Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering Ikan dengan Teknologi Inframerah
JTE UNIBA, Vol. 9, No. 1, Oktober 2024
496
Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering
Ikan dengan Teknologi Inframerah
Khairunnisa Nurhandayani1, Mayda Waruni Kasrani2
1,2
Teknik Elektro,Fakultas Teknologi Industri Universitas Balikpapan
Jln. Pupuk Raya Gn. Bahagia Balikpapan 76114 INDONESIA
Email:
Abstract- Indonesia has abundant marine resources. Many
countries rely on fishery exports from Indonesia. Proper
management of these resources can improve the economy and
welfare of the community. One way to process these resources is
by drying them so that the raw materials from these resources can
last long enough at room temperature. Drying with manual
techniques or under the sun is less able to produce optimal drying
because it depends on the weather. Therefore, this study will focus
on a seafood drying system with an infrared heating source, a
fuzzy logic control system, and a cloud monitoring system. Testing
was carried out using mackerel with varying weights. The results
showed that the use of a drying system with a 100-watt infrared
LED bank can work five times faster than using conventional
methods. The speed of weight reduction with this system is an
average of 5.7% per hour. However, the placement of the position
of the dried object can affect the drying speed. The closer the
object is to the infrared heating source, the higher the drying
speed. Meanwhile, the fuzzy logic control system can work
according to the input data and fuzzy rules that have been made
so that the intensity of the infrared heater can be adjusted. In
addition, drying results can be monitored in real time via the
Blynk application.
Intisari- Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat
melimpah dimana banyak negara – negara yang mengandalkan
hasil ekspor perikanan dari Indonesia. Pengelolaan yang tepat
hasil sumber daya tersebut dapat meningkatkan perekonomian
dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara untuk mengolah
hasil sumber daya tersebut yaitu dilakukan pengeringan agar
bahan mentah dari sumber daya tersebut dapat bertahan cukup
lama di suhu ruang. Pengeringan dengan teknik manual atau
penjemuran di bawah matahari kurang mampu menghasilkan
pengeringan yang optimal karena sangat bergantung pada cuaca.
Oleh karena itu, penelitian ini akan berfokus pada sistem
pengering hasil laut dengan sumber pemanas inframerah, bersifat
otomatis dengan menerapkan sistem logika fuzzy, dan dapat
dipantau melalui koneksi internet. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan ikan layang dengan berat bervariasi. Hasil
menunjukkan bahwa penggunaan sistem pengering dengan LED
bank inframerah berdaya 100 watt dapat bekerja lima kali lebih
cepat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional.
Kecepatan pengurangan berat dengan sistem ini yaitu rata – rata
5,7% per jam. Namun, penemaptan posisi objek yang dikeringkan
dapat mempengaruhi kecepatan pengeringan. Jika objek semakin
dekat ke sumber pemanas inframerah, maka kecepatan
pengeringan lebih tinggi. Sementara sistem kontrol logika fuzzy
dapat berkerja sesuai dengan data masukan dan fuzzy rule yang
telah dibuat sehingga pengaturan intensitas pemanas inframerah
berhasil dilakukan. Selain itu, hasil pengeringan dapat dipantau
secara real time melalui aplikasi Blynk.
Kata Kunci: Hasil laut, Inframerah, Logika fuzzy, Internet of
Things, Sistem pengering
I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan dimana wilayah
negara didominasi oleh luatan. Kondisi lautan yang dominan
menyebabkan Indonesia memiliki sumber daya kelatuan yang
tingi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan peningkatan
produksi perikanan dari 21,83 juta ton pada tahun 2020 ke
24,87 juta ton pada tahun 2022 [1]. Kemudian di tahun 2023,
sebanyak 87.746,3 ton dari hasil perikanan tangkap tersebut
diekspor ke berbagai negara yang mana lebih besar 4,89% dari
tahun 2022 [1], [2]. Para nelayan dan para distributor hasil
melakukan pengawetan agar hasil laut tersebut tetap layak
konsumsi hingga waktu tertentu. Ada beberapa cara pengolahan
hasil laut agar tetap awet yaitu pendinginan untuk
mempertahankan kelembapan dan pengeringan untuk
mengurangi kelembapan.
Pengeringan meruipakan salah satu cara pengawetan bahan
mentah dengan cara mengurangi atau menghilangkan kadar air
untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pengurai
pada bahan terseubt [3], [4]. Metode pengeringan dapat
dilakukan dengan teknik manual dengan menggunakan panas
matahari, pengeringan tray dengan udara panas, penggunaan
asap, penggunaan microwave, penggunaan ultrasonic, dan
penggunaan inframerah [3]. Kebanyaka nelayan di Indonesia
yang mengawetkan hasil laut menggunakan teknik pengeringan
dengan panas matahari. Teknik pengeringan ini memiliki
kekurangan yaitu pengeringan tidak optimal bahkan dapat
mengalami kegagalan karena kondisi cuaca tidak menentu.
Variabel – variabel yang lain yang perlu diperhatikan dalam
proses pengeringan antara lain temperatur, kelembapan udara
dan waktu pengeringan. Pengeringan dengan metode ini
membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama [5], [6], [7],
[8]. Sementara variabel yang mempengaruhi proses tidak bisa
dipantau secara kontinu [7], [9]. Hal tersebut berdampak
terhadap penghasil nelayan yang melakukan pengeringan hasil
laut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Selain hal
tersebut, pengeringan dengan bantuan matahari tidak bisa
menjamin kehigienisan hasil.
Terdapat penelitian dengan metode non konvensional
pengeringan hasil laut. Penelitian yang dilakukan tahun 2019
terkait pengering microwave pada pengering osmosis. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi proses
osmosis dan pengeringan micorwave membutuhkan waktu 3 –
11 menit dengan penggunaan sumber tegangan 160 – 200 V
[10]. Namun, kekurangan dari sistem ini yaitu membutuhkan
banyak daya dan tidak dapat dipantau secara real time.
Pada tahun yang sama, penelitian dari pengeringan dengan
heater berbahan gas yang dilakukan selama 12 jam dan
Khairunnisa Nurhandayani dkk: Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem ..........
E/P-ISSN: 2549-0842/2528 – 6498
JTE UNIBA, Vol. 9, No. 1, Oktober 2024
497
temperatur 70ºC menunjukkan kualtias ikan kering dengan
nutrisi terbaik dibandingkan denga waktu atau temperatur yang
lain [8]. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa semakin lama
pengeringan, maka kualitas nutrisi hasil pengeringan akan
menurun. Variabel temperatur dan lamanya proses pengeringan
menunjukkan bahwa sistem tidak bekerja secara otomatis dan
tidak dapat dipantai dari lokasi lain.
Sementara itu, penelitian terkait pengering makanan dengan
Internet of Things (IoT) pernah dilakukan. Hasil penelitian
dengan pengeringan osmosis menunjukkan pengurangan kadar
air yang cukup baik antara 53% - 75% dan pemantauan
dilakukan secara real time [11]. Terdapat kekurangan dari
penelitian ini yaitu sistem kontrol pemanas yang tidak otomatis.
Selain penelitian – penelitian yang telah disebutkan,
penelitian pengering dengan menggunakan sumber panas dari
inframerah pernah dilakukan. Pengeringan dilakukan
menggunak (...truncated)