Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat

Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Nov 2022

Tenaga kesehatan menjadi salah satu bagian dari garda terdepan yang ikut berperan dalam mengahadapi pandemic covid-19 dan rumah sakit menjadi tempat terselenggaranya pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah kasus covid-19 di rumah sakit yang akan ditangani oleh tenaga kesehatan akan berdampak pada beban kerja selama masa pandemic covid-19. Pandemic Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan krisis secara global dalam sistem perawatan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di ruang isolasi covid-19 dan IGD RSUD Dr. Murjani Sampit dengan teknik total sampling yang berjumlah 45 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada semua sampel. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukkan Perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit memiliki kecerdasan emosional kategori tinggi sebanyak 23 responden (51,1%) dan rendah sebanyak 22 responden (48,9%). Sedangkan untuk tingkat resiliensi dengan kategori tinggi sebanyak 27 responden (60%) dan rendah sebanyak 18 responden (40%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value 0,001<0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan antara kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.ppnijateng.org/index.php/jkmk/article/download/1905/737

Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat

Artikel Penelitian Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat Tri Ismu Pujiyanto1, Noor Putri Elliya1, Eni Kusyati1 1 Program Studi S1 Keperawatan Universitas Karya Husada Semarang, Indonesia Article Info Abstrak Article History: Submit: 17 Oktober 2022 Accepted: 30 November 2022 Publish: 30 November 2022 Tenaga kesehatan menjadi salah satu bagian dari garda terdepan yang ikut berperan dalam mengahadapi pandemic covid-19 dan rumah sakit menjadi tempat terselenggaranya pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah kasus covid-19 di rumah sakit yang akan ditangani oleh tenaga kesehatan akan berdampak pada beban kerja selama masa pandemic covid-19. Pandemic Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan krisis secara global dalam sistem perawatan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di ruang isolasi covid-19 dan IGD RSUD Dr. Murjani Sampit dengan teknik total sampling yang berjumlah 45 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada semua sampel. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukkan Perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit memiliki kecerdasan emosional kategori tinggi sebanyak 23 responden (51,1%) dan rendah sebanyak 22 responden (48,9%). Sedangkan untuk tingkat resiliensi dengan kategori tinggi sebanyak 27 responden (60%) dan rendah sebanyak 18 responden (40%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value 0,001<0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan antara kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit. Key words: Kecerdasan emosional; Tingkat Resiliensi; Perawat PENDAHULUAN Tenaga kesehatan menjadi salah satu bagian dari garda terdepan yang ikut berperan dalam mengahadapi pandemic covid-19 dan rumah sakit menjadi tempat terselenggaranya pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah kasus covid-19 di rumah sakit yang akan ditangani oleh tenaga kesehatan akan berdampak pada beban kerja selama masa pandemic covid19. Pandemic Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan krisis secara global dalam sistem perawatan kesehatan. (Sugianto et al., 2021; Lyng et al., 2021). Jumlah kasus infeksi Covid-19 di Indonesia masih meningkat serta wilayah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia pada 14 Juli 2021 menunjukkan bahwa telah menyebar ke 34 provinsi. (Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan (GTPP) Covid-19, 2021) Provinsi Kalimantan Tengah menjadi salah satu provinsi yang Corresponding author: Tri Ismu Pujiyanto Email: Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022 DOI: http://dx.doi.org/10.32584/jkmk.v5i2.1905 e-ISSN 2621-5047 Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022 mengalami peningkatan kasus Covid-19. Berdasarkan data pemerintah provinsi Kalimantan Tengah, wilayah kabupaten Kotawaringin Timur menduduki peringkat ketiga dengan kasus Covid-19 terbanyak di Kalimantan Tengah. Pada 15 Juli 2021, total kasus terkonfirmasi di Kabupaten Kotawaringin Timur mencapai 3.752 pasien dengan total 4 rumah sakit rujukkan Covid19 yang tersebar di 4 kabupaten/kota salah satunya RSUD dr. Murjani Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur. (Media Center Satuan Tugas Covid-19 Kalimantan Tengah, 2021) Perawat telah dilaporkan sebagai pekerjaan dengan risiko stress kerja yang tinggi karena dalam menjalankan pekerjaannya sangat rentan terhadap stress dan kondisi ini dipicu dari adanya tuntutan pekerjaan yang tinggi termasuk beban kerja dan risiko kesehatan yang ditimbulkan dari kontak langsung dengan pasien. (Yaseen et al., 2019) Perawat sering bekerja lebih dari satu beban kerja dan seringkali kelelahan secara emosional, fisik, dan mental. (Deklava et al., 2014) Kemampuan untuk mengatasi kesulitan tersebut dan belajar untuk menjadi lebih kuat dari pengalaman dianggap sebagai resiliensi. (Chow et al., 2018) Perawat tidak hanya cukup dengan mengatur dan mengelola dirinya sendiri, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan berbagai tekanan pekerjaan dan kehidupan. (Digdyani & Kaloeti, 2018) Menurut Reivich & Shatte mengatakan bahwa keterampilan ketahanan diri atau resiliensi merupakan kemampuan individu dalam bertahan dari situasi sulit dengan menyesuaikan diri untuk mengatasi segala situasi yang merugikan (Akbar & Tahoma, 2018). Dalam penelitian Ren et al menemukan bahwa perawat di China memiliki resiliensi yang rendah dalam mengatasi tantangan pekerjaan dan pulih dari keterpurukan. (Ren et al., 2018) Hal ini sejalan dengan penelitian Gieniusz menunjukkan bahwa persentase resiliensi perawat di Polandia dalam kategori rendah. (Gieniusz-Wojczyk et al., 2021) Berdasarkan pada penelitian Mashudi dapat dipahami bahwa resiliensi merupakan kemampuan yang telah dimiliki setiap individu secara alami sebagai manusia. Namun, tidak semua individu memiliki tingkat kapasitas resiliensi yang tinggi dan merata karena resiliensi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dirangkum menurut Norman diantaranya efikasi diri, penilaian realistis terhadap lingkungan, kemampuan memecahan masalah, keterampilan merencanakan dan menetapkan tujuan, kemampuan menunjukkan berempati, kemampuan buat memakai humor secara efektif, keterampilan dalam menjaga jarak dengan adaptif, peran seks androgini. (Mashudi, 2016) Faktor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan hidup berupa pengendalian diri dapat memberikan pengaruh dalam mengembangkan dan meningkatkan resiliensi individu. Kemampuan tersebut merupakan bagian dari aspek kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional adalah suatu keterampilan emosi yang harus dimiliki perawat. Menurut Gunu & Oladepo mengatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu pada hal memahami, mengenali, dan mengasimilasi emosi, mengetahui pesan dan makna dari emosi. (Riyanto & Mudian, 2019) Berdasarkan laporan forum The Future of Job, World Economic Forum yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional menempati keenam teratas dari sepuluh keterampilan yang paling dibutuhkan setelah tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa di masa depan kecerdasaan emosional berperan penting untuk berkembang dalam revolusi industri dan tenaga kerja masa depan perlu menyelaraskan keahliannya untuk mengimbangi hal tersebut. (Gray, 2016) Kecerdasan emosional sangat berpengaruh di dunia kerja karena memungkinan pegawai buat mengelola emosi dengan lebih Tri Ismu Pujiyanto / Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Vol 5 No 2, November 2022 baik agar mereka dapat bekerja dengan akurat dan efisien dalam mencapai tujuan maupun sasaran target perusahaan. (Rachmadani, 2018) Berdasarkan hasil survey awal melalui wawancara pada salah satu perawat di ruangan is (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.ppnijateng.org/index.php/jkmk/article/download/1905/737
Article home page: https://journal.ppnijateng.org/index.php/jkmk/article/view/1905/737

Tri Ismu Pujiyanto, Elliya Noor Putri, Eni Kusyati. Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat, Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, 2022, pp. 94-103,