Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering Ikan dengan Teknologi Inframerah

Jurnal Teknik Elektro Uniba (JTE Uniba), Oct 2024

Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat melimpah dimana banyak negara – negara yang mengandalkan hasil ekspor perikanan dari Indonesia. Pengelolaan yang tepat hasil sumber daya tersebut dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara untuk mengolah hasil sumber daya tersebut yaitu dilakukan pengeringan agar bahan mentah dari sumber daya tersebut dapat bertahan cukup lama di suhu ruang. Pengeringan dengan teknik manual atau penjemuran di bawah matahari kurang mampu menghasilkan pengeringan yang optimal karena sangat bergantung pada cuaca. Oleh karena itu, penelitian ini akan berfokus pada sistem pengering hasil laut dengan sumber pemanas inframerah, bersifat otomatis dengan menerapkan sistem logika fuzzy, dan dapat dipantau melalui koneksi internet. Pengujian dilakukan dengan menggunakan ikan layang dengan berat bervariasi. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan sistem pengering dengan LED bank inframerah berdaya 100 watt dapat bekerja lima kali lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional. Kecepatan pengurangan berat dengan sistem ini yaitu rata – rata 5,7% per jam. Namun, penemaptan posisi objek yang dikeringkan dapat mempengaruhi kecepatan pengeringan. Jika objek semakin dekat ke sumber pemanas inframerah, maka kecepatan pengeringan lebih tinggi. Sementara sistem kontrol logika fuzzy dapat berkerja sesuai dengan data masukan dan fuzzy rule yang telah dibuat sehingga pengaturan intensitas pemanas inframerah berhasil dilakukan. Selain itu, hasil pengeringan dapat dipantau secara real time melalui aplikasi Blynk

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.fte.uniba-bpn.ac.id/index.php/JTE/article/download/1108/136

Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering Ikan dengan Teknologi Inframerah

JTE UNIBA, Vol. 9, No. 1, Oktober 2024 496 Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering Ikan dengan Teknologi Inframerah Khairunnisa Nurhandayani1, Mayda Waruni Kasrani2 1,2 Teknik Elektro,Fakultas Teknologi Industri Universitas Balikpapan Jln. Pupuk Raya Gn. Bahagia Balikpapan 76114 INDONESIA Email: Abstract- Indonesia has abundant marine resources. Many countries rely on fishery exports from Indonesia. Proper management of these resources can improve the economy and welfare of the community. One way to process these resources is by drying them so that the raw materials from these resources can last long enough at room temperature. Drying with manual techniques or under the sun is less able to produce optimal drying because it depends on the weather. Therefore, this study will focus on a seafood drying system with an infrared heating source, a fuzzy logic control system, and a cloud monitoring system. Testing was carried out using mackerel with varying weights. The results showed that the use of a drying system with a 100-watt infrared LED bank can work five times faster than using conventional methods. The speed of weight reduction with this system is an average of 5.7% per hour. However, the placement of the position of the dried object can affect the drying speed. The closer the object is to the infrared heating source, the higher the drying speed. Meanwhile, the fuzzy logic control system can work according to the input data and fuzzy rules that have been made so that the intensity of the infrared heater can be adjusted. In addition, drying results can be monitored in real time via the Blynk application. Intisari- Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat melimpah dimana banyak negara – negara yang mengandalkan hasil ekspor perikanan dari Indonesia. Pengelolaan yang tepat hasil sumber daya tersebut dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara untuk mengolah hasil sumber daya tersebut yaitu dilakukan pengeringan agar bahan mentah dari sumber daya tersebut dapat bertahan cukup lama di suhu ruang. Pengeringan dengan teknik manual atau penjemuran di bawah matahari kurang mampu menghasilkan pengeringan yang optimal karena sangat bergantung pada cuaca. Oleh karena itu, penelitian ini akan berfokus pada sistem pengering hasil laut dengan sumber pemanas inframerah, bersifat otomatis dengan menerapkan sistem logika fuzzy, dan dapat dipantau melalui koneksi internet. Pengujian dilakukan dengan menggunakan ikan layang dengan berat bervariasi. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan sistem pengering dengan LED bank inframerah berdaya 100 watt dapat bekerja lima kali lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional. Kecepatan pengurangan berat dengan sistem ini yaitu rata – rata 5,7% per jam. Namun, penemaptan posisi objek yang dikeringkan dapat mempengaruhi kecepatan pengeringan. Jika objek semakin dekat ke sumber pemanas inframerah, maka kecepatan pengeringan lebih tinggi. Sementara sistem kontrol logika fuzzy dapat berkerja sesuai dengan data masukan dan fuzzy rule yang telah dibuat sehingga pengaturan intensitas pemanas inframerah berhasil dilakukan. Selain itu, hasil pengeringan dapat dipantau secara real time melalui aplikasi Blynk. Kata Kunci: Hasil laut, Inframerah, Logika fuzzy, Internet of Things, Sistem pengering I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan dimana wilayah negara didominasi oleh luatan. Kondisi lautan yang dominan menyebabkan Indonesia memiliki sumber daya kelatuan yang tingi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan peningkatan produksi perikanan dari 21,83 juta ton pada tahun 2020 ke 24,87 juta ton pada tahun 2022 [1]. Kemudian di tahun 2023, sebanyak 87.746,3 ton dari hasil perikanan tangkap tersebut diekspor ke berbagai negara yang mana lebih besar 4,89% dari tahun 2022 [1], [2]. Para nelayan dan para distributor hasil melakukan pengawetan agar hasil laut tersebut tetap layak konsumsi hingga waktu tertentu. Ada beberapa cara pengolahan hasil laut agar tetap awet yaitu pendinginan untuk mempertahankan kelembapan dan pengeringan untuk mengurangi kelembapan. Pengeringan meruipakan salah satu cara pengawetan bahan mentah dengan cara mengurangi atau menghilangkan kadar air untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pengurai pada bahan terseubt [3], [4]. Metode pengeringan dapat dilakukan dengan teknik manual dengan menggunakan panas matahari, pengeringan tray dengan udara panas, penggunaan asap, penggunaan microwave, penggunaan ultrasonic, dan penggunaan inframerah [3]. Kebanyaka nelayan di Indonesia yang mengawetkan hasil laut menggunakan teknik pengeringan dengan panas matahari. Teknik pengeringan ini memiliki kekurangan yaitu pengeringan tidak optimal bahkan dapat mengalami kegagalan karena kondisi cuaca tidak menentu. Variabel – variabel yang lain yang perlu diperhatikan dalam proses pengeringan antara lain temperatur, kelembapan udara dan waktu pengeringan. Pengeringan dengan metode ini membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama [5], [6], [7], [8]. Sementara variabel yang mempengaruhi proses tidak bisa dipantau secara kontinu [7], [9]. Hal tersebut berdampak terhadap penghasil nelayan yang melakukan pengeringan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Selain hal tersebut, pengeringan dengan bantuan matahari tidak bisa menjamin kehigienisan hasil. Terdapat penelitian dengan metode non konvensional pengeringan hasil laut. Penelitian yang dilakukan tahun 2019 terkait pengering microwave pada pengering osmosis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi proses osmosis dan pengeringan micorwave membutuhkan waktu 3 – 11 menit dengan penggunaan sumber tegangan 160 – 200 V [10]. Namun, kekurangan dari sistem ini yaitu membutuhkan banyak daya dan tidak dapat dipantau secara real time. Pada tahun yang sama, penelitian dari pengeringan dengan heater berbahan gas yang dilakukan selama 12 jam dan Khairunnisa Nurhandayani dkk: Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem .......... E/P-ISSN: 2549-0842/2528 – 6498 JTE UNIBA, Vol. 9, No. 1, Oktober 2024 497 temperatur 70ºC menunjukkan kualtias ikan kering dengan nutrisi terbaik dibandingkan denga waktu atau temperatur yang lain [8]. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa semakin lama pengeringan, maka kualitas nutrisi hasil pengeringan akan menurun. Variabel temperatur dan lamanya proses pengeringan menunjukkan bahwa sistem tidak bekerja secara otomatis dan tidak dapat dipantai dari lokasi lain. Sementara itu, penelitian terkait pengering makanan dengan Internet of Things (IoT) pernah dilakukan. Hasil penelitian dengan pengeringan osmosis menunjukkan pengurangan kadar air yang cukup baik antara 53% - 75% dan pemantauan dilakukan secara real time [11]. Terdapat kekurangan dari penelitian ini yaitu sistem kontrol pemanas yang tidak otomatis. Selain penelitian – penelitian yang telah disebutkan, penelitian pengering dengan menggunakan sumber panas dari inframerah pernah dilakukan. Pengeringan dilakukan menggunak (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.fte.uniba-bpn.ac.id/index.php/JTE/article/download/1108/136
Article home page: https://jurnal.fte.uniba-bpn.ac.id/index.php/JTE/article/view/1108/136

Khairunnisa Nurhandayani, Kasrani Mayda Waruni. Penerapan Kontrol Logika Fuzzy untuk Sistem Pengering Ikan dengan Teknologi Inframerah, Jurnal Teknik Elektro Uniba (JTE Uniba), 2024, pp. 496-501,