Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi Dan Pola Makan Dengan Kejadian Obesitas Pada Siswa Smk Negeri 1 Biaro
GIZIDO Volume 11 No.1 Mei 2019 Hubungan Tingkat
Jufri S dkk
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI DAN POLA
MAKAN DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA
SISWA SMK NEGERI 1 BIARO
Jufri Sineke1, Mirna Kawulusan2, Rudolf B. Purba dan Anita Dolang3
Jurusan gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado
Email koteesponden:
ABSTRACT
Obesity is a problem worldwide because of its increasing prevalence in adults and
adolescents. Riskesdas results showed an increase in the prevalence of over
nutrition in children aged 16-18 years, for the fat category from 1.4% in 2010 to
7.3% consisting of 5.7% fat and 1.6% obesity in 2013. This study aims to determine
the relationship between the level of nutritional knowledge and eating patterns with
the incidence of obesity in students of Biaro 1 Vocational School. This research is
an analytic observational descriptive study with cross sectional design, with a
sample of 36 people who met the inclusion criteria. Data was collected through
interviews using nutritional knowledge questionnaires and semi-FFQ forms to
determine dietary patterns, and measurements of abdominal circumference for
obesity data. Univariate analysis was performed descriptively and the bivariate
analysis used was the correlation test with Kendall's tau-b with a value of α = 0.05.
The results of this study showed that the level of nutritional knowledge of 36
respondents was mostly lacking at 50.0%, the respondents' eating patterns were
mostly not good at 80.6%, and obesity status with an average abdominal
circumference size of 80-85 cm was 55.7%. Statistical test results show that there
is a relationship between the level of nutritional knowledge and eating patterns
with the incidence of obesity in students of State Vocational School 1 Biaro (p
<0.05).
Keywords: Nutrition Knowledge Level, Diet, Obesity Occurrence
PENDAHULUAN
Masalah obesitas merupakan masalah global yang sering terjadi pada
masyarakat, baik masyarakat yang ada di negara maju maupun negara
berkembang termasuk negara Indonesia. Obesitas menjadi masalah di seluruh
dunia karena prevalensinya yang meningkat pada orang dewasa maupun
remaja.
Lingkar perut merupakan metode yang digunakan untuk menentukan
obesitas sentral. Pria dinyatakan mengalami obesitas sentral apabila lingkar
perut menunjukkan lebih dari 90 cm. Obesitas sentral merupakan keadaan
kelebihan lemak yang terakumulasi di daerah abdomen (intra-abdominal fat).
Obesitas berdampak buruk pada kesehatan. Risiko kematian meningkat pada
obesitas, terutama obesitas yang disertai dengan peningkatan lemak intraabdominal (obesitas sentral).
Prevalensi overweight dan obesitas meningkat sangat tajam di kawasan
Asia Pasifik. Sebagai contohpenduduk Korea Selatan yang memiliki status gizi
overweight 20,5% dan obesitas 1,5%. Di Thailand, 16% penduduk mengalamai
overweight dan 4% mengalami obesitas. Di daerah perkotaan Cina, prevalensi
overweight 12,% pada laki- laki dan 14,4% pada perempuan, sedangkan di
28
GIZIDO Volume 11 No.1 Mei 2019 Hubungan Tingkat
Jufri S dkk
daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki- laki dan perempuan masingmasing adalah 5,3% dan 9,8% (Iriyani dan Nurpudji, 2012).
World Health Organization (WHO) tahun 2011 memperkirakan di dunia ada
sekitar 1,6 milyar remaja berumur 15 tahun kelebihan berat badan dan sebanyak
400 juta orang gemuk (obesitas) dan di perikirakan lebih dari 700 juta orang
dewasa akan gemuk (obesitas) pada tahun 2015.(WHO, 2011). Berdasarkan
data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, didapatkan prevalensi obesitas
pada anak berusia 5-12 tahun adalah 8,8%, 13-15 tahun adalah 2,5%, dan 16-18
tahun adalah 1,6% berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur lebih dari Zscore menggunakan baku antropometri WHO 2007 untuk anak berumur 5-18
tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan terjadi
peningkatan prevalensistatus gizi lebih pada anak usia 16-18 tahun yaitu untuk
kategori gemuk dari 1,4% pada tahun 2010 menjadi 7,3% yang terdiri dari gemuk
5,7% dan obesitas 1,6% pada tahun 2013. (Balitbangkes, 2013).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Sulawesi Utara
dijelaskan bahwa status gizi anak remaja (13-15 tahun) berdasarkan IMT
menurut Umur (IMT/U) yang memiliki gizi lebih adalah 2,7 % sedangkan pada
anak remaja usia 16-18 tahun, status gizi lebih 2,6% . Prevalensi status gizi lebih
di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro pada remaja 13-15 tahun adalah 2,5%
dan remaja usia 16-18 tahun adalah 0,6%. Prevalensi obesitas sentral usia ≥ 15
tahun untuk provinsi Sulawesi Utara 37,4% dan kota Manado 41,4%.
(Balitbangkes, 2013).
Obesitas pada remaja penting untuk diperhatikan karena remaja yang
mengalami obesitas 80% berpeluang untuk mengalami obesitas pula pada saat
dewasa. Selain itu, terjadi peningkatan remaja obesitas yang didiagnosis dengan
kondisi penyakit yang biasadialami orang dewasa, seperti diabetes tipe 2 dan
hipertensi. Remaja obesitas sepanjang hidupnya juga berisiko lebih tinggi untuk
menderita sejumlah masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung,
stroke, diabetes, asma, dan beberapa jenis kanker.Obesitas juga membawa
konsekuensi psikologis dan sosial pada remaja, termasuk peningkatan risiko
depresi karena lebih sering ditolak oleh rekan-rekan mereka serta digoda dan
dikucilkan karena berat badan mereka. Obesitas terjadi karena berbagai faktor
penyebab yang kompleks antara lain genetik, pola makan, aktivitas fisik dan
faktor-faktor sosial budaya. Remaja obesitas menghabiskan waktu untuk aktivitas
statis lebih lama daripada remaja non obesitas. (Puhl, 2007).
Pola makan yang merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan obesitas
adalah mengonsumsi makanan porsi besar (lebih dari kebutuhan), makanan
tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat.
Sedangkan perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan
berupa junk food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (soft drink)
(Kemenkes RI, 2012). Kebiasaan makan yang buruk seperti rendahnya konsumsi
buah-buahan dan sayur, rendahnya konsumsi susu rendah lemak dan tingginya
konsumsi makanan dan minuman ringan serta kebiasaan tidak sarapan
berpengaruh terhadap obesitas. Pola makan yang baik bagi orang Indonesia
adalah pola makan yang sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang
(PUGS).
METODE
Jenis penelitian ini adalah Deskriptif observasional analik dengan rancangan
penelitian cross sectiona studyl.Penelitian dilaksanakan pada Bulan November
29
GIZIDO Volume 11 No.1 Mei 2019 Hubungan Tingkat
Jufri S dkk
2018 di SMK Negeri 1 Biaro, Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sampel
penelitian merupakan siswa di SMK Negeri 1 Biaro yang memiliki berat badan
obesitas yang berjumlah 36 sampel. Variabel bebas meliputi pengetahuan gizi,
dan pola makan. Variabel terikat adalah kejadian obesitas. Uji statistik korelasi
menggunakan Uji Kendall's tau-b.
HASIL
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa responden penelitian yang paling
banyak adalah perempuan, dengan kelompok umur berada pada umur 14-17
tahun. Responden paling banyak adalah (...truncated)