Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022
ISSN online 2774-6267
Vol. 4 No. 2 pp 50-59, 2024
Original Article
Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022
Zuhana Realita Alfy1*, Zakiah Fithah A’ini2
1
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI
2
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematiksa dan IPA, Universitas Indraprasta PGRI
*email:
Article History
Received:
08/06/2024
Revised:
16/07/2024
Accepted:
31/07/2024
Kata kunci:
Model stepwise
Prevalensi
stunting
Regresi linier
berganda
Stunting
Key word:
Stepwise Model
Prevalence of
stunting
Multiple linear
regression
Stunting
ABSTRAK
WHO menyatakan jika suatu wilayah memiliki angka prevalensi stunting lebih besar dari 20%
maka wilayah tersebut termasuk kategori wilayah yang dengan stunting tingkat kronis. Angka
prevalensi stunting di Indonesia tahun 2022 sekitar 21,6% artinya Indonesia mengalami stunting
tingkat kronis. Untuk mewujudkan negara yang berkembang maju dan makmur, maka Indonesia
harus melakukan usaha untuk menurunkan angka prevalensi stunting tersebut. Nusa Tenggara
Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka prevalensi stunting
yang masih berada di atas 20%. Melihat dari hasil studi yang dilakukan SSGI di tahun 2021,
prevalensi stunting NTT masih berada di 37,8%. Kemudian di tahun 2022 prevalensi stunting NTT
juga masih tinggi yaitu berada di angka 35,3%. Tingginya angka stunting di NTT terjadi karena
adanya banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor mana yang mempengaruhi
terjadinya stunting di NTT tahun 2022, sehingga diharapkan dapat membantu pemerintah setempat
dalam menentukan upaya dan usaha yang tepat untuk menurunkan angka kejadian stunting di
propinsi ini. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan data bersumber dari Badan Pusat
Statistik (BPS) NTT tahun 2022. Data untuk variabel terikat adalah presentase stunting balita (Y).
Data untuk variabel bebas menggunakan data rata-rata protein yang dikonsumsi dalam sehari (X1),
jumlah balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2), presentase penduduk miskin menurut
kabupaten/kota (X3), presentase anak lahir BBLR (X4), dan presentase perempuan yang menikah
sebelum berumur 18 tahun (X5). Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier
berganda, yang dilanjutkan dengan model stepwise. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan
faktor yang memiliki pengaruh terjadinya stunting di NTT tahun 2022 adalah jumlah protein yang
dikonsumsi dalam sehari (X1) dan balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2).
ABSTRACT
WHO states that if an area has a stunting prevalence rate greater than 20%, then the area is
included in the category of areas that are experiencing chronic stunting. By looking at the
prevalence of stunting in Indonesia in 2022, which is at 21.6% that Indonesia is still a country
experiencing chronic stunting. To create a developed and prosperous country, Indonesia must
make efforts to reduce the stunting prevalence rate. East Nusa Tenggara (NTT) is one of the
provinces in Indonesia that has a stunting prevalence rate that is still above 20%. Looking at the
results of a study conducted by SSGI in 2021, the prevalence of stunting in NTT is still at 37.8%.
Then in 2022 the prevalence of stunting in NTT is 35.3%. The high stunting rate in NTT occurs
due to many factors. This study aims to find out which factors affect the occurrence of stunting in
NTT at 2022, so that it is expected to help the local government in determining the right efforts
and efforts to reduce the incidence of stunting. This research includes quantitative research with
data sourced from the Badan Pusat Statistik (BPS) of NTT in 2022. The data used for the bound
variable was the percentage of stunting of toddlers (Y). The data for the independent variable uses
data on the average protein consumed in a day (X1), the number of toddlers have complete
immunization (X2), the percentage of poor people by district/city (X3), the percentage of children
born BBLR (X4), and the percentage of married women at age of 18 (X5). This study uses a
multiple linear regression analysis method, followed by a stepwise model. The results of this study
were that the factors that have an influence on the occurrence of stunting in NTT in 2022 were the
amount of protein consumed in a day (X1) and toddlers have complete immunization (X2).
Copyright © 2024 LPPM Universitas Indraprasta PGRI. All Right Reserved
10.30998/edubiologia.v4i2.23905
Alfi & A’ini. Determinan Sunting di Propinsi NTT
EduBiologia Volume 4 Number 2 Juli 2024
| 51
PENDAHULUAN
Setiap manusia akan melalui tahapan kehidupan
dimulai dari tahapan perkembangan didalam
kandungan (prenatal) sampai lanjut usia. Pada
tahapan bayi dan balita terjadi pertumbuhan fisik
dan kognitif yang sangat cepat, hal ini terjadi dari
usia 0 sampai 24 bulan awal kehidupan. Pada tahap
awal tersebut merupakan tahap pertumbuhan yang
dipengaruhi oleh pemenuhan gizi dan kesehatan
ibu saat hamil. Pertumbuhan dan perkembangan ini
dimulai dari tahap prenatal sampai anak berusia 24
bulan. Sehingga pemenuhan gizi dan kesehatan ibu
saat hamil menentukan pertumbuhan dan
perkembangan bayi saat dilahirkan sampai berusia
24 bulan.
Ketika seorang ibu sedang mengandung sampai
anak berusia 24 bulan setelah dilahirkan, terjadi
proses perkembangan dan pertumbuhan yang
sangat penting. Masa ini merupakan penentu
seorang
individu
memiliki
kemampuan
perkembangan fisik, mental, dan kognitif yang baik
dan berkembang dengan normal dan optimal
(Ahmadi, 2019). Masa ini merupakan tanggung
jawab orang tua untuk berusaha dan berupaya agar
anak mereka nantinya dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik, normal dan optimal.
Karena pada periode tersebut pertumbuhan dan
perkembangan anak tidak dapat diulang, sehingga
orang tua harus berusaha dan berupaya agar
pertumbuhan dan perkembangan bayi ketika
berada di dalam kandungan seorang ibu sampai
anak tersebut berada pada usia 24 bulan setelah
dilahirkan tercukupi pemenuhan gizinya baik unsur
mikronutrisi maupun makronutrisinya. Dengan
tercukupinya pemenuhan gizi bayi dimulai dari
dalam kandungan sampai usia 24 bulan setelah
dilahirkan nantinya hal ini dapat membantu anak
tersebut untuk bertumbuh dan berkembang dengan
optimal, memiliki ketahanan mental untuk
menghadapi kehidupannya, memiliki kemampuan
kognitif yang optimal untuk menjadikan anak
tersebut memiliki tingkat produktivitas yang tinggi
sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang bebas
dari kemiskinan dan dapat mencapai masa depan
yang baik serta memiliki fisik yang sehat tahan
terhadap penyakit.
Jika pemenuhan gizi dan kesehatan ibu saat
hamil tidak terpenuhi, maka akan terjadi suatu
pertumbuhan dan perkembangan bayi yang akan
mengalami kegagalan tumbuh (Oppusunggu et al.,
2024). Kegagalan tumbuh ini dikenal dengan
istilah Stunting. Stunting merupakan kondisi
seorang bayi, dimana bayi tersebut tidak
mendapatkan pemenuhan gizi yang cukup dan
10.30998/edubiologia.v4i2.23905 (...truncated)