TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG

Jurnal Seni Makalangan, Aug 2023

Tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah diciptakan pada tahun 1957. Dalam pertunjukannya terdapat empat tokoh, yaitu; Gatotkaca, Pergiwa Pergiwati, dan Cakil. Struktur pertunjukan terbagi menjadi tiga adegan dengan bentuk tari pethilan yang menggambarkan kegandrungan Gatotkaca kepada Pergiwa Pergiwati sebagai jelmaan dari Cakil. Penelitian ini dibatasi pada permasalahan mengenai bagaimana estetika tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah di Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. Landasan konsep pemikiran mengunakan teori estetika instrumental, karena dianggap relevan sebagai pisau bedah dalam membahas permasalahan. Untuk mengimplementasikan teori digunakan metode deskriptif analisis. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan analisa data. Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan bahwa ditinjau dari estetika, tarian ini terdiri atas wujud tari, bobot tari, dan penampilan. Wujud tari meliputi bentuk dan struktur, di antaranya struktur koreografi, struktur iringan tari, tata rias tari, tata busana tari dan properti tari. Bobot tari meliputi gagasan penciptaan, suasana, dan pesan tari. Penampilan meliputi bakat, keterampilan, dan sarana. Ketiga unsur tersebut berkesinambungan menjadi sebuah pembentuk estetika tari yang menjadi identitas tari Gatotkaca Gandrung. ABSTRACT GATOTKACA GANDRUNG DANCE BY R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH AT PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG, June 2023. Gatotkaca Gandrung Dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah was created in 1957. In the show there are four characters, namely; Gatotkaca, Periwa Perwati, and Cakil. The structure of the performance is divided into three scenes in the form of a pethilan dance which depicts Gatotkaca's passion for PeriwaPergiwati as the incarnation of Cakil. This research is limited to the problem of how the aesthetics of the Gatotkaca Gandrung dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah at Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. The basis of the concept of thought is using instrumental aesthetic theory, because it is considered relevant as a scalpel in discussing problems. To implement the theory used descriptive analysis method. This research is qualitative in nature with data collection carried out through literature, observation, interviews, documentation and data analysis. Based on the results of the analysis, it can be concluded that in terms of aesthetics, this dance consists of dance form, dance weight, and appearance. The form of dance includes form and structure, including choreographic structures, dance accompaniment structures, dance make-up, dance dress and dance properties. The weight of the dance includes the idea of creation, atmosphere and message of the dance. Appearance includes talents, skills, and means. These three elements continue to form a dance aesthetic which is the identity of the Gatotkaca Gandrung dance. Keywords: Gandrung Gatotkaca Dance, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Instrumental Aesthetics.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/makalangan/article/download/2710/1567

TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG

TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG Oleh: Dewi Nurjanah dan Meiga Fristya Laras Sakti Prodi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung Jln. Buah Batu No. 212 Bandung 40265 e-mail: , ABSTRAK Tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah diciptakan pada tahun 1957. Dalam pertunjukannya terdapat empat tokoh, yaitu; Gatotkaca, Pergiwa Pergiwati, dan Cakil. Struktur pertunjukan terbagi menjadi tiga adegan dengan bentuk tari pethilan yang menggambarkan kegandrungan Gatotkaca kepada Pergiwa Pergiwati sebagai jelmaan dari Cakil. Penelitian ini dibatasi pada permasalahan mengenai bagaimana estetika tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah di Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. Landasan konsep pemikiran mengunakan teori estetika instrumental, karena dianggap relevan sebagai pisau bedah dalam membahas permasalahan. Untuk mengimplementasikan teori digunakan metode deskriptif analisis. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan analisa data. Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan bahwa ditinjau dari estetika, tarian ini terdiri atas wujud tari, bobot tari, dan penampilan. Wujud tari meliputi bentuk dan struktur, di antaranya struktur koreografi, struktur iringan tari, tata rias tari, tata busana tari dan properti tari. Bobot tari meliputi gagasan penciptaan, suasana, dan pesan tari. Penampilan meliputi bakat, keterampilan, dan sarana. Ketiga unsur tersebut berkesinambungan menjadi sebuah pembentuk estetika tari yang menjadi identitas tari Gatotkaca Gandrung. Kata Kunci: Tari Gatotkaca Gandrung, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Estetika Instrumental. ABSTRACT GATOTKACA GANDRUNG DANCE BY R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH AT PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG, June 2023. Gatotkaca Gandrung Dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah was created in 1957. In the show there are four characters, namely; Gatotkaca, Periwa Perwati, and Cakil. The structure of the performance is divided into three scenes in the form of a pethilan dance which depicts Gatotkaca's passion for PeriwaPergiwati as the incarnation of Cakil. This research is limited to the problem of how the aesthetics of the Gatotkaca Gandrung dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah at Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. The basis of the concept of thought is using instrumental aesthetic theory, because it is considered relevant as a scalpel in discussing problems. To implement the theory used descriptive analysis method. This research is qualitative in nature with data collection carried out through literature, observation, interviews, documentation and data analysis. Based on the results of the analysis, it can be concluded that in terms of aesthetics, this dance consists of dance form, dance weight, and appearance. The form of dance includes form and structure, including choreographic Naskah diterima pada 2 April, revisi akhir 3 Mei 2023 | 38 structures, dance accompaniment structures, dance make-up, dance dress and dance properties. The weight of the dance includes the idea of creation, atmosphere and message of the dance. Appearance includes talents, skills, and means. These three elements continue to form a dance aesthetic which is the identity of the Gatotkaca Gandrung dance. Keywords: Gandrung Gatotkaca Dance, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Instrumental Aesthetics. PENDAHULUAN Gatotkaca atau dikenal pula dengan nama Barat di antaranya: Bandung, Bogor, Garut, dan Purabaya, adalah salah satu Senopati yang amat salah satunya di wilayah Sumedang. Dilihat diandalkan dalam menjaga keamanan negara dari penampilan tarian, setiap daerah mem- Amarta oleh para petinggi Amarta atau Pan- punyai keunikan dan ke khasan tersendiri. dawa. Gatotkaca adalah putra Arya Bratasena Sumedang sebagai salah satu daerah yang atau Bima dengan Dewi Arimbi sebagai ibunya mengembangkan ibing wayang, dalam pe- yang menjadi Ratu Pringgandani. Gatotkaca nyajiannya dikenal sebagai seorang ksatria yang tangguh, daerah lainnya sehingga dikenal dengan tari jujur, setia, dan berani berkorban jiwa raga wayang Kasumedangan. mempunyai pembeda dengan demi membela negara dan bangsanya. Di- Sumedang merupakan daerah yang me- ungkapkan oleh Rusliana (2016: 80) me- miliki kekhasan atau gaya dalam tari wayang, nyebutkan bahwa: mempunyai seorang maestro tari yang kreatif Gatotkaca adalah “bebenteng nagara Amarta” atau sebagai tulang punggung keamanan negara Amarta. Berarti tugas sehari-harinya bertanggungjawab terhadap keamanan negaranya, baik di darat, laut maupun di angkasa raya. Selain Gatotkaca memiliki kesaktian terbang, juga kesaktian atau ajian seperti: narantaka, ginong, semu gunting, dan sapta pangrungu. Berdasarkan pada silsilah keluarga Bimasena diungkapkan oleh Pradasta Asyari (2020: 2) bahwa, “dalam kitab purwakanda dan purwacarita, Gatotkaca merupakan adik Antareja yang berbeda ibu. Kakaknya yaitu Antareja merupakan putra sulung Bima dengan Dewi Nagagini, yang memiliki kesaktian pada jilatan lidahnya”. Gatotkaca merupakan tokoh yang diidolakan masyarakat karena kesaktian dan kejujurannya, sehingga satu tokoh pewayangan ini berpengaruh kuat dalam dunia tari wayang khususnya di Priangan. Tarian Gatotkaca berkembang hampir disetiap wilayah di Jawa dan produktif dalam berkarya. Tokoh tersebut adalah R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah. Selain dikenal sebagai pencipta rumpun tari wayang, juga ada beberapa genre lain yang diciptakannya seperti tari topeng, tari tayub gaya baru (keurseus) bahkan R. Ono pernah menggarap wayang wong Priangan. Seperti yang dikatakan oleh Endang Caturwati (2004: 73), sebagai berikut: Dilihat dari materi tariannya, Ono Lesmana lebih cenderung mayoritas mengambil tarian jenis Wayang. Disajikan dalam bentuk tari tunggal yang biasanya ditarikan baik oleh penari laki-laki ataupun penari perempuan pada momen penyambutan tamu dalam berbagai acara. Dipertegas dari pernyataan yang dikemukakan oleh Rd. Djuardi dan R. Wahyudin yang merupakan hasil wawancara Iyus Rusliana, 4 Agustus 1998 (2001: 22), mengungkapkan bahwa: R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah adalah salah Makalangan Vol. 10, No. 1, Edisi Juni 2023 | 39 seorang penggarap Wayang Wong Priangan di Sumedang ketika menjadi Camat di Kecamatan Conggeang tahun 1950-1952, dan setelah pindah ke pusat kota Sumedang aktivitasnya beralih dengan melatih tari-tarian Wayang yang juga sekaligus mendirikan perkumpulan tarinya. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa sebelum mempunyai aktivitas melatih tari wayang di pusat kota Sumedang, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah pernah menggarap dan mempertunjukkan wayang wong Priangan ketika menjabat sebagai Camat Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang pada tahun 1950-1952. R. Widawati Noer Lesmana (Wawancara di Sumedang, 9 Februari 2022) mengatakan, bahwa ”Dalam pertunjukan wayang wong Priangan penari berdialog sendiri tanpa dalang dengan m (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/makalangan/article/download/2710/1567
Article home page: https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/makalangan/article/view/2710/1567

Dewi Nurjanah, Laras Sakti Meiga Fristya. TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG, Jurnal Seni Makalangan, 2023,