ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL: Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia

Jurnal Politik Profetik, May 2016

The current international security threat is not solely within the context of high politics. Conflict of communal identity has frequently become one of the real threats. Within this context, the treatment of state actors has not been sufficient. Diplomatic participation of private groups such as religious ones is getting more obvious. This article is particularly aimed at elaborating diplomatic efforts by Nahdhatul Ulama, one of the most influential Islamic organizations in Indonesia, in its contributions to establish worldly peace in both principles and practices.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/jpp/article/download/951/932

ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL: Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia

Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013 ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL: Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia Andi Purwono Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang Email: Abstract The current international security threat is not solely within the context of high politics. Conflict of communal identity has frequently become one of the real threats. Within this context, the treatment of state actors has not been sufficient. Diplomatic participation of private groups such as religious ones is getting more obvious. This article is particularly aimed at elaborating diplomatic efforts by Nahdhatul Ulama, one of the most influential Islamic organizations in Indonesia, in its contributions to establish worldly peace in both principles and practices. Key words: religious organization, international peace, diplomacy A. Pendahuluan Hubungan internasional paska perang dingin ditandai dengan berkembangnya aktor dan isu. Di ranah aktor, bermunculan aktor- aktor bukan negara (non state actors) yang melakukan berbagai praktek hubungan internasional baik yang mengarah pada kerjasama dan perdamaian maupun ke arah konflik dan pertikaian. Negara tidak lagi menjadi dominant actor meski tetap menjadi primary actor.1 Di ranah isu, perhatian umat manusia tidak lagi terfokus pada high politics berupa persoalan keamanan nasional dan militer semata, tetapi isu- isu yang semula masuk kategori low politics justru semakin mengemuka. Dampaknya, gangguan terhadap keamanan dan ketertiban internasional pun bukan monopoli isu national security itu. Ancaman keamanan non-tradisional seperti isu lingkungan hidup, penyebaran penyakit, kejahatan transnasional dan lainnya, juga mengancam perdamaian global. Conflicts of communal identity yang biasanya berbasis agama, etnisitas, ras, klan, suku, atau identitas lainnya menjadi salah satu yang mengemuka. 1 Conway Henderon, International Relations: Conflict and Cooperation at the Turn of 21st Century (Singapore: McGraw Hill, 1998) khususnya chapter 3 tentang aktor-aktor hubungan internasional. Andi Purwono Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013 Dalam dunia yang berubah seperti itu, amanat pembukaan UUD 1945 menuntun kita untuk terus berupaya memainkan peran aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Ancaman keamanan internasional yang berkaitan dengan isu agama juga tidak luput dari diplomasi kita. Fakta Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menguatkan hal itu. Salah satu organisasi keagamaan yang turut berperan penting dalam kehidupan sosial politik Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU). Sejak awal pendiriannya NU telah berupaya melakukan partisipasi diplomasi di ranah hubungan internasional dengan pengiriman delegasi Komite Hijaz kepada pemerintah Saudi Arabia demi tujuan menjamin toleransi dalam praktek beragama. Bagaimana diplomasi yang dikembangkan NU dalam menangani berbagai problem yang mengancam keamanan internasional, baik dari sisi prinsip maupun prakteknya ? B. Agama: Antara Kekuatan Konflik atau Damai Agama sejak lama terpinggirkan dalam studi dan praktek hubungan internasional modern. Dalam perspektif sejarah diplomasi Eropa, perjanjian Westphalia 1648 dirujuk sebagai momentum awalnya. Sebaliknya, praktek real politics atau power politics atau match politics berbasis kepentingan lebih mendominasi. Ini bisa cermati misalnya dari fakta bahwa realisme (dan bukan idealisme) politik internasional yang menjadi perpsektif dominan hubungan internasional. Meski demikian, sebenarnya sepanjang sejarah, agama membentuk identitas politik signifikan dan memainkan peran penting dalam politik global.2 Abad ke-21 ini juga menyadarkan kita untuk kembali memperhatikan persoalan agama dalam kajian hubungan internasional. Berakhirnya perang dingin, publikasi artikel clash of civilization (benturan peradaban) Huntington, hingga tragedi 11 September 2001 disebut-sebut banyak pihak sebagai faktor- faktor yang turut mendorongnya. Artinya, seiring perkembangan global, agama semakin diyakini perannya dalam hubungan internasional.3 Bahkan dewasa ini, agama dinilai sebagai sumber identitas yang semakin bersaing dengan kewarganegaraan dalam mendapat loyalitas masyarakat. Agama adalah fenomena transnasional yang ibarat dua sisi mata uang berpotensi menciptakan harmoni dan konflik.4 Ghirah (sentimen) agama begitu 2 Richard W. Mansbach dan Kirsten L. Raffery, Pengantar Politik Global (Bandung:Nusamedia, 2012), h. 859. 3 seperti dalam artikel Monica Duffy Toft, Religion Matters in International Relations dalam http://www.huffingtonpost.com/monica-duffy-toft/turning-religious-and-mul_b_481237.html 4 Charles W. Kegley and Eugene R. Witkopf, Global Politics: Trend and Transformation. 6th Edition (New York: St martin Pressl, 1997). Untuk melihat kaitan agama, sebagai bagian dari identitas sosial yang mengancam keamanan bisa dibaca di Peter Hough, Understanding Global Security. 2nd Andi Purwono Organisasi Keagamaan dan Keamanan Internasional Jurnal Politik Profetik Volume 2 Nomor 2 Tahun 2013 gampang beresonansi menjadi kekuatan yang menyebar ke segala penjuru bumi dengan besaran yang tak terkirakan. Pengaruh agama dalam hubungan internasional seperti tercantum dalam karya Jonathan Fox, The Multiple Impacts of Religion on International Relations: Perceptions and Reality5 meliputi empat hal yaitu sources of legitimacy for states and its opponent, religious world view, local religious conflicts are international issues, transnational religious phenomena and issues. Oleh karenanya pengaruh agama dalam politik internasional menjadi tak terelakkan. Namun kalau kita memakai pemikiran perspektif instrumentalism dalam melihat peran agama dalam konflik sebagaimana terwakili pemikir seperti Dieter Senghaas misalnya, sebenarnya jarang sekali agama menjadi variabel asli penyebab konflik.6 Yang banyak terjadi justru fakta bahwa agama dieksploitasi untuk tujuan politis, ekonomi, dan sosial sehingga memicu konflik. Senada dengan ini adalah pandangan yang menyebut bahwa agama sering memainkan peran penting dalam perang, namun sebenarnya jarang sekali menjadi penyebabnya.7 Sementara itu Shireen T. Hunter dalam artikel Religion and International Affairs: From Neglect to Over-Emphasis menyebut bahwa agama mempengaruhi hubungan internasional dengan cara yang sama dengan sistem nilai dan ideologi yang lain yaitu dengan mempengaruhi perilaku negara dan aktor bukan negara. Dengan kata lain, agama berperan sama dengan ideologi- ideologi lain untuk melegitimasi keputusan kebijakan dan mengumpulkan dukungan populer bagi kebijakan itu.8 Sesuai sistem politiknya masing- masing, pegaruh agama bisa dilacak pada aktivititas kelompok agama, yang ditujukan untuk mempengaruhi perilaku negara dalam sistem demokratis, maupun pada kecenderungan para pemimpin politik kunci. Agama telah mempengaruhi perila (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/jpp/article/download/951/932
Article home page: https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/jpp/article/view/951/932

Andi Purwono. ORGANISASI KEAGAMAAN DAN KEAMANAN INTERNASIONAL: Beberapa Prinsip dan Praktik Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia, Jurnal Politik Profetik, 2016,