Second, the results of the study show that there has not been a specific legal rule from the local government or pararem of each customary village which has a binding legal basis and strength so that it becomes the legal basis for the application of sanctions for violators in each place. So that the government's responsibility can only apply or appeal to the community with the existence of an environmental management system.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthasemaya/article/download/69856/39144

PENGATURAN TERKAIT PENGELOLAAN SAMPAH UPAKARA YADNYA : PENDEKATAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TRI HITA KARANA

PENGATURAN TERKAIT PENGELOLAAN SAMPAH UPAKARA YADNYA : PENDEKATAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TRI HITA KARANA Gede Sugi Wardhana, Fakultas Hukum Universitas Udayana, e-mail: Kadek Agus Sudiarawan, Fakultas Hukum Universitas Udayana, e-mail: doi: https://doi.org/10.24843/KS.2021.v09.i06.p03 ABSTRAK Tujuan penulisan ini untuk mengetahui adanya pengaturan terkait sampah upacara (adat) di Bali dengan memahami bentuk tanggungjawab pemerintah terhadap pengelolaan sampah upacara (adat) untuk dapat melindungi lingkungan hidup berbasis Tri Hita Karana yang dilakukan oleh masyarakat, yang mana tertuang dalam “Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah” pada pasal 20 ayat (1) dan “Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Sampah”, yang pada dasarnya diatur dalam Pasal 7 ayat (4), serta masih banyak peraturan pengelolaan sampah lainnya. Studi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu pertama, dengan suatu pendekatan jenis penelitian hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan, dengan menganalisis suatu permasalahan hukum melalui peraturan perundang-undangan, bahan-bahan referensi lain yang berhubungan dengan pengelolaan sampah, penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan bahan hukum yang menggunakan teknik bola salju (snow ball). Kemudian bahan-bahan hukum yang dihimpun dianalisis menggunakan teknik deskripsi selanjutnya diberikan evaluasi, kemudian dilakukan interpretasi dan disimpulkan dengan argumentasi. Kedua, Hasil studi menunjukkan bahwa belum dibentuknya suatu aturan hukum yang khusus dari Pemerintah Daerah maupun pararem dari masing-masing Desa Adat yang memiliki dasar dan kekuatan hukum mengikat agar menjadi landasan dasar hukum dalam penerapan sanksi bagi pelanggar pada masing-masing tempat. Sehingga tanggungjawab pemerintah hanya bisa menerapkan atau himbauan pada masyarakat dengan adanya sistem manajemen lingkungan. Kata kunci : Sampah Upacara Adat, Tri Hita Karana, Pengelolaan Sampah ABSTRACT The purpose of this paper is to determine the existence of arrangements related to ceremonial (traditional) waste in Bali by understanding the form of government responsibility for ceremonial (customary) waste management to be able to protect the environment based on Tri Hita Karana carried out by the community, which is contained in "Law No. 18 of 2008 concerning Waste Management "in article 20 paragraph (1) and" Regulation of the State Minister for the Environment Number 13 of 2012 concerning Guidelines for the Implementation of Reduce, Reuse and Recycle through a Waste Bank ", which are basically regulated in Article 7 paragraph (4), as well as many other waste management regulations. This study uses normative legal research methods. The results of this research are, first, with a type of legal research approach obtained from literature studies, by analyzing a legal problem through legislation, other reference materials related to waste management, this study uses legal material collection techniques using the snow ball technique. Then the legal materials collected are analyzed using descriptive techniques, then evaluated, then interpreted and concluded with arguments. Second, the Jurnal Kertha Semaya, Vol. 9 No. 6 Tahun 2021, hlm. 936-948 936 E-ISSN: Nomor 2303-0569 results of the study show that there has not been a specific legal rule from the local government or pararem of each customary village which has a binding legal basis and strength so that it becomes the legal basis for the application of sanctions for violators in each place. So that the government's responsibility can only apply or appeal to the community with the existence of an environmental management system. Keywords: traditional ceremonial trash, Tri Hita Karana, Waste Management 1. 1.1 Pendahuluan Latar Belakang Masalah Dari salah satu jurnal berjudul “Konsep Pelestarian Lingkungan Dalam Upacara Tumpek Wariga Sebagai Media Pendidikan Bagi Masyarakat Hindu Bali” karya I Ketut Sudarsana dari jurnal studi agama dan lintas budaya pada tahun 2017 yang menjelaskan bahwa pada umumnya umat hindu tidak dapat terlepas dari upacara adat dan keagamaan terutama umat Hindu di Pulau Bali. Umat Hindu tidak luput dari upacara Yadnya, hampir setiap hari umat Hindu melaksanakan upacara Yadnya dari hal paling sederhana masaiban (sejumput nasi setelah memasak), maturan canang setiap hari, Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem, dan masih banyak hari raya lainnya. Dilihat dari sisi filosofisnya manusia memiliki kesadaran yang terpusat pada alam sehingga membentuk kepercayaan serta kebudayaan di masyarakat khususnya Bali. Makna sesungguhnya sadar akan alam, berarti pula hormat alam sehingga siap melindunginya. Salah satu bentuk upaya menjaga dan melestarikan alam yaitu dengan “melaksanakan upacara khusus yang diperuntukkan untuk alam dengan menggunakan sarana yang berasal dari alam pula”. Sebagian dari ritual tersebut menggunakan segala jenis pepohonan atau tumbuhan sebagai sarana, meskipun sarana tersebut tidak mutlak, namun hal tersebut selalu mengikat kehidupan manusia.1 Namun sekarang ini, sesuai prinsip masyarakat modern, praktis dan efisien adalah salah satu hal yang paling penting. Hal ini kemudian merembet pada upacara keagamaan, bahan Yajna sudah banyak beralih dari hasil alam menjadi plastik, mulai dari sehari-hari maturan canang selalu diisi jajan dibungkus plastik, setiap hari membeli canang menggunakan plastik, umat yang hendak ke pura bahkan untuk membungkus sarana upacara, banten gebogan sekarang sarananya sudah sangat jauh berbeda bahkan lebih banyak jajan dibungkus plastik, minuman plastik daripada buah sebagai sarana persembahan, dan banyak perubahan negatif lainnya yang membuat upacara Hindu menjadi tidak ramah lingkungan. Menurut Dr. Ketut Gede Dharma Putra, M.Sc pada seminarnya yang diadakan pada tanggal 26 Februari 2009 bertempat di kantor PHDI Bali Denpasar, mengenai “apresiasi yang rendah dari masyarakat terhadap pengelolaan sampah dilihat dari ketidakpeduliannya terhadap sampah pada saat melakukan kegiatan upacara keagamaan”. Yang dimana terdapat kecenderungan meningkatnya tumpukan sampah saat masyarakat Bali melaksanakan upacara adat maupun upacara keagamaan, yang menyebabkan tumpukan sampah terus meningkat dan dibiarkan mengendap dalam waktu yang lama oleh masyarakat sekitar, sehingga menimbulkan bau sampah yang tidak sedap serta menyebabkan pemandangan yang tidak enak dilihat. Parahnya 1 Sudarsana, I Ketut. “Konsep Pelestarian Lingkungan Dalam Upacara Tumpek Wariga Sebagai Media Pendidikan Bagi Masyarakat Hindu Bali”, Religious: Jurnal Studi AgamaAgama dan Lintas Budaya 2, No. 1, (2017): 1-7. Jurnal Kertha Semaya, Vol. 9 No. 6 Tahun 2021, hlm. 936-948 937 E-ISSN: Nomor 2303-0569 sampah sisa upacara yang bercampur dengan sampah plastik sehingga sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme dalam waktu lama.2 Bahkan menurut pantauan ber (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthasemaya/article/download/69856/39144
Article home page: https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthasemaya/article/view/69856/39144

Wardhana Gede Sugi, Sudiarawan Kadek Agus. PENGATURAN TERKAIT PENGELOLAAN SAMPAH UPAKARA YADNYA : PENDEKATAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TRI HITA KARANA, Kertha Semaya, 2021, pp. 936-948,