ETNOZOOLOGI RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT MELAYU KETAPANG DI DUSUN BINA USAHA DESA PESAGUAN KANAN KECAMATAN MATAN HILIR SELATAN KABUPATEN KETAPANG
JURNAL HUTAN LESTARI (2024)
Vol. 12 (1): 124 – 135
ETNOZOOLOGI RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT MELAYU
KETAPANG DI DUSUN BINA USAHA DESA PESAGUAN KANAN
KECAMATAN MATAN HILIR SELATAN KABUPATEN KETAPANG
(Ethnozoology traditional and mystical rituals of the ketapang malay community in the bina
usaha of pesaguan village, matan hilir selatan sub-district ketapang)
Abdullah Sahal*, Muhammad Sofwan Anwari, Iskandar AM
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak, Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124
*e-mail:
Abstract
Kalimantan Island has a very high level of biodiversity, flora and fauna fauna that can still be
found in the forests of Borneo. The Ketapang Malays in the Bina Usaha Village of Pesaguan
Kanan are one of the original ethnic groups of West Kalimantan who currently still utilize
biological resources to fulfill their needs, one of which is the use of animals for traditional and
mystical rituals. The purpose of this research is to record what animals are used for traditional
and mystical rituals by the Ketapang Malay community. The data collection technique was
carried out by in-depth interviews with respondents who were selected using the survey method
and the selection of respondents was carried out using the snowball sampling technique.
Respondents amounted to 9 people and data collection using a questionnaire. The results showed
that there were 16 species of animals used for Traditional and Mystical Rituals, consisting of 2
animals for Traditional Rituals and 14 animals for Mystics. The part that is used is the whole
body and voice.
Keywords: Ethnozoology, Ketapang Malay, Traditional and Mystical Rituals
Abstrak
Pulau Kalimantan memiliki tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi, flora dan faunanya
yang masih dapat di temui di dalam hutan Kalimantan. Suku Melayu Ketapang di Dusun Bina
Usaha Desa Pesaguan Kanan merupakan salah satu etnis asli Kalimantan Barat yang saat ini
masih memanfaatkan sumber daya hayati untuk memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya
pemanfaatan satwa untuk Ritual Adat dan Mistis. Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis satwa
yang dimanfaatkan untuk Ritual Adat dan Mistis oleh masyarakat Melayu Ketapang. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap responden yang terpilih
dengan menggunakan metode survey dan pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan
teknik snowball sampling. Responden berjumlah 9 orang dan pengumpulan data menggunakan
bantuan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa satwa yang dimanfaatkan untuk Ritual
Adat dan Mistis sebanyak 16 jenis satwa, yang terdiri dari 2 satwa untuk Ritual Adat dan 14
satwa untuk mistis. Bagian yang dimanfaatkan adalah seluruh badan dan suaranya.
Kata kunci: Etnozoologi, Melayu Ketapang, Ritual Adat dan Mistis
PENDAHULUAN
Pulau Kalimantan memiliki tingkat
keanekaragaman hayati yang sangat
tinggi, flora dan faunanya masih dapat
kita temui di dalam hutan Kalimantan.
Keanekaragaman hayati yang tersebar di
hutan Kalimantan sangat besar, yang
memiliki kekayaan berupa tumbuhan
maupun hewan. Flora dan fauna sangat
berkaitan dengan manusia, sehingga
kekayaan yang dimiliki tidak selamanya
utuh seiring perkembangan zaman dan
eksploitasi oleh manusia (Suparlan,
2005).
124
JURNAL HUTAN LESTARI (2024)
Vol. 12 (1): 124 – 135
Masyarakat Melayu Ketapang di
Dusun Bina Usaha Desa Pesaguan
Kanan
khususnya
merupakan
masyarakat desa yang terletak di bagian
selatan Kota Ketapang. Desa ini masih
memiliki pengetahuan tradisional yang
diwariskan secara turun temurun dalam
memanfaatkan alam maupun satwa
meskipun demikian belum ada catatan
ilmiah yang terdokumentasi mengenai
ragam Etnozoologi di Desa Pesaguan
Kanan. Suku-suku asli yang mendiami
suatu
tempat
sangat
mengenal
sumberdaya hayati di lingkungan yang
telah beradaptasi dan terlatih untuk
memanfaatkan
flora
dan
fauna
(Indrawan et al., 2007).
Dusun
Bina
Usaha
dalam
memanfaatkan
sumberdaya
alam
termasuk satwa dapat dilihat dari mata
pencarian masyarakat setempat yang
masih mengandalkan berburu hewan di
dalam kawasan hutan untuk berbagai
kebutuhan seperti Ritual Adat dan
Mistis. Masyarakat Melayu Desa Nanga
Betung memanfaatkan 8 satwa untuk
Ritual Adat dan Mistis (Sukma et al.,
2019).
Pemanfaatan hewan yang sudah
sejak dahulu hingga sekarang masih ada
masyarakat memanfaatkan hewan liar
yang ada di sekitar hutan desa pesaguan
kanan. Berdasarkan pengamatan di
sekitar Desa Pesaguan Kanan ada
beberapa kawasan hutannya telah
dijadikan perkebunan sawit dan
pertambangan emas sehingga kegiatan
tersebut sangat mengancam keberadaan
satwa yang ada di dalamnya dan habitat
satwa liar akan berkurang akibat
pembukanan lahan hutan tersebut,
sementara itu masyarakat masih
ketergantungan pada hutan sebagai mata
pencahariannya dan pemanfaatan satwa
yang
sangat
tinggi
sehingga
dikhawatirkan satwa yang dimanfaatkan
oleh masyarakat Melayu Ketapang di
Dusun Bina Usaha Desa Pesaguan
Kanan akan berkurang.
Desa Pesaguan Kanan terdapat 4
Dusun salah satunya Dusun Bina Usaha
yang masih tergantung terhadap hutan.
Masyarakat memiliki keanekaragaman
dalam memanfaatkan satwa untuk
berbagai keperluan baik untuk mistis,
ritual adat, obatan, konsumsi dan
kesenian. Masuknya teknologi dan
informasi akan berpengaruh terhadap
budaya
mereka
dan
hilangnya
pengetahuan lokal tentang pemanfaatan
satwa. Tujuan penelitian ini adalah
Mendata jenis satwa yang dimanfaatkan
untuk Ritual Adat dan Mistis serta
Mengkaji pemanfaatan satwa untuk
Ritual Adat dan Mistis oleh masyarakat
Melayu ketapang di Dusun Bina Usaha
Desa Pesaguan Kanan Kecamatan Matan
Hilir Selatan Kabupaten Ketapang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Dusun
Bina Usaha Desa Pesaguan Kanan
Kecamatan Matan Hilir Selatan
Kabupaten Ketapang. Waktu penelitian
dilakukan selama ± 4 minggu. Alat yang
digunakan berupa kuesioner, alat tulis,
kamera, buku identifikasi jenis satwa.
Objek yang diteliti dalam penelitian
ini adalah pengetahuan lokal masyarakat
Melayu
Desa
Pesaguan
Kanan
Kecamatan Matan Hilir Selatan
125
JURNAL HUTAN LESTARI (2024)
Vol. 12 (1): 124 – 135
Kabupaten Ketapang. Pelaksanaan
Pengumpulan Data menggunakan data
primer dan sekunder, data primer adalah
data yang diperoleh secara langsung dari
objek penelitian yaitu masyarakat
Melayu Ketapang Dusun Bina Usaha
Desa Pesaguan Kanan Kecamatan Matan
Hilir Selatan Kabupaten Ketapang. Data
primer yang diambil pada penelitian ini
adalah nama hewan, cara mendapatkan
atau
menangkap,
bagian
yang
dimanfaatkan, cara pengolahan, cara
penggunaan
dan
kegunaannya.
Sedangkan data sekunder adalah data
yang bersifat penunjang yaitu meliputi
keadaan sosial, tingkat pendidikan,
jenjang umur dan keadaan umum lokasi.
Metode
pengumpulan
data
dilakukan dengan metode survei dan
wawancara terhadap responden yang
dilengkapi dengan kuisioner. Penentuan
responden dilakukan menggunakan
teknik snowball sampling yaitu
menentukan responden kunci untuk
kemudian
menentukan
responden
lainnya berdasarkan informasi dari
responden sebelumnya, demikian juga
untuk seterusny (...truncated)