ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL: Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia
Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional
Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013
ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL:
Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia
Andi Purwono
Dosen Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Email:
Abstract
The current international security threat is not solely within the context
of high politics. Conflict of communal identity has frequently become
one of the real threats. Within this context, the treatment of state actors
has not been sufficient. Diplomatic participation of private groups such
as religious ones is getting more obvious. This article is particularly
aimed at elaborating diplomatic efforts by Nahdhatul Ulama, one of the
most influential Islamic organizations in Indonesia, in its contributions
to establish worldly peace in both principles and practices.
Key words: religious organization, international peace, diplomacy
A. Pendahuluan
Hubungan internasional paska perang dingin ditandai dengan
berkembangnya aktor dan isu. Di ranah aktor, bermunculan aktor- aktor bukan
negara (non state actors) yang melakukan berbagai praktek hubungan internasional
baik yang mengarah pada kerjasama dan perdamaian maupun ke arah konflik dan
pertikaian. Negara tidak lagi menjadi dominant actor meski tetap menjadi primary
actor.1
Di ranah isu, perhatian umat manusia tidak lagi terfokus pada high politics
berupa persoalan keamanan nasional dan militer semata, tetapi isu- isu yang semula
masuk kategori low politics justru semakin mengemuka. Dampaknya, gangguan
terhadap keamanan dan ketertiban internasional pun bukan monopoli isu national
security itu. Ancaman keamanan non-tradisional seperti isu lingkungan hidup,
penyebaran penyakit, kejahatan transnasional dan lainnya, juga mengancam
perdamaian global. Conflicts of communal identity yang biasanya berbasis agama,
etnisitas, ras, klan, suku, atau identitas lainnya menjadi salah satu yang mengemuka.
1
Conway Henderon, International Relations: Conflict and Cooperation at the Turn of 21st
Century (Singapore: McGraw Hill, 1998) khususnya chapter 3 tentang aktor-aktor hubungan
internasional.
Andi Purwono
Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional
Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013
Dalam dunia yang berubah seperti itu, amanat pembukaan UUD 1945
menuntun kita untuk terus berupaya memainkan peran aktif dalam menciptakan
perdamaian dunia. Ancaman keamanan internasional yang berkaitan dengan isu
agama juga tidak luput dari diplomasi kita. Fakta Indonesia sebagai negara
berpenduduk muslim terbesar menguatkan hal itu.
Salah satu organisasi keagamaan yang turut berperan penting dalam
kehidupan sosial politik Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU). Sejak awal
pendiriannya NU telah berupaya melakukan partisipasi diplomasi di ranah hubungan
internasional dengan pengiriman delegasi Komite Hijaz kepada pemerintah Saudi
Arabia demi tujuan menjamin toleransi dalam praktek beragama. Bagaimana
diplomasi yang dikembangkan NU dalam menangani berbagai problem yang
mengancam keamanan internasional, baik dari sisi prinsip maupun prakteknya ?
B. Agama: Antara Kekuatan Konflik atau Damai
Agama sejak lama terpinggirkan dalam studi dan praktek hubungan
internasional modern. Dalam perspektif sejarah diplomasi Eropa, perjanjian
Westphalia 1648 dirujuk sebagai momentum awalnya. Sebaliknya, praktek real
politics atau power politics atau match politics berbasis kepentingan lebih
mendominasi. Ini bisa cermati misalnya dari fakta bahwa realisme (dan bukan
idealisme) politik internasional yang menjadi perpsektif dominan hubungan
internasional. Meski demikian, sebenarnya sepanjang sejarah, agama membentuk
identitas politik signifikan dan memainkan peran penting dalam politik global.2
Abad ke-21 ini juga menyadarkan kita untuk kembali memperhatikan
persoalan agama dalam kajian hubungan internasional. Berakhirnya perang dingin,
publikasi artikel clash of civilization (benturan peradaban) Huntington, hingga
tragedi 11 September 2001 disebut-sebut banyak pihak sebagai faktor- faktor yang
turut mendorongnya. Artinya, seiring perkembangan global, agama semakin
diyakini perannya dalam hubungan internasional.3 Bahkan dewasa ini, agama dinilai
sebagai sumber identitas yang semakin bersaing dengan kewarganegaraan dalam
mendapat loyalitas masyarakat.
Agama adalah fenomena transnasional yang ibarat dua sisi mata uang
berpotensi menciptakan harmoni dan konflik.4 Ghirah (sentimen) agama begitu
2
Richard W. Mansbach dan Kirsten L. Raffery, Pengantar Politik Global (Bandung:Nusamedia,
2012), h. 859.
3
seperti dalam artikel Monica Duffy Toft, Religion Matters in International Relations dalam
http://www.huffingtonpost.com/monica-duffy-toft/turning-religious-and-mul_b_481237.html
4
Charles W. Kegley and Eugene R. Witkopf, Global Politics: Trend and Transformation. 6th
Edition (New York: St martin Pressl, 1997). Untuk melihat kaitan agama, sebagai bagian dari identitas
sosial yang mengancam keamanan bisa dibaca di Peter Hough, Understanding Global Security. 2nd
Andi Purwono
Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional
Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013
gampang beresonansi menjadi kekuatan yang menyebar ke segala penjuru bumi
dengan besaran yang tak terkirakan. Pengaruh agama dalam hubungan
internasional seperti tercantum dalam karya Jonathan Fox, The Multiple Impacts of
Religion on International Relations: Perceptions and Reality5 meliputi empat hal yaitu
sources of legitimacy for states and its opponent, religious world view, local religious
conflicts are international issues, transnational religious phenomena and issues. Oleh
karenanya pengaruh agama dalam politik internasional menjadi tak terelakkan.
Namun kalau kita memakai pemikiran perspektif instrumentalism dalam
melihat peran agama dalam konflik sebagaimana terwakili pemikir seperti Dieter
Senghaas misalnya, sebenarnya jarang sekali agama menjadi variabel asli penyebab
konflik.6 Yang banyak terjadi justru fakta bahwa agama dieksploitasi untuk tujuan
politis, ekonomi, dan sosial sehingga memicu konflik. Senada dengan ini adalah
pandangan yang menyebut bahwa agama sering memainkan peran penting dalam
perang, namun sebenarnya jarang sekali menjadi penyebabnya.7
Sementara itu Shireen T. Hunter dalam artikel Religion and International
Affairs: From Neglect to Over-Emphasis menyebut bahwa agama mempengaruhi
hubungan internasional dengan cara yang sama dengan sistem nilai dan ideologi
yang lain yaitu dengan mempengaruhi perilaku negara dan aktor bukan negara.
Dengan kata lain, agama berperan sama dengan ideologi- ideologi lain untuk
melegitimasi keputusan kebijakan dan mengumpulkan dukungan populer bagi
kebijakan itu.8 Sesuai sistem politiknya masing- masing, pegaruh agama bisa dilacak
pada aktivititas kelompok agama, yang ditujukan untuk mempengaruhi perilaku
negara dalam sistem demokratis, maupun pada kecenderungan para pemimpin
politik kunci. Agama telah mempengaruhi perila (...truncated)