Pengaruh Penambahan Material Spiro-TAD dan Spiro-TPD Sebagai Hole Transport Material Pada Karakteristik DSSC
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika)
Vol. 04, No. 01 (2020) 79 – 85
© Departemen Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran
PENGARUH PENAMBAHAN MATERIAL SPIRO-TAD DAN
SPIRO-TPD SEBAGAI HOLE TRANSPORT MATERIAL
PADA KARAKTERISTIK DSSC
LUSI SAFRIANI *, WINNA PRASITA PRIMAWATI, EUIS SITI NURAZIZAH, CUKUP
MULYANA, ANNISA APRILIA
Departemen Fisika Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran,
Jl. Raya Bandung-Sumedang Km 21, Jatinangor 45363
*
email:
Abstrak. Dye sensitized solar cells atau DSSC merupakan sel surya yang sedang
dikembangkan karena memiliki beberapa kelebihan yaitu biaya fabrikasi yang murah,
proses fabrikasi sederhana dan dapat dioperasikan pada intensitas cahaya yang rendah.
Akan tetapi, efisiensi DSSC masih jauh lebih rendah dibandingkan sel surya berbasis
silikon. Salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi DSSC adalah dengan
menambahkan lapisan Hole Transport Material (HTM) untuk membantu proses difusi
dan transport muatan sehingga didapatkan efisiensi yang lebih baik. Material spiro
merupakan material yang memiliki stabilitas yang baik sehingga cocok untuk dijadikan
sebagai HTM pada divais sel surya. Dua di antara contoh material spiro adalah SpiroTAD dan Spiro-TPD. Keduanya memiliki nilai mobilitas hole yang cukup baik. Dalam
penelitian ini, DSSC dengan struktur FTO/TiO2/dye-Ru/HTM/mosalyte/Pt/FTO telah
berhasil difabrikasi. Selain itu dilakukan pula proses pemanasan sebelum proses
perendaman dye-Ru dilakukan dengan tujuan menghilangkan molekul oksigen yang
terperangkap pada lapisan mesopori TiO2. Hasil pengukuran rapat arus dan tegangan (JV) menunjukkan bahwa Power Conversion Efficiency (PCE) tertinggi didapatkan dari
DSSC dengan HTM Spiro-TPD yaitu sebesar 2,94%.
Kata kunci: DSSC, HTM, Spiro-TAD, Spiro TPD, PCE
Abstract. Dye sensitized solar cells or DSSC are solar cells that are being developed
because they have several advantages. It has a low-cost fabrication, simple fabrication
processes and can be operated at low light intensity. However, DSSC efficiency is still
far lower than silicon-based solar cells. An effort to improve DSSC efficiency is to add a
Hole Transport Material (HTM) layer to facilitate the diffusion and transport of charges,
so that better efficiency could be obtained. Spiro material is a material that has good
stability and it is suitable to be used as HTM in solar cell devices. Two of the examples
of spiro-material are Spiro-TAD and Spiro-TPD which have good hole mobility value. In
this study, DSSC with the structure of FTO/TiO2/dye-Ru/HTM/mosalyte/Pt/FTO has
been successfully fabricated. Moreover, the heating process that was done before the dyeRu immersion process was carried out to remove oxygen molecules trapped in the
mesoporous layer of TiO2. The measurement results of current density and voltage (J-V)
shows that the highest Power Conversion Efficiency (PCE) at 2.94% is obtained from
DSSC with HTM Spiro-TPD.
Keywords: DSSC, HTM, Spiro-TAD, Spiro TPD, PCE
1. Pendahuluan
Akhir-akhir ini kebutuhan energi bertambah secara signifikan yang mengakibatkan
berbagai masalah khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan energi. Sumber
energi konvensional yang berasal dari fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan
_____________________________________________
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika), ISSN: 2549-0516
79
80
Lusi Safriani dkk
batubara akan semakin berkurang sehingga diperlukan sumber energi baru yang
kemudian dikenal sebagai energi baru dan terbarukan (renewable energy). Dari
berbagai sumber energi baru dan terbarukan seperti angin, biomassa ataupun
hydropower, penggunaan energi yang berasal dari matahari merupakan alternatif
sumber energi yang paling potensial. Hal ini disebabkan karena Indonesia
mempunyai potensi energi matahari yang cukup besar.
Sel surya merupakan perangkat yang dapat mengkonversi energi matahari menjadi
energi listrik. Sel surya menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang dapat
memecahkan masalah ketersediaan energi [1]. Sel surya memiliki berbagai jenis
dan salah satu sel surya yang telah tersedia secara komersil adalah sel surya berbasis
teknologi silicon [2]. Namun, harga produksi yang mahal dibanding sumber energi
fosil dan efisiensi yang rendah menyebabkan sel surya sulit menjadi sumber energi
utama menggantikan sumber energi fosil. Untuk mengatasi masalah tersebut
dibutuhkan material baru dengan harga yang murah, proses fabrikasi yang mudah,
namun dapat menghasilkan efisiensi sel surya yang lebih baik.
Salah satu jenis sel surya yang menarik banyak perhatian adalah sel surya yang
dikembangkan oleh Grätzel [3]. Sel surya ini sering juga disebut dengan sel Grätzel
atau Dye Sensitized Solar Cells (DSSC) yaitu sel surya tersensitisasi dye. Prinsip
kerja DSSC berbeda dengan sel surya konvensional/sel surya berbasis teknologi
silicon (inorganic solar cell). Prinsip kerja DSSC berdasarkan proses fotosintesis.
Sama halnya dengan peran klorofil pada tumbuhan, molekul dye (sensitizers)
mengabsorb cahaya sehingga menghasilkan muatan positif dan negatif [4]. DSSC
adalah salah satu kandidat potensial sel surya generasi yang akan datang, hal ini
disebabkan tidak diperlukannya material yang punya kemurnian tinggi sehingga
biaya produksi yang diperlukan juga relatif rendah. Meskipun murah, sistem ini
mampu menghasilkan efisiensi konversi sinar menjadi listrik sekitar 11,1%, tingkat
efisiensi yang tidak mudah untuk dicapai sejak konsep ini pertama kali dicetuskan
awal tahun 1970 [5]. Meskipun efisiensinya cukup tinggi, pengembangan sel surya
ini masih memiliki kelemahan yaitu pada kestabilan sistem. Efisiensi dan kestabilan
DSSC dipengaruhi oleh ketiga komponen penyusunnya yaitu (i) lapisan tipis
semikonduktor TiO2 dan material dye yang pada umumnya digunakan kompleks
ruthenium (II) sebagai sensitizer, (ii) elektroda lawan Pt dan (iii) larutan elektrolit
yang merupakan pasangan redoks. Fotodegradasi sensitizer dan penguapan larutan
elektrolit cair merupakan penyebab utama terhadap rendahnya kestabilan DSSC [6].
Keberadaan larutan elektrolit cair juga membuat proses pembuatan sel surya ini
menjadi sulit.
Untuk mengatasi masalah kestabilan dan kesulitan fabrikasi DSSC dengan
elektrolit cair, beberapa peneliti menggunakan elektrolit dari material padat [7]. Hal
ini dilakukan dengan memodifikasi struktur DSSC melalui penambahan lapisan
yang selain berfungsi sebagai lapisan pembawa elektron (Electron Transport
Material/ETM) maupun lapisan pembawa hole (Hole Transport Material/HTM)
juga berfungsi sebagai media untuk terjadinya proses pasangan reduksi-oksidasi
(redoks).
HTM merupakan material yang membantu proses difusi muatan positif/hole
sehingga mempermudah proses transport hole dan sekaligus mencegah terjadinya
proses rekombinasi elektron-hole pada lapisan dye. Material spiro merupakan
material yang memiliki stabilitas yang baik sehingga cocok untuk dijadikan HTM
pada DSSC [8]. Dua di antara contoh material spiro adalah Spiro-TAD (2,2’,7,7’tetrakis-(diphenylamino)-9,9’-spirobifluorene) dan Spiro-TPD (N,N’- Bis- (...truncated)