Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi terhadap Pola Perilaku Makan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2023 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Junior Medical Journal, Volume 2, No. 7, Maret 2024
Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi terhadap Pola Perilaku Makan
pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan
2023 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
The Relationship between The Level of Nutritional Knowledge and
Eating Behavior Patterns in Yarsi University Medical Faculty Students
Class of 2023 and A Review According to Islamic View
Shelly Martanti1, Lilian Batubara2 , M. Arsyad3, Edward Syam4
1Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI, Jakarta Indonesia
Agama Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta, Indonesia
3Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta, Indonesia
2Bagian
Koresponden:
KATA KUNCI
Gizi, Pengetahuan, Perilaku Makan, Mahasiswa
ABSTRAK
Mahasiswa adalah bagian dari masa remaja akhir dan dewasa
awal. Mahasiswa di Indonesia memiliki masalah gizi yang
disebabkan oleh perilaku gizi yang kurang baik. Masalah gizi
dapat dipengaruhi kondisi ekonomi dan tingkat pengetahuan
tentang gizi. Tingkat pengetahuan gizi ini dapat menjadi faktor
yang sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku makan.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang hubungan tingkat
pengetahuan terhadap perilaku makan pada mahasiswa fakultas
kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2023. Penelitian ini
merupakan
penelitian
analitik
observasional
dengan
menggunakan pendekatan studi cross-sectional. Sampel
penelitian ini berjumlah 76 responden. Data dianalisis secara
univariat dan bivariat dengan dibantu program SPSS. Hasil
menunjukkan bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI Angkatan 2023 memiliki tingkat pengetahuan
gizi kategori kurang baik 52 responden (53,1%) dan perilaku
makan kategori tidak sehat yaitu sebanyak 74 responden (75,5%).
Dari hasil uji Chi-Square, terdapat hubungan positif antara tingkat
pengetahuan gizi terhadap perilaku makan pada mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2023 dengan
nilai p-value (0,045).
KEYWORDS
Nutrition, Knowledge, Eating Behavior, Students.
ABSTRACT
College students are part of late adolescence and early adulthood.
Students in Indonesia have nutritional problems caused by improper
nutritional behavior. Nutritional problems stem from poor economic
circumstances and limited knowledge about nutrition. This level of
831
Junior Medical Journal, Volume 2, No. 7, Maret 2024
nutritional knowledge can be a very influential factor in eating attitudes
and behaviours. This study aims to examine the relationship between the
level of knowledge on eating behaviour in medical faculty students of
YARSI University Batch 2023. This research is an observational
analytic research using a cross-sectional study approach. The sample of
this study amounted to 76 respondents. Data were analyzed
univariately and bivariately with the help of the SPSS program. The
results showed that YARSI University Faculty of Medicine Batch 2023
students had a level of nutritional knowledge that was in the poor
category, namely 52 respondents (53.1%) and a level of eating behaviour
that was in the unhealthy category, namely 74 respondents (75.5%).
From the results of the Chi-Square test, there is a positive relationship
between the level of nutritional knowledge and eating behaviour in
students of the Faculty of Medicine, YARSI University Batch 2023 with
a p-value (0.045).
PENDAHULUAN
Mahasiswa adalah bagian dari
remaja akhir dan dewasa awal. Ratarata mahasiswa di Indonesia berada
direntang umur 18-24 tahun (Al
Jauziyah et al., 2021). Masa ini
merupakan masa peralihan dari anakanak menuju dewasa. Pada periode ini
banyak terjadi perubahan-perubahan
pada diri remaja, seperti perubahan
fisik yang akan mempengaruhi
komposisi tubuh dan kebutuhan gizi
dari makanan mereka. Masa ini juga
merupakan
masa
kritis
untuk
perkembangan pola perilaku makan
dan juga merupakan periode yang
berisiko untuk penambahan berat
badan. Pada periode ini kebutuhan zat
gizi semakin meningkat untuk tumbuh
dan kembang remaja. Gizi merupakan
suatu zat yang terdapat dalam
makanan
dan
minuman
yang
bermanfaat untuk tubuh sebagai
sumber energi untuk pertumbuhan
badan (Yani Lestari et al., 2022). Remaja
di Indonesia memiliki masalah gizi
yang disebabkan oleh perilaku gizi
yang
tidak
benar,
seperti
ketidakseimbangan konsumsi gizi
dengan
kecukupan
gizi
yang
seharusnya. Masalah gizi di Indonesia
banyak berasal dari keadaan ekonomi
yang
kurang
dan
terbatasnya
pengetahuan tentang gizi. (Al Jauziyah
et al., 2021)
Pengetahuan gizi merupakan
suatu pemahaman dalam pemilihan
berbagai makanan yang sehat dan
bergizi (Berliandita and Hakim, 2021;
Ramadhani et al., 2022). Pengetahuan
gizi juga merupakan pengetahuan
mengenai makanan yang aman
dikonsumsi dan pengolahan makanan
sehingga
suatu
makanan
tidak
menimbulkan masalah penyakit (Yani
Lestari et al., 2022). Pengetahuan gizi ini
sangat berkaitan dengan tingkat
pendidikan seseorang. Semakin tinggi
pendidikan yang ditempuh maka
pengetahuan
gizi
seseorang
diharapkan semakin baik sehingga
akan lebih memperhatikan pola
konsumsi makanan baik dari kualitas
maupun
kuantitas.
Tingkat
pengetahuan gizi dapat menjadi faktor
yang sangat berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku makan. Hal ini
dapat disebabkan karena apabila
832
Junior Medical Journal, Volume 2, No. 7, Maret 2024
pengetahuan gizi seseorang tidak
terpenuhi atau memadai dapat
menimbulkan perilaku makan yang
tidak sehat (Berliandita and Hakim,
2021). Jika perilaku makan diikuti oleh
pengetahuan gizi yang benar maka
kebutuhan gizi akan tercukupi dan
perilaku
makan
tersebut
akan
berlangsung lama (Paat et al., 2021).
Perilaku makan sendiri adalah
suatu sikap yang menggambarkan
perilaku seseorang terhadap pola
makan,
frekuensi
makan,
diet,
kesukaan, dan pemilihan makanan
(Namira and Indrawati, 2023). Menurut
penelitian Setyowati dkk pada tahun
2017, sebanyak 69,2% remaja memiliki
perilaku makan yang buruk. Pada
penelitian Lomanjaya & Soegiono
(2014), 80% remaja memiliki perilaku
makan kebiasaan melewatkan makan,
20% makan sebanyak 3 kali sehari, dan
60% mengganti makan makanan
dengan camilan (Luh et al., 2019).
Perilaku makan ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor internal dan eksternal.
Faktor eksternal berupa jumlah dan
karakteristik keluarga, peran orangtua,
teman sebaya, norma yang berlaku,
social media, mode, serta pengetahuan
gizi. Sedangkan faktor internal yang
berpengaruh adalah citra tubuh,
kebutuhan fisiologi, psikososial, serta
pemilihan dari makanan (Rahman,
Utami Dewi and Armawaty, 2016; Luh
et al., 2019). Pada remaja umumnya
memiliki perilaku makan asal kenyang
tanpa memperhatikan unsur gizi
didalamnya karena tidak mengetahui
perihal pengetahuan gizi. Hal ini dapat
mengakbitkan
timbulnya
kasus
permasalahan gizi seperti gizi kurang
atau gizi berlebih (Luh et al., 2019).
Peneliti juga melakukan pengamatan
terhadap
beberapa
mahasiswa
Universitas YARSI Angkatan 2023,
ditemukan 15 mahasiswa (4,9%)
memiliki kelebihan berat badan dan 6
mahasiswa (1,9%) memiliki berat badan
yang kuran (...truncated)