Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat
Artikel Penelitian
Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat
Tri Ismu Pujiyanto1, Noor Putri Elliya1, Eni Kusyati1
1
Program Studi S1 Keperawatan Universitas Karya Husada Semarang, Indonesia
Article Info
Abstrak
Article History:
Submit: 17 Oktober 2022
Accepted: 30 November
2022
Publish: 30 November 2022
Tenaga kesehatan menjadi salah satu bagian dari garda terdepan yang ikut
berperan dalam mengahadapi pandemic covid-19 dan rumah sakit menjadi
tempat terselenggaranya pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah kasus
covid-19 di rumah sakit yang akan ditangani oleh tenaga kesehatan akan
berdampak pada beban kerja selama masa pandemic covid-19. Pandemic
Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan krisis secara global
dalam sistem perawatan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui
hubungan kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif analitik
dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di
ruang isolasi covid-19 dan IGD RSUD Dr. Murjani Sampit dengan teknik total
sampling yang berjumlah 45 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan
menyebarkan kuesioner pada semua sampel. Analisis data menggunakan
analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil Penelitian
menunjukkan Perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit memiliki kecerdasan
emosional kategori tinggi sebanyak 23 responden (51,1%) dan rendah
sebanyak 22 responden (48,9%). Sedangkan untuk tingkat resiliensi dengan
kategori tinggi sebanyak 27 responden (60%) dan rendah sebanyak 18
responden (40%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value 0,001<0,05.
Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan antara kecerdasan
emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Dr. Murjani
Sampit.
Key words:
Kecerdasan emosional;
Tingkat Resiliensi; Perawat
PENDAHULUAN
Tenaga kesehatan menjadi salah satu
bagian dari garda terdepan yang ikut
berperan dalam mengahadapi pandemic
covid-19 dan rumah sakit menjadi tempat
terselenggaranya pelayanan kesehatan.
Meningkatnya jumlah kasus covid-19 di
rumah sakit yang akan ditangani oleh
tenaga kesehatan akan berdampak pada
beban kerja selama masa pandemic covid19. Pandemic Covid-19 yang terjadi di
Indonesia telah menyebabkan krisis secara
global dalam sistem perawatan kesehatan.
(Sugianto et al., 2021; Lyng et al., 2021).
Jumlah kasus infeksi Covid-19 di Indonesia
masih meningkat serta wilayah yang
terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia
pada 14 Juli 2021 menunjukkan bahwa
telah menyebar ke 34 provinsi. (Gugus
Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP)
Covid-19, 2021) Provinsi Kalimantan
Tengah menjadi salah satu provinsi yang
Corresponding author:
Tri Ismu Pujiyanto
Email:
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022
DOI: http://dx.doi.org/10.32584/jkmk.v5i2.1905
e-ISSN 2621-5047
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022
mengalami peningkatan kasus Covid-19.
Berdasarkan data pemerintah provinsi
Kalimantan Tengah, wilayah kabupaten
Kotawaringin Timur menduduki peringkat
ketiga dengan kasus Covid-19 terbanyak di
Kalimantan Tengah. Pada 15 Juli 2021, total
kasus
terkonfirmasi
di
Kabupaten
Kotawaringin Timur mencapai 3.752 pasien
dengan total 4 rumah sakit rujukkan Covid19 yang tersebar di 4 kabupaten/kota salah
satunya RSUD dr. Murjani Sampit di
Kabupaten Kotawaringin Timur. (Media
Center Satuan Tugas Covid-19 Kalimantan
Tengah, 2021)
Perawat telah dilaporkan sebagai pekerjaan
dengan risiko stress kerja yang tinggi
karena dalam menjalankan pekerjaannya
sangat rentan terhadap stress dan kondisi
ini dipicu dari adanya tuntutan pekerjaan
yang tinggi termasuk beban kerja dan risiko
kesehatan yang ditimbulkan dari kontak
langsung dengan pasien. (Yaseen et al.,
2019) Perawat sering bekerja lebih dari
satu beban kerja dan seringkali kelelahan
secara emosional, fisik, dan mental.
(Deklava et al., 2014) Kemampuan untuk
mengatasi kesulitan tersebut dan belajar
untuk menjadi lebih kuat dari pengalaman
dianggap sebagai resiliensi. (Chow et al.,
2018) Perawat tidak hanya cukup dengan
mengatur dan mengelola dirinya sendiri,
tetapi juga membutuhkan kemampuan
untuk bertahan hidup dan beradaptasi
dengan berbagai tekanan pekerjaan dan
kehidupan. (Digdyani & Kaloeti, 2018)
Menurut Reivich & Shatte mengatakan
bahwa keterampilan ketahanan diri atau
resiliensi merupakan kemampuan individu
dalam bertahan dari situasi sulit dengan
menyesuaikan diri untuk mengatasi segala
situasi yang merugikan (Akbar & Tahoma,
2018). Dalam penelitian Ren et al
menemukan bahwa perawat di China
memiliki resiliensi yang rendah dalam
mengatasi tantangan pekerjaan dan pulih
dari keterpurukan. (Ren et al., 2018) Hal ini
sejalan
dengan
penelitian
Gieniusz
menunjukkan bahwa persentase resiliensi
perawat di Polandia dalam kategori rendah.
(Gieniusz-Wojczyk et al., 2021)
Berdasarkan pada penelitian Mashudi dapat
dipahami bahwa resiliensi merupakan
kemampuan yang telah dimiliki setiap
individu secara alami sebagai manusia.
Namun, tidak semua individu memiliki
tingkat kapasitas resiliensi yang tinggi dan
merata karena resiliensi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang dirangkum menurut
Norman diantaranya efikasi diri, penilaian
realistis terhadap lingkungan, kemampuan
memecahan
masalah,
keterampilan
merencanakan dan menetapkan tujuan,
kemampuan menunjukkan berempati,
kemampuan buat memakai humor secara
efektif, keterampilan dalam menjaga jarak
dengan adaptif, peran seks androgini.
(Mashudi, 2016) Faktor-faktor tersebut
dapat disimpulkan bahwa keterampilan
hidup berupa pengendalian diri dapat
memberikan
pengaruh
dalam
mengembangkan
dan
meningkatkan
resiliensi individu. Kemampuan tersebut
merupakan bagian dari aspek kecerdasan
emosional.
Kecerdasan emosional adalah suatu
keterampilan emosi yang harus dimiliki
perawat. Menurut Gunu & Oladepo
mengatakan bahwa kecerdasan emosional
merupakan kemampuan individu pada hal
memahami, mengenali, dan mengasimilasi
emosi, mengetahui pesan dan makna dari
emosi. (Riyanto & Mudian, 2019)
Berdasarkan laporan forum The Future of
Job, World Economic Forum yang
mengatakan bahwa kecerdasan emosional
menempati keenam teratas dari sepuluh
keterampilan yang paling dibutuhkan
setelah tahun 2020. Hal ini menunjukkan
bahwa di masa depan kecerdasaan
emosional berperan penting untuk
berkembang dalam revolusi industri dan
tenaga
kerja
masa
depan
perlu
menyelaraskan
keahliannya
untuk
mengimbangi hal tersebut. (Gray, 2016)
Kecerdasan emosional sangat berpengaruh
di dunia kerja karena memungkinan
pegawai buat mengelola emosi dengan lebih
Tri Ismu Pujiyanto / Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022
baik agar mereka dapat bekerja dengan
akurat dan efisien dalam mencapai tujuan
maupun sasaran target perusahaan.
(Rachmadani, 2018)
Berdasarkan hasil survey awal melalui
wawancara pada salah satu perawat di
ruangan is (...truncated)