Analisis Kemampuan Berpikir Kritis : Eksperimen Model Pembelajaran Jucama Berbantuan MMS Berdasarkan Self-Confidence
P-ISSN : 2579-9185
E-ISSN : 2656-0852
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi
Vol. 8, No. 2, Desember 2024, pp. 166-178
doi: 10.32505/qalasadi.v8i2.9132
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS :
EKSPERIMEN MODEL PEMBELAJARAN JUCAMA BERBANTUAN MMS
BERDASARKAN SELF-CONFIDENCE
Dewi Nevita Sari1; Siti Ulfa Nabila2; Bambang Sri Anggoro3
1,2,3
UIN Raden Intan Lampung, Jl. Letnan Kolonel H. Endro Suratmin, Lampung 35131, Indonesia
Email:
Received: 15 Juli 2024
Accepted: 6 Oktober 2024
Published: 31 Desember 2024
Abstrak
Pembelajaran matematika perlu keahlian untuk dapat berpikir tingkat tinggi, diantaranya yaitu
kemampuan untuk berpikir secara kritis. Namun, di Indonesia, kemampuan ini masih memerlukan
pengembangan lebih lanjut. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui penggunaan model yang
mengorientasikan siswa senantiasa terlibat dalam pengajuan dan pemecahan masalah, serta memakai
media yang dapat menunjang dalam belajar. Tujuan diselenggarakan penelitian untuk menyelidiki
pengaruh kemampuan untuk berpikir secara kritis yang diajarkan model JUCAMA, model JUCAMA
memakai MMS dan model ekspositori dengan mempertimbangkan pengaruh self-confidence.
Pendekatan yang diterapkan pada penelitian ini yaitu kuantitatif pada jenis eksperimen semu dan
sampel yakni 2 kelas eksperimen serta 1 kelas kontrol, serta memakai uji ANOVA dua jalan untuk
analisis data. Temuan dari penelitian ini: (1) adanya penerapan model JUCAMA menyumbang
pengaruh pada kemampuan siswa berpikir secara kritis, (2) model JUCAMA memakai bantuan MMS
menyumbang pengaruh pada kemampuan berpikir secara kritis, (3) self-confidence mampu memberi
pengaruh pada kemampuan siswa berpikir secara kritis, (4) tidak adanya interaksi pada self confidence
dan model JUCAMA dalam memengaruhi kemampuan siswa untuk berpikir secara kritis, (5) tidak
adanya interaksi model JUCAMA yang memakai bantuan MMS dan self-confidence dalam
memengaruhi kemampuan berpikir kritis.
Kata kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Model JUCAMA, Microsoft Math Solver, Self Confidence
Abstract
Mathematics learning requires the ability to think at a high level, including the ability to think critically.
However, in Indonesia, this ability still requires further development. This ability can be developed
through the use of models that orient students to always be involved in submitting and solving
problems, and using media that can support learning. The purpose of this study was to investigate the
effect of the ability to think critically taught by the JUCAMA model, the JUCAMA model using MMS
and the expository model by considering the influence of self-confidence. The approach applied in this
study was quantitative in the type of quasi-experiment and samples, namely 2 experimental classes and
1 control class, and using a two-way ANOVA test for data analysis. The findings of this study: (1) the
application of the JUCAMA model contributes to the influence of students' ability to think critically, (2)
the JUCAMA model using MMS assistance contributes to the influence of berfikir kritis skills, (3) selfconfidence is able to influence students' ability to think critically, (4) there is no interaction between selfconfidence and the JUCAMA model in influencing students' ability to think critically, (5) there is no
interaction between the JUCAMA model using MMS assistance and self-confidence in influencing
berfikir kritis skills.
Keywords: berfikir kritis ability, JUCAMA Model, Microsoft Math Solver, Self Confidence
This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and
reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2019 by author.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
166
167
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi, Vol. 8, No. 2, Desember 2024, pp. 166-178
Pendahuluan
Matematika menjadi bidang ilmu yang sangat dibutuhkan perannya dalam aktivitas
sehari-hari (Tampubolon et al., 2019). Mempelajari matematika membutuhkan banyak
keterampilan untuk berpikir dengan level yang tinggi, satu diantaranya yakni keterampilan
untuk berpikir secara kritis (Sulistiani & Masrukan, 2016). Kemampuan untuk berpikir kritis
dapat diartikan cara berpikir memakai penalaran rasional dan terstruktur dalam
mengumpulkan serta mengolah informasi untuk memahami atau menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi (Kurniawati & Ekayanti, 2020). Berpikir secara kritis juga dapat
dikatakan sebagai kemampuan guna menganalisis dan mengevaluasi informasi yang didapat
dengan tujuan untuk membangun pemahaman, pengetahuan, dan wawasan yang luas
(Heard et al., 2020). Menurut Facione (2023), memaparkan bahwa kemampuan berpikir kritis
ialah kemampuan kognitif yang mencakup interpretasi, analisis, evaluasi, kesimpulan,
penjabaran, serta pengaturan diri.
Berdasarkan penjelasan tentang kemampuan berpikir secara kritis, siswa yang
berkemampuan tinggi dalam bidang ini dapat menganalisis dan merumuskan strategi efektif
untuk memecahkan masalah. Hal ini menegaskan pentingnya kemampuan berpikir kritis
bagi setiap siswa. Namun, data dari PISA (Programme for International Student Assessment)
memperlihatkan terkait Kemampuan berfikir kritis siswa di Indonesia masih terbilang
kategori rendah. Laporan PISA tahun 2022 mencatat bahwa hanya sekitar 18% siswa
Indonesia yang meraih minimal level 2 pada literasi matematika, dan pada level 5 atau 6
hampir tidak ada yang mampu mencapainya. Pada tingkatan 5 dan 6, ada kategori yang
memerlukan keterampilan berpikir dalam tingkatan yang tinggi (HOTS), yang meliputi
kemampuan untuk mengembangkan model matematis dari situasi kompleks serta
kemampuan untuk menentukan, membandingkan, dan menilai strategi pemecahan masalah
secara akurat (OECD, 2022). Soal pada tingkat PISA level 5 dan 6 dirancang mampu menilai
keterampilan berpikir kritis siswa, mengingat bahwa kompetensi berpikir dalam tingkatan
yang tinggi (HOTS) yang diukur dalam literasi matematika PISA meliputi indikator-indikator
kemampuan dalam upaya berpikir secara kritis (Toruan et al., 2023). Berdasarkan data yang
disajikan oleh PISA, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa saat berupaya berpikir
dengan kritis di Indonesia masih pada tingkat yang rendah.
Kelemahan dalam keterampilan berpikir kritis di kalangan siswa diidentifikasi melalui
hasil tes pra-penelitian yang dijalankan di kelas tujuh SMP Al-Huda Jatiagung pada semester
ganjil tahun ajar 2023/2024. Data yang diperoleh memperlihatkan bahwa sejumlah besar
siswa belum sanggup dalam menuntaskan soal pada indikator keahlian untuk berpikir secara
kritis yang ada. Indikator-indikator tersebut meliputi (1) kemampuan untuk
menginterpretasikan informasi yang diberikan dalam soal dengan akurat, (2) kemampuan
untuk menganalisis dengan menyusun rumus dari model matematika yang relevan, (3)
kemampuan untuk mengevaluasi dengan menerapkan strategi yang sesuai dalam
penyeles (...truncated)