PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI ALAT BANTU ANALISIS TEKS BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR
PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI
ALAT BANTU ANALISIS TEKS
BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR
oleh Pangesti Wiedarti
FBS Universitas Negeri Yogyakarta
Abstract
This article first presents the Systemic Functional Grammar
(SFG), developed by Halliday (1985, 1994) and Halliday and
Matthiessen (2003), one grammar that can be used in language
analysis. Then it describes briefly the use of the Systemic Coder (SC),
a computational tool developed by O’Donnell (1994) that is especially
beneficial for linguists to employ in language analysis based on SFG
when they have to deal with huge corpora and need quick results
as it facilitates getting comprehensive data characteristics in a
relatively short time. SC is applicable in Indonesia as its platform is
the commonly used MSWord and it can be utilized in analyzing any
language employing the Latin alphabet. There are other advantages
of SC application, which understandably requires, among others,
one’s mastery of SFG.
Keywords:
systemic functional grammar, systemic coder, language
analysis
A. Pendahuluan
Tulisan ini membahas piranti komputasional systemic coder
(berikutnya disingkat SC, http://www.wagsoft.com/software.html) yang
dikembangkan oleh O’Donnell berdasarkan teori systemic functional
grammar (disingkat SFG, Halliday 1985, 1994). SC yang berbasis SFG
sejauh ini belum banyak diterapkan di Indonesia.
Pemakaian bahasa (terwujud dalam bentuk teks lisan atau tulis)
sesuai Tatar komunikasi dapat dianalisis berdasarkan kerangka analisis
SFG yang menghasilkan karakteristik masing-masing teks dan sisi
leksikon dan gramatika. Dengan kebermanfaatannya itu, SFG selain
diterapkan di Australia, juga diterapkan di Jepang (Japan Association
of Systemic Functional Linguistics), Asia Tenggara, Amerika Utara,
220
221
Amerika Selatan, Eropa dan UK (info rinci dapat dilihat pada http://
www.wagsoft. com/Systemics) dengan kajian berbagai bahasa.
SC dipilih sebagai piranti dalam analisis bahasa karena SC
mempunyai keunggulan: (a) berplatform msword; (b) juga dapat
dipakai untuk menganalisis korpus teks dari dimensi teori Appraisal
System, (c) penerapannya relatif lebih mudah dibandingkan piranti
komputasional lainnya yang juga berbasis SFG karena panduannya jelas
dan komprehensif, dan (d) SC dapat diaplikasikan bagi alat bantu analisis
berbagai bahasa sejauh bahasa tersebut menggunakan abjad Latin abc.
Karena SC merupakan alat bantu analisis korpus teks,
penerapannya hams didahului dengan pemahaman terhadap SFG.
Beberapa kegiatan analisis harus dilakukan secara manual sebab SC
tidak diaplikasikan sepenuhnya otomatis seperti halnya Concordance
dan TransTool. Camper tangan manusia tidak dapat dihindarkan karena
penganalisisan bahasa memerlukan sense tersendiri selain penguasaan
terhadap teori SFG. Setelah SFG dipaparkan secara teknis dipaparkan
bagaimana SC dioperasikan.
B. Systemic Functional Grammar
Penegasan pendekatan terhadap bahasa perlu sedikit dibahas
karena berkaitan dengan kerangka analisis kebahasaan. Pada hakikatnya,
terdapat dua golongan besar pendekatan yaitu dari sudut pandang (a)
filosofis-logis yang mengaitkan bahasa dengan filsafat, beranggapan
gramatika merupakan bagian dari logika; dan (b) deskriptif-etnografis
yang mengaitkan bahasa dengan antropologi, beranggapan gramatika
merupakan bagian dari (ke)budaya(an).
Berkaitan dengan kedua pendekatan di atas, Sutjaja (1989)
memaparkan madhab filosofis-logis memandang bahasa sebagai kaidah
(rule) sedangkan madhab deskriptif-etnografis memandang bahasa
sebagai sumber (resource). Walau terjadi perbedaan cara memandang
bahasa, keduanya memberi perhatian besar pada aspek sistem, yaitu
keterkaitan antara sistem dan perilaku. Linguis yang termasuk dalam
madhab filosofis-logis adalah Chotnky dengan bukunya Syntactic
DIKSI Vol.12, No.2, Juli 2005
222
Structures (1957) dan Aspects of the Theory of Syntax (1965). Linguis
yang menonjol dalam madhab deskriptif-etnografis adalah Halliday
dengan bukunya Introduction to Functional Grammar (merupakan
perkembangan teori Skala dan Kategori dan teori Ketransitifan
dalam bahasa Inggris) (Halliday, 1974, 1978, 1985, 1994; Halliday
& Matthiessen, 2003). Karena Halliday menganggap bahasa sebagai
resources, konsekuensinya, tidak perlu pembedaan secara tajam antara
unsur “competence” dan “performance” seperti halnya pendekatan
filosofis-logis menekankannya. Dengan kata lain, bagi Halliday, hal
terpenting dalam berbahasa adalah kebermaknaan (meaningfulness) dan
penerapan praktis dari bahasa itu.
Lebih lanjut Halliday (1994: xxvii) menjelaskan SFG bersifat
deskriptif, pendekatan lebih ke arah linguistik terapan daripada linguistik
murni, bersifat retoris daripada logis, bersifat aktual daripada ideal,
bersifat fungsional daripada formal, menekankan pada teks daripada
kalimat, menekankan analisis teks sebagai tindakan, dan teori bahasa
diartikan sebagai alat untuk menyelesaikan sesuatu hal.
Tulisan ini, lebih mengacu kepada pandangan Halliday sebab
bahasa tak bisa dipungkiri merupakan atribut sentral dari manusia yang
mahluk sosial, yang menggunakan bahasa sebagai alat berinteraksi pada
situasi sosial tertentu. Cara pandang tersebut kini diterapkan dalam
pengajaran bahasa di sekolah menengah (khususnya pengajaran Bahasa
Inggris yang diarahkan kepada pendekatan genre) berdasarkan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (http://www.puskur.or.id) yang menekankan pada
aspek kecakapan berbahasa untuk menunjang life skills yang harus
dimiliki siswa.
Model Bahasa dalam Systemic Functional Linguistics
Halliday (1978) memandang bahasa sebagai sistem semiotik
sosial, di dalamnya terdapat tiga aspek penting yaitu konteks, teks, dan
sistem bahasa. Hubungan ketiganya dapat digambarkan pada Gambar
1. Gambar ini menggambarkan wujud bahasa umumnya berupa teks,
terlisan maupun tertulis (dengan karakteristik masing-masing) yang
Piranti Komputasional Systemic Coder (Pangesti Wiedarti)
223
berkaitan dengan konteks situasi. Konteks situasi ini mempengaruhi
dan menentukan pilihan-pilihan bahasa (resources) yang dibuat
seseorang ketika dia mengkreasikan dan menafsirkan teks. Dalam
konteks apapun, seseorang menggunakan bahasa berdasarkan tiga fungsi
utama (metafunction), yaitu ideational metafunction, interpersonal
metafunction, dan textual metafunction. Ideational metafunction
merupakan fungsi bahasa untuk mengkonstruksi atau mengemukakan
gagasan atau informasi. Interpersonal metafunction merupakan fungsi
bahasa untuk berinteraksi satu sama lain. Textual metafunction merupakan
fungsi bahasa yang berkaitan dengan pengaturan bahasa atau teks dalam
hal penataan hubungan unsur klausa, kalimat, dan paragraf agar pesan
yang disampaikan mudah dipahami.
Gambar 1: The relationship of genre, register and language as text
(Callaghan & Rhothery 1993)
Konteks situasi yang mempengaruhi pilihan bahasa seseorang
diwarnai tiga faktor, yaitu Field (topik yang dibicarakan), Tenor
(hubungan interpersonal interlokutor) dan Mode (jalur komunikasi:
terlisan/tertulis yang digunakan untuk be (...truncated)