SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): FENOMENA FATHERLESS DAN DAMPAKNYA YANG MENJADI SALAH SATU FAKTOR KEGAGALAN DALAM KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN ANAK

JOURNAL OF DEVELOPING ENGLISH AND LANGUAGE TEACHING, Aug 2024

Abstrak: Berdasarkan data yang diunggah Global Fatherhood Index Report 2021 yang menempatkan Indonesia di urutan ketiga sebagai fatherless country. Yang berarti, Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara yang kehilangan peran ayah dalam pengasuhan anak. Kehilangan ini dapat dilihat dari dua dimensi, pertama, ketiadaan ayah secara fisik karena meninggal dunia atau bercerai dengan ibu. Kedua, ayah ada secara fisik, tetapi kurang memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak. Salah satu faktornya yang dapat ditemukan di Indonesia sendiri karena masih berkembangnya ajaran patriaki di negara Indonesia sendiri menjadi faktor utama fatherless karena pola pikir masyarakat yang masih menganggap bahwasanya ayah hanya berperan menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah. Sehingga, pola pikir seperti ini menghasilkan peran ayah yang ada hanya dalam segi finansial, bukan dalam segi ikut serta ayah mengasuh anak-anak. Tujuan penulisan ini adalah sebagai penyadaran melalui tulisan ini dengan menyadarkan mengenai kontribusi terbaik orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka itu memerlukan peran keduanya, tak bisa hanya salah satu. Penulisan ini terinspirasi dari penyuluhan pernikahan dini pada anak usia dini di Kampung Guha RT. 09/ RW.02 Desa Sukarena, Ciomas, Kabupaten Serang. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode SLR (Systematic Literature Review). Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan artikel-artikel terkait mengenai temuan penelitian serupa. Artikel yang dipilih dan digunakan dalam pencarian ini adalah artikel dari jurnal nasional yang diekstraksi dari database Google Scholar menggunakan aplikasi publikasi. Hasil akurat pada intinya adalah karena latar belakang ajaran patriaki yang masih berkembang di Indonesia. Kata Kunci: Fatherless; Ayah; Pengasuhan; Anak; Indonesia. Abstract: Based on data uploaded by the Global Fatherhood Index Report in 2021, which places Indonesia in third place as a fatherless country. Which means, Indonesia is in the third position as a country that has lost the role of fathers in childcare. This loss can be seen from two dimensions, first, the physical absence of the father due to death or divorce with the mother. Second, the father is physically present, but lacks attention and affection for the child. One of the factors that can be found in Indonesia itself is because the development of patriarchal teachings in the country itself is a major factor in fatherlessness because of the mindset of people who still think that fathers only play the role of head of the family and breadwinner. Thus, this mindset results in the role of fathers existing only in financial terms, not in terms of father's participation in caring for children. The purpose of this writing is to raise awareness through this writing by realizing that the best contribution of parents in caring for their children requires the role of both, not just one. This writing was inspired by early marriage counseling in early childhood in Kampung Guha RT. 09/RW.02 Sukarena Village, Ciomas, Serang Regency. The research method used in writing this article is the SLR (Systematic Literature Review) method. Data collection was done by collecting related articles on similar research findings. The articles selected and used in this search were articles from national journals extracted from the Google Scholar database using the publication application. The accurate results are essentially due to the background of patriarchal teachings that are still developing in Indonesia. Keywords: Fatherless; Fathers; Parenting; Children; Indonesia.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnpnf/article/download/26357/12892

SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): FENOMENA FATHERLESS DAN DAMPAKNYA YANG MENJADI SALAH SATU FAKTOR KEGAGALAN DALAM KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN ANAK

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2024 E-ISSN: 2987-8373 SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): FENOMENA FATHERLESS DAN DAMPAKNYA YANG MENJADI SALAH SATU FAKTOR KEGAGALAN DALAM KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN ANAK Filsa Okta Aulia1), Ahmad Fauzi, M. Pd2), Ach. Adwit Fauzanahya3), Muhammad Rivaldi Ashari4) 1,2,3,4 Mahasiswa Pendidikan Non Formal, FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa email: Abstrak: Berdasarkan data yang diunggah Global Fatherhood Index Report 2021 yang menempatkan Indonesia di urutan ketiga sebagai fatherless country. Yang berarti, Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara yang kehilangan peran ayah dalam pengasuhan anak. Kehilangan ini dapat dilihat dari dua dimensi, pertama, ketiadaan ayah secara fisik karena meninggal dunia atau bercerai dengan ibu. Kedua, ayah ada secara fisik, tetapi kurang memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak. Salah satu faktornya yang dapat ditemukan di Indonesia sendiri karena masih berkembangnya ajaran patriaki di negara Indonesia sendiri menjadi faktor utama fatherless karena pola pikir masyarakat yang masih menganggap bahwasanya ayah hanya berperan menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah. Sehingga, pola pikir seperti ini menghasilkan peran ayah yang ada hanya dalam segi finansial, bukan dalam segi ikut serta ayah mengasuh anak-anak. Tujuan penulisan ini adalah sebagai penyadaran melalui tulisan ini dengan menyadarkan mengenai kontribusi terbaik orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka itu memerlukan peran keduanya, tak bisa hanya salah satu. Penulisan ini terinspirasi dari penyuluhan pernikahan dini pada anak usia dini di Kampung Guha RT. 09/ RW.02 Desa Sukarena, Ciomas, Kabupaten Serang. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode SLR (Systematic Literature Review). Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan artikel-artikel terkait mengenai temuan penelitian serupa. Artikel yang dipilih dan digunakan dalam pencarian ini adalah artikel dari jurnal nasional yang diekstraksi dari database Google Scholar menggunakan aplikasi publikasi. Hasil akurat pada intinya adalah karena latar belakang ajaran patriaki yang masih berkembang di Indonesia. Kata Kunci: Fatherless; Ayah; Pengasuhan; Anak; Indonesia. Abstract: Based on data uploaded by the Global Fatherhood Index Report in 2021, which places Indonesia in third place as a fatherless country. Which means, Indonesia is in the third position as a country that has lost the role of fathers in childcare. This loss can be seen from two dimensions, first, the physical absence of the father due to death or divorce with the mother. Second, the father is physically present, but lacks attention and affection for the child. One of the factors that can be found in Indonesia itself is because the development of patriarchal teachings in the country itself is a major factor in fatherlessness because of the mindset of people who still think that fathers only play the role of head of the family and breadwinner. Thus, this mindset results in the role of fathers existing only in financial terms, not in terms of father's participation in caring for children. The purpose of this writing is to raise awareness through this writing by realizing that the best contribution of parents in caring for their children requires the role of both, not just one. This writing was inspired by early marriage counseling in early childhood in Kampung Guha RT. 09/RW.02 Sukarena Village, Ciomas, Serang Regency. The research method used in writing this article is the SLR (Systematic Literature Review) method. Data collection was done by collecting related articles on similar research findings. The articles selected and used in this search were articles from national journals extracted from the Google Scholar database using the publication application. The accurate results are essentially due to the background of patriarchal teachings that are still developing in Indonesia. Keywords: Fatherless; Fathers; Parenting; Children; Indonesia. 1. PENDAHULUAN Di beberapa negara, termasuk Indonesia, peran orang tua masih terus menjadi perhatian yang kurang mendapat perhatian yang cukup. Data dari Komisi Penitipan Anak Indonesia tahun 2017 menunjukkan bahwa sebelum menikah, hanya 27,9% dari calon ayah yang aktif mencari informasi mengenai cara terbaik untuk mengasuh dan membesarkan anak, dan setelah menikah, proporsi ini hanya sedikit meningkat menjadi 38,9%. United Nations Fund juga mencatat angka yang mengkhawatirkan, di mana sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tidak dapat merasakan kehadiran ayah dalam kehidupan mereka. Menurut data Susenas tahun 2021, jumlah anak usia muda di Indonesia mencapai 30,83 juta jiwa, dengan sekitar 2,67% dari mereka 38 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2024 E-ISSN: 2987-8373 tidak dapat tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya. Selain itu, sekitar 7,04% anak tinggal serumah hanya dengan ibu kandungnya. Dari angka total 30,83 juta anak usia dini di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa sekitar 2.999.577 orang kehilangan keberadaan atau kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terlepas dari itu, walaupun persentase anak yang tidak tinggal bersama kedua orang tua kandungnya hanya sekitar 1,69% menurut databoks tahun 2021, peran ayah tetap menjadi faktor penting dalam perkembangan dan keberhasilan anak-anak di masa depan. Gambar 1: Persentase Anak Usia Dini Tinggal Bersama Orang Tua Tahun 2021 Dari informasi yang disajikan di atas, dapat disimpulkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan pengumpulan data terkait dengan anak usia dini yang tinggal bersama orang tua kandung mereka pada tahun 2021. Menurut data yang terhimpun, sebanyak 90,82% dari anak-anak usia dini di berbagai wilayah, baik perkotaan maupun pedesaan, tercatat tinggal bersama ayah dan ibu kandung mereka secara bersamaan. Selain itu, survei yang dilakukan juga mengungkapkan bahwa sebesar 7,48% dari anak-anak tersebut tinggal dengan hanya satu orang tua kandung, entah itu ayah atau ibu, mungkin dikarenakan berbagai faktor seperti kematian salah satu orang tua, perceraian, atau jadwal kerja yang mengharuskan salah satu orang tua bekerja di luar kota atau bahkan negara, sehingga tidak dapat pulang secara rutin setiap tahun. Terdapat juga sekitar 1,69% dari anak usia dini yang tidak tinggal bersama ayah dan ibu kandung mereka, dimana BPS mencatat bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai aspek, termasuk kehadiran anggota rumah tangga lainnya di rumah seperti kakek, nenek, saudara, atau asisten rumah tangga. Melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh BPS, perkiraan jumlah anak usia dini (0-6 tahun) di Indonesia mencapai sekitar 30,2 juta individu pada bulan Maret 2023. Persentase ini setara dengan 10,91% dari total populasi di Indonesia. Anak usia dini dikelompokkan (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnpnf/article/download/26357/12892
Article home page: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnpnf/article/view/26357/12892

Aulia Filsa Okta Sultan Ageng Tirtayasa University, Fauzi Ahmad, Fauzanahya Ach. Adwit, Ashari Muhammad Rivaldi. SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): FENOMENA FATHERLESS DAN DAMPAKNYA YANG MENJADI SALAH SATU FAKTOR KEGAGALAN DALAM KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN ANAK, JOURNAL OF DEVELOPING ENGLISH AND LANGUAGE TEACHING, 2024,