PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI ALAT BANTU ANALISIS TEKS BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR

DIKSI, Sep 2015

This article first presents the Systemic Functional Grammar(SFG), developed by Halliday (1985, 1994) and Halliday andMatthiessen (2003), one grammar that can be used in languageanalysis. Then it describes briefly the use of the Systemic Coder (SC),a computational tool developed by O’Donnell (1994) that is especiallybeneficial for linguists to employ in language analysis based on SFGwhen they have to deal with huge corpora and need quick resultsas it facilitates getting comprehensive data characteristics in arelatively short time. SC is applicable in Indonesia as its platform isthe commonly used MSWord and it can be utilized in analyzing anylanguage employing the Latin alphabet. There are other advantagesof SC application, which understandably requires, among others,one’s mastery of SFG.Keywords: systemic functional grammar, systemic coder, languageanalysis

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/download/5266/4566

PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI ALAT BANTU ANALISIS TEKS BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR

PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI ALAT BANTU ANALISIS TEKS BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR oleh Pangesti Wiedarti FBS Universitas Negeri Yogyakarta Abstract This article first presents the Systemic Functional Grammar (SFG), developed by Halliday (1985, 1994) and Halliday and Matthiessen (2003), one grammar that can be used in language analysis. Then it describes briefly the use of the Systemic Coder (SC), a computational tool developed by O’Donnell (1994) that is especially beneficial for linguists to employ in language analysis based on SFG when they have to deal with huge corpora and need quick results as it facilitates getting comprehensive data characteristics in a relatively short time. SC is applicable in Indonesia as its platform is the commonly used MSWord and it can be utilized in analyzing any language employing the Latin alphabet. There are other advantages of SC application, which understandably requires, among others, one’s mastery of SFG. Keywords: systemic functional grammar, systemic coder, language analysis A. Pendahuluan Tulisan ini membahas piranti komputasional systemic coder (berikutnya disingkat SC, http://www.wagsoft.com/software.html) yang dikembangkan oleh O’Donnell berdasarkan teori systemic functional grammar (disingkat SFG, Halliday 1985, 1994). SC yang berbasis SFG sejauh ini belum banyak diterapkan di Indonesia. Pemakaian bahasa (terwujud dalam bentuk teks lisan atau tulis) sesuai Tatar komunikasi dapat dianalisis berdasarkan kerangka analisis SFG yang menghasilkan karakteristik masing-masing teks dan sisi leksikon dan gramatika. Dengan kebermanfaatannya itu, SFG selain diterapkan di Australia, juga diterapkan di Jepang (Japan Association of Systemic Functional Linguistics), Asia Tenggara, Amerika Utara, 220 221 Amerika Selatan, Eropa dan UK (info rinci dapat dilihat pada http:// www.wagsoft. com/Systemics) dengan kajian berbagai bahasa. SC dipilih sebagai piranti dalam analisis bahasa karena SC mempunyai keunggulan: (a) berplatform msword; (b) juga dapat dipakai untuk menganalisis korpus teks dari dimensi teori Appraisal System, (c) penerapannya relatif lebih mudah dibandingkan piranti komputasional lainnya yang juga berbasis SFG karena panduannya jelas dan komprehensif, dan (d) SC dapat diaplikasikan bagi alat bantu analisis berbagai bahasa sejauh bahasa tersebut menggunakan abjad Latin abc. Karena SC merupakan alat bantu analisis korpus teks, penerapannya hams didahului dengan pemahaman terhadap SFG. Beberapa kegiatan analisis harus dilakukan secara manual sebab SC tidak diaplikasikan sepenuhnya otomatis seperti halnya Concordance dan TransTool. Camper tangan manusia tidak dapat dihindarkan karena penganalisisan bahasa memerlukan sense tersendiri selain penguasaan terhadap teori SFG. Setelah SFG dipaparkan secara teknis dipaparkan bagaimana SC dioperasikan. B. Systemic Functional Grammar Penegasan pendekatan terhadap bahasa perlu sedikit dibahas karena berkaitan dengan kerangka analisis kebahasaan. Pada hakikatnya, terdapat dua golongan besar pendekatan yaitu dari sudut pandang (a) filosofis-logis yang mengaitkan bahasa dengan filsafat, beranggapan gramatika merupakan bagian dari logika; dan (b) deskriptif-etnografis yang mengaitkan bahasa dengan antropologi, beranggapan gramatika merupakan bagian dari (ke)budaya(an). Berkaitan dengan kedua pendekatan di atas, Sutjaja (1989) memaparkan madhab filosofis-logis memandang bahasa sebagai kaidah (rule) sedangkan madhab deskriptif-etnografis memandang bahasa sebagai sumber (resource). Walau terjadi perbedaan cara memandang bahasa, keduanya memberi perhatian besar pada aspek sistem, yaitu keterkaitan antara sistem dan perilaku. Linguis yang termasuk dalam madhab filosofis-logis adalah Chotnky dengan bukunya Syntactic DIKSI Vol.12, No.2, Juli 2005 222 Structures (1957) dan Aspects of the Theory of Syntax (1965). Linguis yang menonjol dalam madhab deskriptif-etnografis adalah Halliday dengan bukunya Introduction to Functional Grammar (merupakan perkembangan teori Skala dan Kategori dan teori Ketransitifan dalam bahasa Inggris) (Halliday, 1974, 1978, 1985, 1994; Halliday & Matthiessen, 2003). Karena Halliday menganggap bahasa sebagai resources, konsekuensinya, tidak perlu pembedaan secara tajam antara unsur “competence” dan “performance” seperti halnya pendekatan filosofis-logis menekankannya. Dengan kata lain, bagi Halliday, hal terpenting dalam berbahasa adalah kebermaknaan (meaningfulness) dan penerapan praktis dari bahasa itu. Lebih lanjut Halliday (1994: xxvii) menjelaskan SFG bersifat deskriptif, pendekatan lebih ke arah linguistik terapan daripada linguistik murni, bersifat retoris daripada logis, bersifat aktual daripada ideal, bersifat fungsional daripada formal, menekankan pada teks daripada kalimat, menekankan analisis teks sebagai tindakan, dan teori bahasa diartikan sebagai alat untuk menyelesaikan sesuatu hal. Tulisan ini, lebih mengacu kepada pandangan Halliday sebab bahasa tak bisa dipungkiri merupakan atribut sentral dari manusia yang mahluk sosial, yang menggunakan bahasa sebagai alat berinteraksi pada situasi sosial tertentu. Cara pandang tersebut kini diterapkan dalam pengajaran bahasa di sekolah menengah (khususnya pengajaran Bahasa Inggris yang diarahkan kepada pendekatan genre) berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (http://www.puskur.or.id) yang menekankan pada aspek kecakapan berbahasa untuk menunjang life skills yang harus dimiliki siswa. Model Bahasa dalam Systemic Functional Linguistics Halliday (1978) memandang bahasa sebagai sistem semiotik sosial, di dalamnya terdapat tiga aspek penting yaitu konteks, teks, dan sistem bahasa. Hubungan ketiganya dapat digambarkan pada Gambar 1. Gambar ini menggambarkan wujud bahasa umumnya berupa teks, terlisan maupun tertulis (dengan karakteristik masing-masing) yang Piranti Komputasional Systemic Coder (Pangesti Wiedarti) 223 berkaitan dengan konteks situasi. Konteks situasi ini mempengaruhi dan menentukan pilihan-pilihan bahasa (resources) yang dibuat seseorang ketika dia mengkreasikan dan menafsirkan teks. Dalam konteks apapun, seseorang menggunakan bahasa berdasarkan tiga fungsi utama (metafunction), yaitu ideational metafunction, interpersonal metafunction, dan textual metafunction. Ideational metafunction merupakan fungsi bahasa untuk mengkonstruksi atau mengemukakan gagasan atau informasi. Interpersonal metafunction merupakan fungsi bahasa untuk berinteraksi satu sama lain. Textual metafunction merupakan fungsi bahasa yang berkaitan dengan pengaturan bahasa atau teks dalam hal penataan hubungan unsur klausa, kalimat, dan paragraf agar pesan yang disampaikan mudah dipahami. Gambar 1: The relationship of genre, register and language as text (Callaghan & Rhothery 1993) Konteks situasi yang mempengaruhi pilihan bahasa seseorang diwarnai tiga faktor, yaitu Field (topik yang dibicarakan), Tenor (hubungan interpersonal interlokutor) dan Mode (jalur komunikasi: terlisan/tertulis yang digunakan untuk be (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/download/5266/4566
Article home page: http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/view/5266/4566

Wiedarti Pangesti. PIRANTI KOMPUTASIONAL SYSTEMIC CODER SEBAGAI ALAT BANTU ANALISIS TEKS BERBASIS SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR, DIKSI, 2015,