Studi Kandungan Logam Berat Besi (Fe) pada Air dan Ikan di Tambak Medan Belawan Sumatera Utara
Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, Juni 2024
Vol. 26, No. 1, Hal. 16-26
p ISSN: 1410-8801
e ISSN: 2598-2370
Kandungan Logam Berat Besi (Fe) pada Air dan Ikan di Tambak Medan
Belawan Sumatera Utara
(Iron (Fe) Heavy Metal Content in Water and Fish in Medan Belawan Pond,
North Sumatra)
Syukriah1*, Hidayat Fauziansyah1, Siti Amira1
1
Program Studi Biologi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
Jl. Lapangan Golf, Desa Durian Jangak, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
20353
Penulis Korespondensi:
Abstact
Medan Belawan District is the third largest fishing industry in Medan. Poor water quality in Medan
Belawan District makes the fishing industry in this region has a number of problems with fish quality. This study
aims to determine the levels of iron heavy metals (Fe) in pond water, aquaculture products and Bioconcentration
factor of iron (Fe) in fish and shirmp in Medan Belawan. This study used the Purposive Sampling method with
sampling at three points including Oreochromis niloticus ponds, shrimp ponds and Oreochromis mossambicus
ponds. Ferrous heavy metal testing is carried out using Atomic Absorption Spectophotometry (AAS), then the
analysis of heavy metal content in each sample will be compared with PP No. 22 of 2021. The test results of iron
metal content in pond water exceed quality standards. The content of iron metal (Fe) in pond water 1, 2 and 3 is
0.51, 0.93 and 1.19 mg / L. Iron content (Fe), in shrimp is 10.0 mg/kg, tilapia (Oreochromis niloticus) 8.36 mg/kg
and tilapia (Oreochromis mossambicus) 6.24 mg / kg. This result shows that the total Fe ion content is above the
safe limit standard for Fe contaminants in food based on FAO / WHO (2011) of 0.8 mg/kg.
Keywords: BCF, Fish, Iron, Medan Belawan, Shrimp
Abstrak
Kecamatan Medan Belawan merupakan lokasi industri perikanan terbesar ke tiga di Kota Medan. Kualitas
air yang buruk pada Kecamatan Medan Belawan membuat industri perikanan diwilayah ini menghadapi sejumlah
permasalahan terhadap kualitas ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar logam berat besi (Fe) pada
air tambak, hasil budidaya perikanan dan Bioconcentration factor logam berat besi (Fe) pada ikan dan udang di
Medan Belawan. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling dengan pengambilan sampel di tiga
titik yaitu tambak budidaya ikan nila, udang dan ikan mujair. Pengujian logam berat besi dilakukan dengan
menggunakan Atomic Absorption Spectophotometry (AAS) kemudian analisis kandungan logam berat di setiap
sampel akan dibandingkan dengan PP No. 22 Tahun 2021. Hasil pengujian kandungan logam besi pada air tambak
melebihi standar baku mutu. Kandungan logam besi (Fe) pada air tambak 1, 2 dan 3 masing-masing sebesar 0,51,
0,93 dan 1,19 mg/L. Kandungan kadar besi (Fe) pada daging ikan nila 8,36 mg/kg, pada udang sebesar 10,0 mg/kg
dan mujair 6,24 mg/kg. Hasil ini menunjukkan kandungan total ion Fe berada jauh di atas standar batas aman
adanya kontaminan Fe dalam pangan berdasarkan FAO/WHO (2011) sebesar 0,8 mg/kg.
Kata Kunci: BCF, Besi, Ikan, Medan Belawan, Udang
PENDAHULUAN
Industri perikanan merupakan salah satu
produsen pangan global utama. Produksi
perikanan pada tahun 2018 mencapai 96,4 juta ton
(FAO, 2020). Produsen perikanan budidaya
terbesar kedua di dunia adalah Indonesia (FAO,
2020). Tahun 2018, budidaya perikanan Indonesia
menghasilkan total sekitar 5,5 juta ton (FAO,
2018).
Sumatera Utara termasuk kedalam provinsi
penghasil budidaya perikanan kedua terbesar di
Indonesia setelah Jawa Timur dengan total
produksi sebanyak 185.591 ton. Setelah
Kabupaten Langkat dan Batubara, Kota Medan
merupakan salah satu dari tiga daerah utama
budidaya udang di Provinsi Sumatera Utara.
Tahun 2017 produksi udang di Kota Medan
sebanyak 1.232 ton (BPS, 2018). Kecamatan
Medan Labuhan, Medan Belawan, dan Medan
Syukriah, Hidayat Fauziansyah, Siti Amira
Marelan merupakan tiga lokasi pesisir Kota
Medan yang menambak ikan.
Salah satu lokasi usaha budidaya perikanan
yang terletak pada koordinat 3 o 44' 55,5" Lintang
Utara dan 98o 38' 19" Bujur Timur di Medan
adalah Desa Sicanang Kecamatan Medan
Belawan. Industri perikanan di Medan Belawan
menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya
persediaan kualitas air yang buruk, kualitas
lingkungan yang buruk, perubahan iklim dan
lainnya. Air yang digunakan para penambak
bersumber dari wilayah aliran air sungai Belawan
serta air terjun hamparan perak, sehingga pada
saat terjadinya hujan, banyak terdapat sampah
pada aliran sungai yang bersumber dari TPA
(Tempat Pembuangan Akhir). Selain itu,
penyebab utama kerusakan air di Kecamatan
Medan Belawan adalah akibat dari dampak
degradasi habitat konversi lahan, pembangunan
pabrik serta pengembangan kawasan dan bisnis di
sepanjang perairan Sungai Belawan (Manullang
dan Khairul, 2020).
Urbanisasi dan perkembangan industri
yang pesat dalam satu dekade terakhir telah
memicu beberapa kekhawatiran serius terhadap
keselamatan lingkungan. Upaya peningkatan
mata pencaharian dan energi menyebabkan
pelepasan terus menerus polutan kimia termasuk
logam berat ke dalam hampir semua matriks
lingkungan (Ezemonye et al., 2019). Secara
global, logam berat telah menjadi ancaman serius
bagi kesehatan manusia dan integritas ekosistem
(Vrhovnik et al., 2013; Ogbomida et al., 2018).
Kualitas air telah menjadi tantangan utama di
dunia saat ini karena tercemar oleh limbah industri
dan perkotaan yang sebagian besar dihasilkan
oleh aktivitas manusia (Ojutiku and Okojevoh,
2017). Logam-logam berat dapat memasuki
lingkungan perairan melalui limpasan permukaan
dan dari alam itu sendiri, seperti pelapukan
geologis dan diturunkan melalui pembuangan
limbah dari berbagai sumber antropogenik,
termasuk industri, pertambakan (Gu et al., 2014),
pertambangan (Lacerda, 2006), dan limbah rumah
tangga (Ju, et al., 2017; Garai et al., 2021).
Saat ini telah terjadi Pencemaran logam
berat di wilayah perairan Belawan, yang
dibuktikan oleh beberapa hasil studi terdahulu
yang mendapatkan biota laut telah terpapar Pb
dengan konsentrasi 0.052 mg/L dan Cd dengan
konsentrasi 0.0042 mg/L (Siagian, 2004;
Indirawati, 2017). Dari hasil analisa yang
dilakukan oleh Siboro et.al., (2016) menggunakan
beberapa parameter lingkungan menemukan
bahwa di dalam tubuh ikan pelagis kecil terdapat
logam Pb pada perairan belawan. Ashar et al.,
2014 menemukan kandungan Cd yang telah
melebihi ambang standar baku mutu pada air
tambak dan air sungai di Kelurahan Terjun
Medan. Dimana kandungan Cd air tambak yaitu
pada ketiga lokasi sampel yaitu stasiun I, II dan III
secara berturut-turut sebesar 0,01381 mg/L,
0,01296 mg/L dan 0,01289 mg/L. Sedangkan
kadungan Cd air sungai pada ketiga lokasi sampel
yaitu stasiun I, II dan III secara berturut-turut
sebesar 0,01475 mg/L, 0,01204 mg/L dan 0,01432
mg/L dengan nilai baku mutu 0,01 mg/L.
Sedangkan pada udang windu juga menunjukkan
adanya kandungan Cd pada ketiga lokasi sampel
yaitu stasiun I,II dan III secara berturut-turut
sebesar 0,13811 mg/kg, 0,12965 mg/kg, (...truncated)