PEMENTASAN TEATER INDONESIA 2001-2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo)

DIKSI, Nov 2015

This article describes titles of drama scripts or theatre performances in Indonesiareviewed in Tempo in 2001-2005. The data resources were review articles on theatres in themagazine recorded in a compact disc. The data were collected by sorting all the articles,categorizing them based on the problems, reading them carefully, and making notes onthem. The data were analyzed using the descriptive qualitative technique. The findingsshowed that theatre performances in Indonesia reviewed in Tempo in 2001-2005 included:11 foreign scripts, 7 translation scripts, 8 adaptation scripts, 29 purely Indonesian scripts,2 Javanese scripts, and 7 articles on theatres. The number of foreign, translation, andadaptation scripts was 26. This number was almost the same as that of purely Indonesianscripts (and Javanese scripts) which was 31, so that the ratio was 26:31. The findingsshowed that Tempo, in terms of its theatre orientation, reviewed domestic and foreigntheatres equally.Keywords: theatre performance, theatre column, review, Tempo magazine.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/download/6616/5676

PEMENTASAN TEATER INDONESIA 2001-2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo)

PEMENTASAN TEATER INDONESIA 2001-2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo) Nurhadi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Yogyakarta e-mail: ABSTRACT This article describes titles of drama scripts or theatre performances in Indonesia reviewed in Tempo in 2001-2005. The data resources were review articles on theatres in the magazine recorded in a compact disc. The data were collected by sorting all the articles, categorizing them based on the problems, reading them carefully, and making notes on them. The data were analyzed using the descriptive qualitative technique. The findings showed that theatre performances in Indonesia reviewed in Tempo in 2001-2005 included: 11 foreign scripts, 7 translation scripts, 8 adaptation scripts, 29 purely Indonesian scripts, 2 Javanese scripts, and 7 articles on theatres. The number of foreign, translation, and adaptation scripts was 26. This number was almost the same as that of purely Indonesian scripts (and Javanese scripts) which was 31, so that the ratio was 26:31. The findings showed that Tempo, in terms of its theatre orientation, reviewed domestic and foreign theatres equally. Keywords: theatre performance, theatre column, review, Tempo magazine. A. PENDAHULUAN Perkembangan drama dan teater dimulai sejak masa awal perkembangannya pada akhir abad XIX hingga masa kontemporer. Sampai kini perkembangannya terus berlangsung. Berbeda dengan perkembangan sejarah sastra Indonesia, perkembangan drama dan teater Indonesia jarang dikaji banyak peneliti. Apalagi terhadap perkembangan drama dan teater yang mutakhir. Dalam realitasnya, banyak pementasan teater di berbagai kota dan juga banyak ulasan-ulasan berupa resensi maupun berita-berita yang menginformasikan pementasan teater ataupun ulasan buku-buku drama di berbagai media cetak. Meski begitu, hal-hal tersebut masih bersifat berserak dan sporadis. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan usaha pendokumentasian ulasan dan berita pementasan tersebut. Dokumen tersebut merupakan salah satu bentuk resepsi masyarakat terhadap perkembangan drama dan teater. Dari dokumen-dokumen itu terungkap berbagai hal yang berkaitan dengan pementasan teater tersebut, juga termuat penilaian atau apresiasi penulisnya terhadap teater itu dalam konteks kesejarahannya, mengingat suatu naskah drama terkadang dipentaskan ulang dalam periode yang berbeda sehingga memungkinkan adanya resepsi yang berbeda pula. Peliputan wartawan media cetak atau peresensi atas pementasan teater (dan drama) juga merupakan salah satu kriteria besar kecilnya mutu pementasan tersebut, paling tidak menurut standar mutu masing-masing media cetak. Hanya pementasan yang bermutulah yang layak dimuat mengingat keterbatasan kolom untuk bidang budaya apalagi perteateran. Dengan begitu, akan didapatkan sejumlah informasi perkembangan drama dan teater Indonesia sebagai salah satu bentuk resepsi sastra melalui media cetak. Artikel penelitian ini lebih difokuskan pada perkembangan drama dan teater lewat sejumlah ulasan yang termuat dalam majalah 162 163 utama Indonesia, majalah Tempo, pada periode awal abad ke-21 (tahun 2001-2005). Meskipun dibatasi pada satu majalah, resepsi penonton teater di Indonesia cukuplah terwakili karena majalah Tempo terbit setiap minggu dan rubrik teater biasanya terdapat di dalamnya. Pementasan teater sendiri dapat dipantau per minggu. Komuntas pembaca majalah Tempo adalah masyarakat umum menengah sehingga cukup representatif terhadap komunitas pembaca sastra atau penikmat teater Indonesia. Artikel ini membahas temuan penelitian yang terkait dengan judul-judul naskah drama atau judul pementasan teater yang diulas dalam rubrik “Teater” majalah Tempo pada 20012005. Kelahiran atau awal teater modern Indonesia dimulai jauh sebelum abad ke-20. Embrio teater modern Indonesia berkembang dengan masuknya pengaruh Eropa (Belanda) dalam di Indonesia pada pertengahan abad ke19. Perkembangan atau sejarah teater modern Indonesia sebetulnya diawali oleh Komedi Stamboel pada tahun 1891. Menurut Sumardjo (1992:102), secara garis besar, sejarah teater modern Indonesia terbagi dalam empat periode: (1) masa perintisan teater modern, (2) masa kebangkitan teater modern, (3) masa perkembangan teater modern, dan (4) teater Indonesia mutakhir. a. Masa Perintisan Teater Modern Masa perintisan teater modern ditandai dengan sejumlah ciri teater modern yang membedakannya dengan teater tradisional. Adapun ciri-ciri teater modern yaitu: (1) pertunjukan dilakukan di tempat khusus, (2) penonton harus membayar, (3) fungsinya untuk hiburan, (4) unsur ceritanya berkaitan erat dengan peristiwa sezaman, (5) ungkapan bentuk teater sudah memakai idiom-idiom modern, (6) memakai bahasa Melayu Pasaran, dan (7) adanya pegangan cerita tertulis. Masa perintisan teater modern terbagi pada tiga masa yaitu: (1) masa teater bangsawan, (2) masa Komedi Stamboel, dan (3) masa teater opera. Pada tahun 1885 Mamak Pushi membentuk rombongan teater berdasarkan properties dan idiom-idiom teater Wayang Parsi. Rombongan ini dinamainya Pushi Indera Bangsawan of Penang. Mula-mula Pushi dan menantunya, Kassim, menempatkan teaternya di rumah-rumah bangsawan yang punya kenduri. Dari sinilah muncul pengertian teater bangsawan. Kehadiran rombongan Indera Bangsawan mendapat sambutan baik masyarakat Melayu, baik di Malaysia, Singapura maupun di Indonesia. Kemudian muncul kelompok-kelompok teater sejenis. Komedi Stamboel didirikan sekitar tahun 1891 oleh August Mahieu (keturunan Indo-Perancis) kelahiran Surabaya (1860). Komedi Stamboel memperoleh sambutan hangat penontonnya di Surabaya. Kemudian mereka mengadakan pertunjukan keliling Pulau Jawa. Mereka mementaskan lakon-lakon Indonesia (lokal) maupun lakon-lakon asing. Sepeninggal Mahieu (1906) kelompok ini bubar. Sementara para penerus Komedi Stamboel terus berjalan di masyarakat. Di lingkungan Cina Peranakan di Indonesia juga mulai muncul kegiatan teater. Sekitar tahun 1908 di kalangan Cina Peranakan muncul “Opera Derma”. Mereka berpentas untuk kegiatan amal sehingga para pemainnya kebanyakan para amatur. b. Masa Kebangkitan Teater Modern Masa kebangkitan teater modern Indonesia terbagi dalam tiga masa yaitu: (1) masa Miss Riboet’s Orion, (2) masa The Malay Opera “Dardanella”, dan (3) awal teater modern. Orion didirikan tahun 1925 oleh T.D. Tio Jr (Tio Tik Djien), seorang pemilik modal yang terpelajar. Rombongan teater Orion telah melakukan beberapa pembaharuan terhadap kelompok-kelompok teater sebelumnya. Pembaharuan yang telah mereka lakukan misalnya: (1) pembagian episode lebih diperingkas, (2) adegan memperkenalkan diri tokoh-tokohnya dihapus, (3) selingan (berupa nyanyian/tarian) di tengah adegan dihapus, (4) sebuah lakon diselesaikan dalam satu malam saja, (5) repertoire cerita mulai banyak cerita- Pementasan Teater Indonesia 2001—2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo) (Nurhadi) 164 cerita asli. Nama Miss Riboet’s Orion itu sendiri merupakan gabungan nama dari kelompok ini dan nama bintang (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/download/6616/5676
Article home page: http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/view/6616/5676

-. Nurhadi. PEMENTASAN TEATER INDONESIA 2001-2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo), DIKSI, 2015,