Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022

EduBiologia: Biological Science and Education Journal, Jul 2024

WHO menyatakan jika suatu wilayah memiliki angka prevalensi stunting lebih besar dari 20% maka wilayah tersebut termasuk kategori wilayah yang dengan stunting tingkat kronis. Angka prevalensi stunting di Indonesia tahun 2022 sekitar 21,6% artinya Indonesia mengalami stunting tingkat kronis. Untuk mewujudkan negara yang berkembang maju dan makmur, maka Indonesia harus melakukan usaha untuk menurunkan angka prevalensi stunting tersebut. Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka prevalensi stunting yang masih berada di atas 20%. Melihat dari hasil studi yang dilakukan SSGI di tahun 2021, prevalensi stunting NTT masih berada di 37,8%. Kemudian di tahun 2022 prevalensi stunting NTT juga masih tinggi yaitu berada di angka 35,3%. Tingginya angka stunting di NTT terjadi karena adanya banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor mana yang mempengaruhi terjadinya stunting di NTT tahun 2022, sehingga diharapkan dapat membantu pemerintah setempat dalam menentukan upaya dan usaha yang tepat untuk menurunkan angka kejadian stunting di propinsi ini. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan data bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2022. Data untuk variabel terikat adalah presentase stunting balita (Y). Data untuk variabel bebas menggunakan data rata-rata protein yang dikonsumsi dalam sehari (X1), jumlah balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2), presentase penduduk miskin menurut kabupaten/kota (X3), presentase anak lahir BBLR (X4), dan presentase perempuan yang menikah sebelum berumur 18 tahun (X5). Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda, yang dilanjutkan dengan model stepwise. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan faktor yang memiliki pengaruh terjadinya stunting di NTT tahun 2022 adalah jumlah protein yang dikonsumsi dalam sehari (X1) dan balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2).

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/edubiologia/article/download/23905/6836

Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022

ISSN online 2774-6267 Vol. 4 No. 2 pp 50-59, 2024 Original Article Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022 Zuhana Realita Alfy1*, Zakiah Fithah A’ini2 1 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI 2 Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematiksa dan IPA, Universitas Indraprasta PGRI *email: Article History Received: 08/06/2024 Revised: 16/07/2024 Accepted: 31/07/2024 Kata kunci: Model stepwise Prevalensi stunting Regresi linier berganda Stunting Key word: Stepwise Model Prevalence of stunting Multiple linear regression Stunting ABSTRAK WHO menyatakan jika suatu wilayah memiliki angka prevalensi stunting lebih besar dari 20% maka wilayah tersebut termasuk kategori wilayah yang dengan stunting tingkat kronis. Angka prevalensi stunting di Indonesia tahun 2022 sekitar 21,6% artinya Indonesia mengalami stunting tingkat kronis. Untuk mewujudkan negara yang berkembang maju dan makmur, maka Indonesia harus melakukan usaha untuk menurunkan angka prevalensi stunting tersebut. Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka prevalensi stunting yang masih berada di atas 20%. Melihat dari hasil studi yang dilakukan SSGI di tahun 2021, prevalensi stunting NTT masih berada di 37,8%. Kemudian di tahun 2022 prevalensi stunting NTT juga masih tinggi yaitu berada di angka 35,3%. Tingginya angka stunting di NTT terjadi karena adanya banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor mana yang mempengaruhi terjadinya stunting di NTT tahun 2022, sehingga diharapkan dapat membantu pemerintah setempat dalam menentukan upaya dan usaha yang tepat untuk menurunkan angka kejadian stunting di propinsi ini. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan data bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2022. Data untuk variabel terikat adalah presentase stunting balita (Y). Data untuk variabel bebas menggunakan data rata-rata protein yang dikonsumsi dalam sehari (X1), jumlah balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2), presentase penduduk miskin menurut kabupaten/kota (X3), presentase anak lahir BBLR (X4), dan presentase perempuan yang menikah sebelum berumur 18 tahun (X5). Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda, yang dilanjutkan dengan model stepwise. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan faktor yang memiliki pengaruh terjadinya stunting di NTT tahun 2022 adalah jumlah protein yang dikonsumsi dalam sehari (X1) dan balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap (X2). ABSTRACT WHO states that if an area has a stunting prevalence rate greater than 20%, then the area is included in the category of areas that are experiencing chronic stunting. By looking at the prevalence of stunting in Indonesia in 2022, which is at 21.6% that Indonesia is still a country experiencing chronic stunting. To create a developed and prosperous country, Indonesia must make efforts to reduce the stunting prevalence rate. East Nusa Tenggara (NTT) is one of the provinces in Indonesia that has a stunting prevalence rate that is still above 20%. Looking at the results of a study conducted by SSGI in 2021, the prevalence of stunting in NTT is still at 37.8%. Then in 2022 the prevalence of stunting in NTT is 35.3%. The high stunting rate in NTT occurs due to many factors. This study aims to find out which factors affect the occurrence of stunting in NTT at 2022, so that it is expected to help the local government in determining the right efforts and efforts to reduce the incidence of stunting. This research includes quantitative research with data sourced from the Badan Pusat Statistik (BPS) of NTT in 2022. The data used for the bound variable was the percentage of stunting of toddlers (Y). The data for the independent variable uses data on the average protein consumed in a day (X1), the number of toddlers have complete immunization (X2), the percentage of poor people by district/city (X3), the percentage of children born BBLR (X4), and the percentage of married women at age of 18 (X5). This study uses a multiple linear regression analysis method, followed by a stepwise model. The results of this study were that the factors that have an influence on the occurrence of stunting in NTT in 2022 were the amount of protein consumed in a day (X1) and toddlers have complete immunization (X2). Copyright © 2024 LPPM Universitas Indraprasta PGRI. All Right Reserved 10.30998/edubiologia.v4i2.23905 Alfi & A’ini. Determinan Sunting di Propinsi NTT EduBiologia Volume 4 Number 2 Juli 2024 | 51 PENDAHULUAN Setiap manusia akan melalui tahapan kehidupan dimulai dari tahapan perkembangan didalam kandungan (prenatal) sampai lanjut usia. Pada tahapan bayi dan balita terjadi pertumbuhan fisik dan kognitif yang sangat cepat, hal ini terjadi dari usia 0 sampai 24 bulan awal kehidupan. Pada tahap awal tersebut merupakan tahap pertumbuhan yang dipengaruhi oleh pemenuhan gizi dan kesehatan ibu saat hamil. Pertumbuhan dan perkembangan ini dimulai dari tahap prenatal sampai anak berusia 24 bulan. Sehingga pemenuhan gizi dan kesehatan ibu saat hamil menentukan pertumbuhan dan perkembangan bayi saat dilahirkan sampai berusia 24 bulan. Ketika seorang ibu sedang mengandung sampai anak berusia 24 bulan setelah dilahirkan, terjadi proses perkembangan dan pertumbuhan yang sangat penting. Masa ini merupakan penentu seorang individu memiliki kemampuan perkembangan fisik, mental, dan kognitif yang baik dan berkembang dengan normal dan optimal (Ahmadi, 2019). Masa ini merupakan tanggung jawab orang tua untuk berusaha dan berupaya agar anak mereka nantinya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, normal dan optimal. Karena pada periode tersebut pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat diulang, sehingga orang tua harus berusaha dan berupaya agar pertumbuhan dan perkembangan bayi ketika berada di dalam kandungan seorang ibu sampai anak tersebut berada pada usia 24 bulan setelah dilahirkan tercukupi pemenuhan gizinya baik unsur mikronutrisi maupun makronutrisinya. Dengan tercukupinya pemenuhan gizi bayi dimulai dari dalam kandungan sampai usia 24 bulan setelah dilahirkan nantinya hal ini dapat membantu anak tersebut untuk bertumbuh dan berkembang dengan optimal, memiliki ketahanan mental untuk menghadapi kehidupannya, memiliki kemampuan kognitif yang optimal untuk menjadikan anak tersebut memiliki tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang bebas dari kemiskinan dan dapat mencapai masa depan yang baik serta memiliki fisik yang sehat tahan terhadap penyakit. Jika pemenuhan gizi dan kesehatan ibu saat hamil tidak terpenuhi, maka akan terjadi suatu pertumbuhan dan perkembangan bayi yang akan mengalami kegagalan tumbuh (Oppusunggu et al., 2024). Kegagalan tumbuh ini dikenal dengan istilah Stunting. Stunting merupakan kondisi seorang bayi, dimana bayi tersebut tidak mendapatkan pemenuhan gizi yang cukup dan 10.30998/edubiologia.v4i2.23905 (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/edubiologia/article/download/23905/6836
Article home page: https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/edubiologia/article/view/23905/6836

Alfy Zuhana Realita, A'ini Zakiah Fithah Indraprasta PGRI University. Determinan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2022, EduBiologia: Biological Science and Education Journal, 2024, pp. 50-59,