PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO

COPE, Sep 2016

Keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V yang rendah mengakibatkan rendahnya keberhasilan belajar siswa. Kondisi ini dikarenakan masih ditemui pembelajaran yang berpusat pada guru. Guru kurang mempercayakan kepada siswanya yang pandai untuk membelajarkan kepada temannya yang kurang mampu. Akibatnya siswa kurang terampil dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penelitian tindakan ini menggunakan metode peer tutoring dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya. Guru bertindak sebagai narasumber utama. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Pandowan, Brosot, Galur, Kulon Progo. Siswa kelas V sebanyak 24 siswa terdiri 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Dari data yang diperoleh pada siklus I, 5 siswa (20,83%) mendapat kriteria baik sekali, 7 siswa (29,17%) mendapat kriteria baik, 10 siswa (41,67%) mendapat kriteria cukup, dan 2 siswa (8,33%) mendapat kriteria perlu bimbingan. Pada siklus II terdapat peningkatan keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika yaitu 9 siswa (37,50%) mendapat kriteria baik, dan 15 siswa (62,50%) mendapat kriteria baik sekali. Hasil belajar siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Pada siklus I hasil rata-rata test akhir diperoleh nilai rata-rata 68,75. Pada siklus II tes akhir diperoleh nilai rata-rata 96,75

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.uny.ac.id/index.php/cope/article/download/10789/8114

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO

Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO Siti Sugiarti Guru di SDN 1 Pandowan, Galur, Kulon Progo Abstrak Keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V yang rendah mengakibatkan rendahnya keberhasilan belajar siswa. Kondisi ini dikarenakan masih ditemui pembelajaran yang berpusat pada guru. Guru kurang mempercayakan kepada siswanya yang pandai untuk membelajarkan kepada temannya yang kurang mampu. Akibatnya siswa kurang terampil dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penelitian tindakan ini menggunakan metode peer tutoring dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya. Guru bertindak sebagai narasumber utama. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Pandowan, Brosot, Galur, Kulon Progo. Siswa kelas V sebanyak 24 siswa terdiri 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Dari data yang diperoleh pada siklus I, 5 siswa (20,83%) mendapat kriteria baik sekali, 7 siswa (29,17%) mendapat kriteria baik, 10 siswa (41,67%) mendapat kriteria cukup, dan 2 siswa (8,33%) mendapat kriteria perlu bimbingan. Pada siklus II terdapat peningkatan keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika yaitu 9 siswa (37,50%) mendapat kriteria baik, dan 15 siswa (62,50%) mendapat kriteria baik sekali. Hasil belajar siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Pada siklus I hasil rata-rata test akhir diperoleh nilai rata-rata 68,75. Pada siklus II tes akhir diperoleh nilai rata-rata 96,75. Kata kunci: soal cerita Matematika, metode peer tutoring, keterampilan siswa SD Pendahuluan Mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di satuan pendidikan yang paling sedikit peminatnya. Hal ini diperkuat dengan informasi dari para guru dari berbagai satuan pendidikan khususnya di Kecamatan Galur, baik di kelas rendah (kelas I-III) maupun di kelas tinggi (kelas IV-VI), peserta didik masih merasa kesulitan jika harus menyelesaikan pertanyaan/soal cerita Matematika. Ini dibuktikan juga dari hasil pratindakan dalam satu kelas terdapat 58,33% peserta didik memperoleh nilai di bawah KKM (75) dan nilai rata-rata kelas diperoleh 56,125 dengan rata-rata kriteria cukup. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya perubahan dalam metode pembelajaran, apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional dan apa yang menjadi harapan dari kurikulum 2013 tidak akan tercapai dengan baik. Berdasarkan psikologi perkembangan anak, anak usia sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai hal-hal yang sifatnya kerja sama, mereka lebih tertarik cerita teman daripada guru sebagai pengajarnya. 17 Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016 Oleh karena itu, metode peer tutoring (metode tutor sebaya) merupakan solusi tepat dalam menghadapi kendala-kendala dalam pembelajaran tersebut. Pembelajaran dengan metode tutor sebaya terpusat pada peserta didik. Dalam hal ini peserta didik belajar dari peserta didik yang lain yang memiliki status umur, kematangan/harga diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri sehingga anak tidak begitu merasa terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap dari “gurunya” yang tidak lain adalah teman sebayanya sendiri. Dalam tutor sebaya, teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Jika hal itu dilakukan dengan pembiasaan, maka apa yang menjadi tujuan pendidikan di tingkat satuan pendidikan khususnya dan negara pada umunya akan tercapai. Dengan mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dari peserta didik, tidak ada materi yang mereka anggap sulit, sehingga keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita matematikapun meningkat. Pengertian soal cerita Matematika adalah soal yang disajikan dalam bentuk uraian atau cerita baik secara lisan maupun tulisan (Solichan, 2000:14). Soal cerita wujudnya berupa kalimat verbal sehari-hari yang makna dari konsep dan ungkapannya dapat dinyatakan dalam simbol dan relasi Matematika. Memahami makna konsep dan ungkapan dalam soal cerita serta mengubahnya dalam simbol dan relasi Matematika sehingga menjadi model Matematika bukanlah hal yang mudah bagi sebagian siswa. Berdasarkan hal tersebut, masalah (soal cerita) bukan hanya diberikan setelah teori Matematikanya didapat siswa sehingga para siswa hanya belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan Matematika yang didapat dan tidak pernah atau sedikit sekali mendapat kesempatan memecahkan masalah yang terkategori sebagai masalah proses. Agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami simbol, operasi dan relasi yang sesuai untuk memecahkan soal cerita, guru perlu mendiskusikan “kata-kata kunci” dalam soal cerita yang sesuai dengan proses penanaman konsep-konsep matematika. Contoh : a) Operasi Penjumlahan Simbol : + Kata kunci : ditambah, digabung, diberi, dikumpulkan, jumlah dari. b) Operasi Pengurangan Simbol : – Kata kunci : dikurangi, diambil, diberikan, hilang, rusak. c) Operasi Perkalian Simbol : x Kata kunci : kelipatan, digandakan, diperbesar, diperbanyak d) Operasi Pembagian Simbol : : Kata kunci : dibagikan, dikelompokkan, dipisahkan. (Winarno, 2003 : 3 – 4) Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menyelesaikan soal cerita siswa dituntut kemampuan memahami masalah baik dari segi bahasa maupun dari segi matematika, termasuk dalam hal penalaran, komunikasi dan strategi pemecahan masalanya. Metode tutorial adalah metode pembelajaran yang diberikan dengan bantuan tutor/teman sebaya (Pupuh Fathurrohman & M. Sobry Sutikno, 2007:63). Bantuan belajar oleh teman sebaya lebih mudah dipahami. Selain itu, dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya sehingga diharapkan peserta didik yang kurang paham tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya (Suherman, 2003:277). 18 Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016 Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya, anak-anak diajar untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja. Pada diskusi kelompok kecil, guru dapat bergerak dengan leluasa. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan. Jadi, guru dapat menugaskan siswa pandai untuk memberikan penjelasan kepada siswa kurang pandai. Demikian juga, anjurkan (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.uny.ac.id/index.php/cope/article/download/10789/8114
Article home page: https://journal.uny.ac.id/index.php/cope/article/view/10789/8114

Siti Sugiarti. PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO, COPE, 2016,