PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO
Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA
MATEMATIKA MELALUI METODE PEER TUTORING
PADA SISWA KELAS V SDN 1 PANDOWAN, KULON PROGO
Siti Sugiarti
Guru di SDN 1 Pandowan, Galur, Kulon Progo
Abstrak
Keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V yang
rendah mengakibatkan rendahnya keberhasilan belajar siswa. Kondisi ini dikarenakan
masih ditemui pembelajaran yang berpusat pada guru. Guru kurang mempercayakan
kepada siswanya yang pandai untuk membelajarkan kepada temannya yang kurang
mampu. Akibatnya siswa kurang terampil dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi. Penelitian tindakan ini menggunakan metode peer tutoring dengan
membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Siswa-siswa
pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya. Guru
bertindak sebagai narasumber utama. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD
Negeri 1 Pandowan, Brosot, Galur, Kulon Progo. Siswa kelas V sebanyak 24 siswa
terdiri 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika siswa kelas V
meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Dari data yang diperoleh
pada siklus I, 5 siswa (20,83%) mendapat kriteria baik sekali, 7 siswa (29,17%)
mendapat kriteria baik, 10 siswa (41,67%) mendapat kriteria cukup, dan 2 siswa
(8,33%) mendapat kriteria perlu bimbingan. Pada siklus II terdapat peningkatan
keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika yaitu 9 siswa (37,50%)
mendapat kriteria baik, dan 15 siswa (62,50%) mendapat kriteria baik sekali. Hasil
belajar siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode peer tutoring. Pada
siklus I hasil rata-rata test akhir diperoleh nilai rata-rata 68,75. Pada siklus II tes
akhir diperoleh nilai rata-rata 96,75.
Kata kunci: soal cerita Matematika, metode peer tutoring, keterampilan siswa SD
Pendahuluan
Mata pelajaran Matematika merupakan
salah satu mata pelajaran yang diajarkan
di satuan pendidikan yang paling sedikit
peminatnya. Hal ini diperkuat dengan informasi dari para guru dari berbagai satuan
pendidikan khususnya di Kecamatan Galur,
baik di kelas rendah (kelas I-III) maupun
di kelas tinggi (kelas IV-VI), peserta didik
masih merasa kesulitan jika harus menyelesaikan pertanyaan/soal cerita Matematika.
Ini dibuktikan juga dari hasil pratindakan
dalam satu kelas terdapat 58,33% peserta
didik memperoleh nilai di bawah KKM (75)
dan nilai rata-rata kelas diperoleh 56,125
dengan rata-rata kriteria cukup. Jika hal
ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya
perubahan dalam metode pembelajaran, apa
yang menjadi tujuan pendidikan nasional
dan apa yang menjadi harapan dari kurikulum 2013 tidak akan tercapai dengan baik.
Berdasarkan psikologi perkembangan
anak, anak usia sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai hal-hal yang sifatnya
kerja sama, mereka lebih tertarik cerita
teman daripada guru sebagai pengajarnya.
17
Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016
Oleh karena itu, metode peer tutoring
(metode tutor sebaya) merupakan solusi
tepat dalam menghadapi kendala-kendala
dalam pembelajaran tersebut. Pembelajaran
dengan metode tutor sebaya terpusat pada
peserta didik. Dalam hal ini peserta didik
belajar dari peserta didik yang lain yang
memiliki status umur, kematangan/harga
diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya
sendiri sehingga anak tidak begitu merasa
terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap
dari “gurunya” yang tidak lain adalah teman
sebayanya sendiri.
Dalam tutor sebaya, teman sebaya yang
lebih pandai memberikan bantuan belajar
kepada teman-teman sekelasnya di sekolah.
Jika hal itu dilakukan dengan pembiasaan,
maka apa yang menjadi tujuan pendidikan
di tingkat satuan pendidikan khususnya dan
negara pada umunya akan tercapai. Dengan
mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang
dihadapinya dari peserta didik, tidak ada
materi yang mereka anggap sulit, sehingga
keterampilan dalam menyelesaikan soal
cerita matematikapun meningkat.
Pengertian soal cerita Matematika adalah soal yang disajikan dalam bentuk uraian atau cerita baik secara lisan maupun
tulisan (Solichan, 2000:14). Soal cerita
wujudnya berupa kalimat verbal sehari-hari
yang makna dari konsep dan ungkapannya
dapat dinyatakan dalam simbol dan relasi
Matematika. Memahami makna konsep dan
ungkapan dalam soal cerita serta mengubahnya dalam simbol dan relasi Matematika
sehingga menjadi model Matematika bukanlah hal yang mudah bagi sebagian siswa.
Berdasarkan hal tersebut, masalah (soal
cerita) bukan hanya diberikan setelah teori
Matematikanya didapat siswa sehingga para
siswa hanya belajar untuk mengaplikasikan
pengetahuan Matematika yang didapat dan
tidak pernah atau sedikit sekali mendapat
kesempatan memecahkan masalah yang
terkategori sebagai masalah proses.
Agar siswa tidak mengalami kesulitan
dalam memahami simbol, operasi dan relasi
yang sesuai untuk memecahkan soal cerita,
guru perlu mendiskusikan “kata-kata kunci”
dalam soal cerita yang sesuai dengan proses
penanaman konsep-konsep matematika.
Contoh :
a) Operasi Penjumlahan
Simbol : +
Kata kunci : ditambah, digabung, diberi,
dikumpulkan, jumlah dari.
b) Operasi Pengurangan
Simbol : –
Kata kunci : dikurangi, diambil, diberikan, hilang, rusak.
c) Operasi Perkalian
Simbol : x
Kata kunci : kelipatan, digandakan,
diperbesar, diperbanyak
d) Operasi Pembagian
Simbol : :
Kata kunci : dibagikan, dikelompokkan,
dipisahkan. (Winarno, 2003 : 3 – 4)
Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menyelesaikan soal cerita siswa dituntut kemampuan
memahami masalah baik dari segi bahasa
maupun dari segi matematika, termasuk
dalam hal penalaran, komunikasi dan strategi pemecahan masalanya. Metode tutorial adalah metode pembelajaran yang
diberikan dengan bantuan tutor/teman
sebaya (Pupuh Fathurrohman & M. Sobry
Sutikno, 2007:63). Bantuan belajar oleh teman sebaya lebih mudah dipahami. Selain
itu, dengan teman sebaya tidak ada rasa
enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya
sehingga diharapkan peserta didik yang
kurang paham tidak segan-segan untuk
mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang
dihadapinya (Suherman, 2003:277).
18
Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No. 01/Tahun XX/Mei 2016
Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya,
anak-anak diajar untuk mandiri, dewasa
dan punya rasa setia kawan yang tinggi.
Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu,
anak yang dianggap pintar bisa mengajari
atau menjadi tutor temannya yang kurang
pandai atau ketinggalan. Peran guru hanya
sebagai fasilitator atau pembimbing saja.
Pada diskusi kelompok kecil, guru dapat
bergerak dengan leluasa. Bantuan belajar
oleh teman sebaya dapat menghilangkan
kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih
mudah dipahami. Dengan teman sebaya
tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu
dan sebagainya untuk bertanya ataupun
minta bantuan.
Jadi, guru dapat menugaskan siswa pandai untuk memberikan penjelasan kepada
siswa kurang pandai. Demikian juga, anjurkan (...truncated)