INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research
Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Page 459-476
E-ISSN 2807-4238 and P-ISSN 2807-4246
Website: https://j-innovative.org/index.php/Innovative
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri
Pada Pekerja Las Proyek Pembangunan Gudang Limbah B3 Cabang Dumai
Adawiyah Silfiani1✉, Santoso2, Herniwanti3, Endang Purnawati Rahayu4, Kamali Zaman5
Universitas Hang Tuah Pekanbaru
Email:
[email protected]✉
Abstrak
Pengelasan adalah suatu pekerjaan yang sering digunakan dalam kontruksi dan industri. Pengelasan
merupakan salah satu proses yang berpotensi besar atau berisiko tinggi terhadap terjadinya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan survei pendahuluan, peneliti mengamati
langsung pekerja las tidak menggunakan alat pelindung diri seperti masker, dan sarung tangan
sebagai upaya pencegahannya dengan alasan pekerja merasa gerah dan kurang nyaman. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan alat
pelindung diri pada pekerja las proyek pembangunan gudang limbah B3 cabang Dumai.. Metode
penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 47 orang
dengan teknik total sampling. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji regresi
logistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara umur pvalue = 0,008 dan
OR= 6,500, pendidikan pvalue = 0,034 dan OR= 4,411, lama kerja pvalue = 0,028 dan OR= 4.667,
pengetahuan pvalue = 0,045 dan OR= 4,278, sikap pvalue = 0,003 dan OR= 8,171, dan pengawasan
pvalue = 0,002 dan OR= 8,571. Dari analisis multivariat, variabel yang mempunyai hubungan bermakna
dengan kepatuhan penggunaan APD adalah pengawasan. Sedangkan variabel lama kerja,
pengetahuan, umur, pendidikan, ketersediaan APD, sikap, sebagai variabel counfounding. Penelti
menyarankan agar perusahaan meningkatkan pengawasan dan kedisiplinan dengan kebijakan yang
lebih tegas dengan memberikan sanksi tanpa toeransi kepada pekerja, lebih sering mengadakan
pelatihan tentang fungsi dan kegunaan APD, menjelaskan bahwa prinsip utama dari APD ialah
memberi perlindungan bagi para pekerja.
Kata Kunci: APD, Kepatuhan, Pekerja Pengelasan
Copyright @ Adawiyah Silfiani, Santoso, Herniwanti, Endang Purnawati Rahayu, Kamali Zaman
Abstract
Welding is a common activity in construction and industry but poses significant risks for workplace
accidents and occupational diseases. Preliminary surveys revealed that welders at a hazardous waste
warehouse project in Dumai often neglect to use personal protective equipment (PPE) such as masks
and gloves, citing discomfort and heat. This study was to identify factors associated with compliance
in PPE usage among welders. Employing a quantitative analytical method with a cross-sectional design,
the sample consisted of 47 individuals selected through total sampling. Data analysis was conducted
using chi-square tests and logistic regression. The results indicated significant relationships between
compliance and the following factors: age (p = 0.008, OR = 6.500), education (p = 0.034, OR = 4.411),
work duration (p = 0.028, OR = 4.667), knowledge (p = 0.045, OR = 4.278), attitude (p = 0.003, OR =
8.171), and supervision (p = 0.002, OR = 8.571). Multivariate analysis revealed that supervision had a
meaningful impact on PPE compliance, while work duration, knowledge, age, education, PPE
availability, and attitude acted as confounding variables. The study recommends that companies
enhance supervision and discipline through stricter policies and penalties, conduct more frequent
training on the functions and benefits of PPE, and emphasize that the primary purpose of PPE is to
protect workers.
Keyword: PPE, Compliance, Welding Workers
PENDAHULUAN
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai
antisipasi, pengenalan, evaluasi dan pengendalian terhadap hal-hal yang dapat
menimbulkan bahaya atau resiko di tempat kerja yang dapat mengganggu kesehatan dan
keselamatan pekerja, yang dapat memberikan dampak pada masyarakat sekitar dan
lingkungan secara umum (Ramli, 2013). Salah satu tempat yang berpotensi mengalami
kecelakaan kerja adalah proyek kontruksi bagian pengelasan.
Pengelasan adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau
tanpa logam tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontinu. Pengelasan
merupakan salah satu proses yang berpotensi besar atau berisiko tinggi terhadap terjadinya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Menurut (Suma’mur, 2014) menjelaskan bahwa
kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berkaitan langsung dengan aktivitas kerja yang
dilakukan oleh pekerja dalam pelaksanaan pekerjaan.
Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat
angka kecelakaan kerja di Indonesia cenderung terus meningkat. Sebanyak 173.415 kasus
kecelakaan kerja tercatat sepanjang 2018 dengan nilai klaim Rp 1,22 triliun. Angka ini
Copyright @ Adawiyah Silfiani, Santoso, Herniwanti, Endang Purnawati Rahayu, Kamali Zaman
meningkat dari tahun 2019 dengan nilai klaim hanya Rp 1,57 triliun. Sedangkan berdasarkan
data Menteri Tenaga Kerja (Menaker) RI, tingkat kecelakaan kerja untuk wilayah Riau
mengalami penurunan sebesar 33,05% dari tahun 2018 ke tahun 2019. Angka kecelakaan
kerja pada tahun 2018 yaitu sebesar 114.148 kasus dan pada tahun 2019 turun menjadi
77.295 kasus (BPJS Ketenagakerjaan, 2020). Jadi, walaupun sudah menurun tetapi masih
ditemukannya kecelakaan kecelakaan kerja ditempat kerja sehingga perusahaan harus
memikirkan suatu strategi yang matang agar dapat memperkecil resiko kecelakaan kerja
bahkan sampai zero accident. Pemerintahan mempunyai kewajiban untuk memberikan
perlindungan kepada tenaga kerja. Hal ini direalisasikan pemerintah dengan dikeluarkannya
peraturan-peraturan seperti: UU RI No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, Undangundang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), dan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No: Per.05/Men/1996 mengenai sistem manajemen K3.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Pangeran dkk., 2016) mengemukakan
bahwa pada pengelasan pengetahuan berpengaruh secara langsung terhadap penerapan
K3. Pengetahuan yang kurang tentang penerapan K3 mempunyai peluang terjadinya
kecelakaan kerja sebesar 5 kali dibandingkan dengan pengetahuan yang baik maka dari itu
pengetahuan sangat penting dan berpengaruh terhadap penerapan K3 di tempat kerja
(Pinontoan dkk., 2020). Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan (Yenni dkk., 2019) Alat
Pelindung Diri (APD) sangat berperan penting terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Terjadinya kecelakaan kerja dapat mengakibatkan korban jiwa, cacat, kerusakan peralatan,
menurunnya mutu dan hasil produksi, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan,
dan akhirnya akan merugikan semua pihak serta berdampak kepada p (...truncated)