Pemetaan Jalur Evakuasi Sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bahaya Tsunami di Wilayah Kuta Mandalika, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Vol 6, No.1 2022 p. 12 - 18
Pemetaan Jalur Evakuasi Sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bahaya Tsunami di Wilayah
Kuta Mandalika, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia
1)
Yohana Noradika Maharani 1*), Ardhianto Septiadhi 2), Tissia Ayu Algary3)
Magister Manajemen Bencana, Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta
2)
Stasiun Geofisika Mataram, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
3)
Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta
*email korespondensi :
ABSTRAK
Berdasarkan catatan sejarah kegempaan, Pulau Lombok merupakan kawasan yang sering mengalami gempa kecil hingga
menengah. Kabupaten Lombok Tengah khususnya wilayah Mandalika merupakan daerah yang terletak di bagian selatan
pulau Lombok yang dekat dengan sumber kegempaan yaitu sumber gempabumi Penunjaman Parit Jawa atau Zona Benioff
Wadati Jawa-Bali. Zona megathrust atau subduksi dengan potensi magnitudo maksimum 8,7 dapat memberikan dampak
signifikan apabila mengguncang wilayah selatan Lombok dan sumber gempa ini berpotensi tsunami. Penelitian ini
bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai genangan tsunami maksimum di wilayah Kuta Mandalika, sehingga
dapat dijadikan acuan tambahan dalam penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul. Selanjutnya menyusun sebuah peta
yang menggambarkan jalur evakuasi di Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah terhadap bahaya landaan tsunami.
Metode yang digunakan adalah Community Model Interface for Tsunami (ComMIT) melalui Method of Splitting Tsunami
(MOST) buatan National Oceanic and Athmospheric Administration (NOAA) Center for Tsunami Research. Hasil
pemodelan menunjukkan bahwa tinggi dan inundasi paling besar ditimbulkan oleh sumber gempabumi Megathrust
segmen Bali dengan maginitude 9,0. Sedangkan Peta Flow Depth menunjukkan bahwa genangan maksimum yang terjadi
di Kuta sekitar 0,5 m hingga 12 m di bibir pantai dengan luas genangan 15,27 km 2. Peta Flow Depth ini selanjutnya dapat
digunakan sebagai acuan dasar dalam pembuatan peta evakuasi tsunami.
Kata Kunci: community model interface for tsunami; method of splitting tsunami; peta evakuasi; provinsi nusa tenggara
barat; tsunami
ABSTRACT
Based on historical records of seismicity, Lombok Island is an area that often experiences small to medium earthquakes.
Central Lombok Regency, especially the Mandalika region, is an area located in the southern part of the island of Lombok
which is close to the source of the earthquake, namely the Java Trench Subduction earthquake source or the Java-Bali
Wadati Benioff Zone. The megathrust or subduction zone with a potential maximum magnitude of 8.7 can have a
significant impact if it shakes the southern region of Lombok and the source of this earthquake has the potential cause
for a tsunami. This study aims to provide an overview of the maximum tsunami inundation in the Kuta Mandalika area,
so that it can be used as an additional reference in determining evacuation routes and tsunami shelter. Furthermore,
compiling a map that describes the evacuation route in Mandalika, Central Lombok Regency against the danger of a
tsunami. The method used is the Community Model Interface for Tsunami (ComMIT) through the Method of Splitting
Tsunami (MOST) made by the National Oceanic and Athmospheric Administration (NOAA) Center for Tsunami Research.
The modeling results show that the highest height and inundation are caused by the Megathrust earthquake source in the
Bali segment with a magnitude of 9.0. While the Flow Depth Map shows that the maximum inundation that occurs in Kuta
is around 0.5 m to 12 m on the shoreline with an inundation area of 15.27 km2. This Flow Depth map can then be used
as a basic reference in making a tsunami evacuation map.
Keywords: community model interface for tsunami; evacuation map; method of splitting tsunami; tsunami; west nusa
tenggara province
ISSN 2549-7197 (cetak), ISSN 2549-564X (online)
JMEL, Volume 6 Nomor 1, 2022
I.
13
PENDAHULUAN
Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk salah satu daerah seismik aktif dengan seismisitas yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh zona subduksi atau megathrust di selatan dan zona sumber gempabumi “Back Arc Thrusting” di
utara Lombok. Dari dua zona sumber kegempaan tersebut mengakibatkan terjadinya gempabumi dengan potensi merusak
dan juga potensi terjadinya tsunami yang relatif tinggi akibat gempabumi di megathrust. Kejadian gempa besar yang
terakhir terjadi adalah di tahun 2018 yang menyebabkan goncangan yang cukup kuat sehingga menimbulkan korban jiwa,
kerusakan bangunan, serta kerusakan geologi. Gempa ini disebabkan oleh aktivitas Back Arc Thrust di wilayah utara
Pulau Lombok.
Selama beberapa dekade terakhir, banyak perkembangan besar di Lombok, bahkan perekonomiannya menjadi sangat
bergantung pada sektor pariwisata. Apalagi pembangunan kawasan pesisir Mandalika sedang terus dilakukan untuk
persiapan perhelatan balap motor bergengsi MotoGP 2021, selain itu juga telah disepakati untuk menjadi tuan rumah
World Superbike (WSBK). Untuk beberapa kawasan pantai, tidak hanya penduduk setempat yang berisiko, tetapi para
pengunjung juga berisiko akibat tsunami. Secara umum, pengunjung memiliki pengetahuan yang lebih sedikit
dibandingkan dengan penduduk lokal tentang lokasi tempat perlindungan tsunami dan rute yang lebih aman untuk
menjangkau mereka. Kehadiran pengunjung dan perilaku yang berbeda, oleh karenanya akan mempengaruhi waktu
evakuasi, jumlah pengungsi yang mencapai setiap tempat penampungan, titik-titik kemacetan dan korban. Dengan
demikian, untuk membuat rencana evakuasi yang efektif penting bagi pengelola risiko bencana untuk mempertimbangkan
hal-hal tersebut.
Masyarakat yang tinggal di pesisir seringkali terancam oleh bahaya tsunami yang dapat menggenangi daerah dataran lebih
rendah hanya beberapa menit setelah terjadi gempabumi lokal. Mengingat waktu yang singkat ini, maka perlu bagi
individu untuk mengambil tindakan protektif. Evakuasi dengan menggunakan kendaraan kemungkinan besar akan sulit
dilakukan karena jalan yang rusak setelah gempa awal, bahkan dilarang di beberapa yurisdiksi karena bisa menimbulkan
kemacetan lalu lintas (Cascadia Region Earthquake Workgroup, 2013; Fraser et al., 2012). Beberapa infrastruktur yang
ada di pesisir misalnya pemecah gelombang, tanggul laut dan tanggul pantai akan mengalami kerusakan yang signifikan
ketika tsunami terjadi (Mikami et al., 2012; Mori & Takahashi, 2012).
Meskipun demikian juga diakui bahwa bangunan beton bertulang seringkali cukup kuat (FEMA, 2008) untuk menahan
kekuatan tsunami, banyak diantaranya rusak parah dan beberapa hanyut (Mori & Takahashi, 2012; Ogasawara, et al.,
2012). Satu pelajaran penting yang bisa ditarik dari tsunami ini adalah sulitnya melindungi wilayah pesisir dan kehidupan
manusia dari kejadian tsunami ekstrim jika hanya dengan menggunakan pembangunan dari segi struktur (misalnya
tanggul pantai, tembok laut, bangunan).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai ge (...truncated)