Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja Las Proyek Pembangunan Gudang Limbah B3 Cabang Dumai

Innovative: Journal Of Social Science Research, Mar 2025

Pengelasan adalah suatu pekerjaan yang sering digunakan dalam kontruksi dan industri. Pengelasan merupakan salah satu proses yang berpotensi besar atau berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan survei pendahuluan, peneliti mengamati langsung pekerja las tidak menggunakan alat pelindung diri seperti masker, dan sarung tangan sebagai upaya pencegahannya dengan alasan pekerja merasa gerah dan kurang nyaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri pada pekerja las proyek pembangunan gudang limbah B3 cabang Dumai.. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 47 orang dengan teknik total sampling. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara umur pvalue = 0,008 dan OR= 6,500, pendidikan pvalue = 0,034 dan OR= 4,411, lama kerja pvalue = 0,028 dan OR= 4.667, pengetahuan pvalue = 0,045 dan OR= 4,278, sikap pvalue = 0,003 dan OR= 8,171, dan pengawasan pvalue = 0,002 dan OR= 8,571. Dari analisis multivariat, variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kepatuhan penggunaan APD adalah pengawasan. Sedangkan variabel lama kerja, pengetahuan, umur, pendidikan, ketersediaan APD, sikap, sebagai variabel counfounding. Penelti menyarankan agar perusahaan meningkatkan pengawasan dan kedisiplinan dengan kebijakan yang lebih tegas dengan memberikan sanksi tanpa toeransi kepada pekerja, lebih sering mengadakan pelatihan tentang fungsi dan kegunaan APD, menjelaskan bahwa prinsip utama dari APD ialah memberi perlindungan bagi para pekerja.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/download/18249/12456

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja Las Proyek Pembangunan Gudang Limbah B3 Cabang Dumai

INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Page 459-476 E-ISSN 2807-4238 and P-ISSN 2807-4246 Website: https://j-innovative.org/index.php/Innovative Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja Las Proyek Pembangunan Gudang Limbah B3 Cabang Dumai Adawiyah Silfiani1✉, Santoso2, Herniwanti3, Endang Purnawati Rahayu4, Kamali Zaman5 Universitas Hang Tuah Pekanbaru Email: [email protected]✉ Abstrak Pengelasan adalah suatu pekerjaan yang sering digunakan dalam kontruksi dan industri. Pengelasan merupakan salah satu proses yang berpotensi besar atau berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan survei pendahuluan, peneliti mengamati langsung pekerja las tidak menggunakan alat pelindung diri seperti masker, dan sarung tangan sebagai upaya pencegahannya dengan alasan pekerja merasa gerah dan kurang nyaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri pada pekerja las proyek pembangunan gudang limbah B3 cabang Dumai.. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 47 orang dengan teknik total sampling. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara umur pvalue = 0,008 dan OR= 6,500, pendidikan pvalue = 0,034 dan OR= 4,411, lama kerja pvalue = 0,028 dan OR= 4.667, pengetahuan pvalue = 0,045 dan OR= 4,278, sikap pvalue = 0,003 dan OR= 8,171, dan pengawasan pvalue = 0,002 dan OR= 8,571. Dari analisis multivariat, variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kepatuhan penggunaan APD adalah pengawasan. Sedangkan variabel lama kerja, pengetahuan, umur, pendidikan, ketersediaan APD, sikap, sebagai variabel counfounding. Penelti menyarankan agar perusahaan meningkatkan pengawasan dan kedisiplinan dengan kebijakan yang lebih tegas dengan memberikan sanksi tanpa toeransi kepada pekerja, lebih sering mengadakan pelatihan tentang fungsi dan kegunaan APD, menjelaskan bahwa prinsip utama dari APD ialah memberi perlindungan bagi para pekerja. Kata Kunci: APD, Kepatuhan, Pekerja Pengelasan Copyright @ Adawiyah Silfiani, Santoso, Herniwanti, Endang Purnawati Rahayu, Kamali Zaman Abstract Welding is a common activity in construction and industry but poses significant risks for workplace accidents and occupational diseases. Preliminary surveys revealed that welders at a hazardous waste warehouse project in Dumai often neglect to use personal protective equipment (PPE) such as masks and gloves, citing discomfort and heat. This study was to identify factors associated with compliance in PPE usage among welders. Employing a quantitative analytical method with a cross-sectional design, the sample consisted of 47 individuals selected through total sampling. Data analysis was conducted using chi-square tests and logistic regression. The results indicated significant relationships between compliance and the following factors: age (p = 0.008, OR = 6.500), education (p = 0.034, OR = 4.411), work duration (p = 0.028, OR = 4.667), knowledge (p = 0.045, OR = 4.278), attitude (p = 0.003, OR = 8.171), and supervision (p = 0.002, OR = 8.571). Multivariate analysis revealed that supervision had a meaningful impact on PPE compliance, while work duration, knowledge, age, education, PPE availability, and attitude acted as confounding variables. The study recommends that companies enhance supervision and discipline through stricter policies and penalties, conduct more frequent training on the functions and benefits of PPE, and emphasize that the primary purpose of PPE is to protect workers. Keyword: PPE, Compliance, Welding Workers PENDAHULUAN Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai antisipasi, pengenalan, evaluasi dan pengendalian terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya atau resiko di tempat kerja yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan pekerja, yang dapat memberikan dampak pada masyarakat sekitar dan lingkungan secara umum (Ramli, 2013). Salah satu tempat yang berpotensi mengalami kecelakaan kerja adalah proyek kontruksi bagian pengelasan. Pengelasan adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontinu. Pengelasan merupakan salah satu proses yang berpotensi besar atau berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Menurut (Suma’mur, 2014) menjelaskan bahwa kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berkaitan langsung dengan aktivitas kerja yang dilakukan oleh pekerja dalam pelaksanaan pekerjaan. Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia cenderung terus meningkat. Sebanyak 173.415 kasus kecelakaan kerja tercatat sepanjang 2018 dengan nilai klaim Rp 1,22 triliun. Angka ini Copyright @ Adawiyah Silfiani, Santoso, Herniwanti, Endang Purnawati Rahayu, Kamali Zaman meningkat dari tahun 2019 dengan nilai klaim hanya Rp 1,57 triliun. Sedangkan berdasarkan data Menteri Tenaga Kerja (Menaker) RI, tingkat kecelakaan kerja untuk wilayah Riau mengalami penurunan sebesar 33,05% dari tahun 2018 ke tahun 2019. Angka kecelakaan kerja pada tahun 2018 yaitu sebesar 114.148 kasus dan pada tahun 2019 turun menjadi 77.295 kasus (BPJS Ketenagakerjaan, 2020). Jadi, walaupun sudah menurun tetapi masih ditemukannya kecelakaan kecelakaan kerja ditempat kerja sehingga perusahaan harus memikirkan suatu strategi yang matang agar dapat memperkecil resiko kecelakaan kerja bahkan sampai zero accident. Pemerintahan mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja. Hal ini direalisasikan pemerintah dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan seperti: UU RI No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, Undangundang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No: Per.05/Men/1996 mengenai sistem manajemen K3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Pangeran dkk., 2016) mengemukakan bahwa pada pengelasan pengetahuan berpengaruh secara langsung terhadap penerapan K3. Pengetahuan yang kurang tentang penerapan K3 mempunyai peluang terjadinya kecelakaan kerja sebesar 5 kali dibandingkan dengan pengetahuan yang baik maka dari itu pengetahuan sangat penting dan berpengaruh terhadap penerapan K3 di tempat kerja (Pinontoan dkk., 2020). Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan (Yenni dkk., 2019) Alat Pelindung Diri (APD) sangat berperan penting terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Terjadinya kecelakaan kerja dapat mengakibatkan korban jiwa, cacat, kerusakan peralatan, menurunnya mutu dan hasil produksi, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan, dan akhirnya akan merugikan semua pihak serta berdampak kepada p (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/download/18249/12456
Article home page: https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/18249/12456

Silfiani Adawiyah, Santoso Santoso, Herniwanti Herniwanti, Rahayu Endang Purnawati, Zaman Kamali. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja Las Proyek Pembangunan Gudang Limbah B3 Cabang Dumai, Innovative: Journal Of Social Science Research, 2025, pp. 459-476, Volume 5, Issue 2,