Pola Komunikasi Keluarga Dalam Membentuk Kesehatan Mental Gen Z Di Era Digital
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.11, No.6 Desember 2024 | Page 7043
Pola Komunikasi Keluarga Dalam Membentuk Kesehatan Mental Gen Z Di
Era Digital
Three Bintang Nadeak1, Dudi Rustandi2
1
Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial, Universitas Telkom, Indonesia,
2
Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial, Universitas Telkom, Indonesia,
Abstract
Family communication is a form of interaction between family members that serves as a means to shape and develop
important life values. The role of communication patterns and parents in the family is crucial for maintaining the
mental health of Generation Z, especially in this digital era. In this digital era, with high levels of stress and
depression, issues potentially affecting mental health have arisen. This study uses a qualitative phenomenological
method through interviews with selected informants. Based on communication patterns approached from the
perspectives of conversation orientation and conformity orientation, this research identifies four types of
communication patterns. The results of the study highlight the importance of openness among family members, the
quality of communication, understanding of conflicts, and the development of mutual trust within the family. This
research can make a real contribution in creating a healthier and more supportive digital environment for generation
Z, helping them to better manage their mental health in the digital era.
Keywords-mental health, generation z, digital era, communication patterns
Abstrak
Komunikasi keluarga adalah bentuk interaksi antara anggota keluarga yang berfungsi sebagai sarana untuk
membentuk dan mengembangkan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Peran pola komunikasi dan orang tua dalam
keluarga sangat vital untuk menjaga kesehatan mental generasi Z, terutama di era digital ini. Di Era Digital ini dengan
tingkat stres dan depresi yang tinggi, telah menimbulkan masalah yang berpotensi mengganggu kesehatan mental.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi melalui wawancara dengan informan yang dipilih.
Berdasarkan pola komunikasi yang didekati dari orientasi percakapan dan konformitas, penelitian ini mengidentifikasi
empat tipe pola komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya keterbukaan antar anggota keluarga, kualitas
komunikasi, pemahaman konflik, dan pengembangan sikap saling percaya dalam keluarga. Penelitian ini dapat
memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan mendukung bagi generasi
Z, membantu mereka untuk mengelola kesehatan mental mereka dengan lebih baik di era digital
Kata Kunci-kesehatan mental, generasi z, era digital, pola komunikasi
I. PENDAHULUAN
Generasi Z membutuhkan pola komunikasi yang baik untuk mental yang sehat, banyak diantara generasi Z rentan
terhadap gangguan kesehatan mental karena eksplosif yang tinggi terhadap media sosial, tekanan akademis, dan
ketidakpastian masa depan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Menurut laporan
KOMPAS.COM pada 3 Mei 2023, kunjungan ke ruang gawat darurat untuk masalah kesehatan mental meningkat
tajam di kalangan anak-anak, remaja, dan dewasa muda di Amerika Serikat dari 2011 hingga 2020. Fenomena ini
tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tetapi juga secara global, termasuk di Indonesia. Faktor-faktor seperti tekanan
akademis, perubahan sosial, penggunaan media sosial, dan dampak globalisasi telah berkontribusi pada peningkatan
masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, institusi
pendidikan, dan masyarakat untuk mengatasi krisis ini melalui penyediaan layanan dukungan kesehatan mental yang
memadai serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Kondisi kesehatan mental masyarakat
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.11, No.6 Desember 2024 | Page 7044
Indonesia yang semakin memprihatinkan dikarenakan sekitar 9 juta kasus kesehatan mental dengan prevalensi 3,7
persen dan ini akan berpengaruh pada produktivitas nasional. Hal ini dapat menghambat Indonesia dalam transisi
menjadi negara maju karena kesehatan mental dapat mengganggu berbagai aspek seperti dengan halnya individu
dengan masalah kesehatan mental mungkin mengalami penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan. Selain itu,
biaya perawatan kesehatan mental yang tinggi dan absensi kerja dapat memberikan beban ekonomi pada negara.
Salah satu kasus penderita gangguan Kesehatan mental pada pelajar diaalami oleh Yovania Asyifa Jami (Bekasi,
Jawa Barat). Pelajar yang akrab disapa Yova didiagnosis mengalami gangguan penyakit mental bipolar pada tahun
2018 silam. Gangguan bipolar ini membuat Yova menjadi susah untuk bergaul hinggal dijauhi oleh teman – temannya.
Lamanya proses pengobatan yang memakan waktu hingga 3 bulan menyebabkan ia absen dari pembelajaran sekolah.
Dengan minimnya pengetahuan pada masa itu mengenai penyakit yang dialami oleh Yova ia mendapatkan
penanganan pengobatan yang kurang tepat. Yova bahkan sempat mengikuti proses rukiah untuk beberapa waktu.
Gangguan mentalnya sering disalahartikan sebagai tanda jiwa yang tersesat.
Kesehatan mental, atau mental health, merujuk pada keadaan kesehatan yang terkait dengan aspek kejiwaan,
psikis, dan emosional individu. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah kondisi di mana
individu memiliki kesejahteraan yang memungkinkan mereka untuk menyadari kemampuan diri, mengendalikan diri,
dan mengelola emosi mereka, sehingga mencegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan. Secara sederhana,
seseorang yang menikmati ketenangan jiwa dalam melalui kehidupannya dapat dianggap memiliki kesehatan mental
yang baik. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Saat seseorang memiliki kesehatan mental yang
baik, berbagai aspek kehidupannya dapat berjalan dengan optimal. Kondisi kesehatan mental yang baik dicirikan oleh
ketiadaan gangguan jiwa dan kemampuan beradaptasi dengan baik terhadap tantangan kehidupan seharihari.
II. TINJAUAN LITERATUR
Menurut Dedy Mulyana (2008) Komunikasi merupakan suatu proses interaksi dinamis yang melibatkan pertukaran
pesan secara bergantian. Setiap pesan yang disampaikan akan memicu respon dari penerima, yang kemudian akan
diikuti oleh respon lanjutan dari pengirim pesan. Proses ini terus berulang sehingga tercipta dialog yang berkelanjutan.
Komunikasi keluarga adalah proses di mana anggota keluarga saling berinteraksi dan menjalin hubungan satu sama
lain. Melalui komunikasi ini, anggota keluarga membangun mentalitas dan pola kehidupan keluarga. Pola-pola
tersebut kemudian bertahan dari waktu ke waktu dan diwariskan antar generasi (Koerner & Fitzpatrick, 2002). Di
dalam pola komunikasi keluarga pada penelitian ini terfokus pada hubungan dan interaksi antara orang tua serta
anaknya dalam sebuah keluarga. Hubungan dan interaksi tersebut akan terjalin untuk mencapai kesepakatan antara
orang tua dan anak remaja. Terd (...truncated)