Pemanfaatan Limbah Organik Domestik Sebagai Pupuk Organik Cair di Yayasan Swara Peduli Ceria Klender

Journal of Appropriate Technology for Community Services, Jul 2023

Limbah padat domestik di Indonesia sebagian besar berupa sampah organik. Sampah organik berupa sisa sayur dan buah-buahan sisa konsumsi merupakan jenis paling umum dibuang dari rumah tangga. Bahan sampah ini sebenarnya masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk cair sederhana eco-enzyme dengan memanfaatkan teknologi berbasis fermentasi. Pupuk dapat difungsikan sebagai penyubur tanaman halaman, dan berbagai kegiatan di rumah tangga. Kegiatan abdimas ini meliputi pemanfaatan sampah organik di Yayasan Peduli Ceria Klender yang merupakan penampung yatim piatu, dengan penghuni sekitar 100 orang. Melihat banyaknya penghuni Yayasan, potensi sampah organik yang akan timbul juga besar, dan dapat menjadi bahan baku pupuk cair sederhana. Keterampilan ini diharapkan dapat memberi manfaat tiap anggota rumah yatim, dengan memanfaatkan sampah sisa sayuran yang tadinya dibuang, dengan menjadikan bahan baku pupuk cair, sehingga dapat menyuburkan halaman yang ditanami sayuran agar sampah memberi manfaat bagi penghuni rumah yatim.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.uii.ac.id/JATTEC/article/download/28302/15383

Pemanfaatan Limbah Organik Domestik Sebagai Pupuk Organik Cair di Yayasan Swara Peduli Ceria Klender

Pemanfaatan Limbah Organik Domestik Sebagai Pupuk Organik Cair di Yayasan Swara Peduli Ceria Klender Elvi Kustiyah 1), Bungarang Saing 2), Haudi Hasaya 3), Laras Andria Wardani 4), Dinda Yesika 5) Program Studi Teknik Kimia Universitas Bhayangkara Jakarta Raya 1,2,4,5) Jalan Perjuangan Bekasi Utara Jawa Barat Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya 3) Jalan bekasi Utar Bekasi Jawa Barat Email: ABSTRAK Limbah padat domestik di Indonesia sebagian besar berupa sampah organik. Sampah organik berupa sisa sayur dan buah-buahan sisa konsumsi merupakan jenis paling umum dibuang dari rumah tangga. Bahan sampah ini sebenarnya masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk cair sederhana eco-enzyme dengan memanfaatkan teknologi berbasis fermentasi. Pupuk dapat difungsikan sebagai penyubur tanaman halaman, dan berbagai kegiatan di rumah tangga. Kegiatan abdimas ini meliputi pemanfaatan sampah organik di Yayasan Peduli Ceria Klender yang merupakan penampung yatim piatu, dengan penghuni sekitar 100 orang. Melihat banyaknya penghuni Yayasan, potensi sampah organik yang akan timbul juga besar, dan dapat menjadi bahan baku pupuk cair sederhana. Keterampilan ini diharapkan dapat memberi manfaat tiap anggota rumah yatim, dengan memanfaatkan sampah sisa sayuran yang tadinya dibuang, dengan menjadikan bahan baku pupuk cair, sehingga dapat menyuburkan halaman yang ditanami sayuran agar sampah memberi manfaat bagi penghuni rumah yatim. Kata kunci: limbah domestik, fermentasi, pupuk cair ABSTRACT In Indonesia, most domestic wastes consisted of organic wastes. Among these organic wastes were vegetables and fruit wastes that were most commonly disposed from households. These organic wastes could actually be processed to become liquid fertilizers utilizing fermentation methods, such as converting to ecoenzymes. This fertilizer could then be used to enrich the soil to increase crop quality, and various household uses. This social activity included socialization and demonstration in making eco-enzyme fertilizers to Yayasan Peduli Ceria Klender, an orphanage foundation with around 100 people living in the foundation building. With a lot of people living in this area, a lot of organic wastes would also be generated. Therefore making liquid fertilizers from these organic wastes would hopefully benefit the people. The organic wastes that were originally disposed were then processed to liquid fertilizers, for the crops and plants around the yard, which would also give benefits back to the people living in Yayasan Peduli Ceria. Keywords: Domestic wastes, fermentation, liquid fertilizer 42 Pemanfaatan Limbah Organik Domestik Sebagai … (Elvi Kustiyah) 1. Pendahuluan Limbah rumah tangga yang berasal dari tanaman mengandung lebih banyak bahan organik yang mudah busuk, lembab, dan mengandung sedikit cairan. Limbah seperti ini mengandung banyak bahan organik, dapat terdekomposisi dengan cepat terutama ketika cuaca hangat. Akan tetapi, menurut Ashlihah, dkk(2020) limbah tersebut akan mengeluarkan bau busuk. Penanganan sampah organik selama ini umum dilakukan hanya sampai pembuangan dan pemindahan hingga tempat pembuangan akhir (TPA). Proses pemanfaatan maupun daur ulang dengan bahan baku sampah organik menjadi produk belum banyak dilakukan. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah organik sendiri masih tergolong kurang, sehingga sampah rumah tangga organik masih dibuang begitu saja. Berdasarkan hasil pengamatan penduduk setempat dan para mahasiswa pada program abdimas ini bahwa didaerah tersebut masyarakat masih rendah dalam kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Masih banyak masyarakat yang membuang limbah rumah tangga pada selokan kecil didepan rumah dan pekarangan dibelakang rumahnya. Hal ini tentu menjadikan tempat disekitar menjadi sedikit kumuh dan mencemari lingkungan disekitar. Maka dari itu perlu adanya pengenalan dan sosialisasi sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar untuk kesehatan dan kebersihan. Di samping itu perlu adanya pengenalan pengolahan limbah rumah tangga sederhana yang dapat diterapkan untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar, misalnya dibuat produk berupa pupuk kompos yang nantinya bisa digunakan untuk tanaman-tanaman disekitar rumah. manuarut menurut Salah dkk (2021) yayasan merupakan pelaku yang bisa diandalkan untuk melakukan pengolahan sampah ini demi terciptanya kondusi yang kondusif terkait pengelohan sampah dan penghematan pengeluaran belanja sayur. Harapannya setelah adanya pelatihan ini tim dari yayasan Swara Peduli Ceria di Klender dapat memanfaatkan sampah organik dengan baik. Kompos merupakan hasil pengolahan dari limbah yang mengandung bahan organik seperti pangkasan daun tanaman, sayuran, buah-buahan, kotoran hewan ternak, dan bahan-bahan lainya. Kompos dapat digunakan sebagai pupuk alami dan pengembali zat hara tanah yang mungkin hilang disaat panen dan akibat erosi. seperti di sampaikan harlis dkk (2019) Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos merupakan salah satu komponen untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kerusakan fisik tanah akibat pemakaian pupuk anorganik (kimia) pada tanah secara berlebihan mengakibatkan rusaknya struktur tanah. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang seperti disampaikan Marwanatika (2020). Eco enzyme adalah salah satu metode fermentasi bahan organik rumah tangga menjadi pupuk untuk tanaman rumah tangga. Eco enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand dengan tujuan dari proyek ini untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya di buang begitu saja, eco enzyme ini adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik semisal ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan juga air hal ini seperti yang disampaikan Marliah dkk (2022) Cairan hasil fermentasi dengan cara eco enzyme ini kegunaanya antara lain pembersih serbaguna, pupuk tanaman, pengusir hama yang ramah lingkungan. Sedangkan hal positif yang bisa diambil dari proses eco enzyme ini adalah produk lebih murah, ramah lingkungan, mampu membantu menyaring udara dan hemat. Cara pembuatan eco enzyme adalah gula merah, sampah kulit buah atau sisa sayuran dan air di tempatkan dalam wadah tertutup. Kemudian, campurkan gula dan air ke dalam wadah tidak sampai penuh. Simpan cairan tersebut di tempat yang kering dan sejuk. untuk menghilangkan gas hasil 43 JATTEC, Vol 4 No 2, Juli 2023: 42-46 fermentasi sebaiknya tutup dibuka sesekali. Cairan ec (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.uii.ac.id/JATTEC/article/download/28302/15383
Article home page: https://journal.uii.ac.id/JATTEC/article/view/28302/15383

elvi kustiyah, Saing Bungarang, Haudi Hasaya, Wardani Laras Andria, Dinda Yesika. Pemanfaatan Limbah Organik Domestik Sebagai Pupuk Organik Cair di Yayasan Swara Peduli Ceria Klender, Journal of Appropriate Technology for Community Services, 2023, pp. 42 - 46,