TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG
TARI GATOTKACA GANDRUNG
KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH
DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG
Oleh: Dewi Nurjanah dan Meiga Fristya Laras Sakti
Prodi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung
Jln. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
e-mail: ,
ABSTRAK
Tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah
diciptakan pada tahun 1957. Dalam pertunjukannya terdapat empat
tokoh, yaitu; Gatotkaca, Pergiwa Pergiwati, dan Cakil. Struktur
pertunjukan terbagi menjadi tiga adegan dengan bentuk tari pethilan
yang menggambarkan kegandrungan Gatotkaca kepada Pergiwa
Pergiwati sebagai jelmaan dari Cakil. Penelitian ini dibatasi pada
permasalahan mengenai bagaimana estetika tari Gatotkaca Gandrung
karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah di Padepokan Sekar Pusaka
Sumedang. Landasan konsep pemikiran mengunakan teori estetika instrumental, karena dianggap
relevan sebagai pisau bedah dalam membahas permasalahan. Untuk mengimplementasikan teori
digunakan metode deskriptif analisis. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengumpulan data
dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan analisa data.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan bahwa ditinjau dari estetika, tarian ini terdiri atas
wujud tari, bobot tari, dan penampilan. Wujud tari meliputi bentuk dan struktur, di antaranya
struktur koreografi, struktur iringan tari, tata rias tari, tata busana tari dan properti tari. Bobot tari
meliputi gagasan penciptaan, suasana, dan pesan tari. Penampilan meliputi bakat, keterampilan,
dan sarana. Ketiga unsur tersebut berkesinambungan menjadi sebuah pembentuk estetika tari yang
menjadi identitas tari Gatotkaca Gandrung.
Kata Kunci: Tari Gatotkaca Gandrung, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Estetika Instrumental.
ABSTRACT
GATOTKACA GANDRUNG DANCE BY R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH AT
PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG, June 2023. Gatotkaca Gandrung Dance by R. Ono
Lesmana Kartadikoesoemah was created in 1957. In the show there are four characters, namely; Gatotkaca,
Periwa Perwati, and Cakil. The structure of the performance is divided into three scenes in the form of a
pethilan dance which depicts Gatotkaca's passion for PeriwaPergiwati as the incarnation of Cakil. This
research is limited to the problem of how the aesthetics of the Gatotkaca Gandrung dance by R. Ono Lesmana
Kartadikoesoemah at Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. The basis of the concept of thought is using
instrumental aesthetic theory, because it is considered relevant as a scalpel in discussing problems. To
implement the theory used descriptive analysis method. This research is qualitative in nature with data
collection carried out through literature, observation, interviews, documentation and data analysis. Based on
the results of the analysis, it can be concluded that in terms of aesthetics, this dance consists of dance form,
dance weight, and appearance. The form of dance includes form and structure, including choreographic
Naskah diterima pada 2 April, revisi akhir 3 Mei 2023
| 38
structures, dance accompaniment structures, dance make-up, dance dress and dance properties. The weight of
the dance includes the idea of creation, atmosphere and message of the dance. Appearance includes talents,
skills, and means. These three elements continue to form a dance aesthetic which is the identity of the Gatotkaca
Gandrung dance.
Keywords: Gandrung Gatotkaca Dance, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Instrumental Aesthetics.
PENDAHULUAN
Gatotkaca atau dikenal pula dengan nama
Barat di antaranya: Bandung, Bogor, Garut, dan
Purabaya, adalah salah satu Senopati yang amat
salah satunya di wilayah Sumedang. Dilihat
diandalkan dalam menjaga keamanan negara
dari penampilan tarian, setiap daerah mem-
Amarta oleh para petinggi Amarta atau Pan-
punyai keunikan dan ke khasan tersendiri.
dawa. Gatotkaca adalah putra Arya Bratasena
Sumedang sebagai salah satu daerah yang
atau Bima dengan Dewi Arimbi sebagai ibunya
mengembangkan ibing wayang, dalam pe-
yang menjadi Ratu Pringgandani. Gatotkaca
nyajiannya
dikenal sebagai seorang ksatria yang tangguh,
daerah lainnya sehingga dikenal dengan tari
jujur, setia, dan berani berkorban jiwa raga
wayang Kasumedangan.
mempunyai
pembeda
dengan
demi membela negara dan bangsanya. Di-
Sumedang merupakan daerah yang me-
ungkapkan oleh Rusliana (2016: 80) me-
miliki kekhasan atau gaya dalam tari wayang,
nyebutkan bahwa:
mempunyai seorang maestro tari yang kreatif
Gatotkaca adalah “bebenteng nagara Amarta” atau
sebagai tulang punggung keamanan negara
Amarta. Berarti tugas sehari-harinya bertanggungjawab terhadap keamanan negaranya,
baik di darat, laut maupun di angkasa raya.
Selain Gatotkaca memiliki kesaktian terbang,
juga kesaktian atau ajian seperti: narantaka,
ginong, semu gunting, dan sapta pangrungu.
Berdasarkan pada silsilah keluarga Bimasena diungkapkan oleh Pradasta Asyari (2020:
2) bahwa, “dalam kitab purwakanda dan
purwacarita, Gatotkaca merupakan adik Antareja yang
berbeda ibu.
Kakaknya yaitu
Antareja merupakan putra sulung Bima dengan Dewi Nagagini, yang memiliki kesaktian
pada jilatan lidahnya”.
Gatotkaca merupakan tokoh yang diidolakan
masyarakat karena kesaktian dan kejujurannya,
sehingga satu tokoh pewayangan ini berpengaruh kuat dalam dunia tari wayang
khususnya di Priangan. Tarian Gatotkaca berkembang hampir disetiap wilayah di Jawa
dan produktif dalam berkarya. Tokoh tersebut
adalah R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah.
Selain dikenal sebagai pencipta rumpun tari
wayang, juga ada beberapa genre lain yang
diciptakannya seperti tari topeng, tari tayub
gaya baru (keurseus) bahkan R. Ono pernah
menggarap wayang wong Priangan. Seperti
yang dikatakan oleh Endang Caturwati (2004:
73), sebagai berikut:
Dilihat dari materi tariannya, Ono Lesmana lebih
cenderung mayoritas mengambil tarian jenis
Wayang. Disajikan dalam bentuk tari tunggal
yang biasanya ditarikan baik oleh penari laki-laki
ataupun penari perempuan pada momen
penyambutan tamu dalam berbagai acara.
Dipertegas dari pernyataan yang dikemukakan oleh Rd. Djuardi dan R. Wahyudin yang
merupakan hasil wawancara Iyus Rusliana, 4
Agustus 1998 (2001: 22), mengungkapkan
bahwa:
R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah adalah salah
Makalangan Vol. 10, No. 1, Edisi Juni 2023 | 39
seorang penggarap Wayang Wong Priangan di
Sumedang ketika menjadi Camat di Kecamatan
Conggeang tahun 1950-1952, dan setelah pindah
ke pusat kota Sumedang aktivitasnya beralih
dengan melatih tari-tarian Wayang yang juga
sekaligus mendirikan perkumpulan tarinya.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa
sebelum mempunyai aktivitas melatih tari
wayang di pusat kota Sumedang, R. Ono
Lesmana Kartadikoesoemah pernah menggarap dan mempertunjukkan wayang wong
Priangan ketika menjabat sebagai Camat
Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang
pada tahun 1950-1952. R. Widawati Noer
Lesmana (Wawancara di Sumedang, 9 Februari
2022) mengatakan, bahwa ”Dalam pertunjukan
wayang wong Priangan penari berdialog
sendiri
tanpa dalang dengan m (...truncated)